Episode 5

Bab 5: Satu Lawan Tiga

Langit di luar sudah hitam ketika Anto dan Watini pulang.

Mereka masuk bukan seperti pasangan yang baru dipermalukan di rumah orang tua sendiri, melainkan seperti orang yang membawa bara dan mencari tempat untuk melemparkannya. Watini menggendong Fajar di pinggang. Anak itu mengantuk, rambutnya menempel di dahi, tetapi ibunya tetap bicara keras seolah seluruh rumah harus mendengar sakit hatinya.

"Ada orang tua makin tua makin aneh," sindir Watini sambil melepas sandal. "Pagi-pagi bikin malu keluarga, sore-sore mungkin sudah bangga karena dapat uang."

Pak Tono yang sejak Magrib duduk murung langsung menegang. Bagus menoleh dari kursi, tapi tidak bicara. Bu Yati sedang melipat kain di ruang tengah. Gerakannya tidak berhenti.

"Kalau yang kamu maksud aku, sebut namaku," kata Bu Yati.

Watini tertawa pendek. "Aku nggak berani, Bu. Nanti rambutku ditarik lagi. Di rumah ini kan sekarang orang tua bebas main tangan."

Fajar yang setengah tidur ikut merengek, "Mak, mau tidur..."

"Tidur nanti," sahut Watini, masih menatap Bu Yati. "Biar Jar lihat, punya nenek jangan galak-galak. Nanti nggak ada yang mau merawat kalau tua."

Ruangan itu mendadak dingin.

Kain di tangan Bu Yati berhenti.

Kalimat itu membuka pintu pada malam hujan, pada tiga rumah yang mengunci diri, pada tubuh tuanya yang mati di ujung gang. Untuk sesaat, suara napasnya terdengar lebih pelan.

Lalu ia berdiri.

Watini mundur satu langkah, tapi terlambat. Telapak tangan Bu Yati mendarat di pipinya.

Plak!

Fajar langsung menangis keras. "Maaaak!"

Watini memeluk anaknya dengan satu tangan, tangan lain memegang wajah. "Mas Anto! Lihat ibumu!"

Anto yang sejak tadi menahan malu akhirnya maju. "Bu, jangan keterlaluan! Tin baru pulang, masih emosi."

Plak!

Tamparan kedua bukan untuk Watini, melainkan untuk Anto.

"Kalau istrimu emosi, mulutnya harus disekolahkan, bukan dibiarkan menggigit orang."

Anto memegang pipi, matanya merah. "Aku anakmu, Bu!"

"Justru karena kamu anakku, aku masih menampar pakai tangan. Kalau orang lain, sudah kusuruh keluar dari rumah."

Watini menurunkan Fajar ke lantai dan mendorongnya ke belakang kursi. Anak itu menangis makin keras, memanggil ibunya, tapi Watini sudah terlalu marah untuk menenangkan.

"Aku nggak tahan tinggal di rumah ini!" jeritnya. "Mas, lihat! Ibumu mau menguasai semua. Uang, kerja, rumah, semuanya!"

Anto bergerak hendak memegang lengan Bu Yati. Bu Yati menepis, lalu meraih rambut anak sulungnya dengan gerakan cepat.

"Aduh! Bu!"

"Sakit?" Bu Yati menariknya ke arah Watini. "Tadi pagi istrimu juga bilang sakit."

Ia mendorong kepala Anto ke bahu Watini. Keduanya jatuh menabrak tikar. Fajar menjerit ketakutan. Bagus spontan bangkit, tapi Bu Yati menoleh padanya.

"Duduk."

Bagus duduk lagi.

Pak Tono berdiri dengan wajah gelap. "Maryati! Cukup!"

"Kamu juga mau bagian?"

"Aku suamimu!"

"Suami yang mana?" Bu Yati melangkah ke arahnya. "Yang menyuruh istrinya jadi pembantu di rumah besan? Yang gajinya lari ke Sri? Yang anak perempuannya mau celaka pun masih mikir uang?"

Pak Tono seperti dipukul tepat di dadanya. Tapi harga dirinya lebih cepat bergerak daripada rasa bersalah. Ia mengangkat tangan, bukan untuk memukul, mungkin untuk menunjuk, mungkin untuk menahan.

Bu Yati tidak menunggu.

Kakinya menendang betis Pak Tono.

Laki-laki itu terhuyung dan jatuh duduk di kursi rotan. Kursi berderak keras.

Seluruh rumah hening, hanya Fajar yang menangis tersedu-sedu di belakang kursi.

Di pintu depan, terdengar ketukan panik.

"Bu Yati? Pak Tono?" suara Bu Sari memanggil dari luar. "Ya Allah, ribut apa ini? Tin, kamu mukul siapa lagi?"

Watini yang masih terkapar di tikar langsung tersinggung. "Bu Sari! Saya yang dipukul!"

Pintu terbuka sedikit. Bu Sari mengintip, lalu membelalak melihat Anto memegangi rambut, Watini memegang pipi, Pak Tono terkulai di kursi, dan Bu Yati berdiri di tengah ruangan dengan napas berat.

"Ini..." Bu Sari menatap mereka satu per satu. "Yati, kamu yang bikin begini?"

"Iya," jawab Bu Yati.

Bu Sari berkedip. "Ah, jangan bercanda. Badanmu sekecil itu."

Bagus, yang sejak tadi diam, mengangguk pelan ke arah Bu Sari. "Bener, Bu. Ibu yang mukul."

Bu Sari menutup mulut. Entah ingin istigfar atau tertawa karena tidak percaya. "Ya Allah, Yati..."

Bu Yati menarik napas, lalu menunjuk lantai.

"Dengar semua. Di rumah ini, yang bicara cuma satu orang. Aku."

Watini hendak membuka mulut.

Bu Yati menatapnya.

Mulut itu langsung tertutup.

"Mulai malam ini, tidak ada yang mengambil uang tanpa izinku. Tidak ada yang mengatur kerja tetap tanpa izinku. Tidak ada yang menyuruh Tari mengalah. Tidak ada yang mengangkat tangan ke orang tua, ke anak kecil, atau ke perempuan mana pun di rumah ini."

Pak Tono ingin membantah, tapi Bu Sari masih berdiri di pintu. Harga dirinya membuat ia menelan kalimat sendiri.

Bu Yati menoleh pada Fajar. Anak itu masih menangis. Untuk pertama kalinya malam itu, suara Bu Yati melembut sedikit.

"Jar, masuk kamar. Tidur."

Fajar menatap ibunya. Watini tidak berani menolak. Ia mengangkat anak itu dengan tubuh gemetar, lalu membawanya ke kamar depan. Anto ikut bangun perlahan, tidak tahu harus menolong istri atau menyelamatkan wajah sendiri.

Bu Sari mendekati Bu Yati, suaranya pelan. "Yati, kamu baik-baik saja?"

Pertanyaan sederhana itu hampir membuat dada Bu Yati runtuh. Tapi sebelum ia bisa menjawab, pintu belakang terbuka dengan bunyi keras.

Ratih muncul di ambang pintu.

Wajahnya pucat, jilbabnya miring, dan kedua lengannya memeluk tubuh kecil Melati yang lemas. Kepala anak itu dibalut kain seadanya. Ada bercak merah yang sudah mengering di tepi kain.

Bagus berdiri begitu cepat sampai kursinya terbalik.

"Mel!"

Ratih terengah. "Jangan teriak. Dia cuma jatuh."

Bu Yati sudah sampai di depan Ratih. Begitu melihat wajah Melati yang pucat dan bibir kecilnya yang kering, kemarahan di ruang tengah lenyap seperti lampu dipadamkan.

"Jatuh dari mana?" tanya Bu Yati.

Ratih menghindari matanya. "Di rumah Mak. Anak-anak main. Sepupunya lempar batu, nggak sengaja kena."

"Nggak sengaja sampai anak pingsan?"

Bagus mengambil Melati dari tangan Ratih. Suara laki-laki itu berubah rendah, berbahaya. "Kenapa baru dibawa pulang sekarang?"

"Aku pikir nanti sadar sendiri." Ratih menggigit bibir. "Mak bilang anak kecil memang begitu. Lagian..."

"Lagian apa?" Bu Yati bertanya.

Ratih tidak menjawab.

Melati mengeluarkan suara kecil, nyaris tidak terdengar. "Mbah..."

Bu Yati meraih tangan mungil itu. Dingin.

"Ke RSUD sekarang," katanya.

Pak Tono yang masih kesakitan berdiri ragu. "Malam-malam begini? Mungkin puskesmas dulu..."

Bu Yati menoleh tajam. "Kalau cucu lelaki yang kepalanya kena batu, kamu masih bilang puskesmas?"

Pak Tono diam.

Bagus sudah mengangkat Melati ke dada. "Aku ambil motor."

"Tidak cukup. Anak ini harus dibaringkan." Bu Sari cepat menyambar ponselnya. "Aku panggil tetangga yang punya mobil."

Dalam sepuluh menit, halaman rumah penuh suara terburu-buru. Seorang tetangga membawa mobil tua. Bu Yati duduk di belakang, memangku kepala Melati di atas lipatan kain. Bagus duduk di sampingnya, wajahnya sekeras batu. Ratih ikut naik dengan enggan, terus meremas ujung jilbab.

Sepanjang jalan ke RSUD Cirebon, Bu Yati menahan tubuh Melati agar tidak terguncang. Lampu jalan lewat satu per satu di kaca mobil. Anak itu sesekali mengerang pelan, tapi matanya tidak benar-benar terbuka.

"Mel, ini Mbah," bisik Bu Yati. "Tahan sebentar, Nak. Kita sudah dekat."

Bagus menatap keluar jendela. Tangannya mengepal di lutut.

Ratih berbisik, "Nggak usah dibesar-besarkan. Nanti keluargaku disalahkan."

Bu Yati menatapnya dalam gelap mobil. "Kalau anak ini kenapa-kenapa, bukan cuma keluargamu yang kusalahkan. Kamu juga."

Ratih langsung diam.

Di IGD RSUD, petugas membawa Melati masuk. Dokter jaga memeriksa dengan cepat, bertanya kapan kejadian, apakah muntah, apakah sempat tidak sadar. Ratih menjawab terputus-putus. Bagus makin lama makin pucat. Bu Yati menjawab bagian yang ia tahu, lalu meminta pemeriksaan kepala.

Perawat meminta kartu BPJS dan data wali. Ratih meraba tas kecilnya terlalu lama, seolah berharap dengan mencari-cari kartu, keputusan rawat inap bisa tertunda.

"KTP anak ada di mana?" tanya perawat.

"Di rumah Mak," jawab Ratih pelan.

Bagus menoleh tajam. "Kenapa dokumen anak kita ada di rumah ibumu?"

"Mak yang simpan. Biar nggak hilang."

Bu Yati menarik napas pendek. "Dok, urus administrasi sementara pakai data bapaknya dulu. Kalau harus ada biaya awal, catat. Anak ini jangan menunggu karena orang tuanya sibuk saling lempar."

Bagus seperti baru sadar. Ia maju ke meja perawat, mengeluarkan dompet dengan tangan gemetar. "Pakai KTP saya dulu, Sus. Apa pun yang harus ditandatangani, saya tanda tangan."

Ratih mencengkeram ujung jilbab. "Mas, jangan asal tanda tangan. Nanti kalau keluargaku dipanggil..."

"Yang kepalanya kena batu anakku," potong Bagus. Suaranya rendah. "Bukan harga diri keluargamu."

Untuk pertama kalinya malam itu, Ratih tidak punya jawaban. Wajah cantiknya tampak kecil di bawah lampu putih IGD.

Bu Yati berdiri di dekat pintu pemeriksaan. Dari celah tirai, ia melihat kaki kecil Melati yang pucat di atas ranjang. Kaki itu dulu sering berlari kecil mengejarnya di dapur, meminta sisa tempe dengan suara takut-takut. Anak sekecil itu bahkan tidak berani minta ayam.

Bu Yati meremas tali tas kainnya. Uang empat juta di dalam tas itu untuk Tari. Tapi kalau malam ini rumah sakit meminta uang, ia akan mengeluarkannya tanpa berkedip. Anak perempuan tidak boleh lagi menjadi yang paling belakangan diselamatkan.

Setelah beberapa saat yang terasa seperti satu malam penuh, dokter keluar.

"Anak perlu rawat inap observasi," katanya. "Benturan di kepala tidak boleh dianggap ringan. Malam ini kami pantau dulu. Kalau ada muntah, kejang, atau penurunan kesadaran, langsung tindakan lanjutan."

Bu Yati mengangguk. "Rawat, Dok. Kelas BPJS juga tidak apa-apa. Yang penting dia aman."

Ratih langsung mengangkat kepala. "Dirawat? Dok, memang harus? Cuma anak perempuan, nggak usah dirawat. Besok juga sadar."

Suara itu jatuh di lorong rumah sakit yang terang dan dingin.

Bagus menoleh perlahan pada istrinya.

Bu Yati mengepalkan tangan.

Kali ini, bukan hanya pipinya yang panas. Seluruh tubuhnya seperti terbakar.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
Episodes

Updated 131 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!