Bab 2 – Dua Belas Orang

Ruang rapat utama di Markas Armada PPM tidak pernah dibuka untuk umum.

Ruangan berbentuk lingkaran itu berada tiga tingkat di bawah pusat komando Orbit Kallista. Tidak ada jendela. Dindingnya dilapisi material anti-pemindaian, sementara setiap orang yang masuk harus melewati tiga lapis pemeriksaan identitas.

Kael tiba sepuluh menit lebih awal.

Seorang petugas keamanan memindai retina dan sidik telapak tangannya sebelum pintu terbuka.

"Silakan masuk, Wakil Kapten."

Di dalam ruangan sudah ada tiga orang.

Kapten Idris sedang membaca dokumen di tablet. Rambutnya mulai memutih, tetapi posturnya masih tegap seperti seorang prajurit aktif.

Darius duduk sambil menikmati secangkir kopi.

"Kael."

"Pagi."

Darius menunjuk kursi kosong.

"Duduk saja. Sepertinya kita masih harus menunggu."

Kael melihat jam di dinding.

"Tepat waktu?"

"Katanya begitu."

---

Beberapa menit kemudian pintu kembali terbuka.

Seorang wanita masuk sambil membawa tablet tipis berisi data penelitian.

Kael langsung mengenalinya dari berkas yang dikirim semalam.

**Dr. Lyra.**

Ia mengenakan pakaian sipil berwarna abu-abu, berbeda dengan para perwira yang memakai seragam.

"Silakan duduk, Dokter," kata Kapten Idris.

"Terima kasih."

Lyra memilih kursi yang berada di sisi berlawanan meja.

Tidak lama kemudian, delapan orang lainnya menyusul.

Seorang ahli navigasi.

Dokter kapal.

Insinyur reaktor.

Pakar komunikasi.

Ahli geologi planet.

Petugas keamanan.

Pilot cadangan.

Dan seorang analis data.

Jumlah mereka tepat dua belas orang.

Pintu ruangan menutup otomatis.

Lampu berubah redup.

AURA muncul sebagai hologram berwarna biru di tengah meja.

"Selamat pagi."

"Tingkat keamanan rapat ini adalah Omega."

"Seluruh percakapan akan dienkripsi dan tidak direkam di jaringan umum."

Kapten Idris menatap semua orang.

"Mulai sekarang, apa pun yang dibahas di ruangan ini tidak boleh keluar sebelum mendapat izin Dewan."

Tidak ada yang berbicara.

---

Laksamana Rowan muncul melalui proyeksi holografik.

"Terima kasih sudah datang."

Beliau mengusap layar di depannya.

Sebuah peta galaksi memenuhi ruangan.

"Tiga minggu lalu, salah satu stasiun observatorium kami menangkap sebuah sinyal."

Beberapa titik cahaya muncul di peta.

"Awalnya kami mengira itu gangguan alat."

"Lalu?"

tanya Darius.

"Kami memeriksa observatorium lain."

"Hasilnya sama."

Laksamana memperbesar peta.

Sumber sinyal berada jauh di luar jalur pelayaran rutin PPM.

"Lokasinya berada di Galaksi Asterion."

Lyra mengangkat tangan.

"Sejauh yang saya tahu, Asterion belum pernah dijelajahi."

"Benar."

"Lalu bagaimana kita bisa memastikan sumbernya dari sana?"

"Karena tiga observatorium berbeda melakukan triangulasi."

AURA menampilkan garis-garis yang saling berpotongan.

Titik perpotongannya hanya satu.

Galaksi Asterion.

---

Kael memperhatikan data yang terus berganti.

"Apakah sinyal itu masih diterima?"

"Masih."

"Isinya?"

"Itulah masalahnya."

Laksamana menggeleng pelan.

"Kami tidak bisa menerjemahkannya."

Pakar komunikasi membuka data di tabletnya.

"Apakah ini bahasa?"

"Tidak diketahui."

"Kode?"

"Tidak diketahui."

"Sistem koordinat?"

"Tidak diketahui."

Ruangan kembali sunyi.

---

Lyra memperbesar bentuk gelombang.

Ia mengamati beberapa saat sebelum berbicara.

"Pola ini bukan acak."

Semua menoleh kepadanya.

"Kenapa Anda yakin?"

tanya Kapten Idris.

"Karena ada pengulangan."

Ia menandai beberapa bagian.

"Kalau ini gangguan kosmik, bentuknya akan berubah-ubah."

"Sedangkan yang ini?"

"Urutannya tetap."

Darius ikut melihat layar.

"Artinya?"

Lyra menggeleng.

"Saya belum tahu."

"Tapi saya yakin ada sesuatu yang sengaja mempertahankan pola itu."

---

Laksamana Rowan kembali mengambil alih pembicaraan.

"Selama tiga minggu terakhir kami merahasiakan informasi ini."

"Kenapa?"

tanya Kael.

"Karena kami tidak ingin menimbulkan kepanikan."

"Apakah Dewan menganggap sinyal ini ancaman?"

"Tidak."

"Apakah dianggap peluang?"

"Itu juga belum tentu."

"Jadi alasan membentuk ekspedisi?"

Laksamana menjawab tanpa ragu.

"Kita membutuhkan jawaban sebelum membuat kesimpulan."

---

AURA menampilkan gambar ESS Horizon.

"Kapal ini dipilih karena memiliki jangkauan terjauh di armada eksplorasi."

Insinyur reaktor mengangkat tangan.

"Perjalanan ke Asterion membutuhkan beberapa gerbang antarbintang."

"Benar."

"Namun jaringan gerbang berhenti sebelum memasuki wilayah galaksi itu."

"Benar."

"Berarti sebagian perjalanan harus menggunakan mesin warp."

"Benar."

Ia mengangguk pelan.

"Itu akan menjadi perjalanan terjauh dalam sejarah PPM."

Tidak ada yang membantah.

---

Kapten Idris berdiri.

"Saya ingin menjelaskan tujuan misi dengan sederhana."

Beliau melihat satu per satu anggota tim.

"Kita tidak pergi untuk berperang."

"Kita juga tidak pergi untuk membangun koloni."

"Kita hanya memiliki tiga tugas."

Ia mengangkat satu jari.

"Menemukan sumber sinyal."

Jari kedua.

"Mengidentifikasi penyebabnya."

Jari ketiga.

"Kembali membawa laporan."

"Itu saja."

Kael tersenyum tipis.

"Kedengarannya sederhana."

Kapten Idris ikut tersenyum.

"Kalau Dewan sampai memilih dua belas orang secara langsung, biasanya tugas yang terdengar sederhana justru paling sulit."

Beberapa orang mengangguk setuju.

---

Saat rapat hampir selesai, seorang petugas masuk dengan tergesa-gesa.

"Laksamana."

"Ada apa?"

Petugas itu menyerahkan tablet.

Rowan membacanya beberapa detik.

Ekspresinya langsung berubah.

"AURA."

"Ya, Laksamana."

"Tampilkan pembacaan terbaru."

Gelombang sinyal muncul kembali.

Namun kali ini seluruh orang di ruangan langsung menyadari perbedaannya.

Puncak gelombang yang sebelumnya berulang dengan pola tetap kini berubah.

Lebih cepat.

Lebih rapat.

AURA menyelesaikan analisis dalam beberapa detik.

"Hasil terbaru."

"Sinyal mengalami perubahan pola pada pukul 09.42 waktu standar."

Kael mengerutkan dahi.

"Apa artinya?"

AURA menjawab,

"Belum dapat dipastikan."

"Namun kemungkinan bahwa perubahan ini terjadi secara alami turun dari 0,3 persen menjadi 0,00002 persen."

Ruangan kembali hening.

Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, tidak seorang pun menganggap misi ini sebagai ekspedisi ilmiah biasa.

Episodes
1 Bab 1 – Perintah Prioritas
2 Bab 2 – Dua Belas Orang
3 Bab 3 – Persiapan
4 Bab 4 – Keberangkatan
5 Bab 5 – Wilayah Tak Bertanda
6 Bab 6 – Jejak Pertama
7 Bab 7 – Rekaman Terakhir
8 Bab 8 – Sumber Sinyal
9 Bab 9 – Objek Tanpa Jejak
10 Bab 10 – Pos Observasi Tujuh
11 Bab 11 – Memasuki Pos Observasi Tujuh
12 Bab 12 – Lorong yang Sunyi
13 Bab 13 – Arsip yang Terlupakan
14 Bab 14 – Ruang Pertemuan
15 Bab 15 – Keputusan Kapten
16 Bab 16 – Orang Pertama yang Terbangun
17 Bab 17 – Kesaksian Sofia
18 Bab 18 – Penjaga Terakhir
19 Bab 19 – Zona Inti
20 Bab 20 – Penghalang
21 Bab 21 – Sistem Omega
22 Bab 22 – Warisan Elias
23 Bab 23 – Kapal yang Tak Dikenal
24 Bab 24 – Garis Keturunan
25 Bab 25 – Armada yang Hilang
26 Bab 26 – Gelombang Pertama
27 Bab 27 – Pesan dari Armada
28 Bab 28 – Keputusan Sang Navigator
29 Bab 29 – Dewan Kapal
30 Bab 30 – Kapal Pioneer
31 Bab 31 – Kunci Navigator
32 Bab 32 – Target Baru
33 Bab 33 – Suara dari Kegelapan
34 Bab 34 – Awak yang Terpilih
35 Bab 35 – Dua Suara
36 Bab 36 – Delapan Awak
37 Bab 37 – Peluncuran
38 Bab 38 – Lompatan Pertama
39 Bab 39 – Di Balik Formasi Sigma
40 Bab 40 – Ujian Pertama
41 Bab 41 – Pilihan Pertama
42 Bab 42 – Kuburan Armada
43 Bab 43 – Penjaga Kuburan
44 Bab 44 – Menara Penjaga
45 Bab 45 – Langkah Pertama
46 Bab 46 – Bayangan di Dalam Menara
47 Bab 47 – Kebangkitan
48 Bab 48 – Segel yang Retak
49 Bab 49 – Ruang Inti
50 Bab 50 – Inti Asterion
51 Bab 51 – Suara dari Balik Pintu
52 Bab 52 – Rekaman yang Mustahil
53 Bab 53 – Gema Masa Lalu
54 Bab 54 – Kebenaran yang Dipilih
55 Bab 55 – Tujuh Segel
56 Bab 56 – Pewaris Navigator
57 Bab 57 – Pintu yang Tidak Dibuka
58 Bab 58 – Penjaga Terakhir
59 Bab 59 – Celah Pertama
60 Bab 60 – Tangan dari Kegelapan
61 Bab 61 – Langit yang Padam
62 Bab 62 – Ruang Fondasi
63 Bab 63 – Penjaga Cahaya
64 Bab 64 – Runtuhnya Segel Kedua
65 Bab 65 – Bayangan yang Berbisik
66 Bab 66 – Rahasia di Bawah Fondasi
67 Bab 67 – Anak dari Ark
68 Bab 68 – Pilihan Para Pewaris
69 Bab 69 – Armada Tanpa Lambang
70 Bab 70 – Orion
71 Bab 71 – Kesepakatan yang Mustahil
72 Bab 72 – Langit yang Terbelah
73 Bab 73 – Cahaya Pertama
74 Bab 74 – Perisai Asterion
75 Bab 75 – Lorong Menuju Gerbang
76 Bab 76 – Melangkah Maju
77 Bab 77 – Tangan dari Kegelapan
78 Bab 78 – Pengorbanan Pertama
79 Bab 79 – Sumpah Lima Ribu Tahun
80 Bab 80 – Gerbang yang Tertutup
81 Bab 81 – Setelah Pertempuran
82 Bab 82 – Warisan Asterion
83 Bab 83 – Perjalanan Pulang
84 Bab 84 – Rahasia yang Terhapus
85 Bab 85 – Rumah
86 Bab 86 – Dunia yang Berubah
87 Bab 87 – Sinyal Baru
88 Bab 88 – Langit yang Sama
89 Bab 89 – Cahaya yang Tak Pernah Padam
90 Bab 90 – Sebelum Sinyal Berikutnya
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Bab 1 – Perintah Prioritas
2
Bab 2 – Dua Belas Orang
3
Bab 3 – Persiapan
4
Bab 4 – Keberangkatan
5
Bab 5 – Wilayah Tak Bertanda
6
Bab 6 – Jejak Pertama
7
Bab 7 – Rekaman Terakhir
8
Bab 8 – Sumber Sinyal
9
Bab 9 – Objek Tanpa Jejak
10
Bab 10 – Pos Observasi Tujuh
11
Bab 11 – Memasuki Pos Observasi Tujuh
12
Bab 12 – Lorong yang Sunyi
13
Bab 13 – Arsip yang Terlupakan
14
Bab 14 – Ruang Pertemuan
15
Bab 15 – Keputusan Kapten
16
Bab 16 – Orang Pertama yang Terbangun
17
Bab 17 – Kesaksian Sofia
18
Bab 18 – Penjaga Terakhir
19
Bab 19 – Zona Inti
20
Bab 20 – Penghalang
21
Bab 21 – Sistem Omega
22
Bab 22 – Warisan Elias
23
Bab 23 – Kapal yang Tak Dikenal
24
Bab 24 – Garis Keturunan
25
Bab 25 – Armada yang Hilang
26
Bab 26 – Gelombang Pertama
27
Bab 27 – Pesan dari Armada
28
Bab 28 – Keputusan Sang Navigator
29
Bab 29 – Dewan Kapal
30
Bab 30 – Kapal Pioneer
31
Bab 31 – Kunci Navigator
32
Bab 32 – Target Baru
33
Bab 33 – Suara dari Kegelapan
34
Bab 34 – Awak yang Terpilih
35
Bab 35 – Dua Suara
36
Bab 36 – Delapan Awak
37
Bab 37 – Peluncuran
38
Bab 38 – Lompatan Pertama
39
Bab 39 – Di Balik Formasi Sigma
40
Bab 40 – Ujian Pertama
41
Bab 41 – Pilihan Pertama
42
Bab 42 – Kuburan Armada
43
Bab 43 – Penjaga Kuburan
44
Bab 44 – Menara Penjaga
45
Bab 45 – Langkah Pertama
46
Bab 46 – Bayangan di Dalam Menara
47
Bab 47 – Kebangkitan
48
Bab 48 – Segel yang Retak
49
Bab 49 – Ruang Inti
50
Bab 50 – Inti Asterion
51
Bab 51 – Suara dari Balik Pintu
52
Bab 52 – Rekaman yang Mustahil
53
Bab 53 – Gema Masa Lalu
54
Bab 54 – Kebenaran yang Dipilih
55
Bab 55 – Tujuh Segel
56
Bab 56 – Pewaris Navigator
57
Bab 57 – Pintu yang Tidak Dibuka
58
Bab 58 – Penjaga Terakhir
59
Bab 59 – Celah Pertama
60
Bab 60 – Tangan dari Kegelapan
61
Bab 61 – Langit yang Padam
62
Bab 62 – Ruang Fondasi
63
Bab 63 – Penjaga Cahaya
64
Bab 64 – Runtuhnya Segel Kedua
65
Bab 65 – Bayangan yang Berbisik
66
Bab 66 – Rahasia di Bawah Fondasi
67
Bab 67 – Anak dari Ark
68
Bab 68 – Pilihan Para Pewaris
69
Bab 69 – Armada Tanpa Lambang
70
Bab 70 – Orion
71
Bab 71 – Kesepakatan yang Mustahil
72
Bab 72 – Langit yang Terbelah
73
Bab 73 – Cahaya Pertama
74
Bab 74 – Perisai Asterion
75
Bab 75 – Lorong Menuju Gerbang
76
Bab 76 – Melangkah Maju
77
Bab 77 – Tangan dari Kegelapan
78
Bab 78 – Pengorbanan Pertama
79
Bab 79 – Sumpah Lima Ribu Tahun
80
Bab 80 – Gerbang yang Tertutup
81
Bab 81 – Setelah Pertempuran
82
Bab 82 – Warisan Asterion
83
Bab 83 – Perjalanan Pulang
84
Bab 84 – Rahasia yang Terhapus
85
Bab 85 – Rumah
86
Bab 86 – Dunia yang Berubah
87
Bab 87 – Sinyal Baru
88
Bab 88 – Langit yang Sama
89
Bab 89 – Cahaya yang Tak Pernah Padam
90
Bab 90 – Sebelum Sinyal Berikutnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!