Bab 4 – Keberangkatan

Dua hari setelah rapat di Markas Armada PPM, seluruh anggota ekspedisi berkumpul di Hanggar Utama Orbit Kallista.

ESS Horizon telah selesai dipersiapkan.

Robot servis bergerak di sepanjang lambung kapal untuk pemeriksaan terakhir, sementara petugas logistik menurunkan kontainer terakhir berisi perbekalan.

Di depan pintu masuk hanggar, dua belas anggota ekspedisi berdiri membentuk satu baris.

Kapten Idris melihat mereka satu per satu.

"Mulai hari ini, kita bukan lagi mewakili divisi masing-masing. Kita adalah satu tim."

Tidak ada tepuk tangan ataupun sorakan.

Semua memahami bahwa misi ini berbeda dari ekspedisi sebelumnya.

"Kalian sudah mengetahui tujuan umum kita," lanjut Kapten Idris. "Tetapi ada satu hal yang ingin saya tegaskan."

Ia berhenti sejenak.

"Prioritas pertama adalah seluruh kru pulang dengan selamat."

"Prioritas kedua baru menyelesaikan misi."

Beberapa anggota saling berpandangan.

Kalimat itu tidak biasa.

Dalam sebagian besar misi PPM, keberhasilan operasi selalu berada di atas keselamatan personel.

Kael memperhatikan reaksi Kapten Idris.

Ia semakin yakin bahwa sang kapten mengetahui sesuatu yang belum diberitahukan kepada mereka.

Di dalam kapal, seluruh kru mulai menempati pos masing-masing.

Darius memimpin pemeriksaan ruang mesin.

"Reaktor?"

"Normal."

"Generator gravitasi?"

"Normal."

"Cadangan energi?"

"Seratus persen."

"Bagus."

Ia menandatangani laporan digital sebelum mengirimkannya ke dek komando.

Di laboratorium, Lyra bersama analis data bernama Rina memeriksa seluruh peralatan penelitian.

"Semua sampel sudah masuk?"

"Sudah."

"Drone pengambil sampel?"

"Dua belas unit."

"Mikroskop kuantum?"

"Siap digunakan."

Lyra mengangguk puas.

Kemudian ia melihat sebuah lemari penyimpanan yang masih terkunci.

"Akses ditolak."

Ia mencoba lagi.

Hasilnya sama.

Rina ikut mencoba.

Tetap gagal.

"Sepertinya hanya Kapten yang bisa membukanya," kata Rina.

Lyra tidak mempermasalahkannya.

Mungkin memang ada peralatan khusus yang belum boleh digunakan.

Di dek komando, AURA mulai menjalankan pemeriksaan otomatis.

"Seluruh sistem navigasi aktif."

"Komunikasi internal normal."

"Komunikasi eksternal normal."

"Mesin warp siap."

Kael memperhatikan peta bintang yang muncul di layar utama.

Rute menuju Galaksi Asterion ditampilkan dengan garis berwarna biru.

Sebagian besar perjalanan akan melewati jaringan gerbang antarbintang.

Namun setelah gerbang terakhir...

garis biru berubah menjadi garis putus-putus.

"Kenapa bagian ini berbeda?" tanya Kael.

AURA menjawab.

"Karena wilayah tersebut belum memiliki jalur navigasi permanen."

"Data pemetaannya?"

"Tidak lengkap."

Kapten Idris menambahkan,

"Mulai dari titik itu, kita mengandalkan pemetaan langsung."

Beberapa menit kemudian, suara Laksamana Rowan terdengar melalui sistem komunikasi.

"ESS Horizon, apakah seluruh persiapan selesai?"

Kapten Idris menjawab,

"Seluruh kru sudah berada di kapal."

"Reaktor aktif."

"Logistik lengkap."

"Kami siap berangkat."

"Baik."

Suara Rowan terdengar lebih pelan dari biasanya.

"Semoga perjalanan kalian berhasil."

Sambungan komunikasi terputus.

Pintu hanggar mulai terbuka.

Perlahan, ESS Horizon bergerak meninggalkan dermaga.

Di luar, Orbit Kallista dipenuhi kapal dagang, kapal patroli, dan stasiun industri yang mengelilingi planet di bawahnya.

Kael berdiri di samping navigator.

"Berapa lama sampai gerbang pertama?"

"Dua puluh menit."

"Kecepatan?"

"Lima belas persen daya mesin."

Kapten Idris duduk di kursi komando.

"Tidak perlu terburu-buru."

"Ini mungkin terakhir kalinya kita berada di wilayah yang benar-benar kita kenal."

Selama perjalanan menuju gerbang pertama, suasana di kapal relatif tenang.

Beberapa kru mulai saling mengenal.

Di ruang makan, Darius duduk berhadapan dengan Lyra.

"Saya dengar ini pertama kalinya Anda ikut ekspedisi antargalaksi."

"Benar."

"Gugup?"

"Sedikit."

Darius tersenyum.

"Itu kabar baik."

Lyra mengernyit.

"Kenapa?"

"Orang yang tidak pernah gugup biasanya terlalu percaya diri."

Lyra tertawa kecil.

"Itu cara menghibur yang aneh."

"Setidaknya berhasil membuat Anda tertawa."

Tak lama kemudian, alarm pendek berbunyi.

"Gerbang Antarbintang Sigma-4 berada di depan."

Seluruh kru kembali ke pos masing-masing.

Melalui jendela utama, sebuah struktur berbentuk cincin raksasa tampak melayang di angkasa.

Diameter gerbang itu hampir empat puluh kilometer.

Puluhan kapal keluar dan masuk secara bergantian di bawah pengawasan AI lalu lintas antarbintang.

Navigator melapor.

"Jalur kita sudah mendapat izin."

"Masukkan Horizon ke antrean."

"Baik."

ESS Horizon perlahan mendekati gerbang.

Beberapa detik kemudian, kapal memasuki pusat cincin.

Ruang di depan mereka tampak beriak seperti permukaan air.

Getaran halus terasa di seluruh kapal.

Lalu...

dalam sekejap, pemandangan di luar berubah.

Mereka kini berada di sistem bintang lain yang berjarak hampir delapan ratus tahun cahaya dari Orbit Kallista.

"Transit berhasil," lapor AURA.

Perjalanan seperti itu terus berlanjut selama beberapa hari.

Gerbang pertama.

Gerbang kedua.

Gerbang ketiga.

Setiap kali keluar dari gerbang, mereka semakin jauh dari wilayah inti PPM.

Lalu, pada hari keenam perjalanan, AURA memberikan laporan yang berbeda.

"Kapten."

"Ada apa?"

"Kita akan memasuki gerbang terakhir."

Kapten Idris berdiri.

Ia melihat seluruh kru yang mulai berkumpul di dek komando.

"Setelah gerbang ini..."

"...tidak ada lagi fasilitas PPM."

"...tidak ada lagi pangkalan."

"...tidak ada lagi jalur perdagangan."

"Jika terjadi kerusakan, kita hanya bisa mengandalkan diri sendiri."

Tidak ada yang berbicara.

Semua memahami arti ucapan itu.

ESS Horizon perlahan melaju menuju gerbang terakhir.

Begitu kapal keluar dari sisi seberang...

layar navigasi berubah.

Hampir seluruh peta di depan mereka berwarna hitam.

AURA berbicara dengan nada datar.

"Perhatian."

"Anda telah meninggalkan wilayah eksplorasi resmi PPM."

"Memulai pembuatan peta baru."

Untuk pertama kalinya dalam sejarah kapal itu...

setiap kilometer yang mereka tempuh akan menjadi wilayah yang belum pernah dipetakan oleh manusia.

Episodes
1 Bab 1 – Perintah Prioritas
2 Bab 2 – Dua Belas Orang
3 Bab 3 – Persiapan
4 Bab 4 – Keberangkatan
5 Bab 5 – Wilayah Tak Bertanda
6 Bab 6 – Jejak Pertama
7 Bab 7 – Rekaman Terakhir
8 Bab 8 – Sumber Sinyal
9 Bab 9 – Objek Tanpa Jejak
10 Bab 10 – Pos Observasi Tujuh
11 Bab 11 – Memasuki Pos Observasi Tujuh
12 Bab 12 – Lorong yang Sunyi
13 Bab 13 – Arsip yang Terlupakan
14 Bab 14 – Ruang Pertemuan
15 Bab 15 – Keputusan Kapten
16 Bab 16 – Orang Pertama yang Terbangun
17 Bab 17 – Kesaksian Sofia
18 Bab 18 – Penjaga Terakhir
19 Bab 19 – Zona Inti
20 Bab 20 – Penghalang
21 Bab 21 – Sistem Omega
22 Bab 22 – Warisan Elias
23 Bab 23 – Kapal yang Tak Dikenal
24 Bab 24 – Garis Keturunan
25 Bab 25 – Armada yang Hilang
26 Bab 26 – Gelombang Pertama
27 Bab 27 – Pesan dari Armada
28 Bab 28 – Keputusan Sang Navigator
29 Bab 29 – Dewan Kapal
30 Bab 30 – Kapal Pioneer
31 Bab 31 – Kunci Navigator
32 Bab 32 – Target Baru
33 Bab 33 – Suara dari Kegelapan
34 Bab 34 – Awak yang Terpilih
35 Bab 35 – Dua Suara
36 Bab 36 – Delapan Awak
37 Bab 37 – Peluncuran
38 Bab 38 – Lompatan Pertama
39 Bab 39 – Di Balik Formasi Sigma
40 Bab 40 – Ujian Pertama
41 Bab 41 – Pilihan Pertama
42 Bab 42 – Kuburan Armada
43 Bab 43 – Penjaga Kuburan
44 Bab 44 – Menara Penjaga
45 Bab 45 – Langkah Pertama
46 Bab 46 – Bayangan di Dalam Menara
47 Bab 47 – Kebangkitan
48 Bab 48 – Segel yang Retak
49 Bab 49 – Ruang Inti
50 Bab 50 – Inti Asterion
51 Bab 51 – Suara dari Balik Pintu
52 Bab 52 – Rekaman yang Mustahil
53 Bab 53 – Gema Masa Lalu
54 Bab 54 – Kebenaran yang Dipilih
55 Bab 55 – Tujuh Segel
56 Bab 56 – Pewaris Navigator
57 Bab 57 – Pintu yang Tidak Dibuka
58 Bab 58 – Penjaga Terakhir
59 Bab 59 – Celah Pertama
60 Bab 60 – Tangan dari Kegelapan
61 Bab 61 – Langit yang Padam
62 Bab 62 – Ruang Fondasi
63 Bab 63 – Penjaga Cahaya
64 Bab 64 – Runtuhnya Segel Kedua
65 Bab 65 – Bayangan yang Berbisik
66 Bab 66 – Rahasia di Bawah Fondasi
67 Bab 67 – Anak dari Ark
68 Bab 68 – Pilihan Para Pewaris
69 Bab 69 – Armada Tanpa Lambang
70 Bab 70 – Orion
71 Bab 71 – Kesepakatan yang Mustahil
72 Bab 72 – Langit yang Terbelah
73 Bab 73 – Cahaya Pertama
74 Bab 74 – Perisai Asterion
75 Bab 75 – Lorong Menuju Gerbang
76 Bab 76 – Melangkah Maju
77 Bab 77 – Tangan dari Kegelapan
78 Bab 78 – Pengorbanan Pertama
79 Bab 79 – Sumpah Lima Ribu Tahun
80 Bab 80 – Gerbang yang Tertutup
81 Bab 81 – Setelah Pertempuran
82 Bab 82 – Warisan Asterion
83 Bab 83 – Perjalanan Pulang
84 Bab 84 – Rahasia yang Terhapus
85 Bab 85 – Rumah
86 Bab 86 – Dunia yang Berubah
87 Bab 87 – Sinyal Baru
88 Bab 88 – Langit yang Sama
89 Bab 89 – Cahaya yang Tak Pernah Padam
90 Bab 90 – Sebelum Sinyal Berikutnya
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Bab 1 – Perintah Prioritas
2
Bab 2 – Dua Belas Orang
3
Bab 3 – Persiapan
4
Bab 4 – Keberangkatan
5
Bab 5 – Wilayah Tak Bertanda
6
Bab 6 – Jejak Pertama
7
Bab 7 – Rekaman Terakhir
8
Bab 8 – Sumber Sinyal
9
Bab 9 – Objek Tanpa Jejak
10
Bab 10 – Pos Observasi Tujuh
11
Bab 11 – Memasuki Pos Observasi Tujuh
12
Bab 12 – Lorong yang Sunyi
13
Bab 13 – Arsip yang Terlupakan
14
Bab 14 – Ruang Pertemuan
15
Bab 15 – Keputusan Kapten
16
Bab 16 – Orang Pertama yang Terbangun
17
Bab 17 – Kesaksian Sofia
18
Bab 18 – Penjaga Terakhir
19
Bab 19 – Zona Inti
20
Bab 20 – Penghalang
21
Bab 21 – Sistem Omega
22
Bab 22 – Warisan Elias
23
Bab 23 – Kapal yang Tak Dikenal
24
Bab 24 – Garis Keturunan
25
Bab 25 – Armada yang Hilang
26
Bab 26 – Gelombang Pertama
27
Bab 27 – Pesan dari Armada
28
Bab 28 – Keputusan Sang Navigator
29
Bab 29 – Dewan Kapal
30
Bab 30 – Kapal Pioneer
31
Bab 31 – Kunci Navigator
32
Bab 32 – Target Baru
33
Bab 33 – Suara dari Kegelapan
34
Bab 34 – Awak yang Terpilih
35
Bab 35 – Dua Suara
36
Bab 36 – Delapan Awak
37
Bab 37 – Peluncuran
38
Bab 38 – Lompatan Pertama
39
Bab 39 – Di Balik Formasi Sigma
40
Bab 40 – Ujian Pertama
41
Bab 41 – Pilihan Pertama
42
Bab 42 – Kuburan Armada
43
Bab 43 – Penjaga Kuburan
44
Bab 44 – Menara Penjaga
45
Bab 45 – Langkah Pertama
46
Bab 46 – Bayangan di Dalam Menara
47
Bab 47 – Kebangkitan
48
Bab 48 – Segel yang Retak
49
Bab 49 – Ruang Inti
50
Bab 50 – Inti Asterion
51
Bab 51 – Suara dari Balik Pintu
52
Bab 52 – Rekaman yang Mustahil
53
Bab 53 – Gema Masa Lalu
54
Bab 54 – Kebenaran yang Dipilih
55
Bab 55 – Tujuh Segel
56
Bab 56 – Pewaris Navigator
57
Bab 57 – Pintu yang Tidak Dibuka
58
Bab 58 – Penjaga Terakhir
59
Bab 59 – Celah Pertama
60
Bab 60 – Tangan dari Kegelapan
61
Bab 61 – Langit yang Padam
62
Bab 62 – Ruang Fondasi
63
Bab 63 – Penjaga Cahaya
64
Bab 64 – Runtuhnya Segel Kedua
65
Bab 65 – Bayangan yang Berbisik
66
Bab 66 – Rahasia di Bawah Fondasi
67
Bab 67 – Anak dari Ark
68
Bab 68 – Pilihan Para Pewaris
69
Bab 69 – Armada Tanpa Lambang
70
Bab 70 – Orion
71
Bab 71 – Kesepakatan yang Mustahil
72
Bab 72 – Langit yang Terbelah
73
Bab 73 – Cahaya Pertama
74
Bab 74 – Perisai Asterion
75
Bab 75 – Lorong Menuju Gerbang
76
Bab 76 – Melangkah Maju
77
Bab 77 – Tangan dari Kegelapan
78
Bab 78 – Pengorbanan Pertama
79
Bab 79 – Sumpah Lima Ribu Tahun
80
Bab 80 – Gerbang yang Tertutup
81
Bab 81 – Setelah Pertempuran
82
Bab 82 – Warisan Asterion
83
Bab 83 – Perjalanan Pulang
84
Bab 84 – Rahasia yang Terhapus
85
Bab 85 – Rumah
86
Bab 86 – Dunia yang Berubah
87
Bab 87 – Sinyal Baru
88
Bab 88 – Langit yang Sama
89
Bab 89 – Cahaya yang Tak Pernah Padam
90
Bab 90 – Sebelum Sinyal Berikutnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!