Kala yang manja

Dua hari terakhir, rumah keluarga Arsen terasa lebih ramai dari biasanya.

Kalandra terpaksa menginap di rumah sang paman karena Ages harus pergi ke luar kota untuk mengecek salah satu kantor cabangnya.Awalnya, Kalandra tidak keberatan.

"Kalau cuma dua hari, aku bisa lah," ucapnya dengan percaya diri.

Namun, ucapan itu ternyata hanya bertahan sampai malam pertama.Kalandra duduk di ruang keluarga sambil memandangi layar ponselnya.

Tidak ada pesan ataupun telepon.Bahkan satu kabar pun tidak ada.Ia membuka ruang percakapan dengan nama

Papa Donatur

Pesan terakhir yang dikirimnya beberapa jam lalu masih belum dibalas.

Pap lagi apa?

Papa ?

Sibuk banget?

Kalandra mengembuskan napas panjang.Ia mencoba menghubungi Ages.

Tidak diangkat bahkan hingga tiga kali,tetap tidak ada jawaban.

"Nyebelin."

Kalandra meletakkan ponselnya di atas meja.Namun, beberapa detik kemudian, ia mengambilnya kembali.

Mungkin papa sedang rapat atau memeriksa kantor,atau...mungkin ponselnya tertinggal di mobil,atau mungkin...

"Ah, terserah!"

Kalandra menggerutu sambil melempar tubuhnya ke sofa.

Sean yang sejak tadi duduk di sofa lain sambil bermain ponsel langsung melirik. "Kenapa dek?"

"Enggak."

"Kalau nggak kenapa-kenapa, kenapa muka lo kayak orang baru ditinggal nikah?"

Kalandra langsung menoleh tajam. "Diam deh bang."

Sean tersenyum lebar. "Jangan-jangan lo lagi nunggu chat dari seseorang?"

"Enggak."

"Cewek ya dek?"

"Enggak!"

"Pacar lo,dek?"

"Enggak!"

Sean mengangguk-angguk pura-pura mengerti. "Oh..."

Kalandra menatapnya curiga. "Oh apaan?"

"Berarti dari Ages Sabiru."

Kalandra langsung mengambil bantal sofa dan melemparkannya. "Berisik abang!"

Sean tertawa puas.

Sean Sabiru,anak dari Arsen sabiru dan Tamara itu kini menjadi abang satu-satunya bagi Kalandra.Sean yang hanya berbeda dua tahun dengan Kalandra,ia kini menjadi seorang siswa kelas dua SMA Tarnus.

Sean memang sangat senang ketika Kalandra sedang berada dalam mode manja.

Sebab, di balik sikap tengil dan sok dewasanya, Kalandra sebenarnya adalah adik kecil yang sangat mudah merajuk jika menyangkut Ages.

Begitupun dengan Sean,di balik sikapnya yang cuek dan jutek namun sebenarnya Sean sangat menyayangi Kalandra.Sean akan berubah menjadi Abang yang kejam jika menyangkut sang adik.

"Baru dua hari nggak ketemu udah kangen?"

Kalandra tidak menjawab.Ia kembali mengambil ponselnya namun tetap tidak ada kabar.

Entah kenapa, semakin lama tidak ada pesan dari Ages, perasaannya semakin tidak enak.Bukan karena takut sesuatu terjadi,ia tahu ayahnya baik-baik saja.

Namun, Kalandra hanya merasa kesal.Karena biasanya, sesibuk apa pun Ages, pria itu selalu menyempatkan diri mengirim pesan.Bahkan hanya sekadar bertanya perkara makan atau tidur.

Tapi hari ini tidak ada sama sekali.Mata Kalandra mulai memanas.Sean yang semula hanya ingin menggodanya tiba-tiba berhenti tertawa.

"Eh..."

Kalandra buru-buru mengusap matanya. "Apaan sih bang?"

"Lu nangis?"

"Enggak."

"Kala."

"Enggak!"

"Adek."

"Enggak abang."

Suara Kalandra terdengar bergetar.Sean menatapnya beberapa detik.Lalu senyumnya kembali muncul.

"Ya ampun adek gue..."

"Jangan ketawa,abang."

"Adik gue nangis gara-gara nggak di-chat bokapnya."

"Sean!" Kalandra kembali mengambil bantal.Namun kali ini Sean lebih cepat menghindar.

"Abang jangan ganggu adek!"

"Aduh, manja banget sih adek abang."

"Abang!"

"Kala kecil..."

"Sean Berhenti!"

Sean tertawa semakin keras.Kalandra akhirnya menunduk,air matanya benar-benar jatuh.

Sean yang melihat itu langsung terdiam."Eh dek.. serius nangis?"

Kalandra mengusap wajahnya dengan kasar. "Papa lupa sama aku."

Kalimat sederhana itu membuat Sean tidak bisa lagi tertawa.Ia mendekat dan duduk di samping Kalandra. "Gak mungkin lah."

"Tapi dia nggak ngabarin adek."

"Ya mungkin karena sibuk,dek."

"Sesibuk apa sampai nggak bisa ngirim satu pesan?"

Sean menghela napas. "Lu tahu sendiri kan, Om Ages kalau udah urusan kantor,kadang lupa waktu."

Kalandra terdiam,ia tahu itu.Tapi, tetap saja hatinya merasa kesal. "Harusnya dia bilang dulu sama aku,bang."

"Iya."

"Harusnya dia bilang kalau bakal sibuk."

"Iya."

"Harusnya dia..."

"Lu kangen, kan?"

Kalandra langsung diam.

Sean tersenyum kecil. "Nggak apa-apa kalau kangen."

Kalandra menunduk semakin dalam. "Jangan bilang ke siapa-siapa."

"Kenapa?"

"Malu."

Sean tertawa kecil. "Lu tuh udah gede, tapi kalau sama Om Ages masih kayak anak kecil."

Kalandra mengerutkan hidung. "Memangnya kenapa?"

"Enggak kenapa-kenapa."

Sean menepuk kepala Kalandra."Bagus malah."

Kalandra menatapnya."Bagus?"

"Berarti lu masih punya orang yang bisa bikin lu manja."

Kalandra terdiam.Untuk sesaat, wajahnya kembali murung. "Aku cuma punya papa."

Sean tidak langsung menjawab.Ia tahu, kalimat itu bukan sekadar ucapan biasa.Kalandra memang hanya memiliki Ages.Dan Ages pun hanya memiliki Kalandra.

"Yaudah," ucap Sean akhirnya. "Kalau kangen, telepon lagi."

"Udah."

"Telepon lagi."

"Kalau nggak diangkat?"

"Telepon terus."

"Kalau tetap nggak diangkat?"

"Besok kita datangi kantor cabangnya."

Kalandra langsung menoleh."Serius bang?"

Sean tersenyum."Serius."

"Jauh loh bang."

"Ya,gak apa-apa."

"Naik mobil?"

"Ya."

"Abang yang nyetir?"

Sean langsung menggeleng. "Ya enggak lah."

"Lah terus?"

"Minta sopir lah,ngapain punya sopir banyak kalau harus repot-repot nyetir."

Kalandra mengangguk puas. "Yaudah. Besok kita susul papa."

Sean menatapnya tak percaya padahal dirinya hanya bercanda. "Lu beneran mau?"

Kalandra mengambil ponselnya. "Tentu."

Kemudian, ia kembali mengirim pesan kepada Ages.

Papa.Aku kangen...Jangan lupa balas.

Kalandra menatap layar ponselnya dengan penuh harap.Namun, beberapa menit berlalu tetap tidak ada balasan.

Wajahnya kembali cemberut.Sean yang melihatnya langsung tertawa. "Mode merajuknya kambuh."

"Sean!" Teriak Kala membuat Sean semakin tertawa keras.

Di tengah tawa Sean dan omelan Kalandra, tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa Ages sebenarnya baru saja keluar dari ruang rapat.

Pria itu mengambil ponselnya yang sejak tadi berada dalam mode senyap.Dan begitu melihat belasan panggilan tak terjawab serta pesan dari putranya, wajah Ages langsung berubah.

Pesan terakhir dari Kalandra membuat langkahnya terhenti.

Aku kangen.

Ages menatap layar ponselnya cukup lama.Kemudian, tanpa ragu, ia langsung menekan tombol panggil.

Di rumah sang abang, ponsel Kalandra berdering.Kalandra yang masih duduk dengan wajah cemberut langsung menoleh.Matanya membesar.Nama yang muncul di layar membuat wajahnya seketika berubah.

Kalandra langsung meraih ponselnya.

"PAPA!"

Suara Kalandra yang terlalu keras membuat Sean hampir terjatuh dari sofa. "Kala bangke!"

Sementara di ujung telepon, Ages hanya bisa tersenyum.

"Kenapa teriak?"

"Papa ke mana aja?"

"Maaf ya dek."

"Kenapa nggak ngabarin?"

"Iya maaf"

"Kala nungguin!"

"Iya. papa tahu."

Kalandra terdiam.Ages bisa mendengar suara putranya yang mulai bergetar.

"Jangan lupa lagi sama adek."

Ages tersenyum lembut."Iya dek."

"Serius?"

"Serius."

"Promise?"

"Promise Son."

Kalandra mengusap matanya."Papa besok pulang?"

"Iya,besok pagi."

"Jangan lama-lama ya pap."

"Iya."

"Kala kangen."

Untuk beberapa detik, Ages hanya diam.Lalu suaranya terdengar lebih lembut. "Papa juga kangen adek."

Di samping Kalandra, Sean langsung memegang dadanya pura-pura tersentuh namun tak lama ia tertawa kecil.

Kalandra menatapnya tajam sambil menunjuk. "Abang diem!"

Sean langsung menahan tawa.

Dan malam itu , Kalandra akhirnya tidur dengan tenang karena ia tahu Ayahnya tidak pernah benar-benar melupakannya dan selalu mengingatnya.

.......

.......

.......

...♡ Sabiru ♡...

Terpopuler

Comments

Nurgusnawati Nunung

Nurgusnawati Nunung

Kalandra.. jadi sedih yaaa

2026-07-31

1

Puji Hastuti

Puji Hastuti

tapi up nya jangan lama lama

2026-07-22

1

Puji Hastuti

Puji Hastuti

sukaaaa AQ ceritanya kk

2026-07-22

1

lihat semua
Episodes
1 Ayahku bernama Ages Sabiru
2 Pagi hangat di rumah Sabiru
3 Si Tampan yang tengil
4 Kala yang manja
5 Camping bersama keluarga
6 Keramaian di rumah Sabiru
7 Ages,papa yang sedang khawatir
8 Sean khawatir tapi gengsi
9 Kala yang marah dan kesal
10 Menjadi seorang Kaka yang siaga
11 Tidak seperti yang mereka pikirkan
12 Duda muda jadi target para wanita
13 Antara pematik,kertas dan angin
14 Liburan di rumah Kakek Sabiru
15 Tiga hari yang tidak di sadari
16 Rencana Nadira untuk Sabiru
17 Luka di hari spesial Kalandra
18 Janji yang kembali patah
19 Air mata di tengah Air hujan
20 Luka yang bukan hanya milik Kala
21 Lima jam penantian
22 Menunggu sebuah keajaiban
23 Akhir dari mimpi buruk
24 Merangkai kembali cermin yang pecah
25 Kehadiran teman untuk tawa Kala
26 Istirahatlah sebentar,pap!
27 Satu kalimat,menorehkan luka
28 Kemarahan seorang Ayah
29 Masih ada kami,keluarga....
30 Kembali ke rumah
31 Hari kelulusan Kala
32 Kalandra dan kebahagiaannya
33 Hari baru,dunia baru
34 Senyum manis di hari pertama
35 Kala yang tidak suka kesendirian
36 Bertemu lagi
37 Jejak seseorang Misterius
38 Rasa yang tak bisa di sembunyikan
39 Foto masalalu dan kenangan burul
40 Satu teman satu rahasia terbuka
41 Cinta yang perlahan merubah Kala
42 Ages juga merasakannya
43 Hari yang tak berpihak pada Naya
44 Pahami dan Sadari keadaannya,Kala!
45 Antara Paket Misterius dan Kabar buruk
46 Keputusan Nayara
47 Nayara kembali ke Desa
48 Kalandra akhirnya menyadari semuanya
49 Masalalu yang kembali datang
50 Sedikit petunjuk
51 Titik terang masa lalu.
52 Kebenaran yang menyakitkan
53 Menyelesaikan 1
54 Tragedi timah panas
55 Sebuah pengalihan
Episodes

Updated 55 Episodes

1
Ayahku bernama Ages Sabiru
2
Pagi hangat di rumah Sabiru
3
Si Tampan yang tengil
4
Kala yang manja
5
Camping bersama keluarga
6
Keramaian di rumah Sabiru
7
Ages,papa yang sedang khawatir
8
Sean khawatir tapi gengsi
9
Kala yang marah dan kesal
10
Menjadi seorang Kaka yang siaga
11
Tidak seperti yang mereka pikirkan
12
Duda muda jadi target para wanita
13
Antara pematik,kertas dan angin
14
Liburan di rumah Kakek Sabiru
15
Tiga hari yang tidak di sadari
16
Rencana Nadira untuk Sabiru
17
Luka di hari spesial Kalandra
18
Janji yang kembali patah
19
Air mata di tengah Air hujan
20
Luka yang bukan hanya milik Kala
21
Lima jam penantian
22
Menunggu sebuah keajaiban
23
Akhir dari mimpi buruk
24
Merangkai kembali cermin yang pecah
25
Kehadiran teman untuk tawa Kala
26
Istirahatlah sebentar,pap!
27
Satu kalimat,menorehkan luka
28
Kemarahan seorang Ayah
29
Masih ada kami,keluarga....
30
Kembali ke rumah
31
Hari kelulusan Kala
32
Kalandra dan kebahagiaannya
33
Hari baru,dunia baru
34
Senyum manis di hari pertama
35
Kala yang tidak suka kesendirian
36
Bertemu lagi
37
Jejak seseorang Misterius
38
Rasa yang tak bisa di sembunyikan
39
Foto masalalu dan kenangan burul
40
Satu teman satu rahasia terbuka
41
Cinta yang perlahan merubah Kala
42
Ages juga merasakannya
43
Hari yang tak berpihak pada Naya
44
Pahami dan Sadari keadaannya,Kala!
45
Antara Paket Misterius dan Kabar buruk
46
Keputusan Nayara
47
Nayara kembali ke Desa
48
Kalandra akhirnya menyadari semuanya
49
Masalalu yang kembali datang
50
Sedikit petunjuk
51
Titik terang masa lalu.
52
Kebenaran yang menyakitkan
53
Menyelesaikan 1
54
Tragedi timah panas
55
Sebuah pengalihan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!