Camping bersama keluarga

Pagi ini, halaman rumah keluarga Sabiru sudah dipenuhi beberapa tas besar berisi tenda,sleeping bag,kompor portable,kursi lipat.Serta berbagai macam makanan yang jumlahnya terlihat seperti mereka hendak pergi selama sebulan.

Kalandra berdiri di tengah halaman sambil memeriksa barang-barang yang sudah dimasukkan ke dalam mobil.

"Ini semua punya siapa?" tanya Ages.

Kalandra menoleh.

"Barang penting adek,pap."

Ages menunjuk salah satu tas. "Kenapa bawa tiga hoodie?"

"Gunung itu dingin,pap."

"Empat celana?" Tanya Ages lagi.

"Gunung dingin."

"Enam bungkus camilan?"

"Gunung jauh,pap."

Ages menatap putranya dengan tatapan datar. "Gunung loh dek,bukan hutan."

Kalandra mengangkat dagu. "Tapi di gunung gak ada supermarket,aku butuh makan."

Sean yang sedang memasukkan barang ke bagasi langsung tertawa. "Kura g tuh dek, bawa satu koper sekalian."

Kalandra menoleh sambil mendengus. "Kalau abang nggak ikut, sebenarnya barang kita lebih sedikit."

"Sayangnya aku ikut."

"Iya,Sayangnya."

"Inget! Lu yang ngajak ya dek."

"Aku ngajak papa kok."

Sean menunjuk Ages. "Dia om gue,dan gue kakak lo."

Kalandra mengangkat bahu. "terus penting?"

Sean menatapnya tidak percaya. "Kurang ajar,gue abang lo ya Kalandra Sabiru."

"Iya,gue gak lupa kok."

"Dasar adek lucknut."

Setelah semua barang selesai dimasukkan, mereka akhirnya berangkat.Ages duduk di kursi pengemudi dan Kalandra duduk di sampingnya.

Sementara Sean, Arsen, dan Tamara duduk di barisan belakang.

"Adek, jangan ganggu papa mu terus," ucap Tamara.

"Aku nggak ganggu kok tante mami."

"Kamu dari tadi sudah lima kali minta ganti lagu."

"Itu karena selera musik papa kolot.."

Ages melirik putranya. "Kalau tidak suka, kamu boleh turun."

"Enggak mau."

"Kenapa?"

"Gunungnya masih jauh,adek gak kuat kalau harus jalan."

"Naik taxi bisa."

"Taxi gak bisa sampe gunung,pap."

"Naik Ojeg aja."

"Naek motor ke gunung bisa bikin adek masuk angin,pap."

Sean tertawa dari belakang."Adu mulut sama tuh bocah kagak bakal menang Om,mending Om nurut aja."

Perjalanan menuju pegunungan dipenuhi suara tawa.

Kalandra terus mengganggu Ages.Mulai dari meminta berhenti membeli makanan,bertanya berapa lama lagi sampai tujuan, hingga mengeluh karena merasa bosan.

"Masih lama,pap?"

Ages menjawab tanpa menoleh. "Masih."

"Berapa lama lagi sih?"

"Satu jam."

"Lama banget,adek pegel nih."

"Baru lima belas menit yang lalu kamu tanya."

"Adek hanya memastikan."

"Memastikan apa?"

"Memastikan papa masih tahu jalan."

Ages menggelengkan kepala."Kalau bukan anak sendiri, udah gue turu in."

Kalandra tersenyum puas."Berarti karena anak sendiri jadi aku aman."

Arsen geleng kepala dibuatnya,semenjak mobil meninggalkan halaman rumah mulut Kala tidak pernah berhenti berbicara membuat suasana mobil terasa ramai.

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, mereka akhirnya tiba di kawasan pegunungan.Udara dingin langsung menyambut mereka.

Kalandra turun dari mobil dan menarik napas dalam-dalam."Ah..."

Ages ikut turun. "Kenapa?"

"Enak banget udaranya."

"Di rumah juga ada udara."

"Udara rumah nggak ada rasa gunungnya."

Ages tersenyum sambil mengusap kepala sang anak. "Ya sudah. Nikmati lah."

Mereka memilih sebuah area camping yang cukup luas dan aman.Pemandangan di sekitar mereka sangat indah.Pepohonan tinggi berdiri mengelilingi area camping. Udara terasa sejuk, sementara suara burung terdengar dari kejauhan.

Kalandra langsung bersemangat.

"Pasang tenda,pap!"

Ages menatapnya. "Yang minta camping siapa?"

Kalandra menunjuk dirinya sendiri.

"Berarti yang pasang tenda siapa?"

Kalandra menunjuk Sean.

Sean langsung menoleh."Kenapa gue?"

"Karena abang paling tua kedua."

"Alasan macam apa itu?"

Arsen tertawa."Sudahlah, Sean. Bantu Om Ages."

"Kenapa bukan adek aja sih pi?"

"Karena adek masih anak-anak." jawab Tamara pada sang anak.

Kalandra langsung protes. "Aku tujuh belas tahun Tante mami!"

"Masih anak-anak kok." sela Ages

"Papa!"

Ages yang sedang mengeluarkan perlengkapan camping hanya menjawab, "Menurut papa, kamu tetap anak kecil."

Kalandra terdiam,ingin marah tapi hatinya merasa senang mendengar ucapan sang ayah.Kala tersenyum kecil. "Yaudah kalo menurut papa gitu."

Sean berdecih. "Biasanya lo protes kalo di panggil bocil."

"Kalau papa yang bilang, beda."

Sean melongo mendengarnya. "Stres lo."

Beberapa saat kemudian, tenda mulai berdiri.Namun, prosesnya tidak berjalan semudah yang mereka bayangkan.

"Pegang tiangnya!"

"Ini sudah!"

"Yang satunya!"

"Yang mana?"

"Yang itu!"

"Ini?"

"Bukan!"

"Terus yang mana?"

Kalandra berdiri di samping sambil tertawa."Katanya paling tua kedua."

Sean menoleh tajam. "Diem lu,dek."

"Katanya bisa pasang tenda." ledek Kala kembali

"Diem bangke!"

Ages yang sejak tadi berusaha memasang bagian lain hanya bisa menghela napas. "Kalau kalian terus berdebat, malam baru selesai."

"Iya,pap."

"Iya,Om."

Jawab Kala dan Sean bersamaan.

Akhirnya, setelah hampir satu jam, tenda berhasil berdiri.Kalandra langsung mengangkat kedua tangannya.

"Berhasil!"

Sean menatap tenda tersebut. "Yang penting bisa berdiri kan."

"Kalau hujan, belum tentu tetap berdiri."

Kalandra langsung menoleh kepada Ages. "Pap, kalau hujan tendanya roboh nggak?"

Ages melihat tenda itu."Harusnya tidak."

"Harusnya?" tanya Kala bingung.

"Kalau kamu tadi tidak mengganggu terus."

Kalandra langsung masuk ke dalam tenda tanpa beban. "Aku tidur."

Sean menatap Ages."Dia kabur Om."

"Biarkan saja...dari pada ganggu terus kerjaan kita."

Arsen kembali dibuat geleng kepala."Anak lo,ges kelakuannya ajaib banget."

Ages berdecak sebal,walaupun begitu ia sangat menyayangi sang anak.

.

.

Menjelang sore, mereka mulai menyiapkan makanan.

Arsen dan Sean bertugas menyalakan api,Tamara menyiapkan bahan makanan.Sementara Ages duduk di atas tikar sambil memotong buah.

Kalandra duduk di sampingnya.

"Pap,."

"Hm?"

"Besok kita naik ke atas?"

"Kalau kamu kuat."

"Jelas kuat lah."

"Tapi awas,jangan nanti baru jalan sebentar sudah minta digendong."

Kalandra langsung menatapnya."Aku bukan anak kecil,pap."

Ages tersenyum."Benarkah?"

"Iya."

"Kalau begitu, nanti jangan mengeluh."

Kalandra mengangguk mantap. "Siap Bos."

Namun, beberapa jam kemudian, ketika mereka mulai membicarakan rencana pendakian ringan keesokan harinya,

Kalandra sudah mulai mengeluh."Kalau jalannya jauh, kita bisa naik kendaraan nggak?"

Semua orang langsung tertawa.

Kalandra mengerutkan kening."Apa?"

Ages hanya menggeleng."Katanya kuat."

"Aku kuat. Cuma suka males jalan."

"Itu namanya lo gak kuat,dek."

"Serah lo bang,gue kuat kok."

Ke limanya menikmati makanan sambil mengobrol hangat.Hingga tak teraaa malam mulai turun.Api unggun menyala di tengah-tengah mereka.

Kalandra duduk paling dekat dengan Ages, sambil memanggang marshmallow.Namun tiba-tiba marshmallow miliknya terbakar. "Yah!"

Ages menoleh."Kenapa,dek?"

"Ini gosong."

"Karena kamu terlalu dekat dengan api." Jawab Arsen yang baru datang.

"Oh..ya udah nih om papi aja yang bakar."

"Loh Kenapa Om papi?"

"Kan Om papi,papi nya adek."

Ages menatap putranya. "Apa Hubungannya dek?"

"Ya... harus bertanggung jawab sama anaknya lah."

Sean langsung tertawa. "Logika macam apa itu?"

Kalandra menunjuk marshmallow yang gosong. "Ini tanggung jawab papa sama Om papi karena adek kan masih kecil."

"Katanya tadi udah mau tujuh belas tahun"

"Abang diem,adek gak ngajak ngomong abang."

"Dih,si bocil nyebelin banget sih lo."

Kalandra menatap Arsen."Om papi gak mau ganti anak? Sabar banget punya anak kaya Bang Sean."

Ucapan Kalandra membuat semua orang melongo.

"Si anjir,enteng banget ye tu mulut." protes Sean. "Kagak sadar diri banget sih lo,dek."

"Gue sadar bang," jawab Kala "Sadar banget kalau gue lebih ganteng dari lo."

Sean semakin terkejut mendengar ucapan Kalandra. "Serah lo dah,dek.Nyerah gue debat sama lo."

Sean langsung mendekati sang mami. "Kepala abang pusing,mi.Lama-lama abang stres punya adek kaya dia." Ujar Sean sambil membaringkan tubuhnya di pangkuan sang mami.

Kala yang melihat itu tak ingin kalah,ia ikut merebahkan diri sebelah Sean. "Adek juga pusing Tante mami,punya abang kaya bang Sean."

Ketiga orang dewasa itu hanya bisa geleng melihat tingkah laku keduanya yang selalu seperti ini.

Arsen menghela napas, lalu mengambil marshmallow baru.

"Ya sudah.Papi yang bakar."

Arsen kemudian memanggang marshmallow tersebut dengan sabar.

Kalandra memperhatikan dengan senyum kecil.

"Jangan sampai gosong, Om papi."

"Diam,dek"

"Pelan-pelan,pi." kelakar Sean

"Papi tahu."

"Jangan terlalu dekat api,Om papi."

"Adek." panggil Ages

"Iya,pap?"

"Kalau kamu terus bicara, marshmallow ini papa kasih ke Sean."

Kalandra langsung diam sedangkan Sean tersenyum mengejeknya.Beberapa saat kemudian, Ages menyerahkan marshmallow yang sudah matang.

"Nih."

Kalandra menerimanya dengan wajah puas."Enak,pap."

Ages tersenyum melihatnya.

Di bawah langit malam yang dipenuhi bintang, mereka menghabiskan malam dengan cerita dan tawa.

Tidak ada pekerjaan, rapat atau kesibukan lain.Hanya ada keluarga yang berkumpul dan terlihat begitu hangat.

Dan Kalandra yang akhirnya mendapatkan apa yang sejak lama ia inginkan.Waktu bersama ayahnya.

Kalandra menyandarkan kepalanya ke bahu Ages.

"Pap."

"Hm?"

"Nanti kita Camping lagi ya."

Ages menoleh. "Ini aja baru hari pertama loh dek."

"Ya gak apa,nanti kita camping lagi."

Ages tertawa kecil. "Kalau kamu mau, iya nanti kita camping lagi."

Kalandra tersenyum.

"Janji?"

"Janji."

Kalandra kembali menatap api unggun,sementara Ages memandang putranya dengan penuh kasih sayang.

Bagi orang lain, dua hari mungkin terasa singkat.Namun bagi Ages dan Kalandra dua hari itu adalah waktu yang sangat berharga.Waktu yang kelak akan selalu mereka rindukan.

.......

.......

.......

...♡ Sabiru ♡...

Episodes
1 Ayahku bernama Ages Sabiru
2 Pagi hangat di rumah Sabiru
3 Si Tampan yang tengil
4 Kala yang manja
5 Camping bersama keluarga
6 Keramaian di rumah Sabiru
7 Ages,papa yang sedang khawatir
8 Sean khawatir tapi gengsi
9 Kala yang marah dan kesal
10 Menjadi seorang Kaka yang siaga
11 Tidak seperti yang mereka pikirkan
12 Duda muda jadi target para wanita
13 Antara pematik,kertas dan angin
14 Liburan di rumah Kakek Sabiru
15 Tiga hari yang tidak di sadari
16 Rencana Nadira untuk Sabiru
17 Luka di hari spesial Kalandra
18 Janji yang kembali patah
19 Air mata di tengah Air hujan
20 Luka yang bukan hanya milik Kala
21 Lima jam penantian
22 Menunggu sebuah keajaiban
23 Akhir dari mimpi buruk
24 Merangkai kembali cermin yang pecah
25 Kehadiran teman untuk tawa Kala
26 Istirahatlah sebentar,pap!
27 Satu kalimat,menorehkan luka
28 Kemarahan seorang Ayah
29 Masih ada kami,keluarga....
30 Kembali ke rumah
31 Hari kelulusan Kala
32 Kalandra dan kebahagiaannya
33 Hari baru,dunia baru
34 Senyum manis di hari pertama
35 Kala yang tidak suka kesendirian
36 Bertemu lagi
37 Jejak seseorang Misterius
38 Rasa yang tak bisa di sembunyikan
39 Foto masalalu dan kenangan burul
40 Satu teman satu rahasia terbuka
41 Cinta yang perlahan merubah Kala
42 Ages juga merasakannya
43 Hari yang tak berpihak pada Naya
44 Pahami dan Sadari keadaannya,Kala!
45 Antara Paket Misterius dan Kabar buruk
46 Keputusan Nayara
47 Nayara kembali ke Desa
48 Kalandra akhirnya menyadari semuanya
49 Masalalu yang kembali datang
50 Sedikit petunjuk
51 Titik terang masa lalu.
52 Kebenaran yang menyakitkan
53 Menyelesaikan 1
54 Tragedi timah panas
55 Sebuah pengalihan
Episodes

Updated 55 Episodes

1
Ayahku bernama Ages Sabiru
2
Pagi hangat di rumah Sabiru
3
Si Tampan yang tengil
4
Kala yang manja
5
Camping bersama keluarga
6
Keramaian di rumah Sabiru
7
Ages,papa yang sedang khawatir
8
Sean khawatir tapi gengsi
9
Kala yang marah dan kesal
10
Menjadi seorang Kaka yang siaga
11
Tidak seperti yang mereka pikirkan
12
Duda muda jadi target para wanita
13
Antara pematik,kertas dan angin
14
Liburan di rumah Kakek Sabiru
15
Tiga hari yang tidak di sadari
16
Rencana Nadira untuk Sabiru
17
Luka di hari spesial Kalandra
18
Janji yang kembali patah
19
Air mata di tengah Air hujan
20
Luka yang bukan hanya milik Kala
21
Lima jam penantian
22
Menunggu sebuah keajaiban
23
Akhir dari mimpi buruk
24
Merangkai kembali cermin yang pecah
25
Kehadiran teman untuk tawa Kala
26
Istirahatlah sebentar,pap!
27
Satu kalimat,menorehkan luka
28
Kemarahan seorang Ayah
29
Masih ada kami,keluarga....
30
Kembali ke rumah
31
Hari kelulusan Kala
32
Kalandra dan kebahagiaannya
33
Hari baru,dunia baru
34
Senyum manis di hari pertama
35
Kala yang tidak suka kesendirian
36
Bertemu lagi
37
Jejak seseorang Misterius
38
Rasa yang tak bisa di sembunyikan
39
Foto masalalu dan kenangan burul
40
Satu teman satu rahasia terbuka
41
Cinta yang perlahan merubah Kala
42
Ages juga merasakannya
43
Hari yang tak berpihak pada Naya
44
Pahami dan Sadari keadaannya,Kala!
45
Antara Paket Misterius dan Kabar buruk
46
Keputusan Nayara
47
Nayara kembali ke Desa
48
Kalandra akhirnya menyadari semuanya
49
Masalalu yang kembali datang
50
Sedikit petunjuk
51
Titik terang masa lalu.
52
Kebenaran yang menyakitkan
53
Menyelesaikan 1
54
Tragedi timah panas
55
Sebuah pengalihan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!