Tatapan Dingin yang Berubah

Bab 2

Suara langkah kaki terdengar mendekat dari luar pintu. Setiap langkahnya berat, teratur, seolah setiap hentakan membuat lantai kamar ikut bergetar pelan. Jantung Elena berdegup kencang sampai rasanya mau melompat keluar dari dada. Ia menelan ludah susah payah, tangan yang memegang gelas air masih gemetar pelan.

"Nyonya, Tuan sudah datang," suara pelayan terdengar berhati-hati dari balik pintu.

"I... iya, suruh masuk," jawab Elena, berusaha sekuat tenaga agar suaranya terdengar tenang, tidak bergetar, tidak terdengar takut seperti perasaannya sekarang.

Pintu terbuka perlahan.

Seorang pria bertubuh tinggi besar melangkah masuk. Setelan jas hitam yang ia kenakan rapi sekali, tidak ada satu pun lipatan yang berantakan. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan garis wajah yang tegas, rahang yang tajam, dan sepasang mata yang... dingin. Sangat dingin. Seolah tidak ada sedikit pun perasaan yang tersisa di sana. Itu Leonid. Pria yang di ingatan masa lalu, baru saja hampir menghukum mati istrinya sendiri.

Ia berhenti tidak jauh dari tepi tempat tidur, menatap lurus ke arah Elena. Tatapan itu tajam, seolah bisa menembus apa saja yang ada di pikiran orang yang ia lihat. Elena tidak berani membalas tatapan itu terlalu lama, ia hanya menunduk pelan, meremas ujung seprai dengan tangan yang tersembunyi di balik selimut.

"Kau sudah bangun," suaranya berat, rendah, tidak ada nada lembut sedikit pun.

"Iya..." jawab Elena pelan.

Leonid melangkah maju satu langkah lagi. Matanya menyapu wajah Elena lekat-lekat, seolah sedang mencari sesuatu yang hilang. "Kau terlihat berbeda."

Darah seolah berhenti mengalir sejenak di tubuh Elena. Ia mengangkat wajah perlahan, mencoba tersenyum tipis yang sama sekali tidak terasa tulus. "Maksudnya bagaimana? Aku... aku hanya merasa sedikit pusing saja tadi."

Leonid diam saja sebentar, lalu tangannya terulur. Elena menahan napas, siap-siap kalau saja tangan itu akan mencengkeram lehernya seperti yang ada di bayangan masa lalu. Tapi tangan itu hanya mendarat pelan di atas keningnya. Telapak tangannya besar, hangat, tapi sentuhannya sama sekali tidak lembut.

"Tidak demam," ucapnya pelan, lalu menarik tangannya kembali. "Jangan ulangi lagi perbuatan bodohmu itu. Aku tidak akan memaafkanmu untuk kedua kalinya."

Kalimat itu terucap begitu tenang, tapi ancamannya terasa begitu nyata menusuk ke tulang. Elena mengangguk pelan, air mata hampir saja menetes tanpa sadar. "Aku janji... aku tidak akan melakukannya lagi."

Leonid menatapnya lagi lama sekali, seolah tidak percaya dengan ucapan yang begitu lembut keluar dari mulutnya. Selama ini wanita itu selalu menjawab dengan nada tinggi, membantah, atau diam saja dengan tatapan sinis. Tapi sekarang? Ia melihat ketakutan yang tulus di mata istrinya, bukan rasa takut karena ketahuan berbuat salah, melainkan rasa takut kehilangan sesuatu yang berharga.

"Minum obatnya," ucapnya singkat, lalu berbalik sedikit ke arah pelayan yang masih menunduk diam di sudut ruangan. "Siapkan makanan ringan. Dan panggil dokter sebentar untuk memeriksanya."

"Baik, Tuan." Pelayan itu segera mundur keluar ruangan.

Saat hanya tinggal mereka berdua, suasana kembali hening. Hanya suara napas mereka yang terdengar. Leonid duduk di kursi sofa yang ada di samping tempat tidur, tidak terlalu dekat, tapi tidak terlalu jauh. Ia menatap ke arah jendela yang tertutup tirai tebal, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.

Elena memberanikan diri menatapnya diam-diam. Di balik wajah yang terlihat bengis dan tidak peduli itu, ada kesepian yang dalam. Ia ingat bayangan di kepalanya—bagaimana Leonid dulu mencintai Elena dengan tulus, memberikan segalanya, tapi balasannya hanyalah pengkhianatan dan kekejaman pada anaknya sendiri. Hati pria ini pasti sudah hancur berkeping-keping, tapi ia menutupinya dengan sikap yang lebih dingin dan keras.

"Kenapa kau menatapku?" tanya Leonid tiba-tiba tanpa menoleh.

Elena tersentak kaget, segera memalingkan wajah. "Maaf... aku hanya... aku hanya merasa bersalah."

Leonid berbalik menatapnya kembali. "Bersalah? Kau tidak pernah merasa bersalah pada siapa pun. Termasuk pada anakmu sendiri."

Kalimat itu terasa seperti tamparan keras. Elena merasakan perih yang tajam di dada, bukan karena takut, tapi karena kasihan pada anak kecil yang tidak berdosa itu. Ia mengangkat wajah, menatap lurus ke mata Leonid dengan air mata yang akhirnya menetes jatuh.

"Aku tahu aku salah... aku tahu aku sudah jahat sekali pada Alvaro. Tapi mulai sekarang... aku janji tidak akan menyakitinya lagi. Aku akan merawatnya, aku akan menjadi ibu yang baik untuknya."

Leonid terdiam. Matanya melebar sedikit, terkejut mendengar janji yang tidak pernah keluar dari mulut Elena sebelumnya. Selama ini Elena selalu menganggap anak itu sebagai beban, atau alat untuk mendapatkan perhatian darinya. Tapi ucapan ini... terasa begitu tulus. Seolah ada orang lain yang berbicara di dalam tubuh istrinya.

"Kau berjanji?" tanyanya pelan, suaranya sedikit bergetar, seolah takut berharap pada sesuatu yang mungkin sia-sia.

"Aku berjanji," jawab Elena tegas, menyeka air matanya dengan punggung tangan. "Demi apa pun, aku tidak akan menyakiti anak itu lagi."

Belum sempat Leonid menjawab, pintu kamar terbuka kembali. Seorang pelayan masuk membawa nampan berisi susu hangat dan roti, diikuti oleh sosok kecil yang berjalan pelan di belakangnya.

Alvaro.

Anak itu berjalan dengan langkah yang ragu-ragu, kepalanya menunduk dalam, kedua tangan kecilnya meremas ujung baju tidurnya yang agak lusuh. Wajahnya pucat, matanya sembab seolah baru saja menangis lama. Saat ia melangkah masuk, matanya melirik sekilas ke arah tempat tidur, lalu segera menunduk lebih dalam saat melihat sosok ibunya yang menatapnya.

Elena merasakan hatinya teriris sakit melihat anak itu. Di usia empat tahun, seharusnya ia bermain, tertawa, merasakan kasih sayang. Tapi yang ia dapatkan hanyalah ketakutan dan kesepian.

"Alvaro..." panggil Elena pelan.

Anak itu tersentak kaget, tubuhnya gemetar pelan. Ia mundur selangkah, siap untuk lari atau menerima bentakan seperti biasa.

Jantung Elena rasanya hancur melihat itu. Ia turun dari tempat tidur, berlutut perlahan di lantai agar tingginya setara dengan anak itu. Ia tidak berani bergerak cepat, takut membuat Alvaro makin takut.

"Maafkan Mama..." ucapnya dengan suara yang lembut dan penuh penyesalan. "Mama tidak akan marah lagi... bolehkah Mama melihatmu sebentar?"

Alvaro mendongak perlahan, matanya yang besar menatap ragu ke arah ibunya. Ia melihat sesuatu yang berbeda di sana—bukan kemarahan, bukan kebencian, melainkan air mata dan pandangan yang penuh kasih sayang. Ia melirik ke arah ayahnya, Leonid yang masih diam terpaku melihat kejadian itu.

Perlahan, dengan langkah yang masih gemetar, Alvaro melangkah satu langkah ke depan.

"Mama... tidak marah?" suaranya kecil sekali, hampir tak terdengar.

"Tidak, sayang... Mama tidak akan marah lagi," Elena mengulurkan tangannya perlahan. "Sini... mendekatlah pada Mama."

Ragu-ragu, tangan kecil itu menyentuh jari-jari Elena. Saat merasakan sentuhan hangat yang tidak menyakiti, Alvaro akhirnya berani melangkah mendekat. Elena langsung merangkul tubuh kecil itu pelan, memeluknya erat seolah takut anak itu akan hilang. Alvaro kaget sejenak, lalu perlahan ia membalas pelukan itu dengan pelukan yang malu-malu, menempelkan wajahnya ke dada ibunya dan menangis pelan.

Leonid berdiri diam di tempat yang sama. Matanya terasa panas, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia melihat dua orang yang paling ia sayangi di dunia ini berpelukan. Melihat perubahan yang begitu drastis pada istrinya, ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ada harapan kecil yang tumbuh di hatinya yang beku.

Mungkin... mungkin masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya.

Bersambung...

Episodes
1 Hujan yang Menukar Nasib
2 Tatapan Dingin yang Berubah
3 Tatapan yang Mulai Luruh
4 Bayang Masa Lalu yang Mengintai
5 Makan Malam yang Berbeda
6 Bayang yang Tak Pernah Pergi
7 Benang yang Mulai Terurai
8 Kebenaran yang Masih Tersembunyi
9 Jejak Lama yang Kembali Muncul
10 Bayang yang Makin Dekat
11 Bisikan yang Mengancam
12 Kebenaran yang Tak Terucap
13 Jejak yang Makin Jelas
14 Perangkap yang Saling Berkait
15 Ketenangan yang Belum Sempurna
16 Hari Esok yang Milik Kita
17 Kenangan yang Menjadi Hadiah
18 Janji yang Tak Terputus
19 Jejak yang Tak Akan Hilang
20 Cerita yang Terus Berjalan
21 Jejak yang Kita Tinggalkan
22 Janji di Bawah Langit yang Sama
23 Cahaya yang Tak Pernah Padam
24 Jejak yang Tak Akan Terhapus
25 Langkah yang Beriringan
26 Rencana yang Terjalin Bersama
27 Jejak Kebaikan yang Mulai Tersebar
28 Malam Pertama yang Sebenarnya
29 Hasrat yang Akhirnya Menemukan Tempatnya
30 Pagi yang Lembut dan Penuh Kasih
31 Siang yang Penuh Harapan
32 Keinginan Kecil dan Jawaban Tanpa Sengaja
33 Janji di Bawah Langit Malam
34 Penantian yang Menjadi Sahabat
35 Pagi yang Penuh Harapan dan Tanggung Jawab
36 Mawar yang Menanam Harapan
37 Kebohongan di Pintu Gedung Megah
38 Amarah yang Meminta Kebenaran
39 Janji yang Diucap di Atas Segalanya
40 Tanda Kecil yang Belum Terbaca
41 Garis Dua di Negeri Asing
42 Dua Garis Bahagia yang Menyatukan Hati
43 Cinta yang Semakin Bertumbuh
44 Setiap Detik Penuh Kasih Sayang
45 Keinginan Kecil yang Dipenuhi Segera
46 Rasa yang Ikut Tumbuh Bersama
47 Cinta yang Menjadi Satu Tubuh
48 Tanda Kasih Sayang yang Mulia
49 Di Hadapan Keluarga Besar
50 Tiga Bulan Penuh Berkah dan Langkah Baru
51 Istri Si Pemilik Perusahaan
52 Takkan Pernah Membiarkanmu Menjauh
53 Cahaya yang Semakin Bersinar
54 Dua Cahaya Penuh Harapan
55 Beban yang Menjadi Kebahagiaan
56 Hari yang Dinanti Semakin Dekat
57 Hati yang Sedikit Cemas
58 Kasih Sayang yang Bertambah, Bukan Berkurang
59 Hari yang Dinyatakan Tiba
60 Kejutan yang Diberkati Tuhan
61 Pulang Membawa Dua Cahaya Kecil
62 Hari-hari yang Penuh Cahaya
63 Langkah Pertama yang Disambut dengan Tawa
64 Kembali ke Rumah yang Penuh Berkat
65 Setiap Hari Penuh Keajaiban
66 Langkah dan Kata Pertama yang Penuh Berkat
67 Tiga Cahaya yang Tak Terpisahkan
68 Langkah Pertama di Gerbang yang Baru
69 Pulang Membawa Cerita yang Baru
70 Kebaikan yang Tumbuh Menjadi Cahaya
71 Cahaya yang Menyebar Lebih Luas
72 Benih Kebaikan yang Tumbuh Berderet
73 Musim Berganti Kasih Sayang Tetap Sama
74 Langkah Berbeda Satu Tujuan yang Sama
75 Ujian yang Membuktikan Kasih Sayang
76 Cahaya yang Bersinar Meski Hujan Turun
77 Jauh di Mata Dekat di Hati
78 Benih yang Tumbuh di Tanah yang Jauh
79 Markel Menemukan Jalannya
80 Mikaela Menenangkan Badai
81 Alvaro yang Tenang dan Berwibawa
82 Kekuatan yang Tidak Perlu Berteriak
83 Keberanian yang Diam
84 Di Balik Kesunyian yang Kuat
85 Langkah yang Semakin Teguh
86 Ujian yang Datang Bersama
87 Cahaya yang Menyebar Lebih Luas
88 Harta yang Tidak Bisa Dibawa Pergi
89 Pilihan yang Harus Diambil
90 Melangkah ke Jenjang yang Baru
91 Hal yang Sama di Tempat yang Berbeda
92 Sumber Kekuatan yang Sebenarnya
93 Semakin Dekat ke Tujuan
94 Hati yang Tetap Sederhana
95 Kekuatan yang Tidak Menyakiti
96 Kata yang Mengubah Hati
97 Semakin Dekat ke Ujung Perjalanan
98 Kenangan yang Tak Terlupakan
99 Langkah Terakhir Sebelum Berhenti Sejenak
100 Pulang ke Tempat yang Paling Indah
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Hujan yang Menukar Nasib
2
Tatapan Dingin yang Berubah
3
Tatapan yang Mulai Luruh
4
Bayang Masa Lalu yang Mengintai
5
Makan Malam yang Berbeda
6
Bayang yang Tak Pernah Pergi
7
Benang yang Mulai Terurai
8
Kebenaran yang Masih Tersembunyi
9
Jejak Lama yang Kembali Muncul
10
Bayang yang Makin Dekat
11
Bisikan yang Mengancam
12
Kebenaran yang Tak Terucap
13
Jejak yang Makin Jelas
14
Perangkap yang Saling Berkait
15
Ketenangan yang Belum Sempurna
16
Hari Esok yang Milik Kita
17
Kenangan yang Menjadi Hadiah
18
Janji yang Tak Terputus
19
Jejak yang Tak Akan Hilang
20
Cerita yang Terus Berjalan
21
Jejak yang Kita Tinggalkan
22
Janji di Bawah Langit yang Sama
23
Cahaya yang Tak Pernah Padam
24
Jejak yang Tak Akan Terhapus
25
Langkah yang Beriringan
26
Rencana yang Terjalin Bersama
27
Jejak Kebaikan yang Mulai Tersebar
28
Malam Pertama yang Sebenarnya
29
Hasrat yang Akhirnya Menemukan Tempatnya
30
Pagi yang Lembut dan Penuh Kasih
31
Siang yang Penuh Harapan
32
Keinginan Kecil dan Jawaban Tanpa Sengaja
33
Janji di Bawah Langit Malam
34
Penantian yang Menjadi Sahabat
35
Pagi yang Penuh Harapan dan Tanggung Jawab
36
Mawar yang Menanam Harapan
37
Kebohongan di Pintu Gedung Megah
38
Amarah yang Meminta Kebenaran
39
Janji yang Diucap di Atas Segalanya
40
Tanda Kecil yang Belum Terbaca
41
Garis Dua di Negeri Asing
42
Dua Garis Bahagia yang Menyatukan Hati
43
Cinta yang Semakin Bertumbuh
44
Setiap Detik Penuh Kasih Sayang
45
Keinginan Kecil yang Dipenuhi Segera
46
Rasa yang Ikut Tumbuh Bersama
47
Cinta yang Menjadi Satu Tubuh
48
Tanda Kasih Sayang yang Mulia
49
Di Hadapan Keluarga Besar
50
Tiga Bulan Penuh Berkah dan Langkah Baru
51
Istri Si Pemilik Perusahaan
52
Takkan Pernah Membiarkanmu Menjauh
53
Cahaya yang Semakin Bersinar
54
Dua Cahaya Penuh Harapan
55
Beban yang Menjadi Kebahagiaan
56
Hari yang Dinanti Semakin Dekat
57
Hati yang Sedikit Cemas
58
Kasih Sayang yang Bertambah, Bukan Berkurang
59
Hari yang Dinyatakan Tiba
60
Kejutan yang Diberkati Tuhan
61
Pulang Membawa Dua Cahaya Kecil
62
Hari-hari yang Penuh Cahaya
63
Langkah Pertama yang Disambut dengan Tawa
64
Kembali ke Rumah yang Penuh Berkat
65
Setiap Hari Penuh Keajaiban
66
Langkah dan Kata Pertama yang Penuh Berkat
67
Tiga Cahaya yang Tak Terpisahkan
68
Langkah Pertama di Gerbang yang Baru
69
Pulang Membawa Cerita yang Baru
70
Kebaikan yang Tumbuh Menjadi Cahaya
71
Cahaya yang Menyebar Lebih Luas
72
Benih Kebaikan yang Tumbuh Berderet
73
Musim Berganti Kasih Sayang Tetap Sama
74
Langkah Berbeda Satu Tujuan yang Sama
75
Ujian yang Membuktikan Kasih Sayang
76
Cahaya yang Bersinar Meski Hujan Turun
77
Jauh di Mata Dekat di Hati
78
Benih yang Tumbuh di Tanah yang Jauh
79
Markel Menemukan Jalannya
80
Mikaela Menenangkan Badai
81
Alvaro yang Tenang dan Berwibawa
82
Kekuatan yang Tidak Perlu Berteriak
83
Keberanian yang Diam
84
Di Balik Kesunyian yang Kuat
85
Langkah yang Semakin Teguh
86
Ujian yang Datang Bersama
87
Cahaya yang Menyebar Lebih Luas
88
Harta yang Tidak Bisa Dibawa Pergi
89
Pilihan yang Harus Diambil
90
Melangkah ke Jenjang yang Baru
91
Hal yang Sama di Tempat yang Berbeda
92
Sumber Kekuatan yang Sebenarnya
93
Semakin Dekat ke Tujuan
94
Hati yang Tetap Sederhana
95
Kekuatan yang Tidak Menyakiti
96
Kata yang Mengubah Hati
97
Semakin Dekat ke Ujung Perjalanan
98
Kenangan yang Tak Terlupakan
99
Langkah Terakhir Sebelum Berhenti Sejenak
100
Pulang ke Tempat yang Paling Indah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!