Makan Malam yang Berbeda

Bab 5

Sisa ketakutan masih terasa merayap di sekujur tubuh Elena saat ia mengatur napasnya kembali. Ia menatap pintu tempat Rian menghilang, lalu beralih menatap Alvaro yang masih terlelap tenang. Ia tahu ancaman itu bukan sekadar angin lalu. Rian adalah bahaya nyata yang akan terus mengintai setiap langkahnya. Namun ia juga tahu, ia tidak bisa terus bersembunyi. Mulai hari ini, ia harus berani berdiri tegak melindungi apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya.

Perlahan Alvaro mulai bergerak. Matanya yang mungil terbuka perlahan, mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya ruangan yang mulai remang. Saat melihat Elena ada di sampingnya, wajah kecil itu tidak lagi menunjukkan ketakutan seperti biasanya, melainkan senyum malu-malu yang sangat tipis namun tulus.

"Mama..." panggilnya pelan, suaranya masih serak sisa tangis tadi.

Elena langsung merangkul tubuh kecil itu lembut. "Iya, sayang. Mama di sini. Kamu sudah bangun? Ayo kita cuci muka, nanti kita makan malam bersama Ayah."

Alvaro mengangguk patuh. Dengan bantuan Elena, anak itu turun dari tempat tidur. Dulu, Elena asli akan mendorongnya kasar atau membiarkannya berjalan terhuyung-huyung sendiri. Tapi sekarang, Elena menggandeng tangan kecil itu erat, membimbingnya ke kamar mandi, membasuh wajah dan tangannya dengan lembut, bahkan mengajaknya berbicara pelan seolah mereka adalah sahabat lama. Alvaro hanya diam mendengarkan, tapi matanya berbinar penuh rasa ingin tahu dan harapan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Setelah Alvaro tampak lebih segar, Elena merapikan pakaian anak itu, lalu membetulkan sedikit bajunya sendiri. Ia menarik napas panjang sebelum melangkah keluar kamar, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdebar kencang. Saat berjalan menuruni tangga, suara langkah kaki mereka terdengar jelas di rumah yang besar itu. Semua pelayan yang berpapasan menunduk hormat, namun dari sudut mata mereka terlihat rasa heran yang tak bisa disembunyikan—melihat Nyonya yang dulu angkuh dan kejam kini berjalan menggandeng tangan putranya dengan penuh kasih sayang.

Di ruang makan, Leonid sudah duduk menunggu. Meja makan panjang itu penuh dengan berbagai hidangan lezat, namun suasananya biasanya dingin dan hening. Saat melihat mereka berdua masuk, Leonid meletakkan gelas yang dipegangnya. Matanya menatap lama pada tangan mereka yang saling bertaut, lalu beralih ke wajah Alvaro yang kini berani mengangkat kepala sedikit.

"Duduklah," ucap Leonid singkat, namun nadanya tidak setajam biasanya.

Elvaro ragu sejenak, namun saat Elena membimbingnya duduk di kursi kecil yang disiapkan di samping kursi Elena, anak itu duduk dengan tenang. Makan malam dimulai dalam keheningan yang canggung. Leonid makan dengan tenang, matanya sesekali melirik ke arah mereka. Elena mengisi piring Alvaro dengan makanan yang mudah dikunyah, sesekali menyuapinya dengan lembut.

"Makanlah sendiri kalau sudah bisa," ucap Leonid tiba-tiba.

Alvaro tersentak, hampir menjatuhkan sendoknya. Elena segera menenangkan anak itu, lalu menatap Leonid tenang. "Dia masih kecil, Leonid. Dan dia butuh waktu untuk terbiasa. Biarkan aku membantunya sebentar."

Leonid terdiam, menatap piringnya sendiri. "Dia anakku. Dia harus kuat."

"Kuat bukan berarti harus kesepian," jawab Elena pelan namun tegas. "Kuat itu karena ada orang yang mendukungnya, ada orang yang menyayanginya."

Kalimat itu membuat Leonid berhenti mengunyah. Ia menatap Elena lekat-lekat. Selama ini ia mengajarkan kekuatan dengan cara yang keras, sama seperti yang ia jalani. Tapi mendengar ucapan itu, ia sadar ada hal yang hilang dari cara pandangnya. Alvaro bukan prajurit yang harus dilatih sejak bayi. Ia adalah anak yang butuh kasih sayang.

Elena kemudian mengajari Alvaro memegang sendok dengan benar. Saat anak itu berhasil menyendok sedikit nasi ke mulutnya sendiri, Elena tersenyum lebar dan memuji anak itu dengan tulus. "Wah, pintar sekali anak Mama! Bagus sekali!"

Wajah Alvaro berseri-seri. Ia tertawa kecil, suara tawa yang begitu jernih dan manis, suara yang belum pernah terdengar di rumah itu selama empat tahun terakhir. Leonid terpaku melihatnya. Hatinya yang beku terasa meleleh perlahan mendengar suara tawa itu. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat sedikit, sebuah senyum tipis yang hampir tak terlihat namun sangat berharga.

Makan malam itu berlangsung berbeda dari biasanya. Tidak ada bentakan, tidak ada tatapan sinis, tidak ada ketakutan yang mencekam. Elena sesekali bercerita hal-hal sederhana, Alvaro sesekali menimpali dengan suara kecilnya, dan Leonid mendengarkan dalam diam, sesekali mengangguk atau menjawab pertanyaan Alvaro dengan nada yang jauh lebih lembut.

Setelah selesai makan, Alvaro tampak mengantuk. Elena menggendongnya sebentar, lalu berniat membawanya naik ke kamar.

"Aku yang membawanya," kata Leonid tiba-tiba sambil berdiri.

Elena terkejut. "Kau yakin?"

Leonid mengangguk pelan. Ia merentangkan tangan besarnya menerima tubuh kecil Alvaro. Alvaro sempat menatap Elena ragu, tapi saat Elena mengangguk memberi semangat, anak itu memeluk leher ayahnya dengan malu-malu. Langkah kaki Leonid terasa berat namun penuh kehati-hatian saat ia membawa putranya naik ke lantai atas. Elena mengikuti dari belakang, membiarkan ayah dan anak itu menghabiskan waktu bersama.

Sesampainya di kamar, Leonid meletakkan Alvaro di tempat tidur. Ia berdiri diam sejenak menatap wajah putranya. "Maafkan Ayah..." bisiknya pelan, begitu pelan sampai hampir tak terdengar. "Ayah tidak tahu... Ayah tidak tahu kau menderita begitu."

Elena berdiri di ambang pintu, hatinya terasa sesak namun hangat. Ia tahu pria bengis ini sebenarnya tidak jahat, ia hanya terluka dan tidak tahu cara menunjukkannya.

Saat Alvaro sudah terlelap kembali, Leonid berbalik menghadap Elena. Ruangan itu kini hanya berisi mereka berdua. Tatapan Leonid kembali dalam, namun tidak lagi penuh kemarahan, melainkan penuh pertanyaan yang belum terjawab.

"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Elena?" tanyanya lembut namun serius. "Kau bukan istriku yang dulu. Kau... kau terasa seperti orang lain."

Elena menelan ludah. Ia tahu pertanyaan ini pasti akan datang. Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, tapi ia juga tidak ingin berbohong terus-menerus.

"Aku memang berubah," jawabnya pelan. "Entah karena kejadian kemarin, entah karena rasa takut kehilangan... aku sadar banyak hal yang salah dalam hidupku. Aku hanya ingin memperbaikinya, Leonid. Demi anak kita."

Leonid melangkah mendekat perlahan. "Jika kau bermain-main denganku... atau ada rencana lain di balik perubahanmu ini..."

"Aku tidak akan pernah menyakiti kalian lagi," potong Elena tegas. "Percayalah padaku sekali saja."

Leonid menatapnya lama sekali, seolah mencoba melihat ke dalam jiwanya. Akhirnya ia menghela napas panjang, napas kelelahan yang mendalam. "Baik. Aku akan memberimu waktu. Tapi ingat, aku akan terus memantau setiap gerak-gerikmu. Dan jika kau berkhianat lagi..."

"Aku tahu," potong Elena lembut. "Aku siap menerima apa pun darimu."

Malam itu menjadi awal yang baru bagi mereka. Meski masih banyak rahasia yang tersembunyi, meski bahaya masih mengintai dari sudut gelap, setidaknya untuk malam ini, ada secercah harapan yang menyala di tengah kegelapan yang selama ini menyelimuti rumah besar itu.

 

Bersambung...

Episodes
1 Hujan yang Menukar Nasib
2 Tatapan Dingin yang Berubah
3 Tatapan yang Mulai Luruh
4 Bayang Masa Lalu yang Mengintai
5 Makan Malam yang Berbeda
6 Bayang yang Tak Pernah Pergi
7 Benang yang Mulai Terurai
8 Kebenaran yang Masih Tersembunyi
9 Jejak Lama yang Kembali Muncul
10 Bayang yang Makin Dekat
11 Bisikan yang Mengancam
12 Kebenaran yang Tak Terucap
13 Jejak yang Makin Jelas
14 Perangkap yang Saling Berkait
15 Ketenangan yang Belum Sempurna
16 Hari Esok yang Milik Kita
17 Kenangan yang Menjadi Hadiah
18 Janji yang Tak Terputus
19 Jejak yang Tak Akan Hilang
20 Cerita yang Terus Berjalan
21 Jejak yang Kita Tinggalkan
22 Janji di Bawah Langit yang Sama
23 Cahaya yang Tak Pernah Padam
24 Jejak yang Tak Akan Terhapus
25 Langkah yang Beriringan
26 Rencana yang Terjalin Bersama
27 Jejak Kebaikan yang Mulai Tersebar
28 Malam Pertama yang Sebenarnya
29 Hasrat yang Akhirnya Menemukan Tempatnya
30 Pagi yang Lembut dan Penuh Kasih
31 Siang yang Penuh Harapan
32 Keinginan Kecil dan Jawaban Tanpa Sengaja
33 Janji di Bawah Langit Malam
34 Penantian yang Menjadi Sahabat
35 Pagi yang Penuh Harapan dan Tanggung Jawab
36 Mawar yang Menanam Harapan
37 Kebohongan di Pintu Gedung Megah
38 Amarah yang Meminta Kebenaran
39 Janji yang Diucap di Atas Segalanya
40 Tanda Kecil yang Belum Terbaca
41 Garis Dua di Negeri Asing
42 Dua Garis Bahagia yang Menyatukan Hati
43 Cinta yang Semakin Bertumbuh
44 Setiap Detik Penuh Kasih Sayang
45 Keinginan Kecil yang Dipenuhi Segera
46 Rasa yang Ikut Tumbuh Bersama
47 Cinta yang Menjadi Satu Tubuh
48 Tanda Kasih Sayang yang Mulia
49 Di Hadapan Keluarga Besar
50 Tiga Bulan Penuh Berkah dan Langkah Baru
51 Istri Si Pemilik Perusahaan
52 Takkan Pernah Membiarkanmu Menjauh
53 Cahaya yang Semakin Bersinar
54 Dua Cahaya Penuh Harapan
55 Beban yang Menjadi Kebahagiaan
56 Hari yang Dinanti Semakin Dekat
57 Hati yang Sedikit Cemas
58 Kasih Sayang yang Bertambah, Bukan Berkurang
59 Hari yang Dinyatakan Tiba
60 Kejutan yang Diberkati Tuhan
61 Pulang Membawa Dua Cahaya Kecil
62 Hari-hari yang Penuh Cahaya
63 Langkah Pertama yang Disambut dengan Tawa
64 Kembali ke Rumah yang Penuh Berkat
65 Setiap Hari Penuh Keajaiban
66 Langkah dan Kata Pertama yang Penuh Berkat
67 Tiga Cahaya yang Tak Terpisahkan
68 Langkah Pertama di Gerbang yang Baru
69 Pulang Membawa Cerita yang Baru
70 Kebaikan yang Tumbuh Menjadi Cahaya
71 Cahaya yang Menyebar Lebih Luas
72 Benih Kebaikan yang Tumbuh Berderet
73 Musim Berganti Kasih Sayang Tetap Sama
74 Langkah Berbeda Satu Tujuan yang Sama
75 Ujian yang Membuktikan Kasih Sayang
76 Cahaya yang Bersinar Meski Hujan Turun
77 Jauh di Mata Dekat di Hati
78 Benih yang Tumbuh di Tanah yang Jauh
79 Markel Menemukan Jalannya
80 Mikaela Menenangkan Badai
81 Alvaro yang Tenang dan Berwibawa
82 Kekuatan yang Tidak Perlu Berteriak
83 Keberanian yang Diam
84 Di Balik Kesunyian yang Kuat
85 Langkah yang Semakin Teguh
86 Ujian yang Datang Bersama
87 Cahaya yang Menyebar Lebih Luas
88 Harta yang Tidak Bisa Dibawa Pergi
89 Pilihan yang Harus Diambil
90 Melangkah ke Jenjang yang Baru
91 Hal yang Sama di Tempat yang Berbeda
92 Sumber Kekuatan yang Sebenarnya
93 Semakin Dekat ke Tujuan
94 Hati yang Tetap Sederhana
95 Kekuatan yang Tidak Menyakiti
96 Kata yang Mengubah Hati
97 Semakin Dekat ke Ujung Perjalanan
98 Kenangan yang Tak Terlupakan
99 Langkah Terakhir Sebelum Berhenti Sejenak
100 Pulang ke Tempat yang Paling Indah
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Hujan yang Menukar Nasib
2
Tatapan Dingin yang Berubah
3
Tatapan yang Mulai Luruh
4
Bayang Masa Lalu yang Mengintai
5
Makan Malam yang Berbeda
6
Bayang yang Tak Pernah Pergi
7
Benang yang Mulai Terurai
8
Kebenaran yang Masih Tersembunyi
9
Jejak Lama yang Kembali Muncul
10
Bayang yang Makin Dekat
11
Bisikan yang Mengancam
12
Kebenaran yang Tak Terucap
13
Jejak yang Makin Jelas
14
Perangkap yang Saling Berkait
15
Ketenangan yang Belum Sempurna
16
Hari Esok yang Milik Kita
17
Kenangan yang Menjadi Hadiah
18
Janji yang Tak Terputus
19
Jejak yang Tak Akan Hilang
20
Cerita yang Terus Berjalan
21
Jejak yang Kita Tinggalkan
22
Janji di Bawah Langit yang Sama
23
Cahaya yang Tak Pernah Padam
24
Jejak yang Tak Akan Terhapus
25
Langkah yang Beriringan
26
Rencana yang Terjalin Bersama
27
Jejak Kebaikan yang Mulai Tersebar
28
Malam Pertama yang Sebenarnya
29
Hasrat yang Akhirnya Menemukan Tempatnya
30
Pagi yang Lembut dan Penuh Kasih
31
Siang yang Penuh Harapan
32
Keinginan Kecil dan Jawaban Tanpa Sengaja
33
Janji di Bawah Langit Malam
34
Penantian yang Menjadi Sahabat
35
Pagi yang Penuh Harapan dan Tanggung Jawab
36
Mawar yang Menanam Harapan
37
Kebohongan di Pintu Gedung Megah
38
Amarah yang Meminta Kebenaran
39
Janji yang Diucap di Atas Segalanya
40
Tanda Kecil yang Belum Terbaca
41
Garis Dua di Negeri Asing
42
Dua Garis Bahagia yang Menyatukan Hati
43
Cinta yang Semakin Bertumbuh
44
Setiap Detik Penuh Kasih Sayang
45
Keinginan Kecil yang Dipenuhi Segera
46
Rasa yang Ikut Tumbuh Bersama
47
Cinta yang Menjadi Satu Tubuh
48
Tanda Kasih Sayang yang Mulia
49
Di Hadapan Keluarga Besar
50
Tiga Bulan Penuh Berkah dan Langkah Baru
51
Istri Si Pemilik Perusahaan
52
Takkan Pernah Membiarkanmu Menjauh
53
Cahaya yang Semakin Bersinar
54
Dua Cahaya Penuh Harapan
55
Beban yang Menjadi Kebahagiaan
56
Hari yang Dinanti Semakin Dekat
57
Hati yang Sedikit Cemas
58
Kasih Sayang yang Bertambah, Bukan Berkurang
59
Hari yang Dinyatakan Tiba
60
Kejutan yang Diberkati Tuhan
61
Pulang Membawa Dua Cahaya Kecil
62
Hari-hari yang Penuh Cahaya
63
Langkah Pertama yang Disambut dengan Tawa
64
Kembali ke Rumah yang Penuh Berkat
65
Setiap Hari Penuh Keajaiban
66
Langkah dan Kata Pertama yang Penuh Berkat
67
Tiga Cahaya yang Tak Terpisahkan
68
Langkah Pertama di Gerbang yang Baru
69
Pulang Membawa Cerita yang Baru
70
Kebaikan yang Tumbuh Menjadi Cahaya
71
Cahaya yang Menyebar Lebih Luas
72
Benih Kebaikan yang Tumbuh Berderet
73
Musim Berganti Kasih Sayang Tetap Sama
74
Langkah Berbeda Satu Tujuan yang Sama
75
Ujian yang Membuktikan Kasih Sayang
76
Cahaya yang Bersinar Meski Hujan Turun
77
Jauh di Mata Dekat di Hati
78
Benih yang Tumbuh di Tanah yang Jauh
79
Markel Menemukan Jalannya
80
Mikaela Menenangkan Badai
81
Alvaro yang Tenang dan Berwibawa
82
Kekuatan yang Tidak Perlu Berteriak
83
Keberanian yang Diam
84
Di Balik Kesunyian yang Kuat
85
Langkah yang Semakin Teguh
86
Ujian yang Datang Bersama
87
Cahaya yang Menyebar Lebih Luas
88
Harta yang Tidak Bisa Dibawa Pergi
89
Pilihan yang Harus Diambil
90
Melangkah ke Jenjang yang Baru
91
Hal yang Sama di Tempat yang Berbeda
92
Sumber Kekuatan yang Sebenarnya
93
Semakin Dekat ke Tujuan
94
Hati yang Tetap Sederhana
95
Kekuatan yang Tidak Menyakiti
96
Kata yang Mengubah Hati
97
Semakin Dekat ke Ujung Perjalanan
98
Kenangan yang Tak Terlupakan
99
Langkah Terakhir Sebelum Berhenti Sejenak
100
Pulang ke Tempat yang Paling Indah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!