Tatapan yang Mulai Luruh

Bab 3

Pelan tapi pasti, pelukan itu terasa begitu hangat. Elena membiarkan Alvaro menangis sepuasnya di pelukannya, mengusap punggung kecil anak itu lembut berulang kali, berbisik pelan bahwa semuanya akan baik-baik saja mulai sekarang. Di sudut ruangan, Leonid masih berdiri diam, matanya tak lepas dari mereka berdua. Hatinya yang selama ini tertutup rapat oleh dinding es yang tebal, perlahan merasakan sesuatu yang asing namun menenangkan—sesuatu yang sudah lama sekali tidak ia rasakan di rumah ini.

Setelah beberapa saat, tangis Alvaro perlahan mereda. Ia menyandarkan kepalanya yang berat di bahu Elena, napasnya masih tersengal pelan, tubuh kecilnya masih sesekali bergetar sisa tangis. Elena mengangkat wajah anak itu perlahan, mengusap sisa air mata dan kotoran yang menempel di pipinya dengan ibu jari yang bergetar namun lembut.

"Kamu lapar?" tanyanya pelan, suaranya sengaja dikecilkan agar tidak mengejutkan anak itu.

Alvaro mengangguk sangat pelan, lalu segera menunduk dalam seolah baru ingat kalau ia tidak boleh mengeluh atau meminta sesuatu. "Tidak... tidak apa-apa, Mama. Nanti saja..."

Hati Elena terasa seperti diremas sakit mendengar jawaban itu. Anak seusia empat tahun seharusnya berani menangis kalau lapar, berani merengek kalau ingin sesuatu. Tapi Alvaro sudah diajari rasa takut sedemikian rupa sampai ia berani menahan rasa laparnya sendiri.

Elena menatap Leonid yang kini mulai melangkah mendekat perlahan. "Dia belum makan kan? Sejak kemarin sore?"

Leonid mengangguk pelan, rahangnya mengeras kuat menahan amarah yang kembali muncul. "Aku tahu dia dikurung di gudang. Aku tahu kau sering marah padanya. Tapi aku tidak pernah menyangka... aku tidak tahu kau tega membiarkannya kelaparan begitu." Suaranya tercekat, penuh rasa bersalah karena selama ini ia tidak pernah benar-benar mengecek keadaan anaknya sendiri.

"Sekarang tolong ambilkan makanan," ucap Elena tegas namun tidak membentak. "Makanan yang lunak, bubur ayam sedikit saja, dan susu hangat. Jangan banyak dulu, takut perutnya kaget."

Pelayan yang menunggu di luar segera bergegas pergi setelah mengangguk hormat. Leonid kemudian duduk di tepi tempat tidur, tidak terlalu dekat tapi juga tidak menjauh. Matanya menatap wajah Elena lekat-lekat, seolah sedang mencoba menghafal setiap garis wajah yang kini terasa begitu berbeda, begitu lembut dibandingkan Elena yang ia kenal selama ini.

"Kau benar-benar berubah," ucapnya pelan, hampir seperti bisikan yang hanya terdengar untuk dirinya sendiri.

Elena mengusap rambut Alvaro yang berantakan pelan. "Aku sadar betapa salahnya aku, Leonid. Aku tidak tahu kenapa dulu aku bisa begitu jahat pada darah dagingku sendiri. Seolah ada yang menutup mataku dari kebaikan. Tapi sekarang... semuanya akan berbeda. Aku janji demi nyawaku sendiri."

Leonid terdiam lama sekali. Ribuan pertanyaan berdesakan di kepalanya—apa yang membuatnya berubah? Kenapa tiba-tiba seolah menjadi orang lain? Tapi melihat Alvaro yang kini mulai berani menyandarkan kepala di lengan Elena, ia memilih menahan semua pertanyaan itu. Untuk hari ini, melihat mereka berdua bisa duduk berdampingan tanpa rasa takut sudah cukup baginya.

Tak lama kemudian pelayan kembali membawa nampan berisi mangkuk bubur yang masih mengepul hangat dan segelas susu. Elena mengambil mangkuk itu perlahan, meniupnya sebentar sebelum menyuapkan sesendok kecil ke mulut Alvaro. Anak itu menatapnya ragu sejenak, lalu membuka mulutnya pelan. Saat rasa hangat itu masuk ke perutnya, matanya kembali berkaca-kaca, tapi kali ini ia tidak menangis.

Pelan demi pelan Elena menyuapinya, sesekali berbicara hal-hal sederhana yang tidak pernah ia ucapkan dulu. Tentang bunga, tentang burung, tentang mainan yang mungkin disukai Alvaro. Alvaro hanya diam mendengarkan, tapi perlahan tangannya yang kecil mulai berani memegang ujung lengan baju Elena setiap kali ibunya hendak mengambil sendok lagi.

Leonid hanya memperhatikan dari samping, diam tanpa kata. Sesekali ia mengambil alih memegang gelas susu saat tangan Elena terasa sedikit gemetar, atau mengelap mulut Alvaro dengan tisu. Tidak ada bentakan, tidak ada tatapan sinis, untuk pertama kalinya di rumah besar yang dingin itu, suasana terasa hangat, terasa seperti keluarga yang sebenarnya.

Setelah Alvaro kenyang, Elena mengajaknya berbaring sebentar di sampingnya. Anak itu tampak sangat kelelahan, matanya berat sekali, namun tangannya masih erat mencengkeram baju Elena seolah takut ibunya akan hilang begitu ia terpejam.

"Tidur yang nyenyak ya sayang. Mama ada di sini. Mama tidak akan pergi ke mana-mana," bisik Elena sambil terus mengelus kepala anak itu dengan lembut.

Perlahan napas Alvaro menjadi teratur dan tenang. Elena menarik tangannya perlahan agar tidak membangunkan anak itu, lalu berbalik dan mendapati Leonid masih duduk di tempat yang sama. Tatapan pria itu kini tidak lagi sedingin es seperti saat pertama kali masuk tadi. Ada rasa lelah yang mendalam, kecewa yang belum hilang, namun ada secercah harapan yang mulai tumbuh perlahan.

"Kau benar-benar ingat semua perbuatanmu dulu?" tanya Leonid tiba-tiba, suaranya berat dan serak.

Elena menelan ludah susah payah. Ia mengangguk pelan. "Aku ingat semuanya. Setiap tetes air matanya, setiap ketakutannya... aku ingat semuanya. Dan aku malu sekali pada diriku sendiri."

Leonid berdiri perlahan, melangkah mendekat hingga jarak mereka tinggal sejengkal. Ia tidak menyentuhnya, hanya menatap dalam ke dalam mata Elena seolah ingin membaca apa yang tersembunyi di balik sana.

"Aku pernah mencintaimu lebih dari apa pun di dunia ini," ucapnya perlahan, setiap kata terasa berat saat diucapkan. "Aku memberimu nama, kedudukan, harta sebanyak apa pun yang kau minta. Aku berikan seluruh duniaku di kakimu. Tapi kau menghancurkan semuanya. Kau menghancurkan hatiku, dan yang paling menyakitkan... kau menghancurkan masa kecil anak kita sendiri."

Air mata kembali menetes deras di pipi Elena. "Aku tahu aku tidak pantas dimaafkan. Aku tahu aku sudah terlalu jauh melangkah. Tapi aku mohon... beri aku kesempatan untuk memperbaikinya. Demi Alvaro. Jangan biarkan dia merasakan kesepian yang sama seperti dulu lagi."

Leonid terdiam. Tangan besarnya yang kasar perlahan terulur, namun bukannya mencengkeram leher atau mendorongnya, ujung jarinya justru menyeka air mata yang jatuh di pipi Elena dengan sangat hati-hati, seolah takut istrinya akan hancur seketika. Sentuhan itu hangat, namun penuh keraguan yang mendalam.

"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu," ucapnya dengan suara bergetar pelan. "Entah kau sadar dari kebodohanmu, atau ada hal lain yang tak kumengerti... tapi ingat satu hal. Jika kau berani menyakiti anakku walau sedikit saja lagi... aku tidak akan segan-segan menghabisimu sendiri, tak peduli apa pun alasannya."

Ancaman itu terdengar nyata dan tegas, namun di balik kata-kata itu terselip rasa takut kehilangan yang begitu besar. Elena mengerti itu. Ia mengangguk mantap sambil menatap lurus ke manik mata Leonid.

"Aku rela mati di tanganmu sendiri kalau sampai aku menyakitinya lagi."

Leonid menarik tangannya perlahan, berbalik menatap jendela yang masih tertutup tirai tebal. "Istirahatlah. Dokter akan datang sebentar lagi memeriksa kondisimu. Aku harus pergi sebentar mengurus urusan yang tertunda. Tapi aku akan kembali. Dan aku akan memantau setiap gerak-gerikmu."

Sebelum melangkah menuju pintu, ia berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang. "Terima kasih... untuk tadi. Terima kasih sudah mau menjadi ibunya sebentar saja."

Pintu pun tertutup perlahan, menyisakan bunyi klik pelan saat terkunci dari luar. Kini tinggal Elena sendirian di kamar yang luas itu. Ia menjatuhkan diri duduk di tepi tempat tidur, menatap wajah tenang Alvaro yang sedang tidur pulas. Hatinya masih berdeup kencang sekali, campuran antara rasa lega karena berhasil melewati percakapan itu, rasa takut akan bahaya yang mengintai, dan beban tanggung jawab yang kini dipikulnya sendirian.

Ia tahu jalan di depan tidak akan mulus. Leonid mungkin mulai melunak sedikit, tapi ia belum sepenuhnya percaya. Orang-orang di rumah ini pasti masih mencurigai perubahannya. Belum lagi kekasih gelap Elena asli yang pasti akan datang menagih janji dan rencana yang belum selesai. Dan yang paling berat, ia harus terus berpura-pura menjadi Elena di hadapan semua orang, menyembunyikan siapa dirinya yang sebenarnya.

Namun saat melihat senyum kecil yang terukir di bibir Alvaro saat tidur, Elena menguatkan hatinya. Apapun yang akan terjadi nanti, bahaya sebesar apa pun yang datang, ia tidak akan mundur. Ia akan berjuang melindungi anak kecil ini, memperbaiki semua kesalahan masa lalu, dan mencoba meyakinkan Leonid bahwa ada hal yang berharga yang masih bisa diselamatkan dari reruntuhan rumah tangga mereka yang hancur.

Elena menarik selimut lebih tinggi menutupi tubuh Alvaro, lalu duduk diam di tepi tempat tidur menjaganya. Ia tidak akan membiarkan siapa pun lagi menyakiti anak ini. Dan ia tidak akan membiarkan nasibnya yang baru ini berakhir dengan cara yang sama seperti saat ia masih menjadi Kirana dulu. Kali ini ia akan bertahan, sekuat tenaganya.

 

Bersambung...

Episodes
1 Hujan yang Menukar Nasib
2 Tatapan Dingin yang Berubah
3 Tatapan yang Mulai Luruh
4 Bayang Masa Lalu yang Mengintai
5 Makan Malam yang Berbeda
6 Bayang yang Tak Pernah Pergi
7 Benang yang Mulai Terurai
8 Kebenaran yang Masih Tersembunyi
9 Jejak Lama yang Kembali Muncul
10 Bayang yang Makin Dekat
11 Bisikan yang Mengancam
12 Kebenaran yang Tak Terucap
13 Jejak yang Makin Jelas
14 Perangkap yang Saling Berkait
15 Ketenangan yang Belum Sempurna
16 Hari Esok yang Milik Kita
17 Kenangan yang Menjadi Hadiah
18 Janji yang Tak Terputus
19 Jejak yang Tak Akan Hilang
20 Cerita yang Terus Berjalan
21 Jejak yang Kita Tinggalkan
22 Janji di Bawah Langit yang Sama
23 Cahaya yang Tak Pernah Padam
24 Jejak yang Tak Akan Terhapus
25 Langkah yang Beriringan
26 Rencana yang Terjalin Bersama
27 Jejak Kebaikan yang Mulai Tersebar
28 Malam Pertama yang Sebenarnya
29 Hasrat yang Akhirnya Menemukan Tempatnya
30 Pagi yang Lembut dan Penuh Kasih
31 Siang yang Penuh Harapan
32 Keinginan Kecil dan Jawaban Tanpa Sengaja
33 Janji di Bawah Langit Malam
34 Penantian yang Menjadi Sahabat
35 Pagi yang Penuh Harapan dan Tanggung Jawab
36 Mawar yang Menanam Harapan
37 Kebohongan di Pintu Gedung Megah
38 Amarah yang Meminta Kebenaran
39 Janji yang Diucap di Atas Segalanya
40 Tanda Kecil yang Belum Terbaca
41 Garis Dua di Negeri Asing
42 Dua Garis Bahagia yang Menyatukan Hati
43 Cinta yang Semakin Bertumbuh
44 Setiap Detik Penuh Kasih Sayang
45 Keinginan Kecil yang Dipenuhi Segera
46 Rasa yang Ikut Tumbuh Bersama
47 Cinta yang Menjadi Satu Tubuh
48 Tanda Kasih Sayang yang Mulia
49 Di Hadapan Keluarga Besar
50 Tiga Bulan Penuh Berkah dan Langkah Baru
51 Istri Si Pemilik Perusahaan
52 Takkan Pernah Membiarkanmu Menjauh
53 Cahaya yang Semakin Bersinar
54 Dua Cahaya Penuh Harapan
55 Beban yang Menjadi Kebahagiaan
56 Hari yang Dinanti Semakin Dekat
57 Hati yang Sedikit Cemas
58 Kasih Sayang yang Bertambah, Bukan Berkurang
59 Hari yang Dinyatakan Tiba
60 Kejutan yang Diberkati Tuhan
61 Pulang Membawa Dua Cahaya Kecil
62 Hari-hari yang Penuh Cahaya
63 Langkah Pertama yang Disambut dengan Tawa
64 Kembali ke Rumah yang Penuh Berkat
65 Setiap Hari Penuh Keajaiban
66 Langkah dan Kata Pertama yang Penuh Berkat
67 Tiga Cahaya yang Tak Terpisahkan
68 Langkah Pertama di Gerbang yang Baru
69 Pulang Membawa Cerita yang Baru
70 Kebaikan yang Tumbuh Menjadi Cahaya
71 Cahaya yang Menyebar Lebih Luas
72 Benih Kebaikan yang Tumbuh Berderet
73 Musim Berganti Kasih Sayang Tetap Sama
74 Langkah Berbeda Satu Tujuan yang Sama
75 Ujian yang Membuktikan Kasih Sayang
76 Cahaya yang Bersinar Meski Hujan Turun
77 Jauh di Mata Dekat di Hati
78 Benih yang Tumbuh di Tanah yang Jauh
79 Markel Menemukan Jalannya
80 Mikaela Menenangkan Badai
81 Alvaro yang Tenang dan Berwibawa
82 Kekuatan yang Tidak Perlu Berteriak
83 Keberanian yang Diam
84 Di Balik Kesunyian yang Kuat
85 Langkah yang Semakin Teguh
86 Ujian yang Datang Bersama
87 Cahaya yang Menyebar Lebih Luas
88 Harta yang Tidak Bisa Dibawa Pergi
89 Pilihan yang Harus Diambil
90 Melangkah ke Jenjang yang Baru
91 Hal yang Sama di Tempat yang Berbeda
92 Sumber Kekuatan yang Sebenarnya
93 Semakin Dekat ke Tujuan
94 Hati yang Tetap Sederhana
95 Kekuatan yang Tidak Menyakiti
96 Kata yang Mengubah Hati
97 Semakin Dekat ke Ujung Perjalanan
98 Kenangan yang Tak Terlupakan
99 Langkah Terakhir Sebelum Berhenti Sejenak
100 Pulang ke Tempat yang Paling Indah
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Hujan yang Menukar Nasib
2
Tatapan Dingin yang Berubah
3
Tatapan yang Mulai Luruh
4
Bayang Masa Lalu yang Mengintai
5
Makan Malam yang Berbeda
6
Bayang yang Tak Pernah Pergi
7
Benang yang Mulai Terurai
8
Kebenaran yang Masih Tersembunyi
9
Jejak Lama yang Kembali Muncul
10
Bayang yang Makin Dekat
11
Bisikan yang Mengancam
12
Kebenaran yang Tak Terucap
13
Jejak yang Makin Jelas
14
Perangkap yang Saling Berkait
15
Ketenangan yang Belum Sempurna
16
Hari Esok yang Milik Kita
17
Kenangan yang Menjadi Hadiah
18
Janji yang Tak Terputus
19
Jejak yang Tak Akan Hilang
20
Cerita yang Terus Berjalan
21
Jejak yang Kita Tinggalkan
22
Janji di Bawah Langit yang Sama
23
Cahaya yang Tak Pernah Padam
24
Jejak yang Tak Akan Terhapus
25
Langkah yang Beriringan
26
Rencana yang Terjalin Bersama
27
Jejak Kebaikan yang Mulai Tersebar
28
Malam Pertama yang Sebenarnya
29
Hasrat yang Akhirnya Menemukan Tempatnya
30
Pagi yang Lembut dan Penuh Kasih
31
Siang yang Penuh Harapan
32
Keinginan Kecil dan Jawaban Tanpa Sengaja
33
Janji di Bawah Langit Malam
34
Penantian yang Menjadi Sahabat
35
Pagi yang Penuh Harapan dan Tanggung Jawab
36
Mawar yang Menanam Harapan
37
Kebohongan di Pintu Gedung Megah
38
Amarah yang Meminta Kebenaran
39
Janji yang Diucap di Atas Segalanya
40
Tanda Kecil yang Belum Terbaca
41
Garis Dua di Negeri Asing
42
Dua Garis Bahagia yang Menyatukan Hati
43
Cinta yang Semakin Bertumbuh
44
Setiap Detik Penuh Kasih Sayang
45
Keinginan Kecil yang Dipenuhi Segera
46
Rasa yang Ikut Tumbuh Bersama
47
Cinta yang Menjadi Satu Tubuh
48
Tanda Kasih Sayang yang Mulia
49
Di Hadapan Keluarga Besar
50
Tiga Bulan Penuh Berkah dan Langkah Baru
51
Istri Si Pemilik Perusahaan
52
Takkan Pernah Membiarkanmu Menjauh
53
Cahaya yang Semakin Bersinar
54
Dua Cahaya Penuh Harapan
55
Beban yang Menjadi Kebahagiaan
56
Hari yang Dinanti Semakin Dekat
57
Hati yang Sedikit Cemas
58
Kasih Sayang yang Bertambah, Bukan Berkurang
59
Hari yang Dinyatakan Tiba
60
Kejutan yang Diberkati Tuhan
61
Pulang Membawa Dua Cahaya Kecil
62
Hari-hari yang Penuh Cahaya
63
Langkah Pertama yang Disambut dengan Tawa
64
Kembali ke Rumah yang Penuh Berkat
65
Setiap Hari Penuh Keajaiban
66
Langkah dan Kata Pertama yang Penuh Berkat
67
Tiga Cahaya yang Tak Terpisahkan
68
Langkah Pertama di Gerbang yang Baru
69
Pulang Membawa Cerita yang Baru
70
Kebaikan yang Tumbuh Menjadi Cahaya
71
Cahaya yang Menyebar Lebih Luas
72
Benih Kebaikan yang Tumbuh Berderet
73
Musim Berganti Kasih Sayang Tetap Sama
74
Langkah Berbeda Satu Tujuan yang Sama
75
Ujian yang Membuktikan Kasih Sayang
76
Cahaya yang Bersinar Meski Hujan Turun
77
Jauh di Mata Dekat di Hati
78
Benih yang Tumbuh di Tanah yang Jauh
79
Markel Menemukan Jalannya
80
Mikaela Menenangkan Badai
81
Alvaro yang Tenang dan Berwibawa
82
Kekuatan yang Tidak Perlu Berteriak
83
Keberanian yang Diam
84
Di Balik Kesunyian yang Kuat
85
Langkah yang Semakin Teguh
86
Ujian yang Datang Bersama
87
Cahaya yang Menyebar Lebih Luas
88
Harta yang Tidak Bisa Dibawa Pergi
89
Pilihan yang Harus Diambil
90
Melangkah ke Jenjang yang Baru
91
Hal yang Sama di Tempat yang Berbeda
92
Sumber Kekuatan yang Sebenarnya
93
Semakin Dekat ke Tujuan
94
Hati yang Tetap Sederhana
95
Kekuatan yang Tidak Menyakiti
96
Kata yang Mengubah Hati
97
Semakin Dekat ke Ujung Perjalanan
98
Kenangan yang Tak Terlupakan
99
Langkah Terakhir Sebelum Berhenti Sejenak
100
Pulang ke Tempat yang Paling Indah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!