Bayang Masa Lalu yang Mengintai

Bab 4

Hening kembali menyelimuti ruangan itu, namun kali ini bukan keheningan yang dingin, kosong, dan penuh ancaman seperti dulu. Elena duduk diam di tepi tempat tidur, matanya tak lepas dari wajah tenang Alvaro yang sedang terlelap. Sesekali ia mengusap rambut halus anak itu dengan ujung jarinya yang lembut, merasakan betapa berharganya nyawa kecil yang kini diamanatkan kepadanya. Di luar jendela, hujan masih terdengar menetes pelan membasahi kaca, seolah mengiringi detak jantungnya yang perlahan mulai kembali tenang. Napasnya teratur, meski rasa takut masih tersisa di sudut hati—takut salah langkah, takut terbongkar, tapi lebih takut jika ia gagal melindungi anak ini.

Belum lama berselang, terdengar ketukan halus dan sopan di pintu. Dokter yang dipanggil Leonid datang membawa tas medisnya. Pria paruh baya itu menunduk hormat saat masuk, namun tatapan matanya sempat melirik heran saat melihat Alvaro tidur pulas berdekatan dengan Elena—sesuatu yang tak pernah ia lihat selama bertahun-tahun merawat keluarga ini. Dulu, Elena selalu menjauhkan diri dari anaknya, bahkan tak sudi menatapnya lebih dari sedetik.

"Maaf mengganggu istirahat Nyonya," ucapnya pelan dengan nada penuh rasa hormat yang masih terasa ragu. "Tuan Leonid berpesan agar saya memeriksa kondisi Nyonya sebentar, memastikan tidak ada cedera dalam atau pusing yang berlebihan."

Elena mengangguk pelan, berusaha bangkit perlahan tanpa mengganggu tidur Alvaro yang begitu lelap. "Terima kasih, Dokter. Tolong... tolong periksa juga kondisi anak saya. Sepertinya dia sering kurang makan, dan matanya sering terlihat takut saat didekati siapa pun."

Dokter itu tertegun sejenak, matanya melebar tak percaya mendengar perhatian yang tulus itu, namun ia segera menunduk kembali menyembunyikan rasa kagetnya. "Baik, Nyonya. Segera saya periksa keduanya dengan teliti."

Pemeriksaan berlangsung tenang dan hati-hati. Dokter memberikan obat penenang ringan untuk Elena dan vitamin lengkap untuk Alvaro, serta menyarankan menu makanan bergizi yang harus diberikan secara bertahap agar perut anak itu tidak kaget. Elena mendengarkan setiap petunjuk dengan saksama, seolah sedang menghafal ilmu yang paling penting dan berharga baginya. Setelah dokter pamit dan pintu tertutup kembali, suasana kembali hening, namun kini ada rasa harap yang mulai tumbuh perlahan di hati Elena—harapan bahwa mungkin saja mereka bisa membangun kehidupan yang lebih baik dari ini semua.

Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.

Saat hari mulai menjelang sore, langit yang tadinya mendung kini berubah gelap kembali. Terdengar suara gaduh pelan dari lantai bawah, suara orang berbicara agak tinggi namun segera diredam, disusul langkah kaki yang berat, tergesa-gesa, dan penuh amarah yang ditahan menaiki tangga menuju kamar ini. Jantung Elena kembali berdegup kencang seakan mau copot. Ia segera mengeratkan selimut pada Alvaro yang masih tidur, lalu berjalan perlahan menuju pintu yang sedikit terbuka, berusaha mengintip siapa yang datang.

Belum sempat ia melihat dengan jelas, pintu kamar didorong kasar dari luar hingga berbunyi keras.

Bukan Leonid yang masuk, melainkan seorang pria lain yang tak asing lagi di ingatannya. Pakaiannya rapi namun terlihat mencolok, rambutnya disisir rapi memakai minyak wangi yang terlalu menyengat hingga memenuhi ruangan, dan senyum di bibirnya terasa licik, penuh kepura-puraan, serta kemarahan yang disembunyikan. Saat melihat Elena berdiri kaku di sana, pria itu langsung tersenyum lebar, lalu melangkah hendak mendekat dengan tangan terbuka seolah ingin memeluknya.

"Elena... sayang, kau sudah sadar? Aku khawatir sekali mendengar kau jatuh pingsan kemarin. Aku hampir saja datang lebih awal," ucapnya dengan nada merayu yang dibuat-buat, membuat perut Elena mual seketika.

Ingatan dalam kepalanya langsung melesat kembali tajam. Itu Rian. Kekasih gelap Elena asli. Orang yang bersama-sama merencanakan pengkhianatan, merencanakan pelarian membawa harta Leonid, dan yang paling mengerikan—merencanakan cara untuk menyingkirkan Alvaro agar tidak menjadi penghalang.

Elena mundur selangkah, menjaga jarak aman sekuat tenaga agar tidak tersentuh oleh pria itu. "Kau... apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau bisa masuk ke rumah ini?"

Rian berhenti melangkah, alisnya terangkat tinggi mendengar nada bicara yang begitu berbeda, dingin, dan menjauh. "Kau bicara apa? Aku kan datang menjenguk wanitaku sendiri. Bukankah kita sudah berjanji akan pergi bersama setelah semuanya selesai?" Ia melirik sekilas ke arah tempat tidur, lalu wajahnya langsung berubah masam dan jijik melihat Alvaro tidur tenang di samping Elena. "Dan kenapa anak itu ada di sisimu? Kau bahkan tak pernah sudi menyentuhnya sedikit pun dulu!"

Darah Elena mendidih menahan amarah, tapi ia tahu ia harus tetap tenang. Jika ia salah bicara atau menunjukkan sikap yang terlalu jauh berbeda, semuanya akan terbongkar sebelum waktunya. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan getaran suaranya sebaik mungkin.

"Aku sadar banyak hal, Rian. Saat terbaring tak sadarkan diri kemarin... aku sempat berpikir panjang. Dan rencana kita... batalkan saja. Aku tidak bisa melakukannya lagi."

Wajah Rian seketika berubah gelap, matanya menyala penuh amarah dan keterkejutan. Ia melangkah maju lagi, lalu menutup pintu kamar dengan kasar hingga bunyinya memantul di dinding. "Apa kau bicara sembarangan?! Kau lupa apa yang sudah kita rencanakan berbulan-bulan? Kau lupa semua janjimu padaku? Dan kau lupa siapa yang akan rugi besar kalau kau mundur sekarang? Kau pikir kau bisa main-main denganku begitu saja?!"

"Kau tidak mengerti keadaan sekarang," jawab Elena tegas namun suaranya tetap rendah agar tidak membangunkan Alvaro. "Aku tidak bisa meninggalkan anakku. Dan aku tidak bisa terus mengkhianati Leonid yang sudah memberiku segalanya. Aku ingin berubah, Rian. Tolong mengertilah."

Rian tertawa keras namun tanpa tawa yang sebenarnya, terdengar mengerikan dan penuh ancaman. "Berubah? Kau ingin berubah jadi ibu yang baik begitu saja? Dasar pengecut! Kau hanya takut pada tatapan tajam suamimu itu! Kau pikir kau bisa berhenti begitu saja setelah menyeretku ke dalam masalah ini? Kau sudah terlalu jauh melibatkanku, Elena. Dan aku tidak akan membiarkanmu membuangku begitu saja seperti sampah!"

Ia mendekat lagi hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Elena, menatap tajam tepat ke manik matanya. "Ingat baik-baik perkataanku. Jika kau berani melanggar janji atau menjauh dariku, aku akan membongkar semuanya. Aku akan memberitahu Leonid setiap detail rencana kita, setiap kata manis yang kau ucapkan padaku, dan kau tahu persis apa yang akan terjadi pada lehermu saat itu. Kau akan mati bersamaku, Elena!"

Ancaman itu terasa begitu nyata, tajam, dan dingin menusuk jantung Elena. Ia tahu Rian bukan orang yang main-main. Ia tahu betapa kejamnya dunia tempat mereka berada sekarang. Namun saat ia menoleh sebentar melihat Alvaro yang masih terlelap damai, seolah tak tahu bahaya yang sedang mengancam nyawanya, kekuatan kembali mengisi dadanya. Ia tidak boleh takut. Ia harus melindungi anak itu walau harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.

"Kau boleh bilang apa saja pada siapa pun," ucap Elena mantap tanpa memalingkan wajah. "Tapi mulai sekarang, aku bukan Elena yang dulu kau kenal. Aku tidak akan lari kemana-mana. Dan aku tidak akan membiarkan kau atau siapa pun mencelakai anakku atau suamiku."

Rian hendak berteriak kembali, tangannya terangkat seolah ingin menampar atau mencengkeram leher Elena, namun tiba-tiba suara langkah kaki berat dan teratur terdengar mendekat dari luar pintu. Suara yang sangat dikenali keduanya. Leonid.

Wajah Rian seketika berubah pucat pasi. Ia melirik Elena dengan pandangan tajam penuh peringatan dan ancaman mati, lalu dengan gerakan cepat ia menyelinap di balik tirai jendela yang besar tepat saat pintu kamar didorong terbuka.

Leonid masuk dengan wajah yang masih kaku namun terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Matanya langsung menyapu seluruh ruangan dengan tajam, seolah indranya menangkap ada sesuatu yang tidak beres, ada bau wangi yang asing, ada ketegangan yang menggantung di udara. Tatapannya berhenti lama pada wajah Elena yang terlihat pucat pasi, napasnya sedikit memburu, dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

"Ada apa?" tanyanya singkat namun tajam, matanya tak lepas dari wajah Elena.

Elena menelan ludah susah payah, berusaha menyembunyikan rasa takut dan gugupnya. "Tidak... tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit terkejut saat pintu terbuka tadi. Aku kira kau belum akan pulang sebentar lagi."

Leonid melangkah maju perlahan, matanya menatap tajam ke arah tirai jendela yang sedikit bergerak ditiup angin kecil. "Kau berbohong. Ada orang lain di sini."

Darah Elena seakan berhenti mengalir seketika. Ia tahu jika Leonid menemukan Rian sekarang, semuanya akan hancur lebur sebelum sempat diperbaiki. Ia maju selangkah, berdiri menghalangi pandangan Leonid ke arah jendela. "Leonid... tolong percayai aku sebentar saja. Benar-benar tidak ada siapa-siapa. Aku hanya sedang teringat hal-hal buruk masa lalu yang membuatku kaget."

Leonid berhenti melangkah. Ia menatap wajah Elena lekat-lekat, mencari kepalsuan atau ketakutan karena bersalah di sana. Namun yang ia temukan hanyalah ketakutan yang tulus, ketakutan akan kehilangan sesuatu yang berharga, bukan ketakutan karena tertangkap basah berbuat salah. Untuk sesaat hening mencekam di antara mereka, lalu Leonid perlahan mengangguk pelan, meski matanya masih menyimpan keraguan yang dalam.

"Baik. Untuk saat ini aku percaya. Tapi ingat baik-baik pesanku. Jangan ada satu pun rahasia yang kau sembunyikan dariku. Karena bagaimanapun kau menutupinya, aku akan tahu. Dan konsekuensinya kau tahu sendiri."

Ia berbalik sejenak menatap Alvaro yang masih tenang tidurnya. "Makan malam akan siap sebentar lagi. Bawa dia turun ke ruang makan kalau dia sudah bangun. Aku tunggu kalian di bawah."

Saat Leonid melangkah keluar dan pintu tertutup rapat, Elena baru bisa menghela napas panjang yang tertahan sedari tadi. Kakinya terasa lemas seketika hingga ia harus bertumpu pada tepi meja. Rian keluar dari balik tirai dengan wajah penuh amarah yang tak bisa diluapkan, menatap Elena dengan tatapan tajam yang mengancam nyawa.

"Ini belum selesai, Elena. Kita belum selesai bicara. Tunggu saja apa yang akan kulakukan," bisiknya tajam dengan suara bergetar menahan emosi, lalu ia menyelinap keluar lewat pintu samping yang menghubungkan ke balkon, menghilang begitu saja ke dalam kegelapan sore.

Elena terduduk lemas di tepi tempat tidur, air mata tak sadar menetes kembali. Ia tahu bahaya tidak hanya datang dari luar, tapi juga dari sisa masa lalu yang kelam milik Elena asli yang masih terus mengikutinya. Namun saat ia melihat wajah polos Alvaro, ia segera mengusap air matanya dan menguatkan hati kembali. Pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan ia harus siap menghadapinya walau harus berhadapan dengan maut sekalipun.

 

Bersambung...

Episodes
1 Hujan yang Menukar Nasib
2 Tatapan Dingin yang Berubah
3 Tatapan yang Mulai Luruh
4 Bayang Masa Lalu yang Mengintai
5 Makan Malam yang Berbeda
6 Bayang yang Tak Pernah Pergi
7 Benang yang Mulai Terurai
8 Kebenaran yang Masih Tersembunyi
9 Jejak Lama yang Kembali Muncul
10 Bayang yang Makin Dekat
11 Bisikan yang Mengancam
12 Kebenaran yang Tak Terucap
13 Jejak yang Makin Jelas
14 Perangkap yang Saling Berkait
15 Ketenangan yang Belum Sempurna
16 Hari Esok yang Milik Kita
17 Kenangan yang Menjadi Hadiah
18 Janji yang Tak Terputus
19 Jejak yang Tak Akan Hilang
20 Cerita yang Terus Berjalan
21 Jejak yang Kita Tinggalkan
22 Janji di Bawah Langit yang Sama
23 Cahaya yang Tak Pernah Padam
24 Jejak yang Tak Akan Terhapus
25 Langkah yang Beriringan
26 Rencana yang Terjalin Bersama
27 Jejak Kebaikan yang Mulai Tersebar
28 Malam Pertama yang Sebenarnya
29 Hasrat yang Akhirnya Menemukan Tempatnya
30 Pagi yang Lembut dan Penuh Kasih
31 Siang yang Penuh Harapan
32 Keinginan Kecil dan Jawaban Tanpa Sengaja
33 Janji di Bawah Langit Malam
34 Penantian yang Menjadi Sahabat
35 Pagi yang Penuh Harapan dan Tanggung Jawab
36 Mawar yang Menanam Harapan
37 Kebohongan di Pintu Gedung Megah
38 Amarah yang Meminta Kebenaran
39 Janji yang Diucap di Atas Segalanya
40 Tanda Kecil yang Belum Terbaca
41 Garis Dua di Negeri Asing
42 Dua Garis Bahagia yang Menyatukan Hati
43 Cinta yang Semakin Bertumbuh
44 Setiap Detik Penuh Kasih Sayang
45 Keinginan Kecil yang Dipenuhi Segera
46 Rasa yang Ikut Tumbuh Bersama
47 Cinta yang Menjadi Satu Tubuh
48 Tanda Kasih Sayang yang Mulia
49 Di Hadapan Keluarga Besar
50 Tiga Bulan Penuh Berkah dan Langkah Baru
51 Istri Si Pemilik Perusahaan
52 Takkan Pernah Membiarkanmu Menjauh
53 Cahaya yang Semakin Bersinar
54 Dua Cahaya Penuh Harapan
55 Beban yang Menjadi Kebahagiaan
56 Hari yang Dinanti Semakin Dekat
57 Hati yang Sedikit Cemas
58 Kasih Sayang yang Bertambah, Bukan Berkurang
59 Hari yang Dinyatakan Tiba
60 Kejutan yang Diberkati Tuhan
61 Pulang Membawa Dua Cahaya Kecil
62 Hari-hari yang Penuh Cahaya
63 Langkah Pertama yang Disambut dengan Tawa
64 Kembali ke Rumah yang Penuh Berkat
65 Setiap Hari Penuh Keajaiban
66 Langkah dan Kata Pertama yang Penuh Berkat
67 Tiga Cahaya yang Tak Terpisahkan
68 Langkah Pertama di Gerbang yang Baru
69 Pulang Membawa Cerita yang Baru
70 Kebaikan yang Tumbuh Menjadi Cahaya
71 Cahaya yang Menyebar Lebih Luas
72 Benih Kebaikan yang Tumbuh Berderet
73 Musim Berganti Kasih Sayang Tetap Sama
74 Langkah Berbeda Satu Tujuan yang Sama
75 Ujian yang Membuktikan Kasih Sayang
76 Cahaya yang Bersinar Meski Hujan Turun
77 Jauh di Mata Dekat di Hati
78 Benih yang Tumbuh di Tanah yang Jauh
79 Markel Menemukan Jalannya
80 Mikaela Menenangkan Badai
81 Alvaro yang Tenang dan Berwibawa
82 Kekuatan yang Tidak Perlu Berteriak
83 Keberanian yang Diam
84 Di Balik Kesunyian yang Kuat
85 Langkah yang Semakin Teguh
86 Ujian yang Datang Bersama
87 Cahaya yang Menyebar Lebih Luas
88 Harta yang Tidak Bisa Dibawa Pergi
89 Pilihan yang Harus Diambil
90 Melangkah ke Jenjang yang Baru
91 Hal yang Sama di Tempat yang Berbeda
92 Sumber Kekuatan yang Sebenarnya
93 Semakin Dekat ke Tujuan
94 Hati yang Tetap Sederhana
95 Kekuatan yang Tidak Menyakiti
96 Kata yang Mengubah Hati
97 Semakin Dekat ke Ujung Perjalanan
98 Kenangan yang Tak Terlupakan
99 Langkah Terakhir Sebelum Berhenti Sejenak
100 Pulang ke Tempat yang Paling Indah
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Hujan yang Menukar Nasib
2
Tatapan Dingin yang Berubah
3
Tatapan yang Mulai Luruh
4
Bayang Masa Lalu yang Mengintai
5
Makan Malam yang Berbeda
6
Bayang yang Tak Pernah Pergi
7
Benang yang Mulai Terurai
8
Kebenaran yang Masih Tersembunyi
9
Jejak Lama yang Kembali Muncul
10
Bayang yang Makin Dekat
11
Bisikan yang Mengancam
12
Kebenaran yang Tak Terucap
13
Jejak yang Makin Jelas
14
Perangkap yang Saling Berkait
15
Ketenangan yang Belum Sempurna
16
Hari Esok yang Milik Kita
17
Kenangan yang Menjadi Hadiah
18
Janji yang Tak Terputus
19
Jejak yang Tak Akan Hilang
20
Cerita yang Terus Berjalan
21
Jejak yang Kita Tinggalkan
22
Janji di Bawah Langit yang Sama
23
Cahaya yang Tak Pernah Padam
24
Jejak yang Tak Akan Terhapus
25
Langkah yang Beriringan
26
Rencana yang Terjalin Bersama
27
Jejak Kebaikan yang Mulai Tersebar
28
Malam Pertama yang Sebenarnya
29
Hasrat yang Akhirnya Menemukan Tempatnya
30
Pagi yang Lembut dan Penuh Kasih
31
Siang yang Penuh Harapan
32
Keinginan Kecil dan Jawaban Tanpa Sengaja
33
Janji di Bawah Langit Malam
34
Penantian yang Menjadi Sahabat
35
Pagi yang Penuh Harapan dan Tanggung Jawab
36
Mawar yang Menanam Harapan
37
Kebohongan di Pintu Gedung Megah
38
Amarah yang Meminta Kebenaran
39
Janji yang Diucap di Atas Segalanya
40
Tanda Kecil yang Belum Terbaca
41
Garis Dua di Negeri Asing
42
Dua Garis Bahagia yang Menyatukan Hati
43
Cinta yang Semakin Bertumbuh
44
Setiap Detik Penuh Kasih Sayang
45
Keinginan Kecil yang Dipenuhi Segera
46
Rasa yang Ikut Tumbuh Bersama
47
Cinta yang Menjadi Satu Tubuh
48
Tanda Kasih Sayang yang Mulia
49
Di Hadapan Keluarga Besar
50
Tiga Bulan Penuh Berkah dan Langkah Baru
51
Istri Si Pemilik Perusahaan
52
Takkan Pernah Membiarkanmu Menjauh
53
Cahaya yang Semakin Bersinar
54
Dua Cahaya Penuh Harapan
55
Beban yang Menjadi Kebahagiaan
56
Hari yang Dinanti Semakin Dekat
57
Hati yang Sedikit Cemas
58
Kasih Sayang yang Bertambah, Bukan Berkurang
59
Hari yang Dinyatakan Tiba
60
Kejutan yang Diberkati Tuhan
61
Pulang Membawa Dua Cahaya Kecil
62
Hari-hari yang Penuh Cahaya
63
Langkah Pertama yang Disambut dengan Tawa
64
Kembali ke Rumah yang Penuh Berkat
65
Setiap Hari Penuh Keajaiban
66
Langkah dan Kata Pertama yang Penuh Berkat
67
Tiga Cahaya yang Tak Terpisahkan
68
Langkah Pertama di Gerbang yang Baru
69
Pulang Membawa Cerita yang Baru
70
Kebaikan yang Tumbuh Menjadi Cahaya
71
Cahaya yang Menyebar Lebih Luas
72
Benih Kebaikan yang Tumbuh Berderet
73
Musim Berganti Kasih Sayang Tetap Sama
74
Langkah Berbeda Satu Tujuan yang Sama
75
Ujian yang Membuktikan Kasih Sayang
76
Cahaya yang Bersinar Meski Hujan Turun
77
Jauh di Mata Dekat di Hati
78
Benih yang Tumbuh di Tanah yang Jauh
79
Markel Menemukan Jalannya
80
Mikaela Menenangkan Badai
81
Alvaro yang Tenang dan Berwibawa
82
Kekuatan yang Tidak Perlu Berteriak
83
Keberanian yang Diam
84
Di Balik Kesunyian yang Kuat
85
Langkah yang Semakin Teguh
86
Ujian yang Datang Bersama
87
Cahaya yang Menyebar Lebih Luas
88
Harta yang Tidak Bisa Dibawa Pergi
89
Pilihan yang Harus Diambil
90
Melangkah ke Jenjang yang Baru
91
Hal yang Sama di Tempat yang Berbeda
92
Sumber Kekuatan yang Sebenarnya
93
Semakin Dekat ke Tujuan
94
Hati yang Tetap Sederhana
95
Kekuatan yang Tidak Menyakiti
96
Kata yang Mengubah Hati
97
Semakin Dekat ke Ujung Perjalanan
98
Kenangan yang Tak Terlupakan
99
Langkah Terakhir Sebelum Berhenti Sejenak
100
Pulang ke Tempat yang Paling Indah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!