Bab 2: Penjaga Atau Tawanan?

Sinar matahari pagi menerobos masuk lewat celah tirai jendela yang tebal, menyinari lantai marmer kamar yang luas itu. Nayara terbangun dengan perasaan bingung yang seketika berubah menjadi panik hebat saat menyadari ia tidak berada di kamarnya sendiri. Ingatan semalam berputar kembali dengan cepat—hujan deras, gang gelap, suara tembakan, dan sosok pria dingin bernama Arya Satria yang kini menguasai seluruh hidupnya.

Ia bangkit duduk perlahan, menatap sekeliling ruangan yang terasa asing namun kini menjadi tempat perlindungan sekaligus penjara baginya. Di atas meja rias sudah tersedia pakaian ganti yang pas dengan ukuran tubuhnya, serta nampan berisi sarapan sederhana namun terlihat lezat. Perutnya sebenarnya terasa lapar, tapi tenggorokannya terasa kering setiap kali ia mencoba menelan ludah.

Nayara melangkah mendekati pintu, mencoba memutar gagangnya. Terkunci. Jantungnya mencelos. Rasa takut kembali menyergap. Ia mengetuk pintu pelan, lalu sedikit lebih keras. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki berat berhenti di seberang sana.

"Nona Nayara?" suara Bima terdengar samar dari balik pintu. "Ada yang bisa saya bantu?"

"Pak Bima... pintunya terkunci," ucap Nayara dengan suara bergetar. "Bolehkah saya keluar sebentar? Saya ingin mencuci muka, atau sekadar berjalan-jalan sedikit..."

"Maafkan saya, Nona," jawab Bima dengan nada sungguh-sungguh. "Itu perintah Tuan Arya. Nona belum boleh keluar kamar sampai beliau datang menjemput atau memberi izin. Tapi jika Nona butuh apa saja, katakan saja lewat pintu ini, saya akan siapkan."

Nayara menghela napas panjang, menahan air mata yang hendak menetes. Ia mundur perlahan, kembali duduk di tepi tempat tidur yang empuk namun terasa sangat dingin. Di luar sana, orang tuanya pasti sudah mulai gelisah, teman-temannya mungkin bertanya-tanya mengapa ia tidak muncul. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Seperti yang dikatakan Arya semalam, kembali ke kehidupan lamanya saat ini sama saja dengan membawa maut bagi orang-orang yang ia sayangi.

Tak berapa lama, pintu terbuka dari luar. Arya berdiri di sana, mengenakan kemeja putih bersih yang digulung hingga siku, memperlihatkan lengan kekar yang membalut otot yang terlatih. Wajahnya masih setajam semalam, namun ada sedikit perbedaan—kini ia tidak memakai jas hitam yang membuatnya tampak semakin mengintimidasi.

Nayara segera bangkit berdiri, merapatkan tubuhnya ke sisi tempat tidur seolah ingin menghilang ke dalam dinding. Tatapan Arya menyapu seluruh ruangan, lalu berhenti tepat pada wajah gadis itu.

"Kau belum makan?" tanyanya singkat, melangkah masuk dan menutup pintu kembali.

"Saya... saya belum lapar," jawab Nayara menunduk, tak berani menatap mata pria itu.

Arya mendekat, membuat Nayara semakin menekan punggungnya ke dinding. Pria itu berhenti berjarak satu langkah darinya, lalu menatap lekat wajah pucat gadis itu.

"Di rumah ini, kau akan makan, tidur, dan berperilaku layaknya penghuni rumah ini," ucapnya tegas. "Bukan karena aku menyayangimu, tapi karena aku butuh kau dalam keadaan sehat dan waras. Jika kau sakit atau lemah, kau hanya akan menjadi beban bagiku."

Kata-katanya terdengar kasar dan dingin, namun entah mengapa cara bicaranya begitu teratur, seolah ia sedang menetapkan aturan yang harus dipatuhi demi kebaikan bersama.

"Duduklah. Makanlah," perintahnya lagi, kali ini nadanya sedikit lebih rendah namun tetap tak bisa ditawar.

Nayara mengangguk pelan, duduk kembali dan mulai menyantap sarapannya dengan tangan yang masih gemetar. Arya berdiri tak jauh dari sana, bersandar pada lemari pakaian sambil melipat tangan di dada, mengawasinya terus-menerus. Setiap kali Nayara menoleh sedikit, ia selalu mendapati tatapan tajam itu tak lepas darinya.

"Apakah... apakah saya benar-benar tidak boleh menghubungi Ayah dan Ibu?" tanyanya tiba-tiba, memberanikan diri meski suaranya nyaris tak terdengar.

Rahang Arya mengeras seketika. "Bima sudah mengurusnya. Mereka diberitahu kau ditempatkan di asrama kantor karena ada tugas mendesak yang harus diselesaikan berhari-hari. Jika kau menelepon atau datang ke rumah, jejakmu akan terbaca oleh musuh-musuhku. Dan saat itu terjadi, kau bukan satu-satunya yang akan mati."

Kalimat itu menampar kesadaran Nayara sekali lagi. Ia mengangguk pelan, menelan ludah dengan susah payah. "Baiklah... saya mengerti."

Arya melangkah maju, mengambil kursi di seberang meja makan lalu duduk berhadapan dengan gadis itu. "Sekarang dengarkan aturan yang harus kau ikuti selama di sini. Pertama, jangan pernah mencoba melarikan diri. Penjagaan di luar sangat ketat, dan kau pasti akan tertangkap sebelum kau sampai di gerbang. Kedua, jangan bertanya hal-hal yang tidak perlu tentang urusanku. Kau cukup tahu apa yang perlu kau ketahui. Ketiga, jangan berbicara sembarangan pada siapa pun yang kau temui di rumah ini, kecuali Bima atau aku sendiri."

Ia berhenti sejenak, menatap lekat mata Nayara yang mulai berkaca-kaca. "Dan yang terakhir... jangan berharap aku akan menjadi pria yang lembut atau penuh kasih sayang. Aku bukan pahlawanmu, Nayara. Aku adalah orang yang kau temukan di tempat pembunuhan semalam. Satu-satunya alasan kau masih bernapas hari ini adalah karena aku memutuskan begitu."

Nayara meletakkan sendok dan garpunya perlahan. "Lalu kenapa? Kenapa Anda tidak membiarkan saya mati saja semalam? Bukankah lebih aman jika tidak ada yang tahu apa yang terjadi di gang itu?"

Arya terdiam. Matanya menatap kosong ke arah jendela besar yang menghadap kota Semarang yang mulai terang benderang. Bayangan masa lalu kembali melintas di benaknya—seorang wanita yang dulu ia cintai, yang memiliki mata persis seperti gadis di hadapannya ini. Wanita yang harus ia korbankan demi keamanan organisasinya.

"Karena," jawabnya pelan, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha menahannya, "membunuh orang yang tidak bersalah... adalah hal yang tidak akan pernah aku lakukan lagi."

Kalimat itu keluar begitu saja, dan seketika suasana di ruangan itu berubah. Ada sisi lain dari Arya yang tersembunyi di balik topeng kekejamannya—sebuah penyesalan mendalam yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun.

"Namun jangan salah paham," lanjutnya cepat, kembali memasang wajah dinginnya. "Itu bukan berarti aku membiarkanmu bebas. Kau akan tinggal di sini, di bawah pengawasan ketatku. Sampai aku yakin rahasia itu aman, dan kau tidak akan menjadi ancaman bagiku."

Nayara hanya bisa diam, merasakan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi ia takut setengah mati pada pria yang duduk di hadapannya. Namun di sisi lain, ia mulai menyadari bahwa pria yang dikenal sebagai pemimpin mafia kejam itu ternyata memiliki luka yang tak terlihat, luka yang mungkin lebih dalam daripada apa yang bisa ia bayangkan.

"Baiklah," ucap Nayara akhirnya, menatap lurus ke manik mata Arya. "Saya akan menuruti semua aturan Anda. Saya berjanji tidak akan melarikan diri, dan tidak akan memberitahu siapa pun tentang apa yang saya lihat semalam. Tapi tolong... janjilah Anda tidak akan mencelakai orang tuaku."

Arya menatapnya lama, lalu perlahan mengangguk. "Selama kau menuruti perkataanku, mereka akan aman. Dan kau pun akan aman."

Ia bangkit berdiri, berjalan menuju pintu. "Selesaikan sarapanmu. Nanti Bima akan mengantarmu berkeliling rumah, tapi ingat—hanya di area yang diizinkan. Jangan mencoba melangkah keluar pagar."

Saat Arya hendak membuka pintu, Nayara tiba-tiba memanggilnya. "Tuan Arya..."

Pria itu berhenti, menoleh sedikit tanpa membalikkan badan sepenuhnya.

"Terima kasih," ucap Nayara lirih, meski ia sendiri tak yakin harus berterima kasih atas apa—atas nyawanya yang terselamatkan, atau atas penjara yang kini ia tempati.

Arya tak menjawab. Ia hanya melangkah keluar dan menutup pintu perlahan, meninggalkan Nayara sendirian dengan ribuan pertanyaan yang kini mulai merayap di benaknya. Siapa sebenarnya Arya Satria? Apa yang menyembunyikan di balik tatapan matanya yang kelam? Dan yang paling penting—bagaimana nasibnya selanjutnya, terkurung di antara perlindungan dan ancaman dari pria yang kini menjadi tuannya?

Di luar kamar, Arya menyandarkan punggungnya ke dinding sejenak, menutup matanya rapat-rapat. Hatinya yang selama ini keras bagaikan batu, seakan retak sedikit demi sedikit setiap kali ia melihat wajah Nayara. Ia tahu membawa gadis itu masuk ke dalam hidupnya adalah kesalahan besar. Namun melihat ketulusan yang terpancar dari mata gadis itu, ia tak sanggup melakukannya. Entah ini adalah awal dari perubahan, atau justru awal dari kehancuran yang lebih dahsyat lagi.

Episodes
1 Bab 1: Mata Yang Tak Sengaja Melihat
2 Bab 2: Penjaga Atau Tawanan?
3 Bab 3: Rumah Mewah Penjara Emas
4 Bab 4: Tatapan Dingin Arya Satria
5 Bab 5: Aturan Yang Tak Boleh Dilanggar
6 Bab 6: Kehidupan Baru Yang Menyesakkan
7 Bab 7: Pertemuan Dengan Orang-Orang Berbahaya
8 Bab 8: Pertanyaan Yang Tak Berani Diucapkan
9 Bab 9: Bayangan Masa Lalu
10 Bab 10: Saat Kesunyian Menjadi Sahabat
11 Bab 11: Sisi Lain Yang Tak Terduga
12 Bab 12: Kebaikan Yang Membingungkan
13 Bab 13: Ancaman Dari Luar
14 Bab 14: Pelindung Yang Berbahaya
15 Bab 15: Jejak Darah Dan Kebenaran
16 Bab 16: Pertemuan Tak Terduga Dengan Masa Lalu
17 Bab 17: Kebohongan Yang Terlalu Indah
18 Bab 18: Rasa Takut Yang Berubah Menjadi Rindu
19 Bab 19: Langkah Berani Menghadapi Kenyataan
20 Bab 20: Awal Yang Baru Di Ujung Perjuangan
21 Bab 21: Bayangan Masa Lalu Yang Masih Mengintai
22 Bab 22: Cahaya Di Ujung Jalan
23 Bab 23: Mengubah Jejak Masa Lalu
24 Bab 24: Kepercayaan Yang Mulai Tumbuh
25 Bab 25: Keraguan Yang Sempat Datang
26 Bab 26: Janji Di Bawah Langit Malam
27 Bab 27: Kunjungan Yang Tak Terduga
28 Bab 28: Rahasia Kecil Yang Terungkap
29 Bab 29: Perdebatan Dan Pengertian
30 Bab 30: Langkah Pertama Menuju Perubahan
31 Bab 31: Mata-Mata Yang Mengawasi
32 Bab 32: Kesalahan Yang Tak Disengaja
33 Bab 33: Permintaan Maaf Dan Pengampunan
34 Bab 34: Rencana Besar Arya Satria
35 Bab 35: Dukungan Yang Tak Terduga
36 Bab 36: Ujian Kepercayaan
37 Bab 37: Pertemuan Dengan Keluarga
38 Bab 38: Kekhawatiran Yang Berubah Menjadi Harapan
39 Bab 39: Serangan Balik Musuh
40 Bab 40: Di Ambang Bahaya
41 Bab 41: Kekuatan Dari Kasih Sayang
42 Bab 42: Pengungkapan Kebenaran Kepada Dunia
43 Bab 43: Menghadapi Pengkhianatan Lagi
44 Bab 44: Persahabatan Yang Kembali Era
45 Bab 45: Menyusun Kembali Segalanya
46 Bab 46: Langkah Menuju Keadilan
47 Bab 47: Kenangan Yang Menjadi Penguat
48 Bab 48: Cahaya Yang Mulai Terang
49 Bab 49: Perpisahan Yang Tak Terduga
50 Bab 50: Di Ujung Penantian Dan Harapan
Episodes

Updated 50 Episodes

1
Bab 1: Mata Yang Tak Sengaja Melihat
2
Bab 2: Penjaga Atau Tawanan?
3
Bab 3: Rumah Mewah Penjara Emas
4
Bab 4: Tatapan Dingin Arya Satria
5
Bab 5: Aturan Yang Tak Boleh Dilanggar
6
Bab 6: Kehidupan Baru Yang Menyesakkan
7
Bab 7: Pertemuan Dengan Orang-Orang Berbahaya
8
Bab 8: Pertanyaan Yang Tak Berani Diucapkan
9
Bab 9: Bayangan Masa Lalu
10
Bab 10: Saat Kesunyian Menjadi Sahabat
11
Bab 11: Sisi Lain Yang Tak Terduga
12
Bab 12: Kebaikan Yang Membingungkan
13
Bab 13: Ancaman Dari Luar
14
Bab 14: Pelindung Yang Berbahaya
15
Bab 15: Jejak Darah Dan Kebenaran
16
Bab 16: Pertemuan Tak Terduga Dengan Masa Lalu
17
Bab 17: Kebohongan Yang Terlalu Indah
18
Bab 18: Rasa Takut Yang Berubah Menjadi Rindu
19
Bab 19: Langkah Berani Menghadapi Kenyataan
20
Bab 20: Awal Yang Baru Di Ujung Perjuangan
21
Bab 21: Bayangan Masa Lalu Yang Masih Mengintai
22
Bab 22: Cahaya Di Ujung Jalan
23
Bab 23: Mengubah Jejak Masa Lalu
24
Bab 24: Kepercayaan Yang Mulai Tumbuh
25
Bab 25: Keraguan Yang Sempat Datang
26
Bab 26: Janji Di Bawah Langit Malam
27
Bab 27: Kunjungan Yang Tak Terduga
28
Bab 28: Rahasia Kecil Yang Terungkap
29
Bab 29: Perdebatan Dan Pengertian
30
Bab 30: Langkah Pertama Menuju Perubahan
31
Bab 31: Mata-Mata Yang Mengawasi
32
Bab 32: Kesalahan Yang Tak Disengaja
33
Bab 33: Permintaan Maaf Dan Pengampunan
34
Bab 34: Rencana Besar Arya Satria
35
Bab 35: Dukungan Yang Tak Terduga
36
Bab 36: Ujian Kepercayaan
37
Bab 37: Pertemuan Dengan Keluarga
38
Bab 38: Kekhawatiran Yang Berubah Menjadi Harapan
39
Bab 39: Serangan Balik Musuh
40
Bab 40: Di Ambang Bahaya
41
Bab 41: Kekuatan Dari Kasih Sayang
42
Bab 42: Pengungkapan Kebenaran Kepada Dunia
43
Bab 43: Menghadapi Pengkhianatan Lagi
44
Bab 44: Persahabatan Yang Kembali Era
45
Bab 45: Menyusun Kembali Segalanya
46
Bab 46: Langkah Menuju Keadilan
47
Bab 47: Kenangan Yang Menjadi Penguat
48
Bab 48: Cahaya Yang Mulai Terang
49
Bab 49: Perpisahan Yang Tak Terduga
50
Bab 50: Di Ujung Penantian Dan Harapan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!