Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Bab 1: Mata Yang Tak Sengaja Melihat

Hujan deras mengguyur Kota Semarang sejak sore tadi, membasahi aspal jalanan yang mulai lengket, serta mengaburkan cahaya lampu kota yang berkedip-kedip di balik tirai air tebal. Angin malam yang berhembus dari arah pantai membawa aroma tanah basah yang tajam, bercampur dengan bau asap kendaraan yang tertahan di jalanan.

Di sudut ruang arsip kantor hukum tua di kawasan Simpang Lima, Nayara Adiswara masih sibuk merapikan tumpukan berkas yang sepertinya tak ada habisnya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Hanya dia dan penjaga gedung yang tersisa di sana.

"Terlalu banyak pekerjaan, Ra?" tanya Pak Joko saat lewat di depan pintu, sambil membetulkan posisi sarungnya.

"Harus selesai malam ini, Pak. Besarannya harus diserahkan besok pagi," jawab Nayara sambil tersenyum tipis, meski matanya terasa berat. Gadis berusia dua puluh dua tahun itu baru lulus dan bekerja sebagai staf administrasi. Ia tak ingin mengecewakan atasannya, meski berarti harus pulang saat malam semakin larut.

Setelah menutup laci terakhir, Nayara meraih tas kerjanya, mematikan lampu, dan melangkah keluar. Hujan belum juga reda. Ia berdiri di bawah atap kanopi sejenak, menunggu mereda sedikit. Namun sepertinya hujan justru makin ganas. Dengan berat hati, ia melangkahkan kaki menerobos rintik air, berharap bisa segera mendapatkan taksi atau ojek daring.

Jalanan sepi. Biasanya masih ramai, tapi hujan malam ini seolah menyuruh semua orang tetap di dalam rumah. Nayara berjalan menyusuri trotoar yang licin, merapatkan jaket ke tubuhnya yang kurus. Langkahnya terhenti saat ia melihat sebuah gang kecil yang biasanya ia lewati untuk mempersingkat jalan pulang. Biasanya ia tak berani lewat sana malam-malam begini, tapi cuaca yang buruk membuatnya nekat.

"Paling cepat lima menit sudah sampai," gumamnya pelan, meyakinkan diri sendiri.

Gang itu remang-remang, hanya diterangi satu lampu jalan yang berkedip-kedip. Di ujung sana, terdapat sebuah bangunan tua yang sudah lama kosong. Namun malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Suara langkah kaki berat terdengar, diikuti suara bentakan rendah yang penuh ancaman.

Nayara mematung. Ia bersembunyi di balik tiang beton tua, jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Rasa ingin tahu yang bercampur ketakutan mendorongnya mengintip sedikit.

Di sana, di bawah sorot lampu yang redup, berdiri sekelompok pria bertubuh besar dengan pakaian serba hitam. Di tengah mereka, seorang pria dengan jas hitam yang pas di badan berdiri tegak. Posturnya menjulang, memancarkan aura yang begitu mendominasi, dingin, dan menakutkan. Wajahnya sebagian tertutup bayangan, tapi Nayara bisa melihat rahangnya yang tegas dan tatapan matanya yang tajam seperti elang yang mengincar mangsa.

Itu adalah Arya Satria. Nama yang sering ia dengar berbisik-bisik di telinga orang-orang Semarang. Pemimpin organisasi bayangan yang konon memegang kendali atas sebagian besar bisnis gelap kota ini. Sosok yang tak pernah tersentuh hukum, dan namanya saja sudah cukup membuat orang bergidik ngeri.

"Kau pikir kau bisa lari begitu saja dari kami?" suara Arya terdengar rendah namun bergetar, penuh amarah yang tertahan. Ia menatap pria yang sudah terjatuh di hadapannya, wajah pria itu penuh darah dan ketakutan.

"Saya... saya minta maaf, Tuan Satria... saya hanya..." pria itu tergagap, tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

"Kau melanggar aturan. Kau mencuri dari kami. Dan kau tahu apa akibatnya?" Arya mengangkat tangannya perlahan. Gerakannya begitu tenang, namun justru itulah yang membuatnya semakin mengerikan. Tanpa teriakan, tanpa amukan, ia melambaikan tangan singkat.

Salah satu anak buahnya maju dan—

Duar!

Suara letusan peluru tertahan terdengar memecah keheningan malam. Darah memercik ke tanah yang basah.

Nayara menutup mulutnya dengan kedua tangan sekuat tenaga agar tak mengeluarkan suara. Matanya membelalak lebar, air mata seketika menggenang. Kakinya lemas seketika. Ia baru saja menyaksikan sebuah pembunuhan secara langsung.

Nafasnya tercekat. Ia mencoba mundur perlahan, berniat lari secepat mungkin dari tempat terkutuk itu. Namun, tumit sepatunya tersandung batu kecil.

Krak!

Suara itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan malam.

Segera saja, semua kepala menoleh ke arahnya. Sepasang mata tajam milik Arya Satria terkunci tepat pada manik mata Nayara. Waktu seolah berhenti berputar. Hujan semakin deras, membasahi tubuh mereka, namun tak ada yang bergerak sedetik pun.

Arya menatapnya lekat, dari ujung kaki hingga wajah pucat gadis itu. Ada kebingungan sesaat, lalu digantikan oleh amarah yang membara namun dingin. Seorang gadis asing telah melihat apa yang seharusnya tak pernah dilihat oleh siapa pun.

"Tangkap dia," perintah Arya singkat, datar, namun mematikan.

Dua orang pria berbadan besar segera berlari mendekat. Nayara sadar ia tak punya kesempatan untuk melawan. Ia berbalik hendak lari, tapi kakinya yang gemetar tak mampu mengimbangi kecepatan mereka. Dalam hitungan detik, tangannya sudah dicengkeram erat. Perlawanannya sia-sia. Ia diseret mendekat ke arah pria yang kini menjadi mimpi buruknya.

Arya melangkah maju, berhenti tepat di hadapan Nayara. Tingginya menjulang, membuat gadis itu harus mendongak menatapnya. Bau parfum mahal bercampur bau tembakau dan besi berkarat tercium dari dirinya.

"Siapa kau?" tanyanya, suaranya rendah dan menekan.

"Saya... saya hanya lewat..." suara Nayara bergetar hebat, air mata akhirnya menetes membasahi pipi yang basah karena hujan. "Saya tidak melihat apa-apa... saya janji..."

Arya menunduk sedikit, menatap lekat ke dalam mata cokelat Nayara yang bening namun penuh ketakutan. Ia melihat ketulusan di sana, kepolosan yang begitu kontras dengan dunia kelam yang ia tinggali. Namun, tak ada pengecualian bagi siapa pun yang tahu rahasianya.

"Kau sudah melihat cukup banyak," ucap Arya dingin. Ia mengangkat tangan, menyentuh rahang Nayara dengan jari yang kasar namun sentuhannya entah bagaimana terasa sangat lembut, membuat gadis itu bergidik bukan karena takut semata. "Sekarang kau tidak boleh pergi ke mana-mana."

"Tolong... lepaskan saya..." Nayara meronta pelan, namun tatapan Arya seolah mematikan seluruh tenaganya.

"Namaku Arya Satria. Dan mulai detik ini, kau milikku. Sampai aku yakin kau tidak akan membocorkan apa yang kau lihat malam ini," ucapnya tegas. Ia memberi isyarat, dan anak buahnya segera membawa Nayara masuk ke dalam mobil hitam yang terparkir tak jauh dari sana.

Nayara dipaksa masuk ke kursi belakang, tepat di sebelah Arya. Pintu tertutup rapat, memisahkan mereka dari dunia luar. Suara hujan kini terdengar samar. Mobil melaju membelah jalanan kota Semarang yang sepi, menuju ke arah perbukitan tempat kediaman pribadi Arya.

Di dalam mobil yang sunyi itu, Nayara menekuk lututnya, memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar. Di sampingnya duduk pria yang menakutkan, pria yang bisa mengakhiri hidupnya kapan saja. Namun entah mengapa, di tengah ketakutan yang melumpuhkan akal sehatnya, ada rasa aneh yang terselip—sebuah perasaan yang belum ia pahami, bahwa takdirnya kini telah terikat rapat dengan pria bernama Arya Satria.

Dan di balik wajah dingin Arya yang tak menunjukkan emosi apa pun, ada sesuatu yang bergetar di dalam hatinya. Sesuatu yang sudah lama mati, kini kembali berdenyut pelan saat melihat air mata yang jatuh dari mata gadis itu

Episodes
1 Bab 1: Mata Yang Tak Sengaja Melihat
2 Bab 2: Penjaga Atau Tawanan?
3 Bab 3: Rumah Mewah Penjara Emas
4 Bab 4: Tatapan Dingin Arya Satria
5 Bab 5: Aturan Yang Tak Boleh Dilanggar
6 Bab 6: Kehidupan Baru Yang Menyesakkan
7 Bab 7: Pertemuan Dengan Orang-Orang Berbahaya
8 Bab 8: Pertanyaan Yang Tak Berani Diucapkan
9 Bab 9: Bayangan Masa Lalu
10 Bab 10: Saat Kesunyian Menjadi Sahabat
11 Bab 11: Sisi Lain Yang Tak Terduga
12 Bab 12: Kebaikan Yang Membingungkan
13 Bab 13: Ancaman Dari Luar
14 Bab 14: Pelindung Yang Berbahaya
15 Bab 15: Jejak Darah Dan Kebenaran
16 Bab 16: Pertemuan Tak Terduga Dengan Masa Lalu
17 Bab 17: Kebohongan Yang Terlalu Indah
18 Bab 18: Rasa Takut Yang Berubah Menjadi Rindu
19 Bab 19: Langkah Berani Menghadapi Kenyataan
20 Bab 20: Awal Yang Baru Di Ujung Perjuangan
21 Bab 21: Bayangan Masa Lalu Yang Masih Mengintai
22 Bab 22: Cahaya Di Ujung Jalan
23 Bab 23: Mengubah Jejak Masa Lalu
24 Bab 24: Kepercayaan Yang Mulai Tumbuh
25 Bab 25: Keraguan Yang Sempat Datang
26 Bab 26: Janji Di Bawah Langit Malam
27 Bab 27: Kunjungan Yang Tak Terduga
28 Bab 28: Rahasia Kecil Yang Terungkap
29 Bab 29: Perdebatan Dan Pengertian
30 Bab 30: Langkah Pertama Menuju Perubahan
31 Bab 31: Mata-Mata Yang Mengawasi
32 Bab 32: Kesalahan Yang Tak Disengaja
33 Bab 33: Permintaan Maaf Dan Pengampunan
34 Bab 34: Rencana Besar Arya Satria
35 Bab 35: Dukungan Yang Tak Terduga
36 Bab 36: Ujian Kepercayaan
37 Bab 37: Pertemuan Dengan Keluarga
38 Bab 38: Kekhawatiran Yang Berubah Menjadi Harapan
39 Bab 39: Serangan Balik Musuh
40 Bab 40: Di Ambang Bahaya
41 Bab 41: Kekuatan Dari Kasih Sayang
42 Bab 42: Pengungkapan Kebenaran Kepada Dunia
43 Bab 43: Menghadapi Pengkhianatan Lagi
44 Bab 44: Persahabatan Yang Kembali Era
45 Bab 45: Menyusun Kembali Segalanya
46 Bab 46: Langkah Menuju Keadilan
47 Bab 47: Kenangan Yang Menjadi Penguat
48 Bab 48: Cahaya Yang Mulai Terang
49 Bab 49: Perpisahan Yang Tak Terduga
50 Bab 50: Di Ujung Penantian Dan Harapan
Episodes

Updated 50 Episodes

1
Bab 1: Mata Yang Tak Sengaja Melihat
2
Bab 2: Penjaga Atau Tawanan?
3
Bab 3: Rumah Mewah Penjara Emas
4
Bab 4: Tatapan Dingin Arya Satria
5
Bab 5: Aturan Yang Tak Boleh Dilanggar
6
Bab 6: Kehidupan Baru Yang Menyesakkan
7
Bab 7: Pertemuan Dengan Orang-Orang Berbahaya
8
Bab 8: Pertanyaan Yang Tak Berani Diucapkan
9
Bab 9: Bayangan Masa Lalu
10
Bab 10: Saat Kesunyian Menjadi Sahabat
11
Bab 11: Sisi Lain Yang Tak Terduga
12
Bab 12: Kebaikan Yang Membingungkan
13
Bab 13: Ancaman Dari Luar
14
Bab 14: Pelindung Yang Berbahaya
15
Bab 15: Jejak Darah Dan Kebenaran
16
Bab 16: Pertemuan Tak Terduga Dengan Masa Lalu
17
Bab 17: Kebohongan Yang Terlalu Indah
18
Bab 18: Rasa Takut Yang Berubah Menjadi Rindu
19
Bab 19: Langkah Berani Menghadapi Kenyataan
20
Bab 20: Awal Yang Baru Di Ujung Perjuangan
21
Bab 21: Bayangan Masa Lalu Yang Masih Mengintai
22
Bab 22: Cahaya Di Ujung Jalan
23
Bab 23: Mengubah Jejak Masa Lalu
24
Bab 24: Kepercayaan Yang Mulai Tumbuh
25
Bab 25: Keraguan Yang Sempat Datang
26
Bab 26: Janji Di Bawah Langit Malam
27
Bab 27: Kunjungan Yang Tak Terduga
28
Bab 28: Rahasia Kecil Yang Terungkap
29
Bab 29: Perdebatan Dan Pengertian
30
Bab 30: Langkah Pertama Menuju Perubahan
31
Bab 31: Mata-Mata Yang Mengawasi
32
Bab 32: Kesalahan Yang Tak Disengaja
33
Bab 33: Permintaan Maaf Dan Pengampunan
34
Bab 34: Rencana Besar Arya Satria
35
Bab 35: Dukungan Yang Tak Terduga
36
Bab 36: Ujian Kepercayaan
37
Bab 37: Pertemuan Dengan Keluarga
38
Bab 38: Kekhawatiran Yang Berubah Menjadi Harapan
39
Bab 39: Serangan Balik Musuh
40
Bab 40: Di Ambang Bahaya
41
Bab 41: Kekuatan Dari Kasih Sayang
42
Bab 42: Pengungkapan Kebenaran Kepada Dunia
43
Bab 43: Menghadapi Pengkhianatan Lagi
44
Bab 44: Persahabatan Yang Kembali Era
45
Bab 45: Menyusun Kembali Segalanya
46
Bab 46: Langkah Menuju Keadilan
47
Bab 47: Kenangan Yang Menjadi Penguat
48
Bab 48: Cahaya Yang Mulai Terang
49
Bab 49: Perpisahan Yang Tak Terduga
50
Bab 50: Di Ujung Penantian Dan Harapan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!