Bab 3: Rumah Mewah Penjara Emas

Sinar matahari semakin tinggi, menembus jendela kaca besar yang memantulkan cahaya ke seluruh sudut rumah yang begitu luas. Setelah selesai makan, pintu kamar terbuka dan Bima masuk dengan senyum tipis yang tetap sopan.

"Silakan ikut saya, Nona Nayara. Tuan Arya mengizinkan Nona melihat sekeliling rumah, dengan syarat tidak melangkah ke area yang dilarang," ucapnya pelan.

Nayara mengangguk, menyusul langkah pria paruh baya itu keluar dari kamar. Langkah kakinya ragu, matanya tak henti memandangi setiap sudut yang ia lewati. Lorong yang panjang dilapisi marmer hitam mengkilap, dindingnya dihiasi lukisan-lukisan bernilai tinggi yang gaya lukisannya begitu gelap dan mendalam. Di setiap ujung lorong selalu ada pria berpakaian serba hitam yang berdiri diam bagaikan patung, menatapnya sekilas dengan tatapan waspada sebelum kembali memandang lurus ke depan.

"Ini ruang tengah," tunjuk Bima saat mereka memasuki ruangan yang sangat besar. Langit-langitnya tinggi, ditopang pilar-pilar kokoh. Di tengahnya ada perapian besar yang kini sudah dingin, dan sofa kulit hitam yang terlihat sangat nyaman namun tak ada yang berani duduk di sana sembarangan. "Tuan Arya biasanya menerima tamu di sini. Tapi Nona dilarang masuk ke ruang kerja, ruang rapat, dan lantai dasar sebelah barat."

Nayara menelan ludah. "Kenapa ada begitu banyak larangan, Pak Bima? Padahal ini rumah..."

Bima berhenti sejenak, menatap ke arah jendela yang menghadap ke halaman belakang yang luas. "Bagi orang biasa, rumah adalah tempat beristirahat. Tapi bagi Tuan Arya, rumah ini adalah benteng. Setiap sudutnya menyimpan rahasia, setiap pintunya menyembunyikan bahaya. Tuan hanya ingin Nona aman, walau caranya mungkin terasa kaku."

Mereka berjalan menuju dapur yang bersih dan modern, lalu ke ruang makan yang mejanya saja sepanjang lima meter. Di ujung lorong sebelah kiri, Nayara sempat melihat pintu kayu besar yang sedikit terbuka. Dari celahnya, ia melihat tumpukan berkas berlabel rahasia dan peta yang dipaku di dinding. Tanpa sadar ia melangkah hendak mengintip lebih jauh, namun tangan Bima segera menahannya dengan lembut namun tegas.

"Jangan ke sana, Nona. Itu ruang kerja Tuan Arya. Tidak ada yang boleh masuk tanpa izin beliau, bahkan saya sekalipun."

Belum sempat Nayara meminta maaf, suara berat yang sudah sangat ia kenali terdengar dari belakang mereka.

"Kau melangkah terlalu jauh."

Nayara menoleh dengan terkejut. Arya berdiri di sana, tangannya memegang selembar kertas, rahangnya mengeras. Wajahnya tidak menunjukkan amarah meledak-ledak, tapi justru ketenangan yang jauh lebih menakutkan.

"Saya... saya hanya penasaran, saya tidak bermaksud..." Nayara tergagap, mundur selangkah.

Arya melangkah mendekat, menatap tajam ke dalam mata gadis itu. "Keingintahuanmu itu yang akan membunuhmu, Nayara. Duniaku bukan tempat untuk kau telusuri sesukamu. Setiap hal yang tidak kau ketahui, justru itulah yang menjagamu tetap hidup."

Ia melewati samping Nayara, berhenti sejenak berbisik tanpa menoleh: "Jika kau ingin bertahan hidup di sini, pelajari aturannya. Atau kau akan menyesal telah melihat apa yang tak seharusnya kau lihat malam itu."

Setelah Arya masuk ke ruang kerjanya dan pintu tertutup rapat, tubuh Nayara terasa lemas seketika. Bima menghela napas pelan. "Jangan ambil hati perkataan Tuan, Nona. Beliau keras karena pernah kehilangan banyak orang yang disayanginya. Beliau tak ingin hal yang sama terjadi lagi pada Nona."

Siang berganti sore. Nayara duduk di teras belakang yang menghadap ke taman luas dan kolam renang yang jernih. Angin sepoi-sepoi berhembus membawa aroma bunga melati yang tumbuh rimbun di sudut taman. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat hamparan Kota Semarang yang mulai berwarna-warni seiring matahari yang mulai turun. Namun keindahan itu terasa begitu jauh, seolah ada dinding tak kasat mata yang memisahkannya dari dunia luar.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Arya duduk di ujung bangku kayu itu, tidak terlalu dekat namun juga tidak terlalu jauh. Ia memegang segelas kopi, menatap lurus ke arah cakrawala yang berwarna jingga kemerahan.

"Kau rindu rumah?" tanyanya tiba-tiba, tanpa menoleh.

Nayara mengangguk pelan, lalu sadar pria itu tidak melihatnya. "Sangat. Saya rindu suara Ibu yang memanggil saat makan, rindu tawa Ayah saat menonton televisi. Di sini... terlalu sunyi. Terlalu sempurna hingga terasa palsu."

Arya diam cukup lama. "Aku pernah merasakan hal itu. Dulu rumahku penuh suara tawa. Sampai satu malam, semuanya hilang dalam sekejap. Sejak saat itu, aku belajar bahwa kesunyian lebih aman daripada kebisingan yang bisa menyembunyikan musuh."

Ada getaran sedih yang samar dalam suaranya. Untuk pertama kalinya, Nayara berani menatap samping wajah pria itu dengan leluasa. Ia melihat garis halus di sudut matanya, bekas luka yang tak terlihat namun terasa begitu dalam.

"Siapa yang melukai Anda, Tuan Arya?" tanyanya lirih.

Arya menoleh perlahan, menatapnya. Kali ini tatapannya tidak lagi dingin, melainkan penuh peringatan namun lembut. "Banyak orang. Termasuk orang yang paling aku percaya. Dan itulah sebabnya aku tidak membiarkan siapa pun masuk terlalu jauh ke dalam hidupku. Sampai kau datang... secara tidak sengaja."

Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya, meninggalkan langit kelam yang mulai dihiasi bintang. Di rumah mewah itu, di antara kemewahan yang tak ternilai harganya, Nayara sadar ia memang hidup di dalam sebuah penjara. Namun entah mengapa, penjara itu dijaga oleh seseorang yang tampaknya lebih dulu dipenjara oleh masa lalunya sendiri.

Dan di balik tatapan tajam Arya, Nayara mulai menyadari satu hal: pria yang disebut kejam itu mungkin adalah orang yang paling kesepian yang pernah ia temui.

Episodes
1 Bab 1: Mata Yang Tak Sengaja Melihat
2 Bab 2: Penjaga Atau Tawanan?
3 Bab 3: Rumah Mewah Penjara Emas
4 Bab 4: Tatapan Dingin Arya Satria
5 Bab 5: Aturan Yang Tak Boleh Dilanggar
6 Bab 6: Kehidupan Baru Yang Menyesakkan
7 Bab 7: Pertemuan Dengan Orang-Orang Berbahaya
8 Bab 8: Pertanyaan Yang Tak Berani Diucapkan
9 Bab 9: Bayangan Masa Lalu
10 Bab 10: Saat Kesunyian Menjadi Sahabat
11 Bab 11: Sisi Lain Yang Tak Terduga
12 Bab 12: Kebaikan Yang Membingungkan
13 Bab 13: Ancaman Dari Luar
14 Bab 14: Pelindung Yang Berbahaya
15 Bab 15: Jejak Darah Dan Kebenaran
16 Bab 16: Pertemuan Tak Terduga Dengan Masa Lalu
17 Bab 17: Kebohongan Yang Terlalu Indah
18 Bab 18: Rasa Takut Yang Berubah Menjadi Rindu
19 Bab 19: Langkah Berani Menghadapi Kenyataan
20 Bab 20: Awal Yang Baru Di Ujung Perjuangan
21 Bab 21: Bayangan Masa Lalu Yang Masih Mengintai
22 Bab 22: Cahaya Di Ujung Jalan
23 Bab 23: Mengubah Jejak Masa Lalu
24 Bab 24: Kepercayaan Yang Mulai Tumbuh
25 Bab 25: Keraguan Yang Sempat Datang
26 Bab 26: Janji Di Bawah Langit Malam
27 Bab 27: Kunjungan Yang Tak Terduga
28 Bab 28: Rahasia Kecil Yang Terungkap
29 Bab 29: Perdebatan Dan Pengertian
30 Bab 30: Langkah Pertama Menuju Perubahan
31 Bab 31: Mata-Mata Yang Mengawasi
32 Bab 32: Kesalahan Yang Tak Disengaja
33 Bab 33: Permintaan Maaf Dan Pengampunan
34 Bab 34: Rencana Besar Arya Satria
35 Bab 35: Dukungan Yang Tak Terduga
36 Bab 36: Ujian Kepercayaan
37 Bab 37: Pertemuan Dengan Keluarga
38 Bab 38: Kekhawatiran Yang Berubah Menjadi Harapan
39 Bab 39: Serangan Balik Musuh
40 Bab 40: Di Ambang Bahaya
41 Bab 41: Kekuatan Dari Kasih Sayang
42 Bab 42: Pengungkapan Kebenaran Kepada Dunia
43 Bab 43: Menghadapi Pengkhianatan Lagi
44 Bab 44: Persahabatan Yang Kembali Era
45 Bab 45: Menyusun Kembali Segalanya
46 Bab 46: Langkah Menuju Keadilan
47 Bab 47: Kenangan Yang Menjadi Penguat
48 Bab 48: Cahaya Yang Mulai Terang
49 Bab 49: Perpisahan Yang Tak Terduga
50 Bab 50: Di Ujung Penantian Dan Harapan
Episodes

Updated 50 Episodes

1
Bab 1: Mata Yang Tak Sengaja Melihat
2
Bab 2: Penjaga Atau Tawanan?
3
Bab 3: Rumah Mewah Penjara Emas
4
Bab 4: Tatapan Dingin Arya Satria
5
Bab 5: Aturan Yang Tak Boleh Dilanggar
6
Bab 6: Kehidupan Baru Yang Menyesakkan
7
Bab 7: Pertemuan Dengan Orang-Orang Berbahaya
8
Bab 8: Pertanyaan Yang Tak Berani Diucapkan
9
Bab 9: Bayangan Masa Lalu
10
Bab 10: Saat Kesunyian Menjadi Sahabat
11
Bab 11: Sisi Lain Yang Tak Terduga
12
Bab 12: Kebaikan Yang Membingungkan
13
Bab 13: Ancaman Dari Luar
14
Bab 14: Pelindung Yang Berbahaya
15
Bab 15: Jejak Darah Dan Kebenaran
16
Bab 16: Pertemuan Tak Terduga Dengan Masa Lalu
17
Bab 17: Kebohongan Yang Terlalu Indah
18
Bab 18: Rasa Takut Yang Berubah Menjadi Rindu
19
Bab 19: Langkah Berani Menghadapi Kenyataan
20
Bab 20: Awal Yang Baru Di Ujung Perjuangan
21
Bab 21: Bayangan Masa Lalu Yang Masih Mengintai
22
Bab 22: Cahaya Di Ujung Jalan
23
Bab 23: Mengubah Jejak Masa Lalu
24
Bab 24: Kepercayaan Yang Mulai Tumbuh
25
Bab 25: Keraguan Yang Sempat Datang
26
Bab 26: Janji Di Bawah Langit Malam
27
Bab 27: Kunjungan Yang Tak Terduga
28
Bab 28: Rahasia Kecil Yang Terungkap
29
Bab 29: Perdebatan Dan Pengertian
30
Bab 30: Langkah Pertama Menuju Perubahan
31
Bab 31: Mata-Mata Yang Mengawasi
32
Bab 32: Kesalahan Yang Tak Disengaja
33
Bab 33: Permintaan Maaf Dan Pengampunan
34
Bab 34: Rencana Besar Arya Satria
35
Bab 35: Dukungan Yang Tak Terduga
36
Bab 36: Ujian Kepercayaan
37
Bab 37: Pertemuan Dengan Keluarga
38
Bab 38: Kekhawatiran Yang Berubah Menjadi Harapan
39
Bab 39: Serangan Balik Musuh
40
Bab 40: Di Ambang Bahaya
41
Bab 41: Kekuatan Dari Kasih Sayang
42
Bab 42: Pengungkapan Kebenaran Kepada Dunia
43
Bab 43: Menghadapi Pengkhianatan Lagi
44
Bab 44: Persahabatan Yang Kembali Era
45
Bab 45: Menyusun Kembali Segalanya
46
Bab 46: Langkah Menuju Keadilan
47
Bab 47: Kenangan Yang Menjadi Penguat
48
Bab 48: Cahaya Yang Mulai Terang
49
Bab 49: Perpisahan Yang Tak Terduga
50
Bab 50: Di Ujung Penantian Dan Harapan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!