Bab 4: Tatapan Dingin Arya Satria

Malam turun kembali, menyelimuti kediaman Arya di atas bukit itu dengan kegelapan yang tenang namun penuh kewaspadaan. Setelah makan malam yang berjalan dalam keheningan panjang—hanya suara denting sendok dan piring yang sesekali terdengar—Nayara berniat kembali ke kamarnya. Namun saat ia melangkah melewati ruang tengah, suara panggilan rendah menahannya.

"Nayara."

Arya duduk di tepi perapian yang kini menyala hangat, cahaya apinya memantul tak beraturan pada wajahnya yang tampak semakin sulit dibaca. Ia memberi isyarat tangan agar gadis itu mendekat. Dengan langkah ragu, Nayara melangkah maju, berhenti berjarak aman dari pria itu.

"Duduklah," perintahnya singkat.

Nayara duduk di ujung sofa yang paling jauh, memeluk tubuhnya sendiri. Tatapan Arya menelusuri setiap inci wajahnya, tajam dan menyelidik seolah sedang mencoba membaca isi pikiran gadis itu tanpa perlu bicara. Tatapan itu dingin, namun bukan jenis dingin yang ingin melukai—melainkan dinginnya seseorang yang sudah lama terbiasa tak percaya pada siapa pun.

"Kau takut padaku?" tanyanya tiba-tiba.

Jantung Nayara berdegup kencang. "Siapa yang tidak takut pada pria yang... yang memiliki kekuatan seperti Anda?" jawabnya pelan, jujur apa adanya. "Tapi kadang saya bingung. Tatapan Anda seolah menyimpan kesedihan yang tak pernah Anda ceritakan."

Rahang Arya mengeras seketika. Ia bangkit berdiri, berjalan perlahan mendekati perapian, memunggungi Nayara. "Kau tidak perlu memahamiku. Kau hanya perlu tahu tempatmu berada. Jangan sampai rasa ingin tahumu membuatmu lupa diri."

Namun ketegasan itu tak lagi terdengar sekuat biasanya. Ada nada lelah yang terselip di sana. Nayara memberanikan diri berdiri perlahan. "Saya tidak bermaksud melanggar batas. Saya hanya... saya hanya tidak mengerti kenapa orang sekuat Anda terlihat begitu kesepian."

Arya berbalik cepat. Langkahnya begitu lebar hingga dalam sekejap ia sudah berdiri tepat di hadapan Nayara. Gadis itu mundur terhuyung, namun punggungnya sudah menabrak sandaran sofa. Ia mendongak, menatap manik mata gelap yang kini terlihat bergejolak—antara amarah, rasa sakit, dan sesuatu yang tak bisa ia namakan.

"Kau tidak tahu apa yang kau katakan," bisik Arya, suaranya bergetar tertahan. "Kau tidak tahu betapa mahalnya harga untuk menjadi kuat seperti ini. Kau tidak tahu berapa banyak darah dan pengkhianatan yang harus kuterima hanya untuk berdiri di tempat ini."

Ia mengangkat tangan, seolah ingin menyentuh wajah Nayara, namun berhenti di udara sejenak sebelum menurunkan tangannya kasar ke samping. "Jangan pernah mencoba mendekat lebih jauh dari yang kau butuhkan. Jika kau terlalu dekat, kau akan terbakar. Dan aku tidak akan sanggup melihat orang lain yang tidak bersalah hancur lagi karena duniaku."

Kata-kata terakhir itu hampir tak terdengar. Nayara terdiam, merasakan getaran yang aneh di dadanya. Di balik tatapan dingin yang ia tunjukkan, Arya sebenarnya sedang berusaha melindunginya—bukan hanya dari musuh-musuhnya, tapi juga dari dirinya sendiri.

"Mengapa Anda peduli?" tanya Nayara lirih, air mata mulai menggenang. "Bagi orang lain, saya hanya beban. Mengapa Anda repot-repot menjaga saya?"

Arya menatapnya lama, seolah sedang berperang dengan dirinya sendiri. Akhirnya ia berbalik memunggungi gadis itu. "Karena kau mengingatkanku pada seseorang yang pernah kucintai. Seseorang yang harus kulepaskan demi keselamatan dia sendiri. Dan melihatmu... rasanya seperti melihat kembali kesalahan yang tak pernah sempat kuperbaiki."

Kalimat itu menggantung di udara, berat dan penuh makna. Tanpa menoleh lagi, Arya berjalan menjauh. "Masuklah ke kamar. Jangan keluar lagi malam ini."

Nayara tetap berdiri terpaku di sana, menatap punggung lebar yang perlahan menghilang di balik pintu ruangan lain. Perlahan ia sadar, tatapan dingin Arya bukanlah tanda kekejaman semata. Itulah perisai yang ia bangun tinggi-tinggi agar tak ada yang bisa melihat betapa hancurnya dia di dalam.

Dan malam itu, di dalam rumah mewah yang terasa dingin itu, Nayara menyadari satu hal yang mengubah segalanya: ia bukan hanya tawanan Arya Satria. Ia juga satu-satunya orang yang tanpa sadar berhasil menyentuh sedikit saja dinding es yang sudah bertahun-tahun membeku di hati pria itu.

Episodes
1 Bab 1: Mata Yang Tak Sengaja Melihat
2 Bab 2: Penjaga Atau Tawanan?
3 Bab 3: Rumah Mewah Penjara Emas
4 Bab 4: Tatapan Dingin Arya Satria
5 Bab 5: Aturan Yang Tak Boleh Dilanggar
6 Bab 6: Kehidupan Baru Yang Menyesakkan
7 Bab 7: Pertemuan Dengan Orang-Orang Berbahaya
8 Bab 8: Pertanyaan Yang Tak Berani Diucapkan
9 Bab 9: Bayangan Masa Lalu
10 Bab 10: Saat Kesunyian Menjadi Sahabat
11 Bab 11: Sisi Lain Yang Tak Terduga
12 Bab 12: Kebaikan Yang Membingungkan
13 Bab 13: Ancaman Dari Luar
14 Bab 14: Pelindung Yang Berbahaya
15 Bab 15: Jejak Darah Dan Kebenaran
16 Bab 16: Pertemuan Tak Terduga Dengan Masa Lalu
17 Bab 17: Kebohongan Yang Terlalu Indah
18 Bab 18: Rasa Takut Yang Berubah Menjadi Rindu
19 Bab 19: Langkah Berani Menghadapi Kenyataan
20 Bab 20: Awal Yang Baru Di Ujung Perjuangan
21 Bab 21: Bayangan Masa Lalu Yang Masih Mengintai
22 Bab 22: Cahaya Di Ujung Jalan
23 Bab 23: Mengubah Jejak Masa Lalu
24 Bab 24: Kepercayaan Yang Mulai Tumbuh
25 Bab 25: Keraguan Yang Sempat Datang
26 Bab 26: Janji Di Bawah Langit Malam
27 Bab 27: Kunjungan Yang Tak Terduga
28 Bab 28: Rahasia Kecil Yang Terungkap
29 Bab 29: Perdebatan Dan Pengertian
30 Bab 30: Langkah Pertama Menuju Perubahan
31 Bab 31: Mata-Mata Yang Mengawasi
32 Bab 32: Kesalahan Yang Tak Disengaja
33 Bab 33: Permintaan Maaf Dan Pengampunan
34 Bab 34: Rencana Besar Arya Satria
35 Bab 35: Dukungan Yang Tak Terduga
36 Bab 36: Ujian Kepercayaan
37 Bab 37: Pertemuan Dengan Keluarga
38 Bab 38: Kekhawatiran Yang Berubah Menjadi Harapan
39 Bab 39: Serangan Balik Musuh
40 Bab 40: Di Ambang Bahaya
41 Bab 41: Kekuatan Dari Kasih Sayang
42 Bab 42: Pengungkapan Kebenaran Kepada Dunia
43 Bab 43: Menghadapi Pengkhianatan Lagi
44 Bab 44: Persahabatan Yang Kembali Era
45 Bab 45: Menyusun Kembali Segalanya
46 Bab 46: Langkah Menuju Keadilan
47 Bab 47: Kenangan Yang Menjadi Penguat
48 Bab 48: Cahaya Yang Mulai Terang
49 Bab 49: Perpisahan Yang Tak Terduga
50 Bab 50: Di Ujung Penantian Dan Harapan
Episodes

Updated 50 Episodes

1
Bab 1: Mata Yang Tak Sengaja Melihat
2
Bab 2: Penjaga Atau Tawanan?
3
Bab 3: Rumah Mewah Penjara Emas
4
Bab 4: Tatapan Dingin Arya Satria
5
Bab 5: Aturan Yang Tak Boleh Dilanggar
6
Bab 6: Kehidupan Baru Yang Menyesakkan
7
Bab 7: Pertemuan Dengan Orang-Orang Berbahaya
8
Bab 8: Pertanyaan Yang Tak Berani Diucapkan
9
Bab 9: Bayangan Masa Lalu
10
Bab 10: Saat Kesunyian Menjadi Sahabat
11
Bab 11: Sisi Lain Yang Tak Terduga
12
Bab 12: Kebaikan Yang Membingungkan
13
Bab 13: Ancaman Dari Luar
14
Bab 14: Pelindung Yang Berbahaya
15
Bab 15: Jejak Darah Dan Kebenaran
16
Bab 16: Pertemuan Tak Terduga Dengan Masa Lalu
17
Bab 17: Kebohongan Yang Terlalu Indah
18
Bab 18: Rasa Takut Yang Berubah Menjadi Rindu
19
Bab 19: Langkah Berani Menghadapi Kenyataan
20
Bab 20: Awal Yang Baru Di Ujung Perjuangan
21
Bab 21: Bayangan Masa Lalu Yang Masih Mengintai
22
Bab 22: Cahaya Di Ujung Jalan
23
Bab 23: Mengubah Jejak Masa Lalu
24
Bab 24: Kepercayaan Yang Mulai Tumbuh
25
Bab 25: Keraguan Yang Sempat Datang
26
Bab 26: Janji Di Bawah Langit Malam
27
Bab 27: Kunjungan Yang Tak Terduga
28
Bab 28: Rahasia Kecil Yang Terungkap
29
Bab 29: Perdebatan Dan Pengertian
30
Bab 30: Langkah Pertama Menuju Perubahan
31
Bab 31: Mata-Mata Yang Mengawasi
32
Bab 32: Kesalahan Yang Tak Disengaja
33
Bab 33: Permintaan Maaf Dan Pengampunan
34
Bab 34: Rencana Besar Arya Satria
35
Bab 35: Dukungan Yang Tak Terduga
36
Bab 36: Ujian Kepercayaan
37
Bab 37: Pertemuan Dengan Keluarga
38
Bab 38: Kekhawatiran Yang Berubah Menjadi Harapan
39
Bab 39: Serangan Balik Musuh
40
Bab 40: Di Ambang Bahaya
41
Bab 41: Kekuatan Dari Kasih Sayang
42
Bab 42: Pengungkapan Kebenaran Kepada Dunia
43
Bab 43: Menghadapi Pengkhianatan Lagi
44
Bab 44: Persahabatan Yang Kembali Era
45
Bab 45: Menyusun Kembali Segalanya
46
Bab 46: Langkah Menuju Keadilan
47
Bab 47: Kenangan Yang Menjadi Penguat
48
Bab 48: Cahaya Yang Mulai Terang
49
Bab 49: Perpisahan Yang Tak Terduga
50
Bab 50: Di Ujung Penantian Dan Harapan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!