Bab 2 Tidak Butuh Suami

Nara kembali ke rumah tepat pada waktunya, tetapi walau begitu tidak menghentikan omelan ibunya karena ia yang lagi-lagi tidak melakukan tawar-menawar kepada penjual, sehingga uang yang ia bawa tidak tersisa. Pas dengan belanjaannya.

"Kamu ini kebiasaan, coba saja Ibu yang belanja. Pasti harganya akan lebih murah dan masih ada kembalian," katanya ibunya sesaat ia baru saja sampai dan ibu membongkar belanjaannya.

"Ya mau bagaimana lagi? Nara ndak biasa tawar-menawar, Bu. Kebiasaan belanja di super market, mana bisa tawar-menawar," balas Nara supaya ibunya memaklumi.

Empat tahun kuliah dan ditambah lagi empat tahun bekerja di kota besar, Nara sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki ke pasar. Bukan hanya karena jaraknya yang jauh dari tempat tinggalnya, tetapi juga karena ia yang sibuk untuk kuliah dan bekerja. Dan baru dua bulan lalu kembali pulang ke kampung halaman.

"Makanya, kamu itu harus belajar. Apalagi nanti kalau sudah punya keluarga, harus pandai mengatur keuangan dan sebagainya. Jika tidak begitu pandai menyisikan uang, ya ... siap-siap saja kamu tidak bisa membeli apa yang kamu mau." Ibunya menatap dalam anaknya itu.

Nara mengedikkan bahu. "Kalau memang ada yang Nara penget, ya ... tetap Nara beli pake uang sendiri lah, Bu. Tetapi ketimbang begitu, lebih baik Nara cari suami kaya saja kan?"

Ibunya mencebikkan bibir. "Kan siapa tahu kalau kamu cinta mati sampai rela jadi perintis sama suamimu, rela saja jadi budak cinta sampai makan hati."

Jleb!!!

Ucapan ibunya tepat mengenai ulu hati Nara. Walaupun tidak termasuk begitu, tetapi tetap saja mengingatkan dirinya akan kebodohannya di masa lalu. Hal yang membuatnya pulang untuk menenangkan diri dan tidak ingin mengenal lelaki manapun untuk saat ini. Ia takut dikecewakan lagi, takut lelaki itu sama saja dengan pria itu, dan takut jika dia tidak bisa menerimanya apa adanya. Banyak hal yang menjadi kekhawatirannya dan itu semua ia kubur seorang diri.

"Lagi pula, kaya dan banyak uang itu bukan segalanya. Akan ada tantangan di setiap jalan hidup ini, semuanya sudah sesuai porsinya. Ibu hanya berharap, kamu menemukan jodoh yang baik, santu, sopan, dan mengerti kamu. Tidak peduli mau dia kaya, miskin, perintis, asalkan kamu ada jodohnya biar cepat kasih Ibu cucu!" lanjut ibunya lagi, pandai sekali bersilat lidah. Yang selalu menjurus pada masalah jodoh dan sekarang malah cucu?!

Nara menepuk dahinya. "Jodoh saja belum ada ... Ibu sudah ngomongin pengen punya cucu."

"Lah, memangnya kenapa? Ada yang salah?! Ibu hanya mau kamu dapat pasangan hidup, umur Ibu sudah semakin tua, penget lihat kamu punya keluarga sendiri dan bahagian sebelum—"

"Stttttt!" potong Nara cepat, menyimpan jari telunjuknya di bibir sang ibu. Gadis itu menggeleng pelan, tidak membiarkan ibunya melanjutkan perkataan yang tidak-tidak. "Jangan pernah Ibu ngucapin perkataan seperti itu, Nara tidak suka." Nara memeluk ibunya erat, menyandarkan kepalanya pada bahu wanita yang telah membesarkannya seorang diri sejak ia berumur 10 tahun. Jujur saja, ia belum siap kehilangan satu-satunya orang tersayangnya setelah bapaknya meninggal. Bahkan, kepergian bapaknya masih meninggalkan luka di hatinya. Bukan ia tidak menerima kehendak Tuhan, tetapi rindu ini sungguh menyakitkan.

Nara mengusap air matanya yang menetes tanpa diminta. "Pokoknya Ibu harus jaga kesehatan, jaga pola makan, istirahat yang cukup. Biar nanti bisa lihat Nara menikah, punya keluarga kecil, dan Ibu bisa nimang cucu," ujarnya, mengecup pipi ibunya lalu pamit ke kamar mandi. Ia tidak ingin ibunya melihat matanya yang memerah.

***

Nara mengguyur kepalanya, sungguh ia butuh mendinginkan kepalanya yang terasa buntu. Di satu sisi ia masih perlu waktu untuk menenangkan hatinya yang masih sakit akibat luka dari kisah cintanya yang kandas. Tetapi di sisi lain, ia juga tidak bisa mengabaikan keinginan ibunya. Semakin memikirkannya, membuat kepala gadis itu semakin kacau saja.

Nara menyudahi acara mandinya, menggosok gigi lalu mencuci muka. Ia pun keluar dari sana mengenakan handuk yang kemudian menuju kamarnya untuk berpakaian.

Wangi masakan tercium ke seluruh penjuru ruangan, termasuk kamar gadis itu. Ibunya di dapur telah menyelesaikan beberapa menu masakan.

"Ummm, wangi banget, bikin laper." Nara bergabung di dapur dan segera membantu ibunya memindahkan masakannya ke wadah yang seharusnya.

"Hm, kamu makan dulu. Baru kita sama-sama angkut masakannya ke warung," sahut ibunya, tangannya sibuk mengaduk adonan perkedel jagung.

Nara mengambil piring dan menyedot nasi serta memasukan beberapa lauk pauk yang telah masak.

"Ibu aja duluan, itu biar Nara yang lanjut." Nara mengambil alih pekerjaan ibunya, menyuruhnya untuk duduk dan memakan nasi yang sebelumnya sudah ia sendok dan menyimpannya di atas meja dengan segelas air minum.

Ibunya tersenyum, "Makasih, Nak," ia mengusap lengan anak semata wayangnya itu, lalu kemudian duduk di kursi dan menyantap sarapannya.

Setelah semuanya masak dan Nara telah menghabiskan sarapannya. Ibu dan anak itu mengangkut masakan mereka ke warung makan. Warung yang menjadi sumber penghasilan utama mereka selain dari kos-kosan yang dibangun Nara dua tahun lalu dengan hasil gaji yang ia sisihkan. Kos dua lantai dengan masing-masing lantai terdapat lima pintu.

"Lama sekali hari ini, Bu Ratna. Perut saya sudah keroncongan ini." Seorang penghuni kos keluar diikuti beberapa orang di belakangnya, mereka semua para pekerja pabrik yang merantau.

"Iya, Pak Mamat. Kebetulan hari ini baru belanja, stok bahannya habis," jawab ibunya Nara.

"Ohhh, begitu toh. Tapi kalau besok bisa lebih cepat kan, Bu. Besok kita semua sudah harus masuk kerja lagi, hari ini syukur memang libur."

"Iya, Bu. Ibu pasti ndak tega kan biarin kami kerja dengan perut keroncongan, soalnya saya itu ndak bisa makan nasi di warung lain. Lidah saya itu sudah terbiasa dengan masakan Ibu yang enak!" sahut seorang pemuda lajang, menimpali.

"Hallah, bilang saja kantong mu itu yang kere Dani! Warung makan lain mana mau kasih kau hutang, hanya Bu Ratna saja yang mau kasih," seloroh temannya, memukul bahu Dani yang kini tengah tersenyum canggung.

"Haduh ... Bang, tidak usah diperjelas juga." Senyum pemuda itu malu. "Saya hutang lagi ya, Teh Nara. Tanggal muda nanti saya bayar lunas, uang hasil kerja bulan ini sudah saya kirim semua untuk biaya adik yang sekolah." Dani menggosok tengkuknya yang tak gatal.

"Oh siap, aman. Asal dibayar saja." Nara ikut berkelakar, mencatat hutang pria muda itu di buku kasir yang ada di atas meja.

"Siap, Teh."

Para pria itu kemudian duduk di satu meja, bersiap menyantap sarapan mereka yang sudah berada di hadapan.

"Akhirnya warungnya sudah dibuka juga, saya sudah dari tadi bolak-balik ini." Seorang wanita sepantaran ibunya Nara masuk warung makan dengan membawa kipas. Gemericik gelang emasnya tak terelakkan tak kala ia mengipasi wajahnya yang ditaburi bedak putih. Sangat kontras dengan leher serta tangannya yang kecokelatan. Ibarat siang dan malam. "Eh ... dengar-dengar dari Bu Nurlela, kamu tidak butuh suami ya, Nara?"

Pertanyaan itu membuat tangan Ratna yang sedang menyusun piring seketika terhenti. Tatapannya perlahan beralih kepada sang putri.

Beberapa pelanggan ikut menoleh.

Kini, semua mata tertuju kepada Nara.

***

Bersambung ...

Episodes
1 Bab 1 Pertanyaan Meresahkan
2 Bab 2 Tidak Butuh Suami
3 Bab 3 Kebohongan
4 Bab 4 Kebohongan yang Berlanjut
5 Bab 5 Pria Mencurigakan
6 Bab 6 Penghuni Kos Baru
7 Bab 7 Pria itu Berandal
8 Bab 8 Perkara Pegangan
9 Bab 9 Dilamar Juragan
10 Bab 10 Calon Suami Sekaligus Selingkuhannya
11 Bab 11 Dilamar Sagara
12 Bab 12 Kebun Teh
13 Bab 13 Insiden Kepergok
14 Bab 14 Pria Itu berbahaya!
15 Bab 15 Nikah Siri
16 Bab 16 Perihal Ranjang
17 Bab 17 Kesepakatan Pernikahan
18 Bab 18 Hari Kedua Pasutri
19 Bab 19 Insiden Kamar Mandi
20 Bab 20 Dia Marah
21 Bab 21 Membiasakan Memanggilmu
22 Bab 22 Memanfaatkan
23 Bab 23 Pelukan!
24 Bab 24 Bermulut Tajam
25 Bab 25 Kamu Cantik
26 Bab 26 Karena Kamu Istimewa
27 Bab 27 Keinginan Balas Dendam
28 Bab 28 Suamiku Seorang CEO?
29 Bab 29 Wajah Bangsawan
30 Bab 30 Identitas Sagara
31 Bab 31 Gadis Gahar
32 Bab 32 Kesempatan Balas Dendam
33 Bab 33 Benih Kecemburuan Sagara
34 Bab 34 Apakah Ini Cinta
35 Bab 35 Sabar, Dia Istrimu Sekarang
36 Bab 36 Uang Nafkah
37 Bab 37 Masalah Serius
38 Bab 38 Kelakuan Sagara
39 Bab 39 Meninggalkan Ketegangan
40 Bab 40 Ingin Mengakhiri Pernikahan
41 Bab 41 Memberitahu Ibu
42 Bab 42 Bibit, Bebet, dan Bobot Nyonya Leila
43 Bab 43 Kesenjangan Perasaan
44 Bab 44 Ke Mall
45 Bab 45 Kontrak Kerja
46 Bab 46 Bertemu Mantan
47 Bab 47 Saya Suaminya!
48 Bab 48 Ciuman Pertama
49 Bab 49 Mencuri Sesuatu yang Memabukkan
50 Bab 50 Berapa Ukurannya
51 Bab 51 Berbohong Itu Tidak Baik
52 Bab 52 Istri Seorang Crazy Rich
53 Bab 53 Dia Tidak Pantas
54 Bab 54 Debaran Asing
55 Bab 55 Bertemu Mertua
56 Bab 56 Bukan Bagian Keluarga Ini
57 Bab 57 Perempuan Pilihanku
58 Bab 58 Setitik Perasaan Lain
59 Bab 59 Jejak Manismu
60 Bab 60 Mati Kutunya Leila
61 Bab 61 Kepolosan Zev
62 Bab 62 Perasaan yang Tidak Dipahami
63 Bab 63 Dengupan
64 Bab 64 Menguji Kekuatan Iman
65 Bab 65 Gantengan Suami Aku Sih
66 Bab 66 Pencerahan dari Mentor
67 Bab 67 Mantan yang Terlalu Percaya Diri
68 Bab 68 Kenyataan yang Menampar
69 Bab 69 Kehebohan di Desa Bukit Tinggi
70 Bab 70 Wanita Dipangkuan Sagara
71 Bab 71 Melabrak Pelakor
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 Pertanyaan Meresahkan
2
Bab 2 Tidak Butuh Suami
3
Bab 3 Kebohongan
4
Bab 4 Kebohongan yang Berlanjut
5
Bab 5 Pria Mencurigakan
6
Bab 6 Penghuni Kos Baru
7
Bab 7 Pria itu Berandal
8
Bab 8 Perkara Pegangan
9
Bab 9 Dilamar Juragan
10
Bab 10 Calon Suami Sekaligus Selingkuhannya
11
Bab 11 Dilamar Sagara
12
Bab 12 Kebun Teh
13
Bab 13 Insiden Kepergok
14
Bab 14 Pria Itu berbahaya!
15
Bab 15 Nikah Siri
16
Bab 16 Perihal Ranjang
17
Bab 17 Kesepakatan Pernikahan
18
Bab 18 Hari Kedua Pasutri
19
Bab 19 Insiden Kamar Mandi
20
Bab 20 Dia Marah
21
Bab 21 Membiasakan Memanggilmu
22
Bab 22 Memanfaatkan
23
Bab 23 Pelukan!
24
Bab 24 Bermulut Tajam
25
Bab 25 Kamu Cantik
26
Bab 26 Karena Kamu Istimewa
27
Bab 27 Keinginan Balas Dendam
28
Bab 28 Suamiku Seorang CEO?
29
Bab 29 Wajah Bangsawan
30
Bab 30 Identitas Sagara
31
Bab 31 Gadis Gahar
32
Bab 32 Kesempatan Balas Dendam
33
Bab 33 Benih Kecemburuan Sagara
34
Bab 34 Apakah Ini Cinta
35
Bab 35 Sabar, Dia Istrimu Sekarang
36
Bab 36 Uang Nafkah
37
Bab 37 Masalah Serius
38
Bab 38 Kelakuan Sagara
39
Bab 39 Meninggalkan Ketegangan
40
Bab 40 Ingin Mengakhiri Pernikahan
41
Bab 41 Memberitahu Ibu
42
Bab 42 Bibit, Bebet, dan Bobot Nyonya Leila
43
Bab 43 Kesenjangan Perasaan
44
Bab 44 Ke Mall
45
Bab 45 Kontrak Kerja
46
Bab 46 Bertemu Mantan
47
Bab 47 Saya Suaminya!
48
Bab 48 Ciuman Pertama
49
Bab 49 Mencuri Sesuatu yang Memabukkan
50
Bab 50 Berapa Ukurannya
51
Bab 51 Berbohong Itu Tidak Baik
52
Bab 52 Istri Seorang Crazy Rich
53
Bab 53 Dia Tidak Pantas
54
Bab 54 Debaran Asing
55
Bab 55 Bertemu Mertua
56
Bab 56 Bukan Bagian Keluarga Ini
57
Bab 57 Perempuan Pilihanku
58
Bab 58 Setitik Perasaan Lain
59
Bab 59 Jejak Manismu
60
Bab 60 Mati Kutunya Leila
61
Bab 61 Kepolosan Zev
62
Bab 62 Perasaan yang Tidak Dipahami
63
Bab 63 Dengupan
64
Bab 64 Menguji Kekuatan Iman
65
Bab 65 Gantengan Suami Aku Sih
66
Bab 66 Pencerahan dari Mentor
67
Bab 67 Mantan yang Terlalu Percaya Diri
68
Bab 68 Kenyataan yang Menampar
69
Bab 69 Kehebohan di Desa Bukit Tinggi
70
Bab 70 Wanita Dipangkuan Sagara
71
Bab 71 Melabrak Pelakor

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!