Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Bab 1 Pertanyaan Meresahkan

"Aku bukan ingin menghakimi, tetapi cinta sejati itu memang tidak ada. Cinta? Sama dengan omong kosong. Dan mencintaimu adalah hal yang paling kusesali dalam hidup."

Seorang gadis menggumamkan kalimat itu dengan getir penuh emosional, menuruti ketukan jemarinya yang bergerak lincah di atas papan ketik. Kalimat dialog fiksi yang baru saja ia ketik terasa begitu nyata, seolah sedang menyuarakan isi hatinya sendiri.

Seiring dengan berakhirnya ketikan itu, gadis dengan kacamata dan laptop di pangkuannya terlihat merenggangkan tangannya yang terasa kebas akibat mengetik setelah lepas subuh tadi.

“Akhhkkk, akhirnya ... chapter 150 selesai juga!” pekiknya pelan, masih merenggangkan tangan. Sejenak, ia menutup mata dan menghirup udara pagi yang terasa sangat sejuk. Sungguh pagi yang membahagiakan tanpa drama write block! Yang menghantuinya beberapa waktu ini.

“Kanaraaaa, kalau sudah selesai. Tolong bantu Ibu dulu di sini!” teriak seorang perempuan dari dalam rumah yang tak lain adalah ibunya.

“Iya, Bu. Bentar ... Nara beresih laptop dulu,” balasnya. Ia menyimpan tulisannya di folder terlebih dahulu sebelum laptopnya ia matikan. Gadis itu pun segera masuk untuk mengerjakan titah sang ibunda.

“Itu list belanjaan yang harus kamu beli, usahakan semuanya harus ada. Bila perlu kamu keliling, cari sampai ketemu! Jam delapan, semuanya harus sudah ada di hadapan Ibu,” titah perempuan yang telah melahirkannya itu.

Nara menghembuskan napas, melihat banyaknya belanjaan yang harus ia beli. “Mana bisa begitu, Bu. Belum lagi ini susah nyarinya,” protesnya. Ia teringat bagaimana terakhir kali saat pergi kemarin, ia dibuat kelimpungan mencari segala macam bahan yang ada di kertas list ibunya. Pasar banyak berubah sejak delapan tahun terakhir ia pergi merantau.

“Heh! Lebih susah nyari jodoh kamu itu. Bahan-bahan itu semua sudah ada di pasar, tinggal kamu cari yang teliti. Kalau ketemu, jangan lupa ditawar. Jangan kaya pas itu yang kamu langsung ambil terus bayar, apalagi tanpa lihat kualitasnya. Jangan hanya jodoh yang kamu pilih-pilih!”

Kanara memutar bola matanya. Jika ada kesempatan, ibunya selalu saja membahas perihal jodoh, apa-apa jodoh, sedikit-sedikit jodoh. Padahal, ia merasa tidak setua itu untuk mengkhawatirkan masalah pasangan hidup. Masih 27 ini loh, 27 tahun! Masih sangat mudah! Sekedarnya itu menurutnya.

“Ibu tuh, kadang jengkel terus ditanyai kenapa kamu belum nikah? Terus denger kamu yang dikatai belum laku lah, perawan tua lah. Hais, mau Ibu ulek mulut mereka dengan sambal terasi ini!” rutuk wanita paruh baya itu, meluapkan segala emosinya pada sambal yang tak berdosa.

Kan!!! Ibunya saja jengkel, apalagi Nara yang terus ditanyai ‘kapan nikah?’ ketika berpapasan dengan ibu-ibu rempong nan penasaran setinggi menara Eiffel itu.

Hari pertama setibanya di kampung halaman, setelah merantau beberapa tahun di Jakarta untuk menempuh pendidikan dan bekerja mencari pengalaman. Hal pertama yang ditanyai adalah perihal jodoh, kapan nikah dan sejenisnya. Bahkan, sampai sekarang. Seolah mereka tidak memiliki pertanyaan lain atau sekedarnya bosan dengan pertanyaan yang itu-itu saja. Ia seolah anomali untuk warga desa ini.

“Kalau begitu, Ibu ndak usah dengerin,” tanggap Nara seraya meraih paper bag kain untuk menampung belanjaannya nanti.

“Gimana Ibu ndak dengerin?! Mereka yang kumpul di warung makan kita. Beli kagak, hutang sih, iya!” dumbel ibunya lagi, Nara hanya bisa menggelengkan kepala. “Pokoknya kamu cari jodoh deh, kalau nggak dapat. Ibu jodohin kamu,” singkat ibunya yang membuat anak gadisnya itu ketar-ketir.

Nara segera berpamitan demi menghindari pembahasan tersebut. Ia berjalan cepat menuju halaman depan untuk segera menghampiri motor maticnya. Mulai menyalakan mesinnya yang ia biarkan beberapa saat untuk memanaskan sebelum menarik gasnya. Kendaraan roda dua itu membelah jalanan desa yang masih tampak asri dengan pepohonan rindang dan persawahan, walaupun sudah ada beberapa pabrik yang mengisi sudut desa.

Motor matic Nara berhenti di area parkir pasar, abang-abang tukan parkir segera mengerubungi untuk menawarkan jasa mereka. Yang dekat dengan Nara segera membantu gadis itu untuk memarkirkan motornya ke jalur yang sesuai, lalu menutupnya dengan kardus. Padahal matahari belum terlalu terik, entah apa fungsi kardus tersebut.

Nara, membiarkan saja. Meraih secangkir kertas yang terlipat dan memanjang—list belanjaan pemberian ibunya. Membacanya ulang satu persatu, lalu menyusuri pasar untuk memenuhi tas belanjaannya.

“Eh, Neng Nara. Datang lagi ke pasar hari ini? Disuruh Ibu?” sapa seorang penjual kenalan ibunya. Basa-basi, tentu saja. Karena jelas, ia melihat Nara di hadapannya.

“Iya, Nek.” Nara mengangguk dengan sopan. “Tolong jengkolnya dua kilo sama petenya lima ikat,” ujarnya sesekali membaca instruksi dari kertas list ibunya.

“Siap, Neng. Tunggu sebentar,” riang penjual itu, sumringah. Ia segera menyiapkan pesanan anak dari pelanggan tetapnya.

“Datang belanja juga, kasian kamu. Nanti pulangnya sendiri juga, nggak ada yang bawai motornya?” sapa seorang ibu yang merupakan tetangga depan rumah Nara. Salah satu yang masuk kedalam kategori ibu-ibu rempong nan kepoan menurut versinya.

"Makanya kamu cepat nikah, cari suami biar ada yang bantuin. Biar apa-apa nggak sendiri, kayak saya ini, lho. Tuh ....” Ibu itu menunjuk ke arah parkiran. “Suami saya nungguin di sana.”

Nara nyengir. “Iya, Bu. Justru itu. Karena saya masih bisa sendiri, jadi belum butuh suami. Apalagi suami yang cuma nunggui di motor, nggak bantuin istrinya bawa belanjaan yang berat.” Ia melirik sekilas ke arah tunjuk ibu itu yang mengarah pada suaminya yang tengah menunggu di atas motor sambil merokok.

“Kamu ya, dikasih tahu malah ngeyel. Nanti jadi perawan tua baru tahu rasa! Anak saya aja yang bungsu umur dua puluh tahun sudah punya satu anak. Lha, kamu ini loh ... sudah cukup umur, pacar nggak punya, apalagi calon. Perawan tua betul nanti!” jelasnya ngegas dengan alis menaut sempurna.

Mulut Nara hampir saja menganga dengan perkataan tajam nan menusuk itu. Berulang kali ia beristigfar dalam hati. Ingin sekali membalas, Setidaknya saya tidak hamil di luar nikah seperti anak Ibu! tetapi kata-kata tersebut hanya tertahan di tenggorokannya saja.

“Iya, Bu. Terima kasih atas nasehatnya, akan saya ingat. Kalau begitu, mari ... belanjaan saya telah disiapkan.” Nara kembali berhadapan dengan penjual untuk membayar belanjaannya, mengabaikan wanita paru bayah itu yang merasa tidak puas atas respon Nara.

“Datang lagi ya, Neng. Jangan bosan belanja di sini, saya selalu ramahhh.” Senyum penjual itu lebar, dibalas Nara dengan senyum pula yang kemudian mengangguk singkat dan berlalu.

“Apa maksudnya ‘saya selalu ramah’?!” tanya ibu yang tadi mengobrol dengan Nara kepada si nenek penjual dengan nada sinis. Ia merasa tersindir.

“Ndak ada maksud apa-apa? Jadi kamu mau beli apa?” tanya Nenek baik-baik.

Ibu itu mengeram, “Siapa yang mau beli belanjaan situ,” ujarnya, kemudian berlalu begitu saja.

“Lah, kenapa lu berdiri di mari dari tadi kalau ndak beli. Dasar aneh, penggosip, cari masalah. Kurang belalaian lu pasti, makanya cari mangsa buat pelampiasan!” teriak Nenek dengan suaranya yang khas melengking.

Nara menggeleng pelan karena masih mendengar perdebatan di belakangnya. Ia pun melanjutkan langkah untuk menyelesaikan titah ibunya. Waktu terus bergulir. Tanpa terasa, jarum jam hampir menunjuk pukul delapan. Ia harus segera bergegas.

Gadis itu sama sekali tidak menyangka, jawaban spontan yang ia lontarkan kepada tetangganya pagi itu akan menyebar dari satu mulut ke mulut lainnya. Dan tanpa ia sadari, ucapan itu menjadi awal dari masalah yang tak pernah ia bayangkan.

***

Bersambung ...

Terpopuler

Comments

fabdul

fabdul

Mampir💪

2026-07-29

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pertanyaan Meresahkan
2 Bab 2 Tidak Butuh Suami
3 Bab 3 Kebohongan
4 Bab 4 Kebohongan yang Berlanjut
5 Bab 5 Pria Mencurigakan
6 Bab 6 Penghuni Kos Baru
7 Bab 7 Pria itu Berandal
8 Bab 8 Perkara Pegangan
9 Bab 9 Dilamar Juragan
10 Bab 10 Calon Suami Sekaligus Selingkuhannya
11 Bab 11 Dilamar Sagara
12 Bab 12 Kebun Teh
13 Bab 13 Insiden Kepergok
14 Bab 14 Pria Itu berbahaya!
15 Bab 15 Nikah Siri
16 Bab 16 Perihal Ranjang
17 Bab 17 Kesepakatan Pernikahan
18 Bab 18 Hari Kedua Pasutri
19 Bab 19 Insiden Kamar Mandi
20 Bab 20 Dia Marah
21 Bab 21 Membiasakan Memanggilmu
22 Bab 22 Memanfaatkan
23 Bab 23 Pelukan!
24 Bab 24 Bermulut Tajam
25 Bab 25 Kamu Cantik
26 Bab 26 Karena Kamu Istimewa
27 Bab 27 Keinginan Balas Dendam
28 Bab 28 Suamiku Seorang CEO?
29 Bab 29 Wajah Bangsawan
30 Bab 30 Identitas Sagara
31 Bab 31 Gadis Gahar
32 Bab 32 Kesempatan Balas Dendam
33 Bab 33 Benih Kecemburuan Sagara
34 Bab 34 Apakah Ini Cinta
35 Bab 35 Sabar, Dia Istrimu Sekarang
36 Bab 36 Uang Nafkah
37 Bab 37 Masalah Serius
38 Bab 38 Kelakuan Sagara
39 Bab 39 Meninggalkan Ketegangan
40 Bab 40 Ingin Mengakhiri Pernikahan
41 Bab 41 Memberitahu Ibu
42 Bab 42 Bibit, Bebet, dan Bobot Nyonya Leila
43 Bab 43 Kesenjangan Perasaan
44 Bab 44 Ke Mall
45 Bab 45 Kontrak Kerja
46 Bab 46 Bertemu Mantan
47 Bab 47 Saya Suaminya!
48 Bab 48 Ciuman Pertama
49 Bab 49 Mencuri Sesuatu yang Memabukkan
50 Bab 50 Berapa Ukurannya
51 Bab 51 Berbohong Itu Tidak Baik
52 Bab 52 Istri Seorang Crazy Rich
53 Bab 53 Dia Tidak Pantas
54 Bab 54 Debaran Asing
55 Bab 55 Bertemu Mertua
56 Bab 56 Bukan Bagian Keluarga Ini
57 Bab 57 Perempuan Pilihanku
58 Bab 58 Setitik Perasaan Lain
59 Bab 59 Jejak Manismu
60 Bab 60 Mati Kutunya Leila
61 Bab 61 Kepolosan Zev
62 Bab 62 Perasaan yang Tidak Dipahami
63 Bab 63 Dengupan
64 Bab 64 Menguji Kekuatan Iman
65 Bab 65 Gantengan Suami Aku Sih
66 Bab 66 Pencerahan dari Mentor
67 Bab 67 Mantan yang Terlalu Percaya Diri
68 Bab 68 Kenyataan yang Menampar
69 Bab 69 Kehebohan di Desa Bukit Tinggi
70 Bab 70 Wanita Dipangkuan Sagara
71 Bab 71 Melabrak Pelakor
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 Pertanyaan Meresahkan
2
Bab 2 Tidak Butuh Suami
3
Bab 3 Kebohongan
4
Bab 4 Kebohongan yang Berlanjut
5
Bab 5 Pria Mencurigakan
6
Bab 6 Penghuni Kos Baru
7
Bab 7 Pria itu Berandal
8
Bab 8 Perkara Pegangan
9
Bab 9 Dilamar Juragan
10
Bab 10 Calon Suami Sekaligus Selingkuhannya
11
Bab 11 Dilamar Sagara
12
Bab 12 Kebun Teh
13
Bab 13 Insiden Kepergok
14
Bab 14 Pria Itu berbahaya!
15
Bab 15 Nikah Siri
16
Bab 16 Perihal Ranjang
17
Bab 17 Kesepakatan Pernikahan
18
Bab 18 Hari Kedua Pasutri
19
Bab 19 Insiden Kamar Mandi
20
Bab 20 Dia Marah
21
Bab 21 Membiasakan Memanggilmu
22
Bab 22 Memanfaatkan
23
Bab 23 Pelukan!
24
Bab 24 Bermulut Tajam
25
Bab 25 Kamu Cantik
26
Bab 26 Karena Kamu Istimewa
27
Bab 27 Keinginan Balas Dendam
28
Bab 28 Suamiku Seorang CEO?
29
Bab 29 Wajah Bangsawan
30
Bab 30 Identitas Sagara
31
Bab 31 Gadis Gahar
32
Bab 32 Kesempatan Balas Dendam
33
Bab 33 Benih Kecemburuan Sagara
34
Bab 34 Apakah Ini Cinta
35
Bab 35 Sabar, Dia Istrimu Sekarang
36
Bab 36 Uang Nafkah
37
Bab 37 Masalah Serius
38
Bab 38 Kelakuan Sagara
39
Bab 39 Meninggalkan Ketegangan
40
Bab 40 Ingin Mengakhiri Pernikahan
41
Bab 41 Memberitahu Ibu
42
Bab 42 Bibit, Bebet, dan Bobot Nyonya Leila
43
Bab 43 Kesenjangan Perasaan
44
Bab 44 Ke Mall
45
Bab 45 Kontrak Kerja
46
Bab 46 Bertemu Mantan
47
Bab 47 Saya Suaminya!
48
Bab 48 Ciuman Pertama
49
Bab 49 Mencuri Sesuatu yang Memabukkan
50
Bab 50 Berapa Ukurannya
51
Bab 51 Berbohong Itu Tidak Baik
52
Bab 52 Istri Seorang Crazy Rich
53
Bab 53 Dia Tidak Pantas
54
Bab 54 Debaran Asing
55
Bab 55 Bertemu Mertua
56
Bab 56 Bukan Bagian Keluarga Ini
57
Bab 57 Perempuan Pilihanku
58
Bab 58 Setitik Perasaan Lain
59
Bab 59 Jejak Manismu
60
Bab 60 Mati Kutunya Leila
61
Bab 61 Kepolosan Zev
62
Bab 62 Perasaan yang Tidak Dipahami
63
Bab 63 Dengupan
64
Bab 64 Menguji Kekuatan Iman
65
Bab 65 Gantengan Suami Aku Sih
66
Bab 66 Pencerahan dari Mentor
67
Bab 67 Mantan yang Terlalu Percaya Diri
68
Bab 68 Kenyataan yang Menampar
69
Bab 69 Kehebohan di Desa Bukit Tinggi
70
Bab 70 Wanita Dipangkuan Sagara
71
Bab 71 Melabrak Pelakor

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!