Bab 5 Pria Mencurigakan

Hari semakin sore, beranjak malam. Nara menepikan motornya saat ia tiba di jembatan dekat pintu masuk desanya. Pemandangan petang di sini menakjubkan, sinar matahari jingga bercampur keunguan tampak sangat menawan, belum lagi arus air yang mengalir di bawah sana terdengar menenangkan.

Mata Nara terpejam menikmati suasana, tempat ini selalu menjadi tempat terbaik di kala hatinya sedang resah dan gundah. Dan jika merindukan bapaknya, ia juga akan menghabiskan waktu berjam-jam di tempat ini. Karena bapaknya lah yang pertama kali mengajaknya ke sini untuk melihat matahari terbenam.

Angin berhembus lembut, menebarkan anak rambut Nara yang dicepolnya asal. Ia menghirup udara dan menghembuskannya perlahan. Suasana terasa menenangkan. Namun, itu tidak tertahan lama. Tubuh Nara tiba-tiba menegang, matanya melebar. Dan dengan refleks ia menarik tangan seseorang yang memegang bahunya lalu memelintir dengan gerakan lincah.

"Argghhhhh ... sakit-sakit, lepasss ...!" rintih orang itu yang sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti ini.

"Eh, mau ngapain?! Mau copet? Mau jahatin saya?!" Nara menekankan tangannya membuat orang itu semakin merintis kesakitan.

"Siapa yang mau copet, apalagi jahatin kamu. Saya ini mau tanya alamat," beritahunya.

"Hah! Bohong, saya tidak percaya," ucap Nara masih mengunci orang itu, siapa yang akan percaya dengan ucapannya karena penampilannya yang begitu awutan, rambut gondrong, celana levis robek di bagian lutut, kaos melar yang ditutupi oleh jaket kulit hitam.

"Oh, astaga! Saya beneran mau tanya alamat seseorang kenalan, karena saya baru pertama kali ke sini. Kamu tahu Pak Bagja yang urus kebun teh? Nah, itu kenalan saya. Saya mau ketemu beliau, nomor hp-nya tidak aktif dan tidak bisa di hubungi," jelas orang itu yang tak lain adalah Sagara. Ia tiba di Desa Bukit Tinggi lima belas menit yang lalu, dan mencoba menghubungi nomor Pak Bagja yang bertanggung jawab mengurus kebun tehnya.

Mendengar nama Bagja di sebut, Nara segera melepaskan cekalannya pada pria itu. Siapa yang tidak mengenal Pak Bagja yang setahunya pemilik tunggal kebun teh terluas di desa, semua warga desa mengenalnya. Pria ramah nan dermawan, tetapi tidak ingin dipanggil juragan. Sungguh rendah hati.

"Maaf, maaf, saya tidak sengaja. Saya kira kamu mau copet atau preman yang suka ganggu gadis desa. Soalnya penampilan kamu kaya berandal, aura tukang palaknya kua—" Nara mengulum bibirnya yang keceplosan. Ia pun mengatupkan kedua tangannya, meminta maaf dengan sungguh-sungguh.

Sagara mengimbas lengannya, rasa sakitnya masih terasa. "Gila! Mana ada tidak sengaja kalau sakitnya kaya begini," ujar pria itu sinis, masih fokus dengan lengannya. Tidak melihat wajah gadis itu yang semakin meringis, merasa bersalah.

"Ya maaf, saya akui saya memang sengaja, tapi 'kan itu refleks. Dan siapa suruh pegang bahu orang tiba-tiba, saya tadi kaget!" balas Nara, tidak ingin disalahkan sepenuhnya.

"Saya tadi sudah panggil, nyapa, tapi kamunya yang tidak nyahut—" Sagara membulatkan mata, mundur selangkah tak kala bertukar pandang dengan Nara. Melihat baik-baik penampilan gadis yang memelintirnya dari atas ke bawah. "Shittt! Penampilannya aja kaya cupu, aslinya bar-bar, ya," ujar pria itu, berkata seenak jidatnya tampa disaring-saring.

Nara mengernyit, melihat penampilannya sendiri. Ia memang mengenakan celana kulot lebar, kaos melar dengan luaran jaket kedodoran. Kacamata bulatnya yang tebal, dengar rambut yang ia cepol asal.

Mulut gadis itu membulat, menyadari penampilannya yang ternyata dilihat dan dinilai oleh orang lain sebagai penampilannya yang cupu. Ia benar-benar baru menyadarinya. Selama ini, asalkan pakaiannya nyaman. Maka, ia tidak terlalu peduli dengan hal lain.

Deg!

Ingatan Nara kembali kepada dua bulan lalu, pada perkataan seseorang yang menjadi pelabuhan hatinya.

Buka mata mu untuk melihat realita. Kamu tidak pantas untukku yang terlalu bersinar ini. Penampilanmu tidak pantas untuk bersanding denganku. Baiknya kita sudahi saja hubungan ini, aku juga tidak tahan dengan orang kolot seperti mu!

"Woyy, heyyy ... lah, jadi patung dia!" Sagara melambaikan tangan di depan wajah gadis itu yang tengah melamun. Ia ingin mengguncang bahunya untuk menyadarkan, tetapi urung mengingat lengannya baru saja dipelintir. Ia tidak ingin mendapatkan pelintiran untuk kedua kalinya. "Eh perempuan, cewek, mbak, nengg ...! Kesambet ni pasti, mana dekat jembatan, mau gelap lagi." Sagara mengusap tengkuknya.

Dengan mengambil satu langkah ke belakang, mengambil ancang-ancang, pria itu menyentil dahi Nara untuk menyadarkan.

"Awuuhh!" rintih Nara mengusap dahinya. "Sakittt!" pekiknya, menatap tajam pada Sagara yang kini tengah cengengesan.

"Sengaja, tapi terpaksa. Saya panggil kamu dari tadi, tapi tidak nyahut-nyahut. Lagi mikirin hutang, ya? Atau mikiran cicilan barang?" tebak pria itu dengan nada sinis.

Nara mendengus, tatapan semakin menusuk. Tidak ingin menanggapi orang asing nan aneh, ia pun berjalan menuju motor maticnya. Menjalankan mesin roda dua itu, meninggalkan Sagara yang meneriakinya.

"Eii, ei ... berhenti, jangan dulu pergi. Sekedarnya kasih tahu dulu di mana alamat Pak Bagja, woyyyy ...!" percuma, teriakan Sagara tidak ditanggapi oleh Nara. Menoleh pun, gadis itu tidak. "Sialan," umpat pria itu, menendang batu.

Tinggg!!!

Bunyi itu menggema tak kala batu itu beradu dengan pembatas besi jembatan. Membuat sang empu yang menendang terlonjak kaget sendiri.

Sagara segera menghampiri motor besar hitam metaliknya, menyalakan mesin dan mengikuti jalur gadis itu yang sepertinya akan menuju ke pemukiman warga.

Nara tiba di rumahnya. Ibunya terlihat menunggu di bale-bale bawah pohon mangga halaman depan rumah. "Kok lama? Padahal mini marketnya ndak terlalu jauh dari sini." Ratna berdiri, menyambut kedatangan anaknya yang pulang dari mini market untuk membeli kebutuhan kamar mandi mereka.

"Iya, maaf, Bu. Tadi Nara singgah dulu di jembatan dekat pembatas desa," jelas gadis itu.

Ibunya mengangguk, mengajak anaknya untuk masuk. Hari sudah hampir magrib, tetapi langkahnya urung tak kala melihat seseorang berhenti di depan rumahnya.

"Bu," panggil Nara melihat ibunya yang diam saja.

"Assalamualaikum," sapa orang itu melepaskan helem, ia menggerakkan kepalanya yang membuat rambut panjang sebahunya terkibas mengikuti gerakan. Kemudian jari-jarinya yang kokoh, menyisir rambutnya ke belakang untuk merapikan.

Mata Ratna membulat, melihat ketampanan pria muda di depannya. "Ehh, waalaikumsalam. Ada yang bisa saya bantu, Aden?"

"Aduh, jangan panggil Aden, Bu. Jadi nggak enak saya, panggil saja Sagara, Saga atau Gara. Nyamannya Ibu aja," ujar pemuda itu yang memang adalah Sagara, mengikuti Nara sampai ke rumahnya.

Ratna mengulum senyum melihat kesopanan pemuda di depannya, ia mengangguk. "Jadi, Nak Saga. Ada yang bisa Ibu bantu?" Ratna mengulangi pertanyaannya. Ia yang tengah berdiri dengan tenang segera ditarik anaknya.

"Kamu! Ngapai kamu ke sini?" Nara membawa ibunya ke belakang punggungnya, tampang pria di depannya masih sangat mencurigakan. Ia harus tetap berhati-hati, apalagi pria ini sampai mengikutinya ke rumah.

***

Bersambung ...

Si Sagara tebar pesona banget 😒 sampai Bu Ratna kesemsem 🤣

Episodes
1 Bab 1 Pertanyaan Meresahkan
2 Bab 2 Tidak Butuh Suami
3 Bab 3 Kebohongan
4 Bab 4 Kebohongan yang Berlanjut
5 Bab 5 Pria Mencurigakan
6 Bab 6 Penghuni Kos Baru
7 Bab 7 Pria itu Berandal
8 Bab 8 Perkara Pegangan
9 Bab 9 Dilamar Juragan
10 Bab 10 Calon Suami Sekaligus Selingkuhannya
11 Bab 11 Dilamar Sagara
12 Bab 12 Kebun Teh
13 Bab 13 Insiden Kepergok
14 Bab 14 Pria Itu berbahaya!
15 Bab 15 Nikah Siri
16 Bab 16 Perihal Ranjang
17 Bab 17 Kesepakatan Pernikahan
18 Bab 18 Hari Kedua Pasutri
19 Bab 19 Insiden Kamar Mandi
20 Bab 20 Dia Marah
21 Bab 21 Membiasakan Memanggilmu
22 Bab 22 Memanfaatkan
23 Bab 23 Pelukan!
24 Bab 24 Bermulut Tajam
25 Bab 25 Kamu Cantik
26 Bab 26 Karena Kamu Istimewa
27 Bab 27 Keinginan Balas Dendam
28 Bab 28 Suamiku Seorang CEO?
29 Bab 29 Wajah Bangsawan
30 Bab 30 Identitas Sagara
31 Bab 31 Gadis Gahar
32 Bab 32 Kesempatan Balas Dendam
33 Bab 33 Benih Kecemburuan Sagara
34 Bab 34 Apakah Ini Cinta
35 Bab 35 Sabar, Dia Istrimu Sekarang
36 Bab 36 Uang Nafkah
37 Bab 37 Masalah Serius
38 Bab 38 Kelakuan Sagara
39 Bab 39 Meninggalkan Ketegangan
40 Bab 40 Ingin Mengakhiri Pernikahan
41 Bab 41 Memberitahu Ibu
42 Bab 42 Bibit, Bebet, dan Bobot Nyonya Leila
43 Bab 43 Kesenjangan Perasaan
44 Bab 44 Ke Mall
45 Bab 45 Kontrak Kerja
46 Bab 46 Bertemu Mantan
47 Bab 47 Saya Suaminya!
48 Bab 48 Ciuman Pertama
49 Bab 49 Mencuri Sesuatu yang Memabukkan
50 Bab 50 Berapa Ukurannya
51 Bab 51 Berbohong Itu Tidak Baik
52 Bab 52 Istri Seorang Crazy Rich
53 Bab 53 Dia Tidak Pantas
54 Bab 54 Debaran Asing
55 Bab 55 Bertemu Mertua
56 Bab 56 Bukan Bagian Keluarga Ini
57 Bab 57 Perempuan Pilihanku
58 Bab 58 Setitik Perasaan Lain
59 Bab 59 Jejak Manismu
60 Bab 60 Mati Kutunya Leila
61 Bab 61 Kepolosan Zev
62 Bab 62 Perasaan yang Tidak Dipahami
63 Bab 63 Dengupan
64 Bab 64 Menguji Kekuatan Iman
65 Bab 65 Gantengan Suami Aku Sih
66 Bab 66 Pencerahan dari Mentor
67 Bab 67 Mantan yang Terlalu Percaya Diri
68 Bab 68 Kenyataan yang Menampar
69 Bab 69 Kehebohan di Desa Bukit Tinggi
70 Bab 70 Wanita Dipangkuan Sagara
71 Bab 71 Melabrak Pelakor
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 Pertanyaan Meresahkan
2
Bab 2 Tidak Butuh Suami
3
Bab 3 Kebohongan
4
Bab 4 Kebohongan yang Berlanjut
5
Bab 5 Pria Mencurigakan
6
Bab 6 Penghuni Kos Baru
7
Bab 7 Pria itu Berandal
8
Bab 8 Perkara Pegangan
9
Bab 9 Dilamar Juragan
10
Bab 10 Calon Suami Sekaligus Selingkuhannya
11
Bab 11 Dilamar Sagara
12
Bab 12 Kebun Teh
13
Bab 13 Insiden Kepergok
14
Bab 14 Pria Itu berbahaya!
15
Bab 15 Nikah Siri
16
Bab 16 Perihal Ranjang
17
Bab 17 Kesepakatan Pernikahan
18
Bab 18 Hari Kedua Pasutri
19
Bab 19 Insiden Kamar Mandi
20
Bab 20 Dia Marah
21
Bab 21 Membiasakan Memanggilmu
22
Bab 22 Memanfaatkan
23
Bab 23 Pelukan!
24
Bab 24 Bermulut Tajam
25
Bab 25 Kamu Cantik
26
Bab 26 Karena Kamu Istimewa
27
Bab 27 Keinginan Balas Dendam
28
Bab 28 Suamiku Seorang CEO?
29
Bab 29 Wajah Bangsawan
30
Bab 30 Identitas Sagara
31
Bab 31 Gadis Gahar
32
Bab 32 Kesempatan Balas Dendam
33
Bab 33 Benih Kecemburuan Sagara
34
Bab 34 Apakah Ini Cinta
35
Bab 35 Sabar, Dia Istrimu Sekarang
36
Bab 36 Uang Nafkah
37
Bab 37 Masalah Serius
38
Bab 38 Kelakuan Sagara
39
Bab 39 Meninggalkan Ketegangan
40
Bab 40 Ingin Mengakhiri Pernikahan
41
Bab 41 Memberitahu Ibu
42
Bab 42 Bibit, Bebet, dan Bobot Nyonya Leila
43
Bab 43 Kesenjangan Perasaan
44
Bab 44 Ke Mall
45
Bab 45 Kontrak Kerja
46
Bab 46 Bertemu Mantan
47
Bab 47 Saya Suaminya!
48
Bab 48 Ciuman Pertama
49
Bab 49 Mencuri Sesuatu yang Memabukkan
50
Bab 50 Berapa Ukurannya
51
Bab 51 Berbohong Itu Tidak Baik
52
Bab 52 Istri Seorang Crazy Rich
53
Bab 53 Dia Tidak Pantas
54
Bab 54 Debaran Asing
55
Bab 55 Bertemu Mertua
56
Bab 56 Bukan Bagian Keluarga Ini
57
Bab 57 Perempuan Pilihanku
58
Bab 58 Setitik Perasaan Lain
59
Bab 59 Jejak Manismu
60
Bab 60 Mati Kutunya Leila
61
Bab 61 Kepolosan Zev
62
Bab 62 Perasaan yang Tidak Dipahami
63
Bab 63 Dengupan
64
Bab 64 Menguji Kekuatan Iman
65
Bab 65 Gantengan Suami Aku Sih
66
Bab 66 Pencerahan dari Mentor
67
Bab 67 Mantan yang Terlalu Percaya Diri
68
Bab 68 Kenyataan yang Menampar
69
Bab 69 Kehebohan di Desa Bukit Tinggi
70
Bab 70 Wanita Dipangkuan Sagara
71
Bab 71 Melabrak Pelakor

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!