Bab 3 Kebohongan

Mendapatkan pertanyaan seperti itu, sontak saja membuat Nara gelagapan. Belum lagi tatapan dari para pelanggan yang begitu intens. Nara meneguk ludahnya susah. Dari semua tatapan itu, tatapan ibunya lah yang paling tajam.

"Bu Nurlela cerita ke saya barusan, bahkan baru sekali. Kita berpapasan saat saya mau ke sini, katanya ... dia ketemu kamu di pasar, terus kamu bilang tidak butuh suami karena bisa melakukan semuanya sendiri," cerocos wanita itu, bibirnya yang merah menyala bergerak maju-mundur demi menceritakan berita yang baru saja didengarnya itu. Tentu tujuannya untuk menanyakan kebenaran dari sang empunya langsung dan di depan semua orang sekalian agar mereka semua juga mengetahui.

"Benar itu Nara?" tanya ibunya.

Pertanyaan itu seketika menyadarkan Nara dari ingatannya tadi pagi, saat ia bertemu dengan tetangganya Nurlela di pasar.

Nara menarik napas, lalu membuangnya perlahan. "Wah ... Ibu Lela salah paham itu," ujar Nara berusaha setenang mungkin, Imas yang bertanya menjadi semakin penasaran. Ia pun mengambil tempat duduk agar nyaman mendengarkan penjelasan dari sumbernya langsung, tidak lupa tangannya mencomot perkedel jagung sebagai cemilannya. Lupa sudah tujuannya datang ke warung untuk membeli sarapan pagi suami dan anaknya di rumah.

"Salah paham gimana maksud kamu, Nara? Memang, ya! Bu Lela itu suka sekali membawa berita-berita hoax. Saya sih tidak gampang percaya, makanya langsung mencari kebenaran dari sumbernya langsung." Bangga Imas, mengipasi wajahnya dengan jumawa.

"Berita-berita? Aslinya itu gosip, Bu!" sahut Mamat di mejanya, kembali melanjutkan makannya yang sempat terhenti. Astaga! Hampir saja ia percaya dengan ucapan Imas, tetapi yang bersangkutan segera membantah.

"Tadi pagi beliau sapa saya, katanya kasian lihat saya yang ke pasar bawa motor sendirian. Tidak kaya dia yang ditemani suaminya. Ya terus saya jawab saja, karena saya masih sanggup sendiri, jadi belum butuh suami. Semuanya itu cuman agar jaga-jaga saja dengan ucapan Bu Lela selanjutnya, yang suka sekali menjodoh-jodohkan saya dengan duda anak satu di kampung sebelah," jelas Nara. Tetangganya yang satu itu, selain suka menanyakan kapan nikah, juga suka sekali mempromosikan para duda kenalannya. Mungkin ia mendapatkan komisi dari hal tersebut, makanya bersemangat sekali.

"Lailahailallah ..." Dani menggeleng pelan. "Kenapa, ya, Bu Lela itu suka sekali mencampuri urusan orang lain? Kemarin saja dia yang paling depan memanas-manasi teteh di ujung gang untuk melabrak suaminya yang katanya selingkuh. Padahal, suaminya cuma menolong perempuan yang jatuh dari motor. Tapi menurut Bu Lela, mereka sedang berpelukan mesra di pinggir jalan. Hais ... heboh sekali kemarin itu. Saya sempat lihat grasak-grusuknya." Dani kembali menyuap makanannya, meski pikirannya masih dipenuhi kekesalan.

"Ellleh, itu berita lama. Dua hari yang lalu, sudah basi mah itu. Saya juga sudah dengar beberapa menit setelah kejadian, tentunya dari sumber yang terpercaya juga." Imas melambaikan tangan, itu tidak menarik. Ia lebih tertarik dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Nara. "Memangnya kenapa dengan duda anak satu, Nara? Kamu tidak mau karena dia bawa anak nanti? Kalau itu sih gampang, tinggal suruh saja titip ke mantan Ibu mertuanya. Kan, beres." Ia memberikan solusi yang menurutnya sangat tepat.

Nara geleng-geleng, tidak habis pikir dengan pemikiran dan ucapan Imas. Berbicara dengan wanita ini memang tidak akan ada habisnya. Padahal sudah tersirat dalam penjelasan dan raut wajahnya, bahwa ia tidak suka membahas perjodohan. Tapi Imas sepertinya menutup mata akan hal tersebut.

"Hhhh ... iya, Bu." Nara tertawa canggung. "Tapi bukan karena itu alasannya, Bu. Saya tidak mau dijodohkan dengan duda anak satu kampung sebelah itu karena ..." Nara meneguk ludahnya, berusaha menyembunyikan gelagapannya.

"Karenaaa ...?" mata Imas melebar, mengeja dengan panjang kata terakhir Nara yang tidak diteruskan.

Ratna ikut penasaran dengan alasan anaknya itu, ia melirik sekilas lalu kemudian kembali fokus pada bungkusan nasi pesanan pelanggannya yang tidak makan di tempat.

Cukup lama semua orang menunggu balasan dari gadis yang hampir berumur 30 tahun itu, termaksud Mamat dan Dani beserta yang lainnya yang berada di satu meja tersebut.

"Karena saya sudah punya calon suami, Bu. Mana bisa saya terima perjodohan itu," jawab Nara meluncur begitu saja, manik matanya sedikit bergetar karena itu merupakan sebuah kebohongan. Nara memperbaiki kacamata bulat tebalnya, berharap itu dapat menutupi kebohongannya agar tidak tercium.

"Serius kamu, Nak?!" tanya Ratna yang tiba-tiba saja sudah berada tepat di depan wajah Nara. Menatap intens mata anaknya yang terhalang oleh kacamatanya.

Imas sampai terlonjak kaget. "Eh! Bu Ratna ini bikin kaget saja," ucap wanita itu mengelus dadanya.

Nara berusaha setenang mungkin menghadapi interogasi dari ibunya. Wajahnya ia buat setenang mungkin. "Iya, Bu. Benar," jawabnya kemudian, dengan wajah yang tenang, meyakinkan. Maaf, Bu. Nara bohong, lanjutnya dalam hati, meringis bersalah.

"Aduhhh, Bu Ratnaaa. Itu loh, di tungguin sama pelanggannya. Sana ... lihat dulu," usir Imas, merasa wanita sepantarannya itu mengganggu perbincangannya dengan Nara.

"Nanti kita bicara lagi, Ibu layani pelanggan dulu." Putus Ratna dan mendapatkan anggukan dari sang anak.

"Oh ... begitu, toh. Syukur kalau begitu. Selamat, ya. Aku ikut bahagia." Imas menarik tangan Nara, senyumannya merekah indah. Terlihat senang sekali setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Nara barusan.

"I-iya, Bu." Tangan Nara mengikuti gerakan tangan besar Imas yang menjabat tangannya. Dalam hati, ia bertanya mengapa wanita ini sebahagia ini?

"Ya bener, Teh Nara? Selamat ya, saya juga ikut senang." Dani mengucapakan dengan tulus. Begitu pula dengan ketiga rekannya di meja, termasuk Mamat. Sebenarnya, ia dan yang lainnya sudah gedek mendengar beberapa rekan mereka di pabrik yang membahas wanita bohay, lalu beberapa yang lainnya mengaitkan Nara ke dalam pembahasan. Terutama penampilan dari anak pemilik warung makan ini yang kata mereka sama sekali tidak sedap di pandang. Kaos lebar dengan celana kedodoran, rambut yang diikat asal begitu saja. Tidak ada menariknya sama sekali. Percuma lah putih, kalau penampilannya seperti itu. Belum lagi kacamata bulatnya yang tebal, sungguh membuat sakit mata. Tapi begitulah menurut mereka yang memang berotak kotor, jika mereka mengenal Nara, maka penampilannya bukanlah hal yang perlu dipersoalkan. Yang penting kepribadiannya.

"Jadi, sekarang calonmu di mana, Nara? Apakah orang kampung sebelah, karena di kampung kita sih saya yakin tidak ada. Soalnya belum mendengar kabarnya, atau saya yang ketinggalan? Tapi itu tidak mungkin," Imas mulai heboh sendiri. Memastikan Nara benar-benar memiliki calon, yang nantinya akan ia beritahu pada suaminya yang selalu saja menggatal itu, padahal sudah memiliki dua madu.

Nara membuang napas. Benarlah, satu kebohongan akan diikuti oleh kebohongan yang lain. Ia tidak memiliki pilihan lain, selain berbohong lagi. "Tidak di kampung ini, maupun di kampung sebelah, Bu. Calon suaminya saya orang kota. Ketemu dan kenalan di sana pas kami sedang kerja." Semua mulut di sana membulat, angguk-angguk mengerti.

"Jangan bilang kalau kamu pulang kampung karena mau urus pernikahan, ya?" tanya Imas lagi.

Duuhhhh, Rabbi. Berdosakah hamba, jika menyumbat mulut Bu Imas dengan perkedel agar beliau berhenti bertanya? batin Nara.

***

Bersambung ...

Episodes
1 Bab 1 Pertanyaan Meresahkan
2 Bab 2 Tidak Butuh Suami
3 Bab 3 Kebohongan
4 Bab 4 Kebohongan yang Berlanjut
5 Bab 5 Pria Mencurigakan
6 Bab 6 Penghuni Kos Baru
7 Bab 7 Pria itu Berandal
8 Bab 8 Perkara Pegangan
9 Bab 9 Dilamar Juragan
10 Bab 10 Calon Suami Sekaligus Selingkuhannya
11 Bab 11 Dilamar Sagara
12 Bab 12 Kebun Teh
13 Bab 13 Insiden Kepergok
14 Bab 14 Pria Itu berbahaya!
15 Bab 15 Nikah Siri
16 Bab 16 Perihal Ranjang
17 Bab 17 Kesepakatan Pernikahan
18 Bab 18 Hari Kedua Pasutri
19 Bab 19 Insiden Kamar Mandi
20 Bab 20 Dia Marah
21 Bab 21 Membiasakan Memanggilmu
22 Bab 22 Memanfaatkan
23 Bab 23 Pelukan!
24 Bab 24 Bermulut Tajam
25 Bab 25 Kamu Cantik
26 Bab 26 Karena Kamu Istimewa
27 Bab 27 Keinginan Balas Dendam
28 Bab 28 Suamiku Seorang CEO?
29 Bab 29 Wajah Bangsawan
30 Bab 30 Identitas Sagara
31 Bab 31 Gadis Gahar
32 Bab 32 Kesempatan Balas Dendam
33 Bab 33 Benih Kecemburuan Sagara
34 Bab 34 Apakah Ini Cinta
35 Bab 35 Sabar, Dia Istrimu Sekarang
36 Bab 36 Uang Nafkah
37 Bab 37 Masalah Serius
38 Bab 38 Kelakuan Sagara
39 Bab 39 Meninggalkan Ketegangan
40 Bab 40 Ingin Mengakhiri Pernikahan
41 Bab 41 Memberitahu Ibu
42 Bab 42 Bibit, Bebet, dan Bobot Nyonya Leila
43 Bab 43 Kesenjangan Perasaan
44 Bab 44 Ke Mall
45 Bab 45 Kontrak Kerja
46 Bab 46 Bertemu Mantan
47 Bab 47 Saya Suaminya!
48 Bab 48 Ciuman Pertama
49 Bab 49 Mencuri Sesuatu yang Memabukkan
50 Bab 50 Berapa Ukurannya
51 Bab 51 Berbohong Itu Tidak Baik
52 Bab 52 Istri Seorang Crazy Rich
53 Bab 53 Dia Tidak Pantas
54 Bab 54 Debaran Asing
55 Bab 55 Bertemu Mertua
56 Bab 56 Bukan Bagian Keluarga Ini
57 Bab 57 Perempuan Pilihanku
58 Bab 58 Setitik Perasaan Lain
59 Bab 59 Jejak Manismu
60 Bab 60 Mati Kutunya Leila
61 Bab 61 Kepolosan Zev
62 Bab 62 Perasaan yang Tidak Dipahami
63 Bab 63 Dengupan
64 Bab 64 Menguji Kekuatan Iman
65 Bab 65 Gantengan Suami Aku Sih
66 Bab 66 Pencerahan dari Mentor
67 Bab 67 Mantan yang Terlalu Percaya Diri
68 Bab 68 Kenyataan yang Menampar
69 Bab 69 Kehebohan di Desa Bukit Tinggi
70 Bab 70 Wanita Dipangkuan Sagara
71 Bab 71 Melabrak Pelakor
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 Pertanyaan Meresahkan
2
Bab 2 Tidak Butuh Suami
3
Bab 3 Kebohongan
4
Bab 4 Kebohongan yang Berlanjut
5
Bab 5 Pria Mencurigakan
6
Bab 6 Penghuni Kos Baru
7
Bab 7 Pria itu Berandal
8
Bab 8 Perkara Pegangan
9
Bab 9 Dilamar Juragan
10
Bab 10 Calon Suami Sekaligus Selingkuhannya
11
Bab 11 Dilamar Sagara
12
Bab 12 Kebun Teh
13
Bab 13 Insiden Kepergok
14
Bab 14 Pria Itu berbahaya!
15
Bab 15 Nikah Siri
16
Bab 16 Perihal Ranjang
17
Bab 17 Kesepakatan Pernikahan
18
Bab 18 Hari Kedua Pasutri
19
Bab 19 Insiden Kamar Mandi
20
Bab 20 Dia Marah
21
Bab 21 Membiasakan Memanggilmu
22
Bab 22 Memanfaatkan
23
Bab 23 Pelukan!
24
Bab 24 Bermulut Tajam
25
Bab 25 Kamu Cantik
26
Bab 26 Karena Kamu Istimewa
27
Bab 27 Keinginan Balas Dendam
28
Bab 28 Suamiku Seorang CEO?
29
Bab 29 Wajah Bangsawan
30
Bab 30 Identitas Sagara
31
Bab 31 Gadis Gahar
32
Bab 32 Kesempatan Balas Dendam
33
Bab 33 Benih Kecemburuan Sagara
34
Bab 34 Apakah Ini Cinta
35
Bab 35 Sabar, Dia Istrimu Sekarang
36
Bab 36 Uang Nafkah
37
Bab 37 Masalah Serius
38
Bab 38 Kelakuan Sagara
39
Bab 39 Meninggalkan Ketegangan
40
Bab 40 Ingin Mengakhiri Pernikahan
41
Bab 41 Memberitahu Ibu
42
Bab 42 Bibit, Bebet, dan Bobot Nyonya Leila
43
Bab 43 Kesenjangan Perasaan
44
Bab 44 Ke Mall
45
Bab 45 Kontrak Kerja
46
Bab 46 Bertemu Mantan
47
Bab 47 Saya Suaminya!
48
Bab 48 Ciuman Pertama
49
Bab 49 Mencuri Sesuatu yang Memabukkan
50
Bab 50 Berapa Ukurannya
51
Bab 51 Berbohong Itu Tidak Baik
52
Bab 52 Istri Seorang Crazy Rich
53
Bab 53 Dia Tidak Pantas
54
Bab 54 Debaran Asing
55
Bab 55 Bertemu Mertua
56
Bab 56 Bukan Bagian Keluarga Ini
57
Bab 57 Perempuan Pilihanku
58
Bab 58 Setitik Perasaan Lain
59
Bab 59 Jejak Manismu
60
Bab 60 Mati Kutunya Leila
61
Bab 61 Kepolosan Zev
62
Bab 62 Perasaan yang Tidak Dipahami
63
Bab 63 Dengupan
64
Bab 64 Menguji Kekuatan Iman
65
Bab 65 Gantengan Suami Aku Sih
66
Bab 66 Pencerahan dari Mentor
67
Bab 67 Mantan yang Terlalu Percaya Diri
68
Bab 68 Kenyataan yang Menampar
69
Bab 69 Kehebohan di Desa Bukit Tinggi
70
Bab 70 Wanita Dipangkuan Sagara
71
Bab 71 Melabrak Pelakor

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!