Episode 2

Bab 2: Taruhan Pertama dengan Nona Besar

Bayu tidak langsung menyentuh batu yang bercahaya itu.

Ia berdiri di depan lapak seolah sedang memilih biasa, lalu mengalihkan pandangan ke batu-batu lain. Setiap kali ia memusatkan mata, kulit kasar di permukaan menjadi transparan. Retakan, rongga, perubahan warna, dan serat mineral tersusun di hadapannya seperti gambar potongan.

Beberapa batu hanya berisi warna keruh.

Sebagian memiliki retakan sampai ke tengah.

Batu yang tadi menarik perhatiannya berbeda. Di balik kulit hitam kusam, terdapat warna biru kehijauan yang padat. Hampir tidak ada retakan besar. Cahaya emas mengalir dari pusatnya dan membuat tengkuk Bayu meremang.

Ia memindai satu batu lagi di bawah meja.

Bentuknya miring dan tidak menarik. Namun, di dalamnya tersimpan warna hijau bening dengan garis keemasan tipis. Cahayanya bahkan lebih kuat.

Bayu menahan napas dan menarik kembali pandangannya. Rasa berat muncul di belakang mata, seperti setelah terlalu lama menatap layar.

Kemampuan ini nyata.

Masalahnya, kedua batu itu memiliki label harga total dua belas juta rupiah.

Saldo Bayu hanya Rp287.300.

"Kalau cuma mau lihat, jangan menghalangi pembeli."

Pemilik lapak mengibaskan kain lap ke arah batu. Dua pembeli di sebelah Bayu melirik sepatu tuanya, lalu kembali berbicara tentang kualitas permukaan seolah ia tidak ada.

Bayu mundur setengah langkah.

Ia sudah memegang jawaban, tetapi tidak memiliki biaya untuk membuka soal.

"Mas bisa baca batu?"

Suara perempuan itu datang dari sisi kanan.

Bayu menoleh.

Seorang perempuan muda mengenakan blazer biru tua berdiri di tepi lapak. Potongannya sederhana, tetapi jatuh sempurna di tubuhnya. Anting giok kecil di telinganya lebih halus daripada semua perhiasan yang dipajang penjual di lorong itu.

Di belakangnya, Melati Anggraini memegang dua kantong belanja dan mengamati Bayu tanpa berusaha menyembunyikan rasa curiga.

Bayu mengenali tipe perempuan di depannya dari reaksi pemilik lapak yang langsung merapikan posisi duduk.

"Bisa sedikit," jawabnya.

Alis perempuan itu terangkat. "Sedikit itu seberapa?"

"Cukup untuk tahu mana yang tidak layak dibeli."

"Jawaban aman," sela Melati.

Perempuan berblazer itu justru tersenyum tipis. "Saya Intan. Intan Wibowo."

Nama Wibowo dikenal di pasar perhiasan Surabaya. Keluarganya memiliki jaringan toko, bengkel potong, dan pemasok batu mulia. Bayu pernah melihat logo perusahaan mereka di pusat perbelanjaan, tetapi belum pernah berhadapan dengan salah satu anggotanya.

"Bayu Prasetyo."

"Saya mencari hadiah ulang tahun untuk Eyang." Intan menunjuk tumpukan batu. "Barang jadi terlalu mudah. Saya ingin memilih bahan sendiri."

Bayu melirik batu hitam yang bercahaya. "Kalau untuk hadiah, lapak ini punya dua pilihan yang menarik."

"Yang mana?"

Ia mengambil batu pertama. Permukaannya hitam, sebagian tertutup kerak kapur, dan bentuknya hampir seperti bongkahan aspal.

Pemilik lapak tertawa pendek. "Jangan yang itu, Mbak Intan. Sudah berbulan-bulan tidak ada yang mau. Kulitnya jelek."

Bayu menaruhnya di atas timbangan, lalu mengeluarkan batu miring dari bawah meja.

Tawa pemilik lapak semakin keras.

"Yang satu itu lebih parah. Lihat bentuknya. Kalau dipotong salah sedikit, habis."

Melati mendekat pada Intan. "Tan, kita datang untuk cari hadiah. Jangan biayai eksperimen orang yang baru kita kenal."

Intan tidak menjawab. Ia mengambil batu pertama, memeriksa kerak dan garis di kulitnya, lalu memandang Bayu.

"Alasanmu?"

Bayu sudah menyiapkannya.

"Kulit hitamnya memang buruk, tapi berat jenisnya tidak cocok dengan batu kosong sebesar ini. Kerak kapurnya juga menutup bagian yang paling padat. Untuk batu kedua, bentuk miring tetap aman selama arah potongnya mengikuti sumbu ini."

Ia menarik garis dengan ujung jari, persis beberapa milimeter dari retakan yang hanya bisa dilihatnya dari dalam.

"Mas bicara seperti orang yang sudah sering memotong batu," kata Intan.

"Saya sering memperhatikan."

Itu tidak sepenuhnya bohong. Mulai hari ini, ia bisa memperhatikan lebih dalam daripada siapa pun.

Seorang pembeli berkemeja batik berhenti di belakang mereka. "Mbak, kalau uangnya berlebih, kasih saja ke saya. Batu seperti itu paling bagus dijadikan pemberat pintu."

Beberapa orang tertawa.

Pemilik lapak mengangkat kedua tangan. "Saya sudah memperingatkan, ya. Total dua belas juta. Setelah dipotong, tidak bisa dikembalikan."

Intan memandang Bayu cukup lama.

"Berapa persen kamu yakin?"

"Kalau saya bilang seratus persen, Mbak Intan pasti menganggap saya penipu."

"Benar."

"Jadi anggap saja sembilan puluh. Sepuluh persennya untuk hal yang belum saya pelajari."

Melati menutup mata sesaat. "Itu bukan jawaban yang lebih aman."

Untuk pertama kalinya, senyum Intan terlihat jelas.

"Baik. Saya keluar uang, kamu pilih batu. Untung bagi dua. Kalau rugi, kerugian saya tanggung."

Bayu menatapnya. "Mbak Intan bahkan belum tahu saya siapa."

"Saya tahu kamu tidak punya modal. Kalau punya, kamu sudah membeli dua batu itu sebelum saya datang." Intan mengeluarkan ponsel. "Dan saya tahu kamu tidak memilih batu yang terlihat mahal hanya untuk membuat saya terkesan. Itu cukup untuk satu percobaan."

Ia memindai kode pembayaran lapak.

Notifikasi dua belas juta rupiah berbunyi.

Seorang pedagang tua yang mengenali Intan berdeham. "Mbak Intan, nama Wibowo ikut dilihat orang. Kalau dua batu ini kosong, besok pasar akan bilang keluarga Anda membeli sampah dari orang asing."

Intan menyimpan ponselnya. "Yang membeli saya, Pak. Yang menanggung keputusan juga saya. Jangan memakai nama keluarga saya untuk menekan Mas Bayu sebelum batunya dibuka."

Pedagang itu terdiam. Bayu melirik Intan sekali. Perempuan ini berani mengeluarkan uang dan menanggung risikonya sendiri.

Tawa di sekitar mereka berhenti sebentar, lalu berubah menjadi bisikan. Bagi Intan, jumlah itu mungkin tidak besar. Namun semua orang kini ingin melihat apakah perempuan dari keluarga Wibowo baru saja membeli dua batu sampah karena ucapan seorang pria bersepatu usang.

"Potong sekarang," kata Intan.

Pemilik lapak menunjuk kios pemotongan di seberang lorong. "Tanggung sendiri hasilnya."

Mereka membawa kedua batu ke meja potong. Bau air, serbuk mineral, dan logam panas memenuhi udara. Tukang potong menimbang batu pertama, lalu melihat garis yang dibuat Bayu.

"Lewat sini?"

"Geser tiga milimeter ke kiri," kata Bayu. "Jangan terlalu dalam pada putaran pertama."

Pembeli berkemeja batik menyilangkan tangan. "Gaya sekali. Nanti isinya putih semua."

"Kalau begitu, Bapak tidak perlu khawatir kehilangan barang bagus," jawab Bayu tenang.

Beberapa orang menahan tawa. Wajah pembeli itu mengeras.

Intan berdiri di samping Bayu. Jarinya masih memegang kuitansi dua belas juta.

"Kalau gagal, apa yang akan kamu lakukan?"

"Mencari tahu bagian mana dari penilaian saya yang salah."

"Bukan kabur?"

Bayu menoleh kepadanya. "Kalau saya ingin kabur, saya tidak akan memberikan nama lengkap."

Tukang potong mengunci batu pada ragum. Air mulai mengalir. Mata gerinda berputar dan mengeluarkan dengung tajam.

Orang-orang merapat.

Melati berhenti mengeluh dan ikut menatap meja. Intan menggenggam kuitansi sampai kertasnya terlipat.

Mata gerinda turun tepat ke garis hitam.

Di mata semua orang, itu hanyalah batu buruk yang akan membuang dua belas juta rupiah.

Di mata Bayu, bagian dalamnya menyala seperti emas.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!