Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Episode 1

Bab 1: Mata yang Melihat Segalanya

Layar ponsel Bayu Prasetyo retak tepat di atas angka saldo.

Rp432.700.

Jumlah itu bahkan tidak cukup untuk uang hidup Sinta bulan depan. Adiknya membutuhkan tiga juta rupiah untuk kos, makan, dan ongkos kuliah. Sementara amplop pesangon di tangan Bayu kosong. Hanya ada selembar surat pemutusan kerja.

"Posisimu dibutuhkan orang lain," kata direktur perusahaan distribusi itu tanpa berani menatapnya. "Mulai hari ini, Kevin Wijaya yang akan menangani bagianmu."

Bayu berdiri di depan meja selama dua detik.

"Saya bekerja tiga tahun di sini, Pak. Semua target saya tercapai."

"Keputusan ini sudah final."

Kevin adalah putra keluarga yang baru menanam modal di perusahaan kecil itu. Bayu hanya pegawai dari Pacitan yang datang ke Surabaya dengan satu tas pakaian dan ijazah biasa.

Ia melipat surat itu, memasukkannya ke saku, lalu pergi tanpa memohon.

Belum sampai lift, ponselnya bergetar.

Pesan suara dari keluarga tunangannya masuk.

"Bayu, kami sudah bicara baik-baik. Kamu belum mapan. Kapan bisa kasih mahar? Putri kami tidak mungkin menunggu tanpa kepastian. Cincin akan kami kembalikan. Anggap pertunangan ini selesai."

Pintu lift terbuka.

Bayu tidak langsung masuk. Di permukaan baja yang kusam, ia melihat wajah seorang pria berusia dua puluh tujuh tahun yang kehilangan pekerjaan dan calon istri dalam selang sebelas menit.

Ia menekan tombol tutup.

Masih ada satu hal yang bisa ia lakukan.

Di dalam tasnya tersimpan sebuah keris tua milik sahabatnya, Rizal Firmansyah. Sebelum berangkat bekerja ke luar pulau, Rizal pernah berkata, "Kalau benar-benar terdesak, bawa ke orang yang paham. Kalau harus dijual, jual. Jangan biarkan keluargamu kelaparan gara-gara menjaga barangku."

Bayu tidak berniat menjualnya murah. Ia hanya membutuhkan penilaian yang jujur.

Sore itu, lorong Pasar Antik di kawasan Kembang Jepun dipenuhi bau kayu tua, minyak logam, dan asap kendaraan dari jalan besar. Jam dinding, uang kuno, topeng kayu, serta batu akik memenuhi meja-meja sempit.

Pak Karto menerima keris itu dengan dua tangan, tetapi matanya hanya memeriksanya sebentar.

"Sarungnya baru. Bilahnya juga sudah banyak karat." Ia mengetuk gagang keris dengan kuku. "Cuma barang dekorasi, Mas. Tidak layak disebut pusaka."

"Rizal bilang ini sudah ada di keluarganya selama beberapa generasi."

Pak Karto terkekeh. "Semua orang bilang begitu. Kalau saya baik hati, saya berani ambil dua juta. Lebih dari itu saya rugi biaya bersihkan karat."

Dua juta.

Angka itu menyakitkan karena terlalu kecil. Namun, notifikasi tagihan kos sudah menyala di layar. Nama Sinta berada tepat di bawahnya dalam daftar percakapan.

"Bapak yakin ini bukan keris tua yang berharga?"

"Kalau tidak percaya, silakan keliling." Pak Karto mendorong keris itu kembali setengah jengkal. "Tapi pasar mau tutup. Besok belum tentu saya masih berminat."

Bayu memandang bilah berlekuk yang kusam itu. Ia tidak tahu pamor, tangguh, atau dapur keris. Yang ia tahu hanya satu: Rizal mempercayainya.

Ia seharusnya pergi.

Namun kebutuhan tidak pernah memberi orang miskin cukup waktu untuk menjadi hati-hati.

"Dua juta. Transfer sekarang."

Pak Karto tersenyum.

Lima menit kemudian, keris itu menghilang ke bawah meja. Uang masuk ke rekening Bayu. Ia langsung mentransfer satu setengah juta kepada Sinta dengan pesan pendek: Buat makan dulu. Mas akan kirim sisanya.

Setelah membayar tunggakan kamar dan membeli tiket bus malam, saldonya kembali di bawah lima ratus ribu.

Di ujung lorong, seorang pedagang tua menatap sarung kosong di tangan Bayu.

"Keris yang barusan dibawa Pak Karto itu," katanya pelan. "Ada ukiran naga di gandiknya?"

Bayu berhenti.

"Bapak melihatnya?"

"Sekilas. Kalau benar itu Nagasasra lama, dua juta bukan harga. Dua miliar pun orang akan berebut, tergantung tangguh dan asalnya."

Darah Bayu terasa turun ke telapak kaki.

Ia berbalik dan berlari.

Meja Pak Karto sudah kosong.

Kain penutup, lampu, bahkan papan nama kecilnya lenyap. Pedagang di sebelah mengangkat bahu. Nomor yang diberikan Pak Karto tidak aktif. Rekening penerima memakai nama orang lain.

Bayu berdiri di lorong yang mulai gelap dengan sarung kosong di tangannya.

Pekerjaan hilang.

Pertunangan putus.

Pusaka sahabatnya ikut lenyap karena keputusan yang ia buat sendiri.

Malam itu ia naik bus menuju Pacitan. Hampir enam jam ia duduk dekat jendela, memegang tas di pangkuan, sementara lampu kota berganti sawah dan bukit gelap. Ia tidak pulang ke rumah orang tuanya. Ia tidak sanggup menjawab pertanyaan Ayah tentang pekerjaan atau melihat Ibu menghitung sisa beras.

Menjelang pagi, ia turun dan meneruskan perjalanan ke Pantai Klayar.

Laut sedang keras. Ombak menghantam karang dan menyemburkan air tinggi ke udara. Bayu duduk di pasir basah, mengeluarkan surat pemutusan kerja, lalu meremasnya hingga menjadi bola kecil.

"Kalau kertas itu dibuang ke laut, utangmu ikut hanyut?"

Bayu menoleh.

Seorang kakek duduk di atas batu karang beberapa meter darinya. Celana kainnya tergulung sampai betis. Sebatang kail sederhana terjepit di antara jari-jarinya. Bayu tidak mendengar orang itu datang.

"Saya tidak berniat membuangnya, Kek."

"Bagus. Laut tidak perlu menanggung masalahmu."

Bayu hampir tertawa, tetapi yang keluar hanya embusan napas kasar.

Kakek itu menatap pelampungnya. "Kau kehilangan pekerjaan, kehilangan perempuan yang menunggumu, lalu menjual barang milik sahabatmu kepada penipu. Sekarang kau takut pulang karena tidak punya uang untuk adikmu."

Jari Bayu mengeras di atas kertas.

"Siapa Kakek?"

"Orang yang sedang memancing."

"Dari mana Kakek tahu semua itu?"

"Wajah orang yang kehilangan uang berbeda dengan wajah orang yang kehilangan harga diri." Kakek itu menarik senarnya. Kailnya kosong. "Wajahmu membawa keduanya."

Bayu bangkit. "Kalau Kakek sedang mempermainkan saya—"

"Kau terlalu miskin untuk dipermainkan."

Kalimat itu telak, tetapi tidak terdengar menghina.

Kakek tersebut menancapkan kailnya ke pasir, lalu berdiri. Matanya jernih, terlalu jernih untuk seseorang seusianya.

"Kau menyesal karena tidak bisa melihat nilai barang yang ada di tanganmu."

Bayu tidak menjawab.

"Kalau begitu, aku beri kau sepasang mata." Kakek itu mengangkat dua jari. "Cukup untuk melihat yang tersembunyi dan menjauh dari celaka. Selebihnya, tetap bergantung pada otak dan nyalimu sendiri."

Dua jari itu menyentuh kening Bayu.

Dingin.

Rasa dingin tajam menusuk ke belakang kedua matanya, jauh lebih menusuk daripada air laut. Cahaya putih menelan pantai. Bayu mundur satu langkah, kehilangan keseimbangan, lalu jatuh berlutut.

Ketika penglihatannya kembali, batu karang di depannya kosong.

Kail itu tidak ada.

Jejak kaki pun tidak ada.

Hanya suara ombak dan sebutir kerikil hitam di pasir.

Bayu mengambil kerikil itu. Saat ia memusatkan pandangan, permukaan hitamnya seolah terkelupas. Ia melihat retakan halus di dalam batu, butir pasir yang terperangkap, bahkan garis mineral pucat yang tak mungkin terlihat dari luar.

Ia menjatuhkannya.

Napasnya tertahan.

Bayu mencoba lagi pada cangkang kerang, kayu hanyut, dan kaleng berkarat. Lapisan benda-benda itu menjadi bening di matanya. Pada sebuah pecahan batu akik kecil, cahaya keemasan muncul samar dari dalamnya.

Mata Dewa.

Nama itu muncul begitu saja di benaknya, tanpa penjelasan.

Bayu menoleh ke laut, tetapi kakek tadi benar-benar telah lenyap.

Ia pulang sebentar untuk mengganti pakaian, lalu mengambil bus siang kembali ke Surabaya. Perjalanan hampir enam jam itu terasa berbeda. Di terminal, di warung istirahat, bahkan pada jam tua milik penumpang di depannya, ia melihat lapisan, retakan, serta cahaya yang sebelumnya tidak pernah ada.

Saat ia tiba di Kembang Jepun, hari sudah menjelang petang pada hari kedua.

Pak Karto belum kembali.

Namun, di bagian lain pasar, seorang pemilik lapak sedang menumpuk puluhan batu kasar berwarna abu-abu. Bagi orang lain, semuanya tampak seperti batu kotor.

Bagi Bayu, tidak.

Salah satu batu memancarkan cahaya emas paling terang yang dilihatnya sejak meninggalkan Pantai Klayar.

Jantung Bayu berdegup lebih cepat.

Jika cahaya itu benar-benar berarti nilai, maka hidupnya baru saja berubah.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!