Episode 3

Bab 3: Lima Puluh Juta Pertama

Mata gerinda menggigit kulit batu.

Debu hitam bercampur air mengalir ke baki. Dengung mesin menutup semua bisikan, tetapi Bayu masih bisa melihat bibir pembeli berkemeja batik membentuk kata yang sama.

Sampah.

Tukang potong mengikuti garis Bayu. Tiga milimeter ke kiri, tidak lebih. Ketika bilah melewati kerak terakhir, ia mematikan mesin dan membuka pengunci.

Dua sisi batu terpisah.

Warna biru kehijauan muncul di bawah air.

Hening.

Tukang potong mengusap permukaan dengan ibu jari, lalu menyiramnya sekali lagi. Warna itu semakin dalam, bersih, dan padat. Tidak ada retakan besar. Cahaya dari lampu kios menembus bagian tipisnya dan memantul seperti air laut.

"Bacan Doko," gumam seseorang.

Pemilik lapak menerobos ke depan. "Tidak mungkin."

Tukang potong mengangkat salah satu belahan. "Bacan Doko kualitas tinggi. Biru hijaunya rata. Bersih pula."

Kerumunan pecah.

Orang yang tadi menyebut batu itu pemberat pintu menjulurkan leher paling jauh. Senyumnya sudah hilang. Melati menutup mulut. Intan tidak bergerak, tetapi kuitansi yang diremasnya perlahan terbuka di antara jari.

"Berapa nilainya?" tanya Intan.

Seorang pedagang batu jadi mengangkat tangan. "Kalau hasil gosoknya stabil, saya berani lima belas juta untuk bagian ini."

"Delapan belas," sahut orang lain.

"Dua puluh. Saya bayar sekarang."

Pemilik lapak memandang label harga yang sudah dilepas dari batu itu. Wajahnya tampak seperti baru sadar ia menjual dompet berisi uang dengan harga kulitnya.

Bayu tidak ikut menawar. Matanya tertuju pada batu kedua.

"Lanjut," katanya.

Tukang potong kini tidak lagi memandangnya sebagai pemuda yang sedang bergaya. "Garis yang tadi, Mas Bayu?"

"Ya. Putaran pelan. Berhenti begitu lapisan abu-abu habis."

Pembeli berkemeja batik mendengus, lebih pelan dari sebelumnya. "Satu batu bagus bisa saja kebetulan."

Bayu mengangguk. "Benar, Pak. Karena itu masih ada batu kedua."

Jawaban tenangnya membuat beberapa orang tersenyum. Pria itu memalingkan muka.

Mesin kembali menyala.

Batu berbentuk miring itu lebih keras. Tukang potong harus menambah aliran air dan mengurangi tekanan. Garis abu-abu terbuka sedikit demi sedikit, lalu sebuah warna hijau bening muncul.

Tukang potong langsung menghentikan mesin.

"Jangan dibelah penuh," kata Bayu.

Ia tahu persis di mana garis emas di dalam batu berakhir. Potongan lebih dalam akan mengurangi bidang terbaiknya.

Tukang potong membuka jendela kecil dengan gerinda tangan. Setelah permukaannya dibersihkan, serat keemasan tipis tampak mengambang di dalam hijau jernih.

"Giok high-ice," ujar pedagang batu jadi. Suaranya berubah serius. "Ada serat emas."

Ia mengambil lampu senter, meminta izin pada Intan, lalu memeriksa dari tiga sudut. Cahaya menembus jauh tanpa tertahan kabut tebal.

"Bahan seperti ini bisa lewat tiga puluh juta kalau bidang bersihnya sesuai perkiraan."

Kerumunan kembali gaduh, kali ini lebih keras.

Dua batu yang dibeli seharga dua belas juta telah membuka nilai berkali-kali lipat hanya dalam beberapa menit.

Pemilik lapak mencoba tertawa. "Mbak Intan memang beruntung."

Intan menoleh kepadanya. "Tadi Bapak bilang keduanya sampah."

"Saya cuma—"

"Kalau hasilnya buruk, itu salah Mas Bayu. Kalau hasilnya bagus, saya yang beruntung?"

Pemilik lapak kehilangan kata-kata.

Intan mengalihkan pandangan kepada Bayu. Tatapannya kini menyimpan rasa ingin tahu yang serius.

"Sembilan puluh persen?"

"Saya menyisakan sepuluh persen supaya tidak terdengar sombong."

Melati menatapnya selama dua detik, lalu tertawa pendek. "Sekarang justru terdengar sombong."

"Tapi dia berhasil," kata Intan.

Pedagang batu jadi mengeluarkan kartu nama. "Saya ambil dua-duanya lima puluh juta. Barang masih berupa bahan, risiko gosok di saya. Transfer hari ini."

Orang lain hendak menyela, tetapi Intan mengangkat telapak tangan. Ia meminta pedagang itu menjelaskan berat, perkiraan hasil, dan risiko retak tersembunyi. Bayu memperhatikan caranya bertanya. Ringkas, tepat, tanpa tergoda kegaduhan.

Ia memahami nilai batu dan berani menanggung risiko pembelian.

"Lima puluh juta dan transaksi tercatat," putus Intan. "Buat kuitansi dengan foto kedua bahan."

Pedagang itu setuju.

Dokumen sederhana disiapkan. Foto diambil. Berat dicatat. Nomor rekening diminta.

Bayu menoleh pada Intan. "Rekening Mbak Intan dulu. Modalnya milik Mbak."

"Tidak." Intan mendorong ponsel ke arahnya. "Masukkan rekeningmu."

"Kesepakatan kita bagi dua."

"Saya berubah pikiran."

"Itu bukan kebiasaan bisnis yang baik."

Intan mengangkat alis, seolah tidak menyangka seorang pria dengan saldo di bawah setengah juta akan mengajarinya disiplin bisnis.

"Anggap saja hadiah perkenalan," katanya. "Saya membayar dua belas juta untuk menguji penilaianmu. Hasil uji itu lebih berharga daripada modalnya. Lima puluh juta milikmu."

Bayu tidak langsung menerima.

"Kalau begitu, saya berutang satu penilaian kepada Mbak Intan. Nilainya tidak boleh lebih kecil dari hari ini."

"Sepakat."

Pedagang memasukkan nomor rekening Bayu.

Beberapa detik kemudian, ponsel retak itu bergetar.

Rp50.000.000 telah masuk.

Angka tersebut memenuhi layar, melintang tepat di bawah retakan yang tadi pagi membelah saldo Rp432.700.

Bayu menatapnya lama.

Itu bukan angka di dalam mimpi. Ada nama pengirim, waktu transaksi, dan bukti pembelian. Untuk pertama kalinya sejak merantau, ia memiliki uang yang cukup untuk bernapas tanpa menghitung harga setiap porsi makan.

"Mas Bayu."

Intan menyodorkan sebuah kartu nama tebal berwarna putih gading. Nama lengkapnya tercetak timbul, dengan logo Wibowo di sudut kiri.

"Hubungi saya kalau kamu menemukan batu lain seperti ini."

Ponselnya berdering sebelum Bayu sempat menjawab. Intan melihat layar, lalu wajahnya berubah serius.

"Saya harus pergi. Melati, ayo."

Ia melangkah dua kali, kemudian menoleh.

"Dan jangan menghilang sebelum melunasi satu penilaian itu."

Bayu mengangkat kartu namanya. "Saya tidak suka utang."

Intan tersenyum, lalu pergi bersama Melati.

Kerumunan mulai bubar. Orang-orang yang sebelumnya menertawakan pilihan Bayu kini menanyakan dari mana ia belajar, apakah ia menerima jasa memilih batu, bahkan kapan ia akan datang lagi. Pemilik lapak tidak berani menatapnya.

"Yu!"

Sebuah suara keras memotong semua pertanyaan.

Hendra Maulana menyelip di antara dua orang sambil masih mengenakan kaus bengkel bernoda oli. Sandalnya mengeluarkan bunyi tepuk cepat. Ia memandang meja potong, dua kuitansi, lalu layar ponsel Bayu.

Matanya membulat.

"Lima puluh juta?"

"Pelankan suaramu, Ndra."

"Pelan bagaimana? Koen kemarin masih tanya tempat makan yang boleh utang! Sekarang sekali potong dapat lima puluh juta? Rek, aku tiap hari memotong rantai motor. Kenapa tidak pernah keluar giok?"

Tukang potong tertawa. Beberapa orang yang belum pergi ikut tertawa.

Bayu memasukkan ponsel ke saku. "Karena yang kamu potong rantai motor."

"Cie. Baru kaya lima menit, jawabannya sudah mahal."

Hendra menepuk bahunya, lalu menurunkan suara. "Serius, Yu. Koen benar-benar bisa baca batu?"

"Sedikit."

"Sedikit apanya? Dua batu, dua-duanya jadi!"

"Aku masih belajar."

Hendra menatapnya, ingin bertanya lebih jauh, tetapi memilih tidak memaksa. Itulah sebabnya Bayu selalu mempercayainya. Hendra banyak bicara, namun tahu kapan harus menjaga batas.

"Kalau begitu pasar ini terlalu kecil," katanya. "Koen pernah dengar Martapura? Kalimantan Selatan. Pasarnya besar, pedagang datang dari mana-mana, dan bahan mentah masuk terus. Kalau Surabaya kolam, Martapura itu lautnya."

Martapura.

Bayu menyimpan nama itu bersama kartu Intan.

Sebelum meninggalkan kios, ia membuka aplikasi bank dan mentransfer lima juta rupiah kepada Sinta.

Pesannya hanya satu baris.

Pakai untuk kuliah. Mas baik-baik saja.

Saldo tersisa Rp45 juta.

Hendra mengintip dari samping. "Kirim ke Sinta dulu?"

"Dia menunggu."

Hendra tidak bercanda kali ini. Ia mengangguk dan merangkul bahu Bayu saat mereka berjalan keluar dari pasar.

Bayu pulang membawa kartu nama pewaris keluarga Wibowo di saku, uang pertama yang mengubah hidup di ponsel, dan tujuan baru bernama Martapura di kepalanya.

Lima puluh juta rupiah terasa sangat banyak.

Namun Bayu tahu, itu baru potongan pertama.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!