Episode 5

Bab 5: Tujuh Ratus Juta dalam Sehari

"Potong yang cokelat dulu," kata Bayu.

Pak Gunawan sendiri yang mengoperasikan mesin di ruang potong belakang. Sikap dinginnya sudah hilang. Ia memeriksa garis yang ditunjuk Bayu dua kali, lalu mengunci batu pada ragum.

Hendra berdiri di balik kaca pelindung sambil memeluk kuitansi nol rupiah.

"Kertas ini harus dibingkai," katanya. "Bukti bahwa barang gratis benar-benar ada di dunia."

Mesin menyala.

Kulit cokelat terbelah perlahan. Saat potongan pertama dibuka, warna hijau apel memenuhi permukaan. Teksturnya halus dan kenyal seperti jeli, dengan warna yang menyebar hampir penuh tanpa retakan besar.

Tangan Gunawan berhenti di udara.

"Apple green. Tipe jelly."

Ia menyiram permukaannya, memeriksa dengan lampu, lalu menimbang ulang.

"Kalau bidang belakangnya tetap bersih, nilainya lewat empat ratus juta."

Hendra menempelkan kedua telapak tangan ke kaca. "Empat ratus juta dari barang gratis? Pak Gunawan, rak gratis Bapak masih buka?"

Gunawan tidak menanggapinya. Ia menatap Bayu. "Batu kedua?"

"Buka jendela di sisi bercak putih. Jangan dibelah penuh."

Kali ini Gunawan mengikuti tanpa pertanyaan.

Cakram gerinda mengikis kulit batu kedua. Abu-abu kusam berubah menjadi ungu lembut. Semakin dalam jendelanya dibuka, semakin jernih warna violet itu. Di bawah lampu, batu tersebut memiliki kejernihan high-ice dan sebaran warna yang rata.

Gunawan mematikan mesin.

"Violet high-ice," katanya pelan. "Minimal tiga ratus juta sebagai bahan."

Hendra menoleh kepada Bayu seperti sedang melihat makhluk yang baru turun dari langit-langit.

"Yu, jujur. Waktu kecil koen pernah jatuh ke sumur keramat?"

"Waktu kecil aku pernah jatuh dari sepeda."

"Pantas. Kepalamu berubah."

Gunawan tertawa singkat, lalu kembali serius. Ia menaruh dua batu yang sudah terbuka di atas kain hitam.

"Saya tawar tujuh ratus juta untuk keduanya. Pembayaran lewat rekening perusahaan, kuitansi resmi, pajak dan asal barang jelas. Mas bisa mencari pembeli lain dan mungkin mendapat lebih. Tapi butuh waktu, biaya gosok, dan risiko pasar."

Bayu melihat kedua batu itu. Cahaya emasnya masih kuat, tetapi tawaran Gunawan masuk akal. Ia mendapatkannya tanpa modal. Gunawan juga telah memberi akses dan bersedia membuat transaksi tercatat.

Tidak semua keuntungan harus diperas sampai tetes terakhir.

"Tujuh ratus juta," kata Bayu. "Dengan satu syarat."

Gunawan menegang. "Apa?"

"Batu Rp500 juta tadi tetap dikarantina sampai hasil laboratorium keluar. Kalau terbukti dimanipulasi, laporkan pemasoknya."

Gunawan mengulurkan tangan. "Sepakat."

Bayu menjabatnya.

Dokumen pembelian disiapkan. Foto kedua batu dilampirkan, nomor stok dari kuitansi hadiah dicocokkan, dan rekening perusahaan tercetak pada bukti transfer. Beberapa menit kemudian, ponsel Bayu bergetar.

Rp700.000.000 masuk.

Hendra membaca angka itu dua kali.

"Tujuh ratus juta," gumamnya. "Dalam sehari koen dapat lebih banyak daripada bengkelnya aku kumpulkan sampai rambutku putih."

"Bengkelmu baru tiga tahun."

"Jangan rusak dramaku."

Gunawan membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah amplop hitam dengan cap emas.

"Pekan depan ada lelang batu tahunan Surabaya di hotel bintang lima. Undangan VIP terbatas untuk pemasok, kolektor, dan pemilik jaringan toko." Ia menyerahkan amplop itu kepada Bayu. "Datanglah. Orang dengan mata seperti Mas tidak boleh berhenti di gudang saya."

Bayu menerima undangan tersebut. "Terima kasih, Pak Gunawan."

"Kali ini saya yang berterima kasih."

Mereka baru melangkah keluar dari ruang potong ketika dunia di depan Bayu bergoyang.

Lampu toko memanjang menjadi garis putih. Suara mesin terdengar jauh. Rasa berat yang sejak pasar tadi hanya menekan belakang matanya kini berubah menjadi nyeri tumpul sampai ke tengkuk.

Kakinya kehilangan tenaga.

Hendra menangkap lengannya sebelum ia jatuh. "Yu!"

"Aku tidak apa-apa."

"Wajah koen seperti kertas kuitansi. Duduk."

Hendra memaksanya duduk di kursi dekat pintu dan mengambil air mineral. Bayu menutup mata. Setiap kali ia mencoba menggunakan Mata Dewa lagi, nyeri di kepalanya meningkat.

Ada batas.

Dalam kurang dari dua hari, ia memindai puluhan batu, menembus struktur berulang kali, dan memaksa kemampuan itu bekerja pada detail kecil batu palsu. Mata Dewa memiliki batas. Jangkauan dan kedalaman penglihatan yang lebih besar menguras lebih banyak tenaga.

"Kita ke klinik," kata Hendra.

"Tidak perlu. Istirahat sebentar cukup."

"Kalau pingsan, tujuh ratus jutamu aku pakai buat bayar ambulans paling mahal."

Bayu membuka satu mata. "Ambulans tidak perlu tujuh ratus juta."

"Berarti sisanya buat makan."

Candaan itu membuat napas Bayu sedikit lebih ringan. Setelah lima belas menit, pandangannya stabil. Ia menyimpan satu aturan baru di kepala: jangan memakai kemampuan tanpa perhitungan.

Sebelum pergi, ia membuka aplikasi bank.

Sepuluh juta rupiah dikirim kepada Sinta. Dua puluh juta dikirim ke rekening Ayah di Pacitan.

Telepon datang kurang dari semenit kemudian.

"Le."

Suara Suradi terdengar rendah. Di belakangnya, Bayu mendengar Ibu bertanya mengapa bank mengirim pesan berkali-kali.

"Inggih, Pak."

"Duit segini dari mana?"

Bayu menatap bukti transaksi dari Toko Zamrud Nusantara. "Dari jual batu, Pak. Ada kuitansi, ada pembeli, semuanya tercatat. Halal."

Ayahnya diam cukup lama hingga Bayu bisa mendengar suara televisi tetangga melalui sambungan.

"Kamu tidak berutang?"

"Belum ada."

"Bagian orang lain juga tidak kamu ambil?"

"Saya tidak menyentuh hak siapa pun, Pak."

"Baik." Suara Suradi melunak sedikit. "Uang besar membuat jalan terlihat pendek. Jangan sampai kamu lupa jurangnya."

"Saya ingat."

Ibu mengambil telepon dari tangan Ayah. "Le, kamu sudah makan? Dua puluh juta ini untuk apa sebanyak itu?"

"Perbaiki atap dulu, Bu. Sisanya simpan. Jangan bilang ke banyak orang."

"Ibu hanya mau kamu pulang dalam keadaan sehat."

Bayu menutup mata sesaat. "Iya, Bu."

Setelah telepon berakhir, saldonya tersisa sekitar Rp715 juta. Angka itu dapat membeli rumah kecil, kendaraan, atau membuka usaha. Namun peringatan Ayah terasa lebih berat daripada angka di layar.

Hendra menyodorkan kunci motor. "Aku antar ke kos. Koen tidak boleh menyetir."

Mereka melaju pelan melewati jalan yang mulai dipenuhi lampu malam. Udara Surabaya hangat, tetapi tubuh Bayu masih dingin oleh kelelahan. Ia tidak menggunakan Mata Dewa. Ia hanya membiarkan matanya beristirahat.

Ketika motor melewati salah satu gerai perhiasan Wibowo, rasa dingin lain menyentuh tengkuknya. Peringatan itu terasa jelas di balik lelahnya.

Bayu menepuk bahu Hendra. "Pelankan."

Di depan gerai, Intan baru saja keluar. Blazernya telah diganti dengan kemeja putih. Di pergelangan tangannya terpasang gelang giok bernilai tinggi, kemungkinan barang yang baru diambil dari toko.

Di seberang jalan, dua motor berhenti di bawah bayangan pohon. Mesin keduanya masih hidup. Empat pria berhelm tidak melihat etalase, tidak melihat lalu lintas.

Mereka hanya melihat Intan.

Salah satu pengendara menggeser motornya setengah meter, membentuk jalur lurus ke arah trotoar. Yang lain menutup arah menuju tempat parkir.

Hendra mengikuti tatapan Bayu. Wajahnya langsung mengeras.

"Begal, Bro. Incaran mereka cewek itu."

Bayu sudah menekan 110. Ia menyebut lokasi, jumlah motor, warna jaket, dan arah kendaraan kepada operator. Lalu ia turun sebelum motor Hendra benar-benar berhenti.

Ia tidak bisa berkelahi.

Namun ia bisa membuat para penjahat itu kehilangan satu hal yang paling mereka butuhkan: kesempatan.

"Intan!" teriak Bayu sambil melangkah cepat. "Mobil jemputan di sini!"

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!