BAB 2: Murid Sang Bidadari

Keheningan yang terjadi di Balai Agung Perguruan Langit Biru adalah keheningan paling mematikan yang pernah ada.

Semua orang membeku. Bahkan suara napas pun terdengar jelas.

Sekar Embun baru saja berkata. Bidadari Pedang Embun yang terkenal dingin dan tidak pernah berbicara lebih dari tiga kata kepada pria manapun, yang bahkan menolak lamaran pangeran dari Kekaisaran Langit, baru saja secara sukarela menawarkan seorang sampah yang meridiannya hancur untuk menjadi muridnya.

Kezia Adinegara adalah orang pertama yang wajahnya berubah total. Dari yang tadinya penuh dengan kesombongan dan rasa jijik, kini wajah cantiknya pucat pasi karena tidak percaya dan rasa takut yang aneh.

"Kak Senior Sekar," Kezia bersuara dengan suara yang sedikit gemetar. "Kakak Senior, dia... dia hanyalah seorang cacat yang meridiannya sudah hancur total. Dia tidak pantas menjadi murid Kakak Senior. Dia bahkan tidak pantas untuk membersihkan pedang Kakak Senior."

Rafa Adiputra yang ada di samping Kezia juga langsung maju selangkah, wajah tampannya yang tadi arogan kini dipenuhi dengan rasa cemburu yang membara. Dia sudah lama mengagumi Sekar Embun secara diam diam. Melihat dewi pujaannya justru meminta sampah yang baru saja dia tampar untuk menjadi muridnya, harga dirinya seperti diinjak injak.

"Kakak Senior Sekar, apa yang Anda lihat dari sampah ini?" Rafa berkata dengan nada yang mencoba terdengar hormat tapi penuh dengan kebencian. "Dia baru saja diputuskan pertunangannya karena dia sampah. Perguruan Langit Biru tidak boleh menerima sampah seperti dia sebagai murid inti dari Kakak Senior. Ini akan mencoreng nama baik Kakak Senior."

Tetua Agung yang duduk di kursi utama juga mengerutkan keningnya dalam dalam. Dia menatap Arya Langit yang masih berlutut di lantai dengan darah di sudut bibirnya, lalu menatap Sekar Embun.

"Sekar," suara Tetua Agung berat. "Kamu yakin dengan keputusanmu? Kamu tahu aturan perguruan. Murid pribadimu akan otomatis menjadi murid inti dan akan mewarisi Puncak Embun milikmu di masa depan. Arya Langit kondisinya... semua orang di sini tahu. Meridiannya sudah hancur total tiga tahun lalu. Tabib terbaik pun sudah berkata tidak ada harapan."

Mendengar semua orang kembali merendahkannya, Arya Langit yang masih berlutut perlahan lahan mengangkat kepalanya.

Rasa sakit di pipinya karena tamparan Rafa tadi sudah hilang total. Sebagai gantinya, dia merasakan aliran energi yang begitu murni dan begitu kuat mengalir deras di dalam tubuhnya. Meridiannya yang selama tiga tahun terasa seperti sungai kering yang retak retak, kini telah pulih sepenuhnya, bahkan lebih lebar dan lebih kuat dari sebelumnya.

Itu adalah hadiah paket pemula dari Sistem Takdir Harem Kaisar Abadi.

Di depan matanya, tulisan merah darah di atas kepala Sekar Embun masih berkedip kedip dengan jelas, menghitung mundur takdir tragisnya.

[Takdir Tragis: 6 Hari 23 Jam 14 Menit lagi akan mengamuk.]

Arya tahu, dia tidak punya banyak waktu.

Dia menatap Sekar Embun. Wanita itu juga menatapnya balik. Matanya yang indah seperti danau es itu tenang, tapi Arya bisa melihat sedikit kelelahan yang disembunyikan di dalamnya. Aura dingin yang keluar dari tubuh Sekar Embun sedikit tidak stabil.

Semua orang mengira Arya akan langsung berlutut dan berterima kasih dengan air mata karena mendapatkan kesempatan emas itu.

Tapi Arya melakukan sesuatu yang membuat semua orang terkejut untuk kedua kalinya hari itu.

Dia perlahan lahan berdiri.

Tubuhnya yang tadi terhuyung huyung karena tamparan, kini berdiri tegak seperti pedang. Darah di sudut bibirnya dia usap dengan punggung tangannya.

Dia menatap langsung ke mata Sekar Embun, bukan dengan tatapan seorang pengagum yang rendah diri, tapi dengan tatapan seorang pria yang setara.

"Kakak Senior Sekar," suara Arya sedikit serak tapi jelas terdengar di seluruh balai yang hening. "Kenapa Kakak Senior ingin menjadikan saya murid?"

Pertanyaan itu membuat semua orang tertegun. Sampah itu berani bertanya balik kepada Bidadari Pedang Embun?

Sekar Embun sedikit terkejut, lalu sudut bibirnya yang jarang sekali tersenyum itu sedikit terangkat, membentuk senyuman tipis yang membuat seluruh balai kehilangan napas karena kecantikannya.

"Karena aku melihat pedang di dalam dirimu yang tidak dilihat orang lain," jawab Sekar Embun dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Arya. "Dan karena... aku merasa kamu bisa menyembuhkanku."

Jantung Arya berdegup kencang. Dia tahu. Wanita ini tahu bahwa tubuhnya sedang bermasalah.

Pada saat yang sama, suara sistem kembali berdengung di dalam kepala Arya.

[DING! Terdeteksi Target Takdir Kaisar pertama: Sekar Embun. Misi Pemula aktif!]

[Misi: Selamatkan Sekar Embun dari Takdir Beku dalam 7 hari.]

[Hadiah: 500 Poin Takdir, Tubuh Meridian Naga Langit tingkat 1, dan hati Sekar Embun terbuka 20%.]

[Kegagalan: Sekar Embun lumpuh, Tuan Rumah kehilangan 50% kultivasi yang baru dipulihkan.]

[Gunakan Lotre Takdir Pemula sekarang? Ya / Tidak]

Tanpa ragu, Arya berteriak dalam hatinya, Ya!

[Lotere berputar... Selamat! Anda mendapatkan: Seni Tangan Dewa Meridian, tingkat Dewa! Sebuah teknik sentuhan meridian kuno yang dapat memperbaiki, memurnikan, dan membangkitkan semua jenis meridian di dunia. Khusus efektif untuk Tubuh Meridian Yin.]

Bersamaan dengan itu, sejumlah besar informasi dan ingatan tentang jalur meridian, titik titik akupuntur, dan cara mengalirkan energi yang sangat rumit membanjiri otak Arya.

Dia sekarang tahu persis bagaimana cara menyembuhkan Sekar Embun. Tapi dia butuh kontak fisik, dia butuh waktu, dan dia butuh tempat yang sepi.

Arya menarik napas dalam dalam. Dia membuat keputusannya.

Dia berbalik, menatap Kezia Adinegara dan Rafa Adiputra yang masih berdiri dengan wajah penuh kebencian.

"Kezia Adinegara," suara Arya kini tidak lagi gemetar, tapi penuh dengan kekuatan. "Kamu benar. Kita memang berada di dua dunia yang berbeda. Hanya saja, kamu salah menebak siapa yang di atas dan siapa yang di bawah. Seratus Batu Roh mu itu, simpan saja untuk membeli peti matimu nanti saat kamu menyesal."

"Kamu!" Kezia wajahnya merah padam karena marah.

Arya tidak peduli. Dia menatap Rafa.

"Rafa Adiputra, tamparanmu tadi, akan aku kembalikan sepuluh kali lipat di Kompetisi Puncak Langit satu bulan lagi. Di atas arena, aku akan membuatmu berlutut dan meminta maaf atas tamparan hari ini."

Setelah berkata begitu, aura yang selama ini disembunyikan oleh Arya meledak keluar.

BOOM!

Energi dari Alam Meridian tingkat sembilan, bahkan sedikit lagi menyentuh Alam Jiwa Kesatria, meledak dari tubuhnya. Lantai di bawah kakinya retak. Angin kencang berhembus membuat jubah semua murid berkibar.

Seluruh balai terkejut sampai tidak bisa berkata kata.

"Alam... Alam Meridian tingkat sembilan! Bagaimana mungkin! Bukankah meridiannya hancur!"

"Bukankah dia sampah! Kenapa kekuatannya kembali!"

Rafa Adiputra mundur selangkah karena tertekan oleh aura itu, wajahnya penuh dengan ketidakpercayaan.

Kezia Adinegara menutup mulutnya dengan tangannya, matanya membelalak lebar.

Hanya Sekar Embun yang matanya sedikit berbinar. Dia tersenyum, senyum yang benar benar tulus untuk pertama kalinya.

"Menarik," gumamnya.

Arya kemudian berbalik dan berlutut dengan satu lutut di depan Sekar Embun, bukan sebagai sampah yang memohon, tapi sebagai seorang kesatria yang menerima takdirnya.

"Murid Arya Langit, bersedia menjadi murid Kakak Senior Sekar. Mulai hari ini, urusan Kakak Senior adalah urusan saya. Penyakit Kakak Senior, biar saya yang sembuhkan."

Kata kata terakhir itu hanya didengar oleh Sekar Embun, membuat tubuh wanita dingin itu sedikit gemetar.

Sekar Embun mengulurkan tangannya yang putih bersih dan dingin seperti salju, membantu Arya berdiri.

"Kalau begitu, ikut aku ke Puncak Embun."

Sekar Embun melambaikan tangannya. Sebuah pedang raksasa berwarna biru es muncul di udara. Dia melompat ke atasnya dengan anggun, lalu menarik Arya Langit ke atas pedang itu juga.

Di depan tatapan iri, dengki, dan terkejut dari ratusan orang, terutama tatapan penuh penyesalan yang mulai muncul di mata Kezia Adinegara dan tatapan penuh kebencian yang membara dari Rafa Adiputra, Sekar Embun membawa Arya Langit terbang menembus atap Balai Agung dan menghilang ke arah Puncak Embun yang diselimuti salju abadi.

Meninggalkan satu kalimat dari Arya yang menggema di seluruh balai.

"Rafa, Kezia, satu bulan lagi, kita lihat siapa sampah yang sebenarnya!"

Di atas pedang terbang, angin kencang menerpa wajah Arya. Dia berdiri di belakang Sekar Embun, sangat dekat hingga dia bisa mencium aroma embun pagi dari rambut wanita itu.

Sekar Embun tiba tiba tubuhnya sedikit terhuyung, aura dingin di tubuhnya bergejolak liar dan tidak terkendali. Wajahnya yang cantik sedikit pucat.

Arya tahu, serangan pertama dari Tubuh Meridian Embun Beku itu sudah mulai datang lebih cepat dari yang diperkirakan sistem.

"Guru... tahan sebentar," bisik Arya sambil tanpa sadar memegang pergelangan tangan Sekar yang dingin seperti es batu. "Saya bisa menolongmu sekarang."

Sekar Embun menoleh, menatap tangan Arya yang memegang tangannya, lalu menatap mata Arya yang penuh dengan keyakinan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang dingin, jantung Bidadari Pedang Embun itu berdegup sedikit lebih kencang.

Terpopuler

Comments

Hadi Hadi

Hadi Hadi

mantap😍😍

2026-08-05

2

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Dihina di Balai Pertunangan
2 BAB 2: Murid Sang Bidadari
3 BAB 3: Sentuhan Meridian Pertama
4 BAB 4: Tamparan Balik di Balai Disiplin
5 BAB 5: Pedang Embun Pertama di Puncak Salju
6 BAB 6: Terobosan di Dalam Pelukan Es
7 BAB 7: Utusan dari Istana Teratai Suci
8 BAB 8: Gadis Misterius dari Teratai Suci
9 BAB 9: Dua Bidadari Berebut di Puncak Embun
10 BAB 10: Pembunuh di Malam Bersalju
11 BAB 11: Malam Pertama Serumah dengan Guru
12 BAB 12: Darah Naga Melawan Darah Iblis
13 BAB 13: Auman Naga di Puncak Embun
14 BAB 14: Pingsan di Pelukan Bidadari
15 BAB 15: Rencana Jahat di Balik Ritual Teratai
16 BAB 16: Jebakan di Gudang Obat
17 BAB 17: Pil Pemurni Jiwa dan Darah Naga
18 BAB 18: Istri Pertama
19 BAB 19: Keesokan Paginya dan Hadiah Kaisar Abadi
20 BAB 20: Sepuluh Hari Menuju Neraka
21 BAB 21: Latihan Suami Istri
22 BAB 22: Kompetisi Puncak Langit Dimulai
23 BAB 23: Tamparan di Arena Nomor Satu
24 BAB 24: Pedang Raja Melawan Darah Naga
25 BAB 25: Terbongkarnya Pengkhianat
26 BAB 26: Jantung Leluhur Darah Hitam
27 BAB 27: Tebasan Tiga Jiwa
28 BAB 28: Setelah Badai Darah
29 BAB 29: Menuju Kolam Teratai Suci
30 BAB 30: Kolam Teratai Suci
31 BAB 31: Pintu Makam Leluhur Naga
32 BAB 32: Naga Langit Kaisar Abadi Yang Terluka
33 BAB 33: Ritual Penyatuan Tiga Jiwa
34 BAB 34: Pedang Jantung Darah Iblis Tercabut
35 BAB 35: Raja Iblis Laut Dalam Yang Tersegel Seribu Tahun
36 BAB 36: Kebangkitan Teratai Suci Abadi
37 BAB 37: Tiga Hari Dalam Pelukan Dua Istri
38 BAB 38: Tujuh Belas Belahan Jiwa Lainnya
39 BAB 39: Meninggalkan Danau Teratai Suci
40 BAB 40: Kota Batu Hitam dan Gadis Dengan Belahan Jiwa Abu-Abu
41 BAB 41: Belahan Jiwa Kelam
42 BAB 42: Intan, Belahan Jiwa Abu-Abu Yang Terlupakan
43 BAB 43: Serangan Malam
44 BAB 44: Pertarungan di Tambang Utama
45 BAB 45: Kebebasan Sepuluh Ribu Budak dan Janji Kakak Sulung
46 BAB 46: Fajar Baru di Kota Batu Hitam
47 BAB 47: Perpisahan Sementara di Kota Intan
48 BAB 48: Kota Bunga Indah dan Gadis Penari Topeng
49 BAB 49: Penari Topeng
50 BAB 50: Bunga Emas Bernama Indah
51 BAB 51: Malam Pertama Indah Tanpa Topeng Emas
52 BAB 52: Perjalanan Pulang
53 BAB 53: Pertemuan Dua Permata yang Pernah Dilupakan Dunia
54 BAB 54: RUMAH YANG MENUNGGU DUA PERMATA
55 BAB 55: MENANAM BENIH DAN MIMPI
56 BAB 56: PETA YANG BERKEDIP
57 BAB 57: DOA DI KOLAM TERATAI
58 BAB 58: JEJAK SAMUDERA
59 BAB 59: PERTARUNGAN DI DERMAGA
60 BAB 60: MALAM DI PENGINAPAN
61 BAB 61: PERJALANAN MENUJU DESA BAMBU SUNYI
62 BAB 62: TUAN TANAH YANG DATANG
63 BAB 63: MALAM PENYEMBUHAN
64 BAB 64: LEMBAH KABUT ABADI
65 BAB 65: MALAM DI LEMBAH
66 BAB 66: KEPULANGAN YANG HANGAT
67 BAB 67: MELATIH KEKUATAN BERSAMA
68 BAB 68: PERSIAPAN MENUJU IBUKOTA
69 BAB 69: TIBA DI IBUKOTA
70 BAB 70: MENYUSUP KE RUMAH
71 BAB 71: MALAM PESTA MENTERI
72 BAB 72: KEKUATAN YANG TAK TERLAWAN
73 BAB 73: PERTEMUAN DENGAN PUTRI MAHKOTA
74 BAB 74: PERSIAPAN PULANG
75 BAB 75: SEMBILAN ISTRI BERKUMPUL
76 BAB 76: RENCANA KEMBALI KE AKADEMI
77 BAB 77: BERANGKAT MENUJU AKADEMI LANGIT BIRU
78 BAB 78: PERTEMUAN DENGAN AKIRA
79 BAB 79: MENEMUKAN ANISA DI GUBUK TUA
80 BAB 80: RENCANA MEMBONGKAR KEBOHONGAN
Episodes

Updated 80 Episodes

1
BAB 1: Dihina di Balai Pertunangan
2
BAB 2: Murid Sang Bidadari
3
BAB 3: Sentuhan Meridian Pertama
4
BAB 4: Tamparan Balik di Balai Disiplin
5
BAB 5: Pedang Embun Pertama di Puncak Salju
6
BAB 6: Terobosan di Dalam Pelukan Es
7
BAB 7: Utusan dari Istana Teratai Suci
8
BAB 8: Gadis Misterius dari Teratai Suci
9
BAB 9: Dua Bidadari Berebut di Puncak Embun
10
BAB 10: Pembunuh di Malam Bersalju
11
BAB 11: Malam Pertama Serumah dengan Guru
12
BAB 12: Darah Naga Melawan Darah Iblis
13
BAB 13: Auman Naga di Puncak Embun
14
BAB 14: Pingsan di Pelukan Bidadari
15
BAB 15: Rencana Jahat di Balik Ritual Teratai
16
BAB 16: Jebakan di Gudang Obat
17
BAB 17: Pil Pemurni Jiwa dan Darah Naga
18
BAB 18: Istri Pertama
19
BAB 19: Keesokan Paginya dan Hadiah Kaisar Abadi
20
BAB 20: Sepuluh Hari Menuju Neraka
21
BAB 21: Latihan Suami Istri
22
BAB 22: Kompetisi Puncak Langit Dimulai
23
BAB 23: Tamparan di Arena Nomor Satu
24
BAB 24: Pedang Raja Melawan Darah Naga
25
BAB 25: Terbongkarnya Pengkhianat
26
BAB 26: Jantung Leluhur Darah Hitam
27
BAB 27: Tebasan Tiga Jiwa
28
BAB 28: Setelah Badai Darah
29
BAB 29: Menuju Kolam Teratai Suci
30
BAB 30: Kolam Teratai Suci
31
BAB 31: Pintu Makam Leluhur Naga
32
BAB 32: Naga Langit Kaisar Abadi Yang Terluka
33
BAB 33: Ritual Penyatuan Tiga Jiwa
34
BAB 34: Pedang Jantung Darah Iblis Tercabut
35
BAB 35: Raja Iblis Laut Dalam Yang Tersegel Seribu Tahun
36
BAB 36: Kebangkitan Teratai Suci Abadi
37
BAB 37: Tiga Hari Dalam Pelukan Dua Istri
38
BAB 38: Tujuh Belas Belahan Jiwa Lainnya
39
BAB 39: Meninggalkan Danau Teratai Suci
40
BAB 40: Kota Batu Hitam dan Gadis Dengan Belahan Jiwa Abu-Abu
41
BAB 41: Belahan Jiwa Kelam
42
BAB 42: Intan, Belahan Jiwa Abu-Abu Yang Terlupakan
43
BAB 43: Serangan Malam
44
BAB 44: Pertarungan di Tambang Utama
45
BAB 45: Kebebasan Sepuluh Ribu Budak dan Janji Kakak Sulung
46
BAB 46: Fajar Baru di Kota Batu Hitam
47
BAB 47: Perpisahan Sementara di Kota Intan
48
BAB 48: Kota Bunga Indah dan Gadis Penari Topeng
49
BAB 49: Penari Topeng
50
BAB 50: Bunga Emas Bernama Indah
51
BAB 51: Malam Pertama Indah Tanpa Topeng Emas
52
BAB 52: Perjalanan Pulang
53
BAB 53: Pertemuan Dua Permata yang Pernah Dilupakan Dunia
54
BAB 54: RUMAH YANG MENUNGGU DUA PERMATA
55
BAB 55: MENANAM BENIH DAN MIMPI
56
BAB 56: PETA YANG BERKEDIP
57
BAB 57: DOA DI KOLAM TERATAI
58
BAB 58: JEJAK SAMUDERA
59
BAB 59: PERTARUNGAN DI DERMAGA
60
BAB 60: MALAM DI PENGINAPAN
61
BAB 61: PERJALANAN MENUJU DESA BAMBU SUNYI
62
BAB 62: TUAN TANAH YANG DATANG
63
BAB 63: MALAM PENYEMBUHAN
64
BAB 64: LEMBAH KABUT ABADI
65
BAB 65: MALAM DI LEMBAH
66
BAB 66: KEPULANGAN YANG HANGAT
67
BAB 67: MELATIH KEKUATAN BERSAMA
68
BAB 68: PERSIAPAN MENUJU IBUKOTA
69
BAB 69: TIBA DI IBUKOTA
70
BAB 70: MENYUSUP KE RUMAH
71
BAB 71: MALAM PESTA MENTERI
72
BAB 72: KEKUATAN YANG TAK TERLAWAN
73
BAB 73: PERTEMUAN DENGAN PUTRI MAHKOTA
74
BAB 74: PERSIAPAN PULANG
75
BAB 75: SEMBILAN ISTRI BERKUMPUL
76
BAB 76: RENCANA KEMBALI KE AKADEMI
77
BAB 77: BERANGKAT MENUJU AKADEMI LANGIT BIRU
78
BAB 78: PERTEMUAN DENGAN AKIRA
79
BAB 79: MENEMUKAN ANISA DI GUBUK TUA
80
BAB 80: RENCANA MEMBONGKAR KEBOHONGAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!