BAB 3: Sentuhan Meridian Pertama

Angin di ketinggian Puncak Embun sangat dingin, menusuk tulang.

Pedang raksasa berwarna biru es yang ditunggangi Sekar Embun membelah awan dengan kecepatan yang luar biasa. Kota di bawah terlihat seperti kumpulan semut. Hanya dalam beberapa tarikan napas, mereka sudah meninggalkan Balai Agung yang penuh dengan tatapan iri dan dengki itu jauh di belakang.

Arya Langit masih memegang pergelangan tangan Sekar Embun.

Kulit wanita itu benar benar dingin, tidak seperti suhu manusia normal. Lebih dingin dari es balok yang baru diambil dari dalam gua es. Dinginnya bahkan mulai menjalar ke telapak tangan Arya dan membuat ujung jarinya sedikit kebas.

"Guru," suara Arya sedikit tegang karena dia bisa merasakan aura di dalam tubuh Sekar Embun bergejolak dengan liar seperti naga es yang mengamuk. "Tahan napasmu, jangan lawan energi dingin itu. Biarkan saya coba alirkan."

Sekar Embun tidak menjawab. Wajahnya yang biasanya tenang dan dingin seperti bulan kini sedikit pucat. Bibirnya yang merah muda menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang luar biasa. Dia bisa merasakan Tubuh Meridian Embun Beku miliknya yang sudah dia tekan selama bertahun tahun dengan pil dan teknik rahasia, kini mulai lepas kendali lebih cepat dari jadwal.

Biasanya serangan itu datang seminggu sekali. Tapi hari ini, setelah dia menggunakan energi untuk terbang dan menahan amarah melihat muridnya dihina, serangan itu datang lebih awal.

Dia sebenarnya tidak berharap banyak pada pemuda sampah yang baru saja dia selamatkan itu. Dia menawarkan Arya menjadi muridnya karena dia melihat sesuatu yang aneh. Saat Arya meledakkan auranya di balai tadi, dia melihat bayangan seekor naga emas samar di belakang pemuda itu. Sebuah bayangan yang bahkan membuat pedang es miliknya bergetar.

Tapi sekarang, saat tangan hangat Arya memegang pergelangannya, dia merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.

Hangat.

Sebuah energi hangat yang sangat murni, sangat lembut, namun sangat mendominasi masuk melalui pergelangan tangannya.

"Ini..."

Mata indah Sekar Embun membelalak.

Energi yang masuk itu bukan energi langit dan bumi biasa. Energi itu memiliki warna keemasan samar dan langsung menuju ke pusat kekacauan di dalam meridiannya.

Seni Tangan Dewa Meridian.

Di dalam benak Arya, informasi tentang teknik itu mengalir dengan sendirinya. Dia tidak perlu berpikir, tangannya bergerak secara otomatis. Jari jarinya menekan beberapa titik penting di pergelangan tangan Sekar Embun dengan urutan yang sangat rumit.

Teknik Seribu Aliran Mencair.

Zzztt...

Suara seperti es yang mencair terdengar dari dalam tubuh Sekar Embun.

Energi dingin yang mengamuk dan membekukan meridiannya selama ini, yang bahkan tidak bisa dicairkan oleh api pil tingkat tinggi, kini perlahan lahan mencair dan menjadi jinak di bawah sentuhan jari Arya.

Rasa sakit yang menyiksa Sekar Embun selama bertahun tahun itu perlahan lahan berkurang. Rasa nyaman yang hangat menggantikan rasa sakit yang dingin menusuk itu.

Tanpa sadar, Sekar Embun mengeluarkan suara desahan pelan yang sangat lembut.

"Hhh..."

Suara itu membuat telinga Arya memerah. Dia buru buru fokus kembali.

Mereka akhirnya sampai di Puncak Embun.

Puncak Embun adalah puncak tertinggi di Perguruan Langit Biru. Seluruh puncak diselimuti salju abadi yang tidak pernah mencair. Di tengah salju itu berdiri sebuah pondok bambu sederhana yang sangat bersih dan sebuah kolam air panas kecil yang mengepulkan uap, dikelilingi oleh bunga teratai es yang mekar.

Tempat yang sangat indah, sangat sepi, dan sangat cocok untuk seorang bidadari yang dingin.

Pedang raksasa itu mendarat dengan lembut di halaman pondok.

Sekar Embun hampir terjatuh saat turun dari pedang. Kakinya sedikit lemas. Arya dengan sigap menangkap pinggang rampingnya untuk menahannya agar tidak jatuh.

Untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun hidupnya, Bidadari Pedang Embun yang tidak pernah membiarkan pria manapun menyentuhnya dalam jarak tiga langkah, kini berada dalam pelukan seorang pria.

Tubuh Sekar Embun sangat harum, aroma embun pagi bercampur dengan aroma bunga teratai es yang menenangkan. Tubuhnya ramping namun berisi, dan meskipun terbalut gaun putih yang tebal, Arya bisa merasakan betapa lembutnya tubuh itu.

Wajah Sekar Embun yang biasanya sedingin es kini memerah seperti buah apel. Dia buru buru mendorong Arya dengan lembut, tapi tidak dengan marah.

"Lepas... lepaskan aku," suaranya yang biasanya dingin kini sedikit gugup.

Arya juga sadar dan buru buru melepaskannya. "Maaf, Guru. Saya tidak bermaksud..."

Sekar Embun menarik napas dalam dalam untuk menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Dia menatap Arya dengan tatapan yang sama sekali berbeda dari tatapan dinginnya tadi. Ada rasa terkejut, ada rasa ingin tahu, dan ada sedikit rasa harap.

"Kamu... kamu benar benar bisa menyembuhkan Tubuh Meridian Embun Beku milikku?" tanya Sekar Embun, suaranya sedikit bergetar. Ini adalah rahasia terbesarnya yang bahkan Pemimpin Perguruan pun tidak tahu sepenuhnya. Dia selalu berkata dia hanya memiliki Tubuh Es biasa.

Arya mengangguk dengan yakin. Di depan matanya, tulisan sistem di atas kepala Sekar Embun sudah berubah.

[Takdir Tragis: Ditunda sementara. Energi mengamuk berhasil dijinakkan 10%. Membutuhkan 6 sesi penyembuhan lagi untuk sembuh total dan membangkitkan Tubuh Dewi Embun Sejati.]

"Guru, penyakit Guru bukan penyakit. Itu adalah Tubuh Meridian Embun Beku yang legendaris, tubuh yang hanya dimiliki oleh Dewi Embun di zaman kuno. Karena terlalu kuat, meridian Guru tidak mampu menahannya, jadi dia mengamuk dan membekukan meridian Guru sendiri. Kalau dibiarkan, dalam tujuh hari Guru akan lumpuh total," jelas Arya dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

Sekar Embun tubuhnya bergetar hebat. Rahasia yang dia sembunyikan selama bertahun tahun, pemuda di depannya ini tahu hanya dengan menyentuh pergelangan tangannya sebentar.

"Kamu... bagaimana kamu tahu?"

"Saya punya cara saya sendiri, Guru," Arya tersenyum misterius. "Percayakan pada saya. Beri saya waktu tujuh hari. Dalam tujuh hari, saya tidak hanya akan menyembuhkan Guru, tapi saya akan membuat Guru membangkitkan Tubuh Dewi Embun Sejati yang sebenarnya. Saat itu, bahkan Pemimpin Perguruan pun bukan tandingan Guru."

Sekar Embun menatap pemuda di depannya. Pemuda yang tiga tahun lalu adalah jenius, lalu menjadi sampah yang dihina semua orang, dan hari ini berdiri di depannya dengan mata yang penuh dengan kepercayaan diri dan kehangatan yang aneh.

Entah kenapa, dia percaya.

"Baik," Sekar Embun akhirnya mengangguk. "Apa yang harus aku lakukan?"

"Guru harus masuk ke kolam air panas itu," kata Arya sambil menunjuk kolam yang mengepulkan uap di tengah taman. "Lepaskan jubah luar Guru, sisakan pakaian dalam yang tipis saja. Saya harus menekan beberapa titik meridian di punggung Guru untuk melancarkan aliran yang beku. Prosesnya akan sedikit... tidak nyaman, tapi tolong Guru tahan."

Wajah Sekar Embun kembali memerah. Masuk ke kolam air panas dengan pakaian tipis di depan seorang murid pria? Hal ini belum pernah terjadi seumur hidupnya.

Tapi saat dia merasakan lagi rasa sakit dingin yang mulai menjalar di punggungnya, dia menggertakkan giginya.

"Demi jalan kultivasi," bisiknya pada dirinya sendiri.

Dia berjalan menuju kolam, membelakangi Arya. Dengan jari yang sedikit gemetar, dia perlahan lahan melepaskan jubah putih luarnya.

Jubah itu jatuh ke lantai salju, memperlihatkan punggungnya yang putih mulus seperti batu giok terbaik di dunia, hanya terbalut oleh pakaian dalam sutra tipis berwarna putih yang basah oleh keringat dingin karena menahan sakit.

Pemandangan itu begitu indah hingga membuat Arya menahan napas.

"Jangan... jangan melihat yang tidak perlu," suara Sekar Embun terdengar kecil dan malu malu, sama sekali tidak seperti Bidadari Pedang yang dingin itu.

Arya buru buru mengalihkan pandangannya dan berjalan mendekat. Dia duduk di tepi kolam di belakang Sekar Embun.

"Saya mulai, Guru. Maaf."

Arya mengulurkan kedua tangannya. Ujung jarinya bersinar dengan cahaya keemasan hangat dari Seni Tangan Dewa Meridian. Dia mulai menekan titik demi titik di sepanjang tulang punggung Sekar Embun yang indah itu.

Setiap sentuhan jarinya membuat tubuh Sekar Embun sedikit bergetar. Bukan karena dingin, tapi karena rasa hangat yang luar biasa menjalar dari punggungnya ke seluruh tubuhnya, mencairkan es yang membeku di meridiannya.

Rasa nyaman yang belum pernah dia rasakan selama dua puluh dua tahun hidupnya.

Di dalam kepala Arya, suara sistem terus berbunyi.

[DING! Sentuhan Meridian berhasil! Poin Kepercayaan Sekar Embun +5!]

[DING! Sentuhan Meridian berhasil! Poin Kepercayaan Sekar Embun +5!]

[Selamat! Poin Kepercayaan Sekar Embun mencapai 20%! Hadiah pertama terbuka: Tubuh Meridian Naga Langit tingkat 1 aktif!]

BOOM!

Saat hadiah itu aktif, tubuh Arya tiba tiba meledak dengan cahaya keemasan. Meridiannya yang baru saja pulih kini berevolusi dengan gila gilaan. Sebuah auman naga kuno terdengar samar samar dari dalam tubuhnya.

Kultivasinya yang tadi masih di Alam Meridian tingkat sembilan, dalam sekejap mata naik!

Alam Meridian tingkat sembilan puncak!

Setengah langkah Alam Jiwa Kesatria!

Hanya dengan menyembuhkan Sekar Embun sebentar, kekuatannya naik secepat ini!

Di sisi lain, di bawah Puncak Embun, dua sosok berdiri dengan wajah penuh kebencian sambil menatap ke atas puncak yang diselimuti salju.

Kezia Adinegara dan Rafa Adiputra.

"Sampah itu berani mempermalukan kita di depan semua orang," geram Rafa dengan tinju terkepal. "Aku tidak akan membiarkannya hidup tenang di Puncak Embun. Aku sudah menyuap Tetua Disiplin. Besok saat pemeriksaan bulanan murid baru, aku akan membuatnya cacat permanen di depan semua orang, bahkan Sekar Embun tidak akan bisa melindunginya."

Kezia menatap puncak itu dengan mata yang rumit. Ada cemburu, ada marah, tapi juga ada sedikit penyesalan yang tidak dia mengerti kenapa muncul.

Di dalam kolam air panas di puncak, Arya masih fokus menyembuhkan. Dia tidak tahu bahwa bahaya pertama setelah mendapatkan sistem sudah menunggu di depan matanya besok pagi.

Dan dia juga tidak tahu, bahwa sentuhan tangannya malam ini, telah membuat hati seorang bidadari yang membeku selama dua puluh dua tahun, mulai mencair untuk pertama kalinya.

Episodes
1 BAB 1: Dihina di Balai Pertunangan
2 BAB 2: Murid Sang Bidadari
3 BAB 3: Sentuhan Meridian Pertama
4 BAB 4: Tamparan Balik di Balai Disiplin
5 BAB 5: Pedang Embun Pertama di Puncak Salju
6 BAB 6: Terobosan di Dalam Pelukan Es
7 BAB 7: Utusan dari Istana Teratai Suci
8 BAB 8: Gadis Misterius dari Teratai Suci
9 BAB 9: Dua Bidadari Berebut di Puncak Embun
10 BAB 10: Pembunuh di Malam Bersalju
11 BAB 11: Malam Pertama Serumah dengan Guru
12 BAB 12: Darah Naga Melawan Darah Iblis
13 BAB 13: Auman Naga di Puncak Embun
14 BAB 14: Pingsan di Pelukan Bidadari
15 BAB 15: Rencana Jahat di Balik Ritual Teratai
16 BAB 16: Jebakan di Gudang Obat
17 BAB 17: Pil Pemurni Jiwa dan Darah Naga
18 BAB 18: Istri Pertama
19 BAB 19: Keesokan Paginya dan Hadiah Kaisar Abadi
20 BAB 20: Sepuluh Hari Menuju Neraka
21 BAB 21: Latihan Suami Istri
22 BAB 22: Kompetisi Puncak Langit Dimulai
23 BAB 23: Tamparan di Arena Nomor Satu
24 BAB 24: Pedang Raja Melawan Darah Naga
25 BAB 25: Terbongkarnya Pengkhianat
26 BAB 26: Jantung Leluhur Darah Hitam
27 BAB 27: Tebasan Tiga Jiwa
28 BAB 28: Setelah Badai Darah
29 BAB 29: Menuju Kolam Teratai Suci
30 BAB 30: Kolam Teratai Suci
31 BAB 31: Pintu Makam Leluhur Naga
32 BAB 32: Naga Langit Kaisar Abadi Yang Terluka
33 BAB 33: Ritual Penyatuan Tiga Jiwa
34 BAB 34: Pedang Jantung Darah Iblis Tercabut
35 BAB 35: Raja Iblis Laut Dalam Yang Tersegel Seribu Tahun
36 BAB 36: Kebangkitan Teratai Suci Abadi
37 BAB 37: Tiga Hari Dalam Pelukan Dua Istri
38 BAB 38: Tujuh Belas Belahan Jiwa Lainnya
39 BAB 39: Meninggalkan Danau Teratai Suci
40 BAB 40: Kota Batu Hitam dan Gadis Dengan Belahan Jiwa Abu-Abu
41 BAB 41: Belahan Jiwa Kelam
42 BAB 42: Intan, Belahan Jiwa Abu-Abu Yang Terlupakan
43 BAB 43: Serangan Malam
44 BAB 44: Pertarungan di Tambang Utama
45 BAB 45: Kebebasan Sepuluh Ribu Budak dan Janji Kakak Sulung
46 BAB 46: Fajar Baru di Kota Batu Hitam
47 BAB 47: Perpisahan Sementara di Kota Intan
48 BAB 48: Kota Bunga Indah dan Gadis Penari Topeng
49 BAB 49: Penari Topeng
50 BAB 50: Bunga Emas Bernama Indah
51 BAB 51: Malam Pertama Indah Tanpa Topeng Emas
52 BAB 52: Perjalanan Pulang
53 BAB 53: Pertemuan Dua Permata yang Pernah Dilupakan Dunia
54 BAB 54: RUMAH YANG MENUNGGU DUA PERMATA
55 BAB 55: MENANAM BENIH DAN MIMPI
56 BAB 56: PETA YANG BERKEDIP
57 BAB 57: DOA DI KOLAM TERATAI
58 BAB 58: JEJAK SAMUDERA
59 BAB 59: PERTARUNGAN DI DERMAGA
60 BAB 60: MALAM DI PENGINAPAN
61 BAB 61: PERJALANAN MENUJU DESA BAMBU SUNYI
62 BAB 62: TUAN TANAH YANG DATANG
63 BAB 63: MALAM PENYEMBUHAN
64 BAB 64: LEMBAH KABUT ABADI
65 BAB 65: MALAM DI LEMBAH
66 BAB 66: KEPULANGAN YANG HANGAT
67 BAB 67: MELATIH KEKUATAN BERSAMA
68 BAB 68: PERSIAPAN MENUJU IBUKOTA
69 BAB 69: TIBA DI IBUKOTA
70 BAB 70: MENYUSUP KE RUMAH
71 BAB 71: MALAM PESTA MENTERI
72 BAB 72: KEKUATAN YANG TAK TERLAWAN
73 BAB 73: PERTEMUAN DENGAN PUTRI MAHKOTA
74 BAB 74: PERSIAPAN PULANG
75 BAB 75: SEMBILAN ISTRI BERKUMPUL
76 BAB 76: RENCANA KEMBALI KE AKADEMI
77 BAB 77: BERANGKAT MENUJU AKADEMI LANGIT BIRU
78 BAB 78: PERTEMUAN DENGAN AKIRA
79 BAB 79: MENEMUKAN ANISA DI GUBUK TUA
80 BAB 80: RENCANA MEMBONGKAR KEBOHONGAN
Episodes

Updated 80 Episodes

1
BAB 1: Dihina di Balai Pertunangan
2
BAB 2: Murid Sang Bidadari
3
BAB 3: Sentuhan Meridian Pertama
4
BAB 4: Tamparan Balik di Balai Disiplin
5
BAB 5: Pedang Embun Pertama di Puncak Salju
6
BAB 6: Terobosan di Dalam Pelukan Es
7
BAB 7: Utusan dari Istana Teratai Suci
8
BAB 8: Gadis Misterius dari Teratai Suci
9
BAB 9: Dua Bidadari Berebut di Puncak Embun
10
BAB 10: Pembunuh di Malam Bersalju
11
BAB 11: Malam Pertama Serumah dengan Guru
12
BAB 12: Darah Naga Melawan Darah Iblis
13
BAB 13: Auman Naga di Puncak Embun
14
BAB 14: Pingsan di Pelukan Bidadari
15
BAB 15: Rencana Jahat di Balik Ritual Teratai
16
BAB 16: Jebakan di Gudang Obat
17
BAB 17: Pil Pemurni Jiwa dan Darah Naga
18
BAB 18: Istri Pertama
19
BAB 19: Keesokan Paginya dan Hadiah Kaisar Abadi
20
BAB 20: Sepuluh Hari Menuju Neraka
21
BAB 21: Latihan Suami Istri
22
BAB 22: Kompetisi Puncak Langit Dimulai
23
BAB 23: Tamparan di Arena Nomor Satu
24
BAB 24: Pedang Raja Melawan Darah Naga
25
BAB 25: Terbongkarnya Pengkhianat
26
BAB 26: Jantung Leluhur Darah Hitam
27
BAB 27: Tebasan Tiga Jiwa
28
BAB 28: Setelah Badai Darah
29
BAB 29: Menuju Kolam Teratai Suci
30
BAB 30: Kolam Teratai Suci
31
BAB 31: Pintu Makam Leluhur Naga
32
BAB 32: Naga Langit Kaisar Abadi Yang Terluka
33
BAB 33: Ritual Penyatuan Tiga Jiwa
34
BAB 34: Pedang Jantung Darah Iblis Tercabut
35
BAB 35: Raja Iblis Laut Dalam Yang Tersegel Seribu Tahun
36
BAB 36: Kebangkitan Teratai Suci Abadi
37
BAB 37: Tiga Hari Dalam Pelukan Dua Istri
38
BAB 38: Tujuh Belas Belahan Jiwa Lainnya
39
BAB 39: Meninggalkan Danau Teratai Suci
40
BAB 40: Kota Batu Hitam dan Gadis Dengan Belahan Jiwa Abu-Abu
41
BAB 41: Belahan Jiwa Kelam
42
BAB 42: Intan, Belahan Jiwa Abu-Abu Yang Terlupakan
43
BAB 43: Serangan Malam
44
BAB 44: Pertarungan di Tambang Utama
45
BAB 45: Kebebasan Sepuluh Ribu Budak dan Janji Kakak Sulung
46
BAB 46: Fajar Baru di Kota Batu Hitam
47
BAB 47: Perpisahan Sementara di Kota Intan
48
BAB 48: Kota Bunga Indah dan Gadis Penari Topeng
49
BAB 49: Penari Topeng
50
BAB 50: Bunga Emas Bernama Indah
51
BAB 51: Malam Pertama Indah Tanpa Topeng Emas
52
BAB 52: Perjalanan Pulang
53
BAB 53: Pertemuan Dua Permata yang Pernah Dilupakan Dunia
54
BAB 54: RUMAH YANG MENUNGGU DUA PERMATA
55
BAB 55: MENANAM BENIH DAN MIMPI
56
BAB 56: PETA YANG BERKEDIP
57
BAB 57: DOA DI KOLAM TERATAI
58
BAB 58: JEJAK SAMUDERA
59
BAB 59: PERTARUNGAN DI DERMAGA
60
BAB 60: MALAM DI PENGINAPAN
61
BAB 61: PERJALANAN MENUJU DESA BAMBU SUNYI
62
BAB 62: TUAN TANAH YANG DATANG
63
BAB 63: MALAM PENYEMBUHAN
64
BAB 64: LEMBAH KABUT ABADI
65
BAB 65: MALAM DI LEMBAH
66
BAB 66: KEPULANGAN YANG HANGAT
67
BAB 67: MELATIH KEKUATAN BERSAMA
68
BAB 68: PERSIAPAN MENUJU IBUKOTA
69
BAB 69: TIBA DI IBUKOTA
70
BAB 70: MENYUSUP KE RUMAH
71
BAB 71: MALAM PESTA MENTERI
72
BAB 72: KEKUATAN YANG TAK TERLAWAN
73
BAB 73: PERTEMUAN DENGAN PUTRI MAHKOTA
74
BAB 74: PERSIAPAN PULANG
75
BAB 75: SEMBILAN ISTRI BERKUMPUL
76
BAB 76: RENCANA KEMBALI KE AKADEMI
77
BAB 77: BERANGKAT MENUJU AKADEMI LANGIT BIRU
78
BAB 78: PERTEMUAN DENGAN AKIRA
79
BAB 79: MENEMUKAN ANISA DI GUBUK TUA
80
BAB 80: RENCANA MEMBONGKAR KEBOHONGAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!