BAB 4: Tamparan Balik di Balai Disiplin

Pagi di Puncak Embun datang dengan cahaya matahari yang menembus kabut salju, memantulkan kilauan warna pelangi di atas kolam air panas.

Arya Langit membuka matanya perlahan. Semalam dia hampir tidak tidur. Setelah sesi penyembuhan pertama yang membuat Sekar Embun akhirnya bisa tertidur pulas untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan tanpa rasa sakit dingin yang menyiksa, Arya menghabiskan sepanjang malam untuk menstabilkan kultivasinya yang baru saja naik drastis.

Tubuh Meridian Naga Langit tingkat 1.

Itulah hadiah dari sistem setelah kepercayaan Sekar Embun mencapai 20%. Meridian di dalam tubuhnya kini bukan lagi meridian manusia biasa. Jika meridian orang normal adalah sungai kecil, maka meridian Arya sekarang adalah sungai besar yang terbuat dari emas cair. Aliran energi langit dan bumi masuk ke dalam tubuhnya dengan kecepatan sepuluh kali lipat lebih cepat dari orang normal.

Kultivasinya stabil di Alam Meridian tingkat sembilan puncak. Selangkah lagi, hanya selangkah lagi dia akan kembali menembus Alam Jiwa Kesatria, alam yang pernah dia capai tiga tahun lalu sebelum semuanya hancur.

Di depan matanya, layar sistem masih terpampang.

[Target: Sekar Embun]

[Kepercayaan: 25%]

[Takdir Tragis: Ditunda. 6 hari 12 jam lagi menuju serangan kedua yang lebih kuat. Butuh sesi kedua dalam 24 jam.]

[Poin Takdir: 50]

[Kultivasi: Alam Meridian tingkat 9 puncak]

Arya mengepalkan tangannya. Kekuatan yang mengalir di dalamnya membuatnya merasa bisa menghancurkan batu besar hanya dengan satu pukulan.

Pintu pondok bambu terbuka.

Sekar Embun berjalan keluar. Hari ini dia mengenakan gaun latihan berwarna biru muda yang sederhana, rambutnya yang hitam panjang hanya diikat dengan pita putih. Tanpa gaun mewahnya, dia terlihat lebih muda, lebih segar, dan pipinya yang biasanya pucat kini sedikit merona merah sehat.

Efek dari penyembuhan semalam masih sangat terasa.

"Guru, pagi," sapa Arya sambil berdiri dan tersenyum.

Sekar Embun menatap Arya. Tatapan dinginnya yang biasa kini sedikit mencair saat melihat pemuda itu. Dia masih ingat dengan jelas sentuhan hangat tangan Arya di punggungnya semalam. Rasa malu membuat telinganya sedikit memerah, tapi dia dengan cepat menyembunyikannya dengan wajah dinginnya.

"Kultivasimu naik lagi?" Sekar Embun bisa merasakan aura Arya yang jauh lebih padat dari kemarin sore. "Kecepatan kultivasimu... tidak normal."

Arya hanya tertawa kecil. "Semua berkat Guru yang mengajari dengan baik."

Sekar Embun sedikit mendengus, tapi tidak marah. "Jangan bermanis mulut. Hari ini adalah hari pemeriksaan bulanan untuk semua murid baru dan murid yang baru pindah puncak. Kamu sebagai murid baruku di Puncak Embun harus ikut. Tetua Disiplin yang akan menguji. Jangan membuatku malu."

Arya mengangguk. Dia tahu ini adalah aturan perguruan.

Tapi dia tidak tahu, bahwa pemeriksaan bulanan inilah yang sudah diatur oleh Rafa Adiputra sebagai perangkap untuknya.

Satu jam kemudian, di Balai Disiplin yang terletak di kaki gunung utama.

Balai Disiplin adalah tempat yang paling ditakuti oleh semua murid di Perguruan Langit Biru. Tempat ini dingin, gelap, dan dipenuhi oleh aura disiplin yang kaku. Di tengah balai terdapat sebuah arena batu hitam yang besar.

Saat Arya Langit tiba di sana dengan mengenakan jubah murid Puncak Embun yang baru, semua mata langsung tertuju padanya.

Bisik bisik langsung terdengar di mana.

"Itu dia sampah yang kemarin diterima oleh Kakak Senior Sekar!"

"Gila, dia benar benar berani datang ke pemeriksaan bulanan! Apa dia tidak tahu Tetua Disiplin paling benci murid yang cari muka?"

"Kasihan, pasti akan dihajar habis habisan hari ini."

Di sudut arena, Rafa Adiputra dan Kezia Adinegara sudah berdiri di sana dengan senyum mengejek. Di samping mereka berdiri seorang pria paruh baya dengan wajah kaku seperti patung batu dan jubah hitam Tetua Disiplin.

Dia adalah Tetua Batu, Tetua Disiplin yang terkenal kejam dan tidak pernah memberi ampun.

Tetua Batu menatap Arya yang baru masuk dengan tatapan dingin.

"Kamu Arya Langit? Murid baru Puncak Embun?" suara Tetua Batu berat seperti batu yang saling bertabrakan.

"Benar, Tetua," jawab Arya dengan tenang.

"Bagus. Aturan pemeriksaan bulanan sangat sederhana. Kamu harus bertahan selama sepuluh jurus dari boneka ujian Alam Jiwa Kesatria tingkat satu. Jika kamu bisa bertahan, kamu lulus dan resmi menjadi murid Puncak Embun. Jika tidak, kamu akan dikeluarkan dari perguruan karena dianggap tidak pantas. Mengerti?"

Semua murid yang ada di sana terkejut.

Boneka ujian Alam Jiwa Kesatria tingkat satu? Untuk murid baru yang bahkan banyak yang masih di Alam Meridian tingkat tujuh? Ini jelas bukan ujian, ini adalah hukuman mati. Biasanya ujian untuk murid baru hanya melawan boneka Alam Meridian tingkat delapan saja.

Rafa Adiputra tersenyum licik dari jauh. Dia sudah menyuap Tetua Batu dengan lima ratus Batu Roh kelas menengah untuk mengatur ini. Dia ingin melihat Arya cacat permanen di sini, di depan semua orang, agar Sekar Embun tahu bahwa murid yang dia pilih hanyalah sampah yang tidak berguna.

Kezia Adinegara menatap Arya dengan tatapan yang rumit. Ada sedikit rasa tidak tega, tapi lebih banyak rasa ingin melihat Arya hancur agar keputusannya membatalkan pertunangan kemarin terlihat benar.

Arya menatap boneka kayu setinggi tiga meter yang berdiri di tengah arena. Boneka itu terbuat dari kayu besi hitam yang keras, matanya menyala dengan cahaya merah, memancarkan aura Alam Jiwa Kesatria tingkat satu yang menekan.

Jika ini adalah Arya yang kemarin, dia pasti sudah mati.

Tapi ini adalah Arya yang sekarang, yang memiliki Tubuh Meridian Naga Langit.

"Arya Langit," Tetua Batu berteriak. "Masuk ke arena! Ujian dimulai sekarang!"

Arya menarik napas dalam dalam dan melangkah masuk ke dalam arena batu hitam itu.

BOOM!

Begitu kakinya menginjak arena, boneka ujian itu langsung bergerak. Kecepatannya sangat cepat, tidak seperti boneka kayu sama sekali. Tinju besarnya yang terbuat dari kayu besi menghantam langsung ke arah kepala Arya dengan kekuatan yang bisa menghancurkan batu besar.

Semua murid menutup mata, tidak tega melihat darah.

Tapi yang terjadi selanjutnya membuat semua orang membelalakkan mata hingga hampir keluar.

Arya tidak menghindar.

Dia mengangkat tangan kanannya, dengan telapak tangan terbuka, dan menangkap tinju raksasa boneka itu dengan mudah.

DUAK!

Suara benturan keras terdengar. Angin kencang berhembus dari titik benturan.

Boneka Alam Jiwa Kesatria tingkat satu itu berhenti total. Tinjunya tertahan di udara, tidak bisa maju sedikit pun, ditahan hanya dengan satu telapak tangan oleh seorang pemuda yang katanya meridiannya hancur.

"Apa!"

Tetua Batu yang tadinya duduk dengan santai langsung berdiri dengan kaget.

Rafa Adiputra wajahnya langsung pucat.

"Bagaimana mungkin! Dia hanya Alam Meridian tingkat sembilan! Bagaimana dia bisa menahan serangan Alam Jiwa Kesatria!"

Di atas arena, Arya tersenyum dingin. Cahaya keemasan samar mulai muncul di sepanjang lengannya. Itu adalah kekuatan dari Tubuh Meridian Naga Langit.

"Boneka kayu yang lambat," bisik Arya dengan suara yang hanya bisa didengar oleh boneka itu. "Giliranku."

Arya mengepalkan tinju kirinya. Energi naga emas berkumpul di tinjunya.

Jurus yang dia dapatkan dari lotre sistem kemarin, selain Seni Tangan Dewa Meridian, adalah sebuah jurus tinju kuno.

[Tinju Naga Langit Menghancurkan Gunung!]

"PECAAAH!"

Tinju Arya menghantam dada boneka kayu besi hitam itu dengan telak.

KRAAAK! BOOM!

Boneka ujian yang terkenal sangat keras dan bahkan bisa menahan serangan dari Tetua biasa, dalam sekejap mata retak dari dada hingga ke seluruh tubuhnya, lalu meledak menjadi serpihan kayu kecil yang beterbangan ke seluruh arena.

Arena yang tadi berisik dengan bisikan ejekan, kini hening total seperti kuburan.

Semua orang menatap pemuda yang berdiri di tengah hujan serpihan kayu itu dengan tatapan seperti melihat monster.

Satu pukulan. Hanya satu pukulan untuk menghancurkan boneka ujian Alam Jiwa Kesatria tingkat satu.

Arya perlahan lahan menurunkan tinjunya. Dia menatap Tetua Batu yang wajahnya sudah membiru karena malu dan kaget, lalu menatap Rafa Adiputra yang kakinya sudah gemetar.

"Tetua Batu," suara Arya tenang tapi menggema di seluruh balai yang hening. "Apakah saya lulus ujian sepuluh jurus ini? Atau Tetua ingin saya bertahan sepuluh jurus lagi dari boneka yang lebih kuat? Saya siap."

Tetua Batu tidak bisa berkata apa. Tenggorokannya seperti tercekat.

Pada saat itu, sebuah suara dingin yang indah seperti lonceng es tiba terdengar dari pintu masuk Balai Disiplin.

"Sepertinya pemeriksaan bulanan tahun ini sangat menarik ya. Sampai sampai boneka ujian Alam Jiwa Kesatria pun dihancurkan oleh murid baruku."

Semua orang menoleh.

Sekar Embun berdiri di pintu masuk, gaun biru mudanya berkibar lembut tertiup angin. Wajahnya dingin, tapi matanya menatap Arya dengan sedikit kebanggaan yang tidak bisa disembunyikan.

Dia datang.

Bidadari Pelindung itu datang untuk muridnya.

Rafa Adiputra wajahnya langsung seputih kertas saat melihat Sekar Embun muncul. Rencana penyuapannya pasti akan terbongkar.

Arya menatap gurunya yang datang, lalu tersenyum. Dia tahu, mulai hari ini, tidak ada lagi yang berani menyebutnya sampah di Perguruan Langit Biru.

Dan ini baru permulaan dari balas dendamnya.

Di dalam kepalanya, suara sistem berbunyi dengan meriah.

[DING! Face Slapping berhasil! Menghancurkan boneka ujian dan mempermalukan Rafa Adiputra di depan umum!]

[Hadiah: 100 Poin Takdir! Kepercayaan Sekar Embun +10%!]

[Kepercayaan Sekar Embun saat ini: 35%! Membuka hadiah: Teknik Pedang Embun Beku tingkat awal!]

Terpopuler

Comments

Hadi Hadi

Hadi Hadi

good💪💪

2026-08-05

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Dihina di Balai Pertunangan
2 BAB 2: Murid Sang Bidadari
3 BAB 3: Sentuhan Meridian Pertama
4 BAB 4: Tamparan Balik di Balai Disiplin
5 BAB 5: Pedang Embun Pertama di Puncak Salju
6 BAB 6: Terobosan di Dalam Pelukan Es
7 BAB 7: Utusan dari Istana Teratai Suci
8 BAB 8: Gadis Misterius dari Teratai Suci
9 BAB 9: Dua Bidadari Berebut di Puncak Embun
10 BAB 10: Pembunuh di Malam Bersalju
11 BAB 11: Malam Pertama Serumah dengan Guru
12 BAB 12: Darah Naga Melawan Darah Iblis
13 BAB 13: Auman Naga di Puncak Embun
14 BAB 14: Pingsan di Pelukan Bidadari
15 BAB 15: Rencana Jahat di Balik Ritual Teratai
16 BAB 16: Jebakan di Gudang Obat
17 BAB 17: Pil Pemurni Jiwa dan Darah Naga
18 BAB 18: Istri Pertama
19 BAB 19: Keesokan Paginya dan Hadiah Kaisar Abadi
20 BAB 20: Sepuluh Hari Menuju Neraka
21 BAB 21: Latihan Suami Istri
22 BAB 22: Kompetisi Puncak Langit Dimulai
23 BAB 23: Tamparan di Arena Nomor Satu
24 BAB 24: Pedang Raja Melawan Darah Naga
25 BAB 25: Terbongkarnya Pengkhianat
26 BAB 26: Jantung Leluhur Darah Hitam
27 BAB 27: Tebasan Tiga Jiwa
28 BAB 28: Setelah Badai Darah
29 BAB 29: Menuju Kolam Teratai Suci
30 BAB 30: Kolam Teratai Suci
31 BAB 31: Pintu Makam Leluhur Naga
32 BAB 32: Naga Langit Kaisar Abadi Yang Terluka
33 BAB 33: Ritual Penyatuan Tiga Jiwa
34 BAB 34: Pedang Jantung Darah Iblis Tercabut
35 BAB 35: Raja Iblis Laut Dalam Yang Tersegel Seribu Tahun
36 BAB 36: Kebangkitan Teratai Suci Abadi
37 BAB 37: Tiga Hari Dalam Pelukan Dua Istri
38 BAB 38: Tujuh Belas Belahan Jiwa Lainnya
39 BAB 39: Meninggalkan Danau Teratai Suci
40 BAB 40: Kota Batu Hitam dan Gadis Dengan Belahan Jiwa Abu-Abu
41 BAB 41: Belahan Jiwa Kelam
42 BAB 42: Intan, Belahan Jiwa Abu-Abu Yang Terlupakan
43 BAB 43: Serangan Malam
44 BAB 44: Pertarungan di Tambang Utama
45 BAB 45: Kebebasan Sepuluh Ribu Budak dan Janji Kakak Sulung
46 BAB 46: Fajar Baru di Kota Batu Hitam
47 BAB 47: Perpisahan Sementara di Kota Intan
48 BAB 48: Kota Bunga Indah dan Gadis Penari Topeng
49 BAB 49: Penari Topeng
50 BAB 50: Bunga Emas Bernama Indah
51 BAB 51: Malam Pertama Indah Tanpa Topeng Emas
52 BAB 52: Perjalanan Pulang
53 BAB 53: Pertemuan Dua Permata yang Pernah Dilupakan Dunia
54 BAB 54: RUMAH YANG MENUNGGU DUA PERMATA
55 BAB 55: MENANAM BENIH DAN MIMPI
56 BAB 56: PETA YANG BERKEDIP
57 BAB 57: DOA DI KOLAM TERATAI
58 BAB 58: JEJAK SAMUDERA
59 BAB 59: PERTARUNGAN DI DERMAGA
60 BAB 60: MALAM DI PENGINAPAN
61 BAB 61: PERJALANAN MENUJU DESA BAMBU SUNYI
62 BAB 62: TUAN TANAH YANG DATANG
63 BAB 63: MALAM PENYEMBUHAN
64 BAB 64: LEMBAH KABUT ABADI
65 BAB 65: MALAM DI LEMBAH
66 BAB 66: KEPULANGAN YANG HANGAT
67 BAB 67: MELATIH KEKUATAN BERSAMA
68 BAB 68: PERSIAPAN MENUJU IBUKOTA
69 BAB 69: TIBA DI IBUKOTA
70 BAB 70: MENYUSUP KE RUMAH
71 BAB 71: MALAM PESTA MENTERI
72 BAB 72: KEKUATAN YANG TAK TERLAWAN
73 BAB 73: PERTEMUAN DENGAN PUTRI MAHKOTA
74 BAB 74: PERSIAPAN PULANG
75 BAB 75: SEMBILAN ISTRI BERKUMPUL
76 BAB 76: RENCANA KEMBALI KE AKADEMI
77 BAB 77: BERANGKAT MENUJU AKADEMI LANGIT BIRU
78 BAB 78: PERTEMUAN DENGAN AKIRA
79 BAB 79: MENEMUKAN ANISA DI GUBUK TUA
80 BAB 80: RENCANA MEMBONGKAR KEBOHONGAN
Episodes

Updated 80 Episodes

1
BAB 1: Dihina di Balai Pertunangan
2
BAB 2: Murid Sang Bidadari
3
BAB 3: Sentuhan Meridian Pertama
4
BAB 4: Tamparan Balik di Balai Disiplin
5
BAB 5: Pedang Embun Pertama di Puncak Salju
6
BAB 6: Terobosan di Dalam Pelukan Es
7
BAB 7: Utusan dari Istana Teratai Suci
8
BAB 8: Gadis Misterius dari Teratai Suci
9
BAB 9: Dua Bidadari Berebut di Puncak Embun
10
BAB 10: Pembunuh di Malam Bersalju
11
BAB 11: Malam Pertama Serumah dengan Guru
12
BAB 12: Darah Naga Melawan Darah Iblis
13
BAB 13: Auman Naga di Puncak Embun
14
BAB 14: Pingsan di Pelukan Bidadari
15
BAB 15: Rencana Jahat di Balik Ritual Teratai
16
BAB 16: Jebakan di Gudang Obat
17
BAB 17: Pil Pemurni Jiwa dan Darah Naga
18
BAB 18: Istri Pertama
19
BAB 19: Keesokan Paginya dan Hadiah Kaisar Abadi
20
BAB 20: Sepuluh Hari Menuju Neraka
21
BAB 21: Latihan Suami Istri
22
BAB 22: Kompetisi Puncak Langit Dimulai
23
BAB 23: Tamparan di Arena Nomor Satu
24
BAB 24: Pedang Raja Melawan Darah Naga
25
BAB 25: Terbongkarnya Pengkhianat
26
BAB 26: Jantung Leluhur Darah Hitam
27
BAB 27: Tebasan Tiga Jiwa
28
BAB 28: Setelah Badai Darah
29
BAB 29: Menuju Kolam Teratai Suci
30
BAB 30: Kolam Teratai Suci
31
BAB 31: Pintu Makam Leluhur Naga
32
BAB 32: Naga Langit Kaisar Abadi Yang Terluka
33
BAB 33: Ritual Penyatuan Tiga Jiwa
34
BAB 34: Pedang Jantung Darah Iblis Tercabut
35
BAB 35: Raja Iblis Laut Dalam Yang Tersegel Seribu Tahun
36
BAB 36: Kebangkitan Teratai Suci Abadi
37
BAB 37: Tiga Hari Dalam Pelukan Dua Istri
38
BAB 38: Tujuh Belas Belahan Jiwa Lainnya
39
BAB 39: Meninggalkan Danau Teratai Suci
40
BAB 40: Kota Batu Hitam dan Gadis Dengan Belahan Jiwa Abu-Abu
41
BAB 41: Belahan Jiwa Kelam
42
BAB 42: Intan, Belahan Jiwa Abu-Abu Yang Terlupakan
43
BAB 43: Serangan Malam
44
BAB 44: Pertarungan di Tambang Utama
45
BAB 45: Kebebasan Sepuluh Ribu Budak dan Janji Kakak Sulung
46
BAB 46: Fajar Baru di Kota Batu Hitam
47
BAB 47: Perpisahan Sementara di Kota Intan
48
BAB 48: Kota Bunga Indah dan Gadis Penari Topeng
49
BAB 49: Penari Topeng
50
BAB 50: Bunga Emas Bernama Indah
51
BAB 51: Malam Pertama Indah Tanpa Topeng Emas
52
BAB 52: Perjalanan Pulang
53
BAB 53: Pertemuan Dua Permata yang Pernah Dilupakan Dunia
54
BAB 54: RUMAH YANG MENUNGGU DUA PERMATA
55
BAB 55: MENANAM BENIH DAN MIMPI
56
BAB 56: PETA YANG BERKEDIP
57
BAB 57: DOA DI KOLAM TERATAI
58
BAB 58: JEJAK SAMUDERA
59
BAB 59: PERTARUNGAN DI DERMAGA
60
BAB 60: MALAM DI PENGINAPAN
61
BAB 61: PERJALANAN MENUJU DESA BAMBU SUNYI
62
BAB 62: TUAN TANAH YANG DATANG
63
BAB 63: MALAM PENYEMBUHAN
64
BAB 64: LEMBAH KABUT ABADI
65
BAB 65: MALAM DI LEMBAH
66
BAB 66: KEPULANGAN YANG HANGAT
67
BAB 67: MELATIH KEKUATAN BERSAMA
68
BAB 68: PERSIAPAN MENUJU IBUKOTA
69
BAB 69: TIBA DI IBUKOTA
70
BAB 70: MENYUSUP KE RUMAH
71
BAB 71: MALAM PESTA MENTERI
72
BAB 72: KEKUATAN YANG TAK TERLAWAN
73
BAB 73: PERTEMUAN DENGAN PUTRI MAHKOTA
74
BAB 74: PERSIAPAN PULANG
75
BAB 75: SEMBILAN ISTRI BERKUMPUL
76
BAB 76: RENCANA KEMBALI KE AKADEMI
77
BAB 77: BERANGKAT MENUJU AKADEMI LANGIT BIRU
78
BAB 78: PERTEMUAN DENGAN AKIRA
79
BAB 79: MENEMUKAN ANISA DI GUBUK TUA
80
BAB 80: RENCANA MEMBONGKAR KEBOHONGAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!