Sistem Kaisar Abadi

Sistem Kaisar Abadi

BAB 1: Dihina di Balai Pertunangan

Balai Agung Perguruan Langit Biru hari ini penuh sesak.

Semua murid inti, semua tetua, dan semua kepala keluarga cabang datang berkumpul. Harum dupa kemenyan bercampur aroma teh melati memenuhi ruangan yang megah itu. Di tengah balai, berdiri seorang pemuda dengan pakaian sederhana yang sudah sedikit pudar warnanya.

Namanya Arya Langit.

Usianya dua puluh tahun, dan dia adalah bahan tertawaan terbesar di seluruh Perguruan Langit Biru dalam tiga tahun terakhir.

Tiga tahun lalu, Arya Langit adalah jenius nomor satu. Di usia tujuh belas tahun dia sudah menembus Alam Meridian tingkat sembilan, selangkah lagi masuk ke Alam Jiwa Kesatria. Semua orang berkata dia akan menjadi penerus Perguruan.

Sampai pada malam itu. Malam di mana meridiannya hancur total saat mencoba menyatu dengan Batu Roh Langit.

Sejak saat itu, dia menjadi sampah. Tidak bisa menyerap energi langit dan bumi sedikit pun. Jangankan berkultivasi, untuk mengangkat pedang besi biasa pun tangannya akan gemetar.

Dan hari ini adalah hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya.

Hari pertunangannya.

Pintu besar balai terbuka dengan suara berat. Angin lembut masuk membawa aroma bunga kenanga.

Seorang wanita berjalan masuk.

Seluruh balai langsung hening.

Dia adalah Kezia Adinegara. Putri tunggal dari Keluarga Adinegara, salah satu dari empat keluarga besar di Kota Biru. Usianya sembilan belas tahun, sudah berada di Alam Jiwa Kesatria tingkat tiga. Wajahnya cantik luar biasa, kulitnya putih bersih, matanya tajam seperti bintang. Dia mengenakan gaun panjang berwarna ungu keemasan yang membuatnya terlihat seperti seorang putri sejati.

Dia adalah tunangan Arya Langit. Pertunangan yang dijodohkan oleh kakek mereka sejak mereka masih kecil.

Kezia berjalan melewati Arya tanpa menatapnya sama sekali, seolah Arya hanyalah patung yang tidak terlihat. Dia berjalan langsung ke depan Tetua Agung dan membungkuk dengan anggun.

"Tetua Agung, para tetua yang terhormat," suara Kezia jernih namun dingin menusuk tulang. "Hari ini Kezia datang bukan untuk melanjutkan pertunangan, tapi untuk memutuskannya."

Satu kalimat itu meledak seperti petir di tengah balai yang sunyi.

Semua mata langsung tertuju pada Arya Langit. Ada yang kasihan, ada yang mengejek, kebanyakan menertawakan.

Arya mengepalkan tangannya dengan keras hingga kukunya menancap ke daging. Dia sudah menduga hal ini akan terjadi, tapi rasa sakitnya tetap tidak bisa ditahan.

"Kezia," Tetua Agung mengerutkan kening. "Pertunangan ini adalah wasiat dari kakekmu dan kakek Arya. Tidak bisa diputuskan sembarangan."

Kezia tersenyum dingin. Senyum itu cantik, tapi kejam.

"Tetua Agung, Kezia sekarang adalah murid inti dari Istana Teratai Suci. Guru saya adalah Sekar Embun, salah satu dari Tiga Bidadari Langit Biru. Masa depan Kezia adalah Alam Raja Langit, bahkan mungkin Alam Kaisar. Apakah Tetua Agung tega membiarkan Kezia menikah dengan seorang cacat yang bahkan tidak bisa berkultivasi?"

Setiap kata yang diucapkan Kezia adalah pisau yang menancap di dada Arya.

Cacat.

Kata itu sudah tiga tahun menempel pada dirinya seperti cap besi panas.

"Arya Langit," Kezia akhirnya menatap Arya untuk pertama kalinya hari itu. Tatapannya penuh dengan jijik dan superioritas. "Kamu dan aku sudah berada di dua dunia yang berbeda. Kamu adalah lumpur di tanah, sedangkan aku adalah bintang di langit. Jangan bermimpi lagi. Batalkan pertunangan ini, dan aku akan memberimu seratus Batu Roh sebagai kompensasi. Cukup untukmu hidup sebagai orang biasa selama sisa hidupmu."

Tawa mulai terdengar dari sudut balai.

Seratus Batu Roh. Itu adalah penghinaan yang lebih besar daripada tamparan.

Pada saat itu, dari barisan murid inti, seorang pemuda tampan dengan jubah mewah berwarna emas berdiri. Wajahnya penuh dengan kesombongan.

Dia adalah Rafa Adiputra, putra tunggal kepala Keluarga Adiputra, jenius nomor satu yang baru di Perguruan Langit Biru. Usianya dua puluh satu tahun, sudah Alam Jiwa Kesatria tingkat lima.

Rafa berjalan mendekati Kezia dan dengan mesra merangkul pinggang ramping Kezia di depan semua orang. Kezia tidak menolak, malah bersandar manja.

"Arya, kamu harusnya berterima kasih pada Kezia," kata Rafa dengan suara keras agar semua orang mendengar. "Dia masih memberimu muka dengan memberimu Batu Roh. Kalau aku jadi kamu, aku sudah menggali lubang dan mengubur diri sendiri karena malu. Sampah sepertimu tidak pantas bahkan untuk membawa sandal Kezia."

Arya akhirnya tidak tahan lagi. Darahnya mendidih.

"Rafa Adiputra, jaga mulutmu!" Arya meraung, matanya merah.

Rafa tertawa terbahak bahak.

"Kenapa? Kamu mau memukulku? Dengan meridianmu yang hancur itu? Ayo, coba aku lihat."

Rafa melangkah maju dengan cepat. Kecepatannya jauh di atas Arya. Dia mengangkat tangannya dan sebuah tamparan keras mendarat di wajah Arya.

PLAK!

Suara tamparan itu menggema di seluruh balai.

Arya terlempar beberapa meter, jatuh menghantam lantai dengan keras. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari pipinya hingga ke seluruh kepalanya. Dunia di depan matanya berputar.

Tidak ada satu pun tetua yang bergerak untuk membantunya. Mereka hanya menatap dengan dingin, seolah ini adalah hiburan yang menarik.

Di tengah rasa sakit dan keputusasaan yang paling dalam, di saat dia merasa seluruh dunia telah membuangnya, sebuah suara aneh tiba tiba terdengar di dalam kepalanya.

Bukan suara manusia. Lebih seperti dentingan lonceng kuno yang berasal dari kedalaman jiwanya.

[DING!]

[Syarat kebangkitan terpenuhi. Keputusasaan terdalam, penghinaan publik, darah keturunan Kaisar. Sistem Takdir Harem Kaisar Abadi aktif.]

Arya tertegun. Dia mengira dia sedang berhalusinasi karena tamparan itu.

Di depan matanya yang berkunang kunang, sebuah layar cahaya berwarna biru keemasan yang hanya bisa dilihat olehnya tiba muncul.

[Selamat datang, Tuan Rumah Arya Langit.]

[Anda telah memperoleh kemampuan awal: Mata Takdir. Anda dapat melihat takdir tragis dari setiap wanita yang memiliki Takdir Kaisar.]

[Ubah takdir mereka, buat mereka jatuh hati dan menjadi istrimu, maka Anda akan memperoleh 50% dari bakat, keberuntungan, dan kultivasi mereka.]

[Hadiah paket pemula: Pemulihan Meridian Sempurna dan satu kali Lotre Takdir. Apakah ingin digunakan sekarang?]

Jantung Arya berdegup kencang seperti genderang perang. Ini bukan halusinasi. Ini nyata. Energi hangat yang belum pernah dia rasakan selama tiga tahun tiba tiba mengalir deras di dalam tubuhnya yang rusak.

Meridiannya yang hancur, yang dikatakan oleh tabib terbaik tidak akan pernah bisa sembuh, sedang diperbaiki dengan kecepatan yang gila. Rasa sakitnya hilang, digantikan oleh kekuatan yang meluap luap.

Di saat yang sama, pintu samping balai terbuka lagi.

Seorang wanita berjalan masuk dengan langkah tenang.

Semua suara tawa dan ejekan langsung berhenti total. Bahkan Rafa Adiputra dan Kezia Adinegara pun wajahnya berubah pucat dan penuh hormat.

Wanita itu mengenakan gaun putih sederhana tanpa hiasan apapun, namun kecantikannya membuat seluruh balai kehilangan warna. Rambutnya hitam panjang tergerai, wajahnya dingin seperti embun pagi di puncak gunung, matanya seperti danau yang tenang namun dalam. Di punggungnya tergantung sebuah pedang panjang berwarna biru es.

Dia adalah Sekar Embun. Kakak senior nomor satu di Perguruan Langit Biru, murid kesayangan Pemimpin Perguruan, wanita yang dijuluki Bidadari Pedang Embun. Usianya dua puluh dua tahun dan sudah berada di Alam Raja Langit tingkat satu, eksistensi yang tidak bisa disentuh oleh siapapun di balai ini.

Sekar Embun menatap kekacauan di balai, lalu tatapannya berhenti pada Arya Langit yang masih tergeletak di lantai dengan darah di bibirnya.

Dan pada saat itulah, Mata Takdir Arya aktif secara otomatis.

Di atas kepala Sekar Embun, Arya melihat barisan tulisan berwarna merah darah yang hanya bisa dia lihat.

[Nama: Sekar Embun]

[Takdir: Bidadari Pedang Embun, memiliki Tubuh Meridian Embun Beku yang legendaris]

[Takdir Tragis: Dalam 7 hari, Tubuh Meridian Embun Beku akan mengamuk saat terobosan, membuatnya menjadi lumpuh total dan kehilangan semua kultivasi. Akan diusir dari perguruan dan mati kedinginan di lembah terpencil tiga bulan kemudian.]

[Tingkat Penyelamatan: Jika menjadi istri Tuan Rumah, 100% takdir tragis bisa diubah dan membangkitkan Tubuh Dewi Embun Sejati.]

Otak Arya meledak.

Sekar Embun? Bidadari nomor satu yang dikagumi seluruh kota? Dalam tujuh hari akan lumpuh dan mati mengenaskan?

Sekar Embun merasakan tatapan Arya. Dia sedikit mengerutkan kening, lalu berjalan perlahan ke arah Arya.

Setiap langkahnya membuat jantung semua pria di balai berdebar kencang.

Dia berhenti tepat di depan Arya, menatap pemuda sampah yang baru saja dihina dan ditampar itu.

Lalu, dengan suara yang dingin namun jernih seperti air gunung, dia berkata.

"Arya Langit, kamu mau menjadi muridku?"

Satu kalimat itu membuat seluruh Balai Agung meledak dalam keheningan yang mematikan.

Kezia Adinegara membelalakkan matanya tidak percaya. Rafa Adiputra wajahnya langsung membiru karena cemburu dan marah.

Dan Arya Langit, dengan darah di bibirnya dan sistem kaisar yang baru bangkit di dalam jiwanya, perlahan lahan mengangkat kepalanya dan tersenyum untuk pertama kalinya setelah tiga tahun.

Episodes
1 BAB 1: Dihina di Balai Pertunangan
2 BAB 2: Murid Sang Bidadari
3 BAB 3: Sentuhan Meridian Pertama
4 BAB 4: Tamparan Balik di Balai Disiplin
5 BAB 5: Pedang Embun Pertama di Puncak Salju
6 BAB 6: Terobosan di Dalam Pelukan Es
7 BAB 7: Utusan dari Istana Teratai Suci
8 BAB 8: Gadis Misterius dari Teratai Suci
9 BAB 9: Dua Bidadari Berebut di Puncak Embun
10 BAB 10: Pembunuh di Malam Bersalju
11 BAB 11: Malam Pertama Serumah dengan Guru
12 BAB 12: Darah Naga Melawan Darah Iblis
13 BAB 13: Auman Naga di Puncak Embun
14 BAB 14: Pingsan di Pelukan Bidadari
15 BAB 15: Rencana Jahat di Balik Ritual Teratai
16 BAB 16: Jebakan di Gudang Obat
17 BAB 17: Pil Pemurni Jiwa dan Darah Naga
18 BAB 18: Istri Pertama
19 BAB 19: Keesokan Paginya dan Hadiah Kaisar Abadi
20 BAB 20: Sepuluh Hari Menuju Neraka
21 BAB 21: Latihan Suami Istri
22 BAB 22: Kompetisi Puncak Langit Dimulai
23 BAB 23: Tamparan di Arena Nomor Satu
24 BAB 24: Pedang Raja Melawan Darah Naga
25 BAB 25: Terbongkarnya Pengkhianat
26 BAB 26: Jantung Leluhur Darah Hitam
27 BAB 27: Tebasan Tiga Jiwa
28 BAB 28: Setelah Badai Darah
29 BAB 29: Menuju Kolam Teratai Suci
30 BAB 30: Kolam Teratai Suci
31 BAB 31: Pintu Makam Leluhur Naga
32 BAB 32: Naga Langit Kaisar Abadi Yang Terluka
33 BAB 33: Ritual Penyatuan Tiga Jiwa
34 BAB 34: Pedang Jantung Darah Iblis Tercabut
35 BAB 35: Raja Iblis Laut Dalam Yang Tersegel Seribu Tahun
36 BAB 36: Kebangkitan Teratai Suci Abadi
37 BAB 37: Tiga Hari Dalam Pelukan Dua Istri
38 BAB 38: Tujuh Belas Belahan Jiwa Lainnya
39 BAB 39: Meninggalkan Danau Teratai Suci
40 BAB 40: Kota Batu Hitam dan Gadis Dengan Belahan Jiwa Abu-Abu
41 BAB 41: Belahan Jiwa Kelam
42 BAB 42: Intan, Belahan Jiwa Abu-Abu Yang Terlupakan
43 BAB 43: Serangan Malam
44 BAB 44: Pertarungan di Tambang Utama
45 BAB 45: Kebebasan Sepuluh Ribu Budak dan Janji Kakak Sulung
46 BAB 46: Fajar Baru di Kota Batu Hitam
47 BAB 47: Perpisahan Sementara di Kota Intan
48 BAB 48: Kota Bunga Indah dan Gadis Penari Topeng
49 BAB 49: Penari Topeng
50 BAB 50: Bunga Emas Bernama Indah
51 BAB 51: Malam Pertama Indah Tanpa Topeng Emas
52 BAB 52: Perjalanan Pulang
53 BAB 53: Pertemuan Dua Permata yang Pernah Dilupakan Dunia
54 BAB 54: RUMAH YANG MENUNGGU DUA PERMATA
55 BAB 55: MENANAM BENIH DAN MIMPI
56 BAB 56: PETA YANG BERKEDIP
57 BAB 57: DOA DI KOLAM TERATAI
58 BAB 58: JEJAK SAMUDERA
59 BAB 59: PERTARUNGAN DI DERMAGA
60 BAB 60: MALAM DI PENGINAPAN
61 BAB 61: PERJALANAN MENUJU DESA BAMBU SUNYI
62 BAB 62: TUAN TANAH YANG DATANG
63 BAB 63: MALAM PENYEMBUHAN
64 BAB 64: LEMBAH KABUT ABADI
65 BAB 65: MALAM DI LEMBAH
66 BAB 66: KEPULANGAN YANG HANGAT
67 BAB 67: MELATIH KEKUATAN BERSAMA
68 BAB 68: PERSIAPAN MENUJU IBUKOTA
69 BAB 69: TIBA DI IBUKOTA
70 BAB 70: MENYUSUP KE RUMAH
71 BAB 71: MALAM PESTA MENTERI
72 BAB 72: KEKUATAN YANG TAK TERLAWAN
73 BAB 73: PERTEMUAN DENGAN PUTRI MAHKOTA
74 BAB 74: PERSIAPAN PULANG
75 BAB 75: SEMBILAN ISTRI BERKUMPUL
76 BAB 76: RENCANA KEMBALI KE AKADEMI
77 BAB 77: BERANGKAT MENUJU AKADEMI LANGIT BIRU
78 BAB 78: PERTEMUAN DENGAN AKIRA
79 BAB 79: MENEMUKAN ANISA DI GUBUK TUA
80 BAB 80: RENCANA MEMBONGKAR KEBOHONGAN
Episodes

Updated 80 Episodes

1
BAB 1: Dihina di Balai Pertunangan
2
BAB 2: Murid Sang Bidadari
3
BAB 3: Sentuhan Meridian Pertama
4
BAB 4: Tamparan Balik di Balai Disiplin
5
BAB 5: Pedang Embun Pertama di Puncak Salju
6
BAB 6: Terobosan di Dalam Pelukan Es
7
BAB 7: Utusan dari Istana Teratai Suci
8
BAB 8: Gadis Misterius dari Teratai Suci
9
BAB 9: Dua Bidadari Berebut di Puncak Embun
10
BAB 10: Pembunuh di Malam Bersalju
11
BAB 11: Malam Pertama Serumah dengan Guru
12
BAB 12: Darah Naga Melawan Darah Iblis
13
BAB 13: Auman Naga di Puncak Embun
14
BAB 14: Pingsan di Pelukan Bidadari
15
BAB 15: Rencana Jahat di Balik Ritual Teratai
16
BAB 16: Jebakan di Gudang Obat
17
BAB 17: Pil Pemurni Jiwa dan Darah Naga
18
BAB 18: Istri Pertama
19
BAB 19: Keesokan Paginya dan Hadiah Kaisar Abadi
20
BAB 20: Sepuluh Hari Menuju Neraka
21
BAB 21: Latihan Suami Istri
22
BAB 22: Kompetisi Puncak Langit Dimulai
23
BAB 23: Tamparan di Arena Nomor Satu
24
BAB 24: Pedang Raja Melawan Darah Naga
25
BAB 25: Terbongkarnya Pengkhianat
26
BAB 26: Jantung Leluhur Darah Hitam
27
BAB 27: Tebasan Tiga Jiwa
28
BAB 28: Setelah Badai Darah
29
BAB 29: Menuju Kolam Teratai Suci
30
BAB 30: Kolam Teratai Suci
31
BAB 31: Pintu Makam Leluhur Naga
32
BAB 32: Naga Langit Kaisar Abadi Yang Terluka
33
BAB 33: Ritual Penyatuan Tiga Jiwa
34
BAB 34: Pedang Jantung Darah Iblis Tercabut
35
BAB 35: Raja Iblis Laut Dalam Yang Tersegel Seribu Tahun
36
BAB 36: Kebangkitan Teratai Suci Abadi
37
BAB 37: Tiga Hari Dalam Pelukan Dua Istri
38
BAB 38: Tujuh Belas Belahan Jiwa Lainnya
39
BAB 39: Meninggalkan Danau Teratai Suci
40
BAB 40: Kota Batu Hitam dan Gadis Dengan Belahan Jiwa Abu-Abu
41
BAB 41: Belahan Jiwa Kelam
42
BAB 42: Intan, Belahan Jiwa Abu-Abu Yang Terlupakan
43
BAB 43: Serangan Malam
44
BAB 44: Pertarungan di Tambang Utama
45
BAB 45: Kebebasan Sepuluh Ribu Budak dan Janji Kakak Sulung
46
BAB 46: Fajar Baru di Kota Batu Hitam
47
BAB 47: Perpisahan Sementara di Kota Intan
48
BAB 48: Kota Bunga Indah dan Gadis Penari Topeng
49
BAB 49: Penari Topeng
50
BAB 50: Bunga Emas Bernama Indah
51
BAB 51: Malam Pertama Indah Tanpa Topeng Emas
52
BAB 52: Perjalanan Pulang
53
BAB 53: Pertemuan Dua Permata yang Pernah Dilupakan Dunia
54
BAB 54: RUMAH YANG MENUNGGU DUA PERMATA
55
BAB 55: MENANAM BENIH DAN MIMPI
56
BAB 56: PETA YANG BERKEDIP
57
BAB 57: DOA DI KOLAM TERATAI
58
BAB 58: JEJAK SAMUDERA
59
BAB 59: PERTARUNGAN DI DERMAGA
60
BAB 60: MALAM DI PENGINAPAN
61
BAB 61: PERJALANAN MENUJU DESA BAMBU SUNYI
62
BAB 62: TUAN TANAH YANG DATANG
63
BAB 63: MALAM PENYEMBUHAN
64
BAB 64: LEMBAH KABUT ABADI
65
BAB 65: MALAM DI LEMBAH
66
BAB 66: KEPULANGAN YANG HANGAT
67
BAB 67: MELATIH KEKUATAN BERSAMA
68
BAB 68: PERSIAPAN MENUJU IBUKOTA
69
BAB 69: TIBA DI IBUKOTA
70
BAB 70: MENYUSUP KE RUMAH
71
BAB 71: MALAM PESTA MENTERI
72
BAB 72: KEKUATAN YANG TAK TERLAWAN
73
BAB 73: PERTEMUAN DENGAN PUTRI MAHKOTA
74
BAB 74: PERSIAPAN PULANG
75
BAB 75: SEMBILAN ISTRI BERKUMPUL
76
BAB 76: RENCANA KEMBALI KE AKADEMI
77
BAB 77: BERANGKAT MENUJU AKADEMI LANGIT BIRU
78
BAB 78: PERTEMUAN DENGAN AKIRA
79
BAB 79: MENEMUKAN ANISA DI GUBUK TUA
80
BAB 80: RENCANA MEMBONGKAR KEBOHONGAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!