Barikade Tawuran & Bintang 5 Pertama

Aroma tajam gas air mata langsung menusuk hidung begitu motor Honda Supra Fit milik Arya meluncur keluar dari kungkungan Gang Senggol. Di depan mereka, pemandangan sore hari Jakarta sudah berubah menjadi neraka kecil yang absurd. Kepulan asap hitam pekat membubung dari ban-ban bekas yang dibakar di tengah jalan, sementara bunyi KLANG-PRANG! dari botol sirup kosong dan batu kali yang beraduan dengan aspal saling bersahutan.

​Dua kelompok massa berbaju rombeng sedang asyik baku hantam. Ada yang mengacungkan gir motor yang diikat tali rafia, ada yang membawa bambu runcing, dan beberapa remaja di barisan belakang sibuk menyulut petasan kembang api ke arah lawan.

​Arya Prasetya, yang saat itu jiwanya masih terjebak di dalam tubuhnya yang bergerak sendiri akibat sistem, menjerit histeris di dalam batinnya. Gua emang kere, gua emang butuh duit buat bantu Bapak sama Ibu, tapi gua gak mau mati konyol jadi korban salah sasaran di sini! Sialan, ini aplikasi macam apa sih?! Apa HP gua kena hack malware Rusia?!

​Pikiran Arya berputar cepat. Dia benar-benar bingung setengah mati. Aplikasi di ponselnya tadinya adalah aplikasi ojol reguler yang biasa dia pakai mencari nafkah sehari-hari. Namun, tampilan yang sekarang menyala di stang motornya benar-benar gila. Di layar retak itu, titik penjemputan Alya Nindita ditandai dengan ikon perisai emas, dan jalur evakuasinya bercahaya neon terang. Arya yakin, di ponsel Alya, gadis itu pasti hanya melihat peta ojol biasa dengan tarif standar belasan ribu rupiah. Pelanggannya tidak tahu kalau driver yang menjemputnya sedang dipaksa oleh suara gaib di dalam kepala untuk melakukan aksi teatrikal tingkat tinggi.

​"Mas Arya! Di depan buntu! Mereka nutup jalan pake separator busway!"

​Teriakan Alya dari jok belakang memecah kepanikan batin Arya. Detik itu juga, Arya merasakan sebuah sensasi yang mendadak membuat seluruh sirkulasi darahnya berdesir hebat.

​Karena pengereman mendadak akibat kerumunan massa di depan mereka, tubuh Alya terdorong ke depan dengan keras. Punggung tegap Arya—yang terbentuk atletis alami karena tahunan membantu Ibunya mengangkat galon air isi ulang—langsung menangkap benturan yang sangat empuk, padat, dan hangat dari dada gadis itu. Tekanan yang begitu nyata itu membuat napas Arya sempat tercekat di tenggorokan. Wangi parfum premium Alya—campuran aroma vanila mahal dan bunga melati yang segar—mendadak merangsek masuk ke dalam sela-sela helm baret Arya, mengalahkan bau asap ban terbakar di sekitar mereka.

​Kedua tangan Alya yang mulus merayap maju, mencengkeram erat pinggang Arya. Melalui jaket ojolnya yang tipis dan sudah memudar, Arya bisa merasakan jari-jari lentik Alya yang gemetar, menempel begitu lekat pada otot perutnya yang keras. Goncangan motor yang tidak stabil membuat dada ranum Alya berulang kali bergesekan dengan punggung Arya, menciptakan gelombang getaran aneh yang mendadak memicu hormon maskulin Arya hingga bergejolak hangat di area bawah perutnya.

​Aduh, Neng... lu meluknya kencang banget. Gua cowok normal yang dididik sopan santun sama Bapak, tapi dalam situasi tawuran begini pun iman gua bisa goyang kalau ditempel spek bidadari begini! monolog Arya, berusaha keras menahan fokusnya agar tidak salah fokus pada kehangatan intim yang menempel di punggungnya.

​Namun, Skill: Charm of the Streets yang dipinjamkan sistem kembali mengambil alih kendali pita suaranya. Alih-alih berteriak ketakutan seperti ojol normal, Arya justru memiringkan kepalanya sedikit, memberikan sudut rahang tegasnya yang menawan, lalu berbisik dengan nada suara yang begitu berat, dalam, dan penuh karisma protektif.

​"Jangan khawatir, Nona Alya. Separator busway hanyalah pembatas beton buatan manusia, bukan pembatas takdir kita yang tertulis di langit. Pejamkan matamu, dan biarkan aku menjadi sayapmu sore ini."

​"M-Mas Arya... dalam kondisi dikepung begini kok masih sempet-sempatnya ngomong puitis begitu?!" jerit Alya. Wajahnya yang putih bersih mendadak merona merah padam, sangat kontras dengan rasa takutnya. Pipinya yang halus kini bersandar sepenuhnya di punggung Arya, mencari perlindungan. Deru napas Alya yang memburu dan terasa hangat kini menerpa ceruk leher belakang Arya, membuat bulu kuduk ojol tampan itu merinding diselimuti gairah tersembunyi yang tertahan.

​Di depan mereka, tiga begal yang tadi bertobat di Gang Senggol benar-benar melaksanakan tugas mereka sebagai vanguard dengan dedikasi luar biasa. Si bos begal bertato kalajengking berlari paling depan tanpa rasa takut. Dia memutar-mutar celuritnya di udara hingga membentuk lingkaran besi berkilau.

​"WOIIII KELOMPOK TAWURAN KERE! JALUR SUCI MAS OJOL GANTENG MAU LEWAT! YANG GAK MAU BERTOBAT, MINGGIR LU PADA!" raung si bos begal, air mata sisa pertobatannya masih membasahi pipinya yang bopeng.

​Begal kedua dan ketiga bertindak seperti perisai hidup di sisi kiri dan kanan. Mereka menangkap balok kayu yang melayang dari arah tawuran dengan tangan kosong, lalu melemparkannya kembali dengan kekuatan penuh. "Ayo Mas Ojol! Lari yang cepat! Amankan Neng Cantik itu!" teriak mereka bersahutan.

​"Pegangan yang erat, Neng! Kita terbang!" seru Arya, jiwanya berteriak pasrah sementara tangannya menarik tuas gas Supra Fit sedalam mungkin.

​VROOOOOOOOOOMMMMM!!!

​Knalpot Karismatik hasil pinjaman sistem itu kembali meraung dahsyat, mengeluarkan suara knalpot racing motor sport 1000cc yang menggetarkan kaca-kaca ruko di pinggir jalan. Motor bebek tua itu melesat lurus menuju separator busway setinggi satu meter yang memblokade jalan. Alih-alih menginjak rem, sistem Godjek memaksa Arya mengarahkan roda depannya menuju sebuah ban bekas yang sedang menyala terbakar, menggunakannya sebagai landasan lompat alami.

​ZUUUUUUUUUT!

​Motor Honda Supra Fit keluaran tahun 2006 itu terbang melayang di udara.

​Alya memekik pelan, secara refleks memeluk tubuh Arya dengan sangat erat dari belakang, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arya. Seluruh lekuk tubuh bagian depannya menempel tanpa celah pada punggung dan pinggang Arya. Sentuhan intim yang begitu intens di tengah udara itu membuat jantung Arya berdegup dua kali lebih cepat. Selama beberapa detik yang rasanya berjalan lambat, mereka melayang di langit sore Jakarta yang kelabu, dengan latar belakang ledakan petasan kembang api warna-warni yang saling bersahutan di bawah mereka. Pemandangan itu sungguh luar biasa indah dan romantis, sangat mirip dengan adegan film Hollywood, jika saja motor yang mereka naiki tidak memiliki sayap bodi yang bergetar hebat dengan bunyi klek-klek-klek akibat bautnya yang kendur.

​BRAKK!

​Arya mendarat dengan sangat mulus di jalur khusus busway yang kosong melompong di seberang barikade. Keajaiban sistem membuat suspensi motor bebeknya mendadak terasa seempuk mobil sedan mewah kelas atas, sehingga pantat indah Alya tidak mengalami benturan keras di jok belakang.

​Di belakang mereka, tiga begal tadi melambaikan tangan dengan penuh haru di tengah kepulan asap gas air mata. "Dadaaaah Mas Aryaaaa! Bimbing kami lewat jalur langit, Mas!" suara mereka perlahan menghilang seiring menjauhnya motor Arya.

​Begitu keluar dari zona tawuran, Arya terus memacu motornya membelah jalanan Jakarta yang mulai diguyur rintik hujan tipis. Rintik air yang dingin membasahi pakaian mereka, membuat kemeja putih tipis yang dikenakan Alya mulai agak basah dan melekat erat di tubuhnya. Arya bisa merasakan hawa dingin dari tubuh Alya yang bergetar kecil, memaksanya untuk semakin merapatkan tubuhnya pada punggung tegap Arya yang hangat. Kehangatan tubuh Arya seolah menjadi satu-satunya tempat berlindung bagi Alya di sore yang dingin itu.

​Tiga puluh menit kemudian, motor Supra Fit itu berhenti dengan perlahan di depan sebuah rumah mewah dua lantai di kawasan elite Kebayoran Baru. Pagar hitamnya yang tinggi menjulang, dengan papan nama kuningan bertuliskan: Kediaman Prof. Dr. dr. Handoyo, Sp.B. Suasana di sini begitu sunyi, tertib, dan hanya dihiasi suara gemercik air mancur dari arah taman depan.

​Arya memutar kunci kontak ke posisi OFF. Begitu mesin mati, Knalpot Karismatik yang tadinya mengilap seperti krom premium tiba-tiba memancarkan cahaya perak tipis, sebelum akhirnya kembali berubah menjadi besi berkarat yang lehernya disumpal bungkus plastik bekas gorengan. Skill Charm of the Streets di kepala Arya padam seketika. Jiwa ojol miskinnya yang pragmatis dan penuh beban hidup langsung kembali seratus persen.

​Arya buru-buru melepas helmnya, lalu menoleh ke belakang dengan wajah cemas yang dibuat-buat, meskipun ketampanannya tetap tidak bisa disembunyikan. "Mbak Alya! Mbak gak apa-apa, kan? Gak ada yang lecet? Aduh, maaf banget ya tadi jalurnya agak ekstrem sampai terbang begitu. Tolong banget ya Mbak, jangan kasih saya bintang satu. Akun saya bisa langsung disuspen sama kantor pusat kalau dapet bintang satu," mohon Arya dengan tampang memelas. Karisma alpha-male yang menawan tadi lenyap, digantikan oleh potret ojol biasa yang takut tidak bisa setor uang belanja ke ibunya besok.

​Alya turun dari motor secara perlahan. Dia melepas helm cadangan milik Arya yang ukurannya agak kebesaran, lalu mengibaskan rambut panjangnya yang hitam bergelombang. Rintik hujan yang membasahi kemeja putihnya membuat pakaian dalam berwarna gelap di balik kemejanya terlihat samar-samar, sebuah pemandangan sensual yang membuat mata Arya secara refleks melirik ke bawah sebelum dia buru-buru memalingkan wajahnya dengan telinga yang memerah panas akibat gejolak gairah muda.

​Alya menatap Arya dengan tatapan yang sangat dalam. Matanya yang indah tampak berbinar, memandangi setiap jengkal wajah tampan Arya yang kini tampak basah oleh rintik hujan dan keringat.

​"Mas Arya..." panggil Alya dengan suara yang agak serak namun terdengar sangat seksi di telinga Arya.

​"I-iya, Mbak?" Arya menelan ludah dengan susah payah, mengencangkan jaket ojolnya sendiri untuk menyembunyikan getaran di dadanya.

​Sebuah senyuman manis nan menggoda mengembang di bibir tipis Alya. Dia melangkah maju satu tapak, memangkas jarak di antara mereka hingga wangi tubuhnya kembali menguar kuat. "Mas Arya itu... ojol paling aneh, paling nekat, tapi juga paling jantan yang pernah aku temui seumur hidup."

​Alya merogoh tas ranselnya yang setengah basah, lalu mengeluarkan selembar uang berwarna merah—seratus ribu rupiah—dan menyelipkannya langsung ke telapak tangan Arya. Saat jemari mereka bersentuhan, Alya sengaja menggeser ibu jarinya pelan di punggung tangan Arya, memberikan sentuhan halus yang membuat bulu roma Arya berdiri.

​"Ini buat ongkosnya. Kembaliannya ambil aja buat beli knalpot baru atau... buat beli parfum yang lebih mahal supaya pas aku peluk lagi nanti, baunya lebih enak," bisik Alya dengan kedipan mata yang sangat menggoda. "Dan satu lagi... aku udah kasih rating."

​TING-TONG!

​Ponsel di saku celana jins Arya bergetar hebat. Suara asisten sistem wanita yang ramah namun berwibawa kembali bergema langsung di kepalanya.

​"Selamat kepada Mitra Arya! Anda telah menyelesaikan Misi Penyelamatan Visual Kelas Kakap dengan hasil Sempurna! Pelanggan Alya Nindita memberikan Rating Bintang 5 dengan ulasan: 'Ojolnya ganteng parah, pelukannya hangat, bisa bikin tobat begal pake gombalan, dan motornya bisa terbang. Highly recommended untuk dipeluk sepanjang jalan!'"

​"Menghitung Reward... Selesai! Karena ini adalah Bintang 5 pertama Anda di dalam sistem GODJEK, Anda mendapatkan hadiah permanen berikut:"

​[REWARD UTAMA: HP 'GOD-PHONE 13 PRO MAX' (Item Unik)]

Deskripsi: Smartphone khusus sistem yang tidak bisa rusak, anti-air, tidak perlu di-charge selamanya, dan memiliki sinyal gaib yang tembus hingga ke dasar neraka atau puncak khayangan.

​[REWARD BONUS: SKILL PERMANEN: 'MATA DEWA DOMPET KOSONG']

Deskripsi: Memungkinkan Pengguna untuk melihat nominal isi rekening bank atau jumlah uang tunai milik siapa pun hanya dengan menatap dahi mereka selama 3 detik.

​Arya berdiri terpaku di samping motornya. Sebelum dia sempat memikirkan apa itu fungsi 'Mata Dewa Dompet Kosong', pandangannya secara tidak sengaja tertuju pada dahi mulus Alya yang sedikit basah oleh air hujan. Arya menatapnya selama tiga detik penuh tanpa berkedip.

​BZZZT!

​Sebuah teks holografis berwarna hijau neon tiba-tiba muncul mengambang tepat di atas dahi Alya, hanya bisa dilihat oleh mata Arya.

​[Nama: Alya Nindita]

[Isi Gopay/OVO: Rp 4.250.000]

[Saldo Rekening BCA: Rp 145.230.000]

[Catatan Sistem: Anak tunggal dari Prof. Handoyo, dokter spesialis bedah terkaya di Jakarta. Uang jajan bulanannya bisa digunakan untuk membeli motor Supra Fit baru sebanyak 20 unit secara tunai.]

​Arya hampir saja tersedak air liurnya sendiri melihat deretan angka nol yang berbaris rapi di atas dahi gadis itu. Busret! Ini cewek bukan cuma cantik spek bidadari, tapi kaya rayanya gak ngotak! Pantesan aroma tubuhnya bau-bau duit premium! batin Arya menjerit iri bercampur kagum.

​"Mas Arya? Kok malah bengong melihat dahi aku begitu? Ada sesuatu ya di wajah aku?" tanya Alya sambil meraba dahinya sendiri, merasa heran dengan tatapan intens Arya yang seolah ingin menembus kulitnya.

​"Eh? Ah, enggak kok, Mbak! Dahinya... eh maksud saya, wajah Mbak bersih banget, gak ada kotoran," kata Arya buru-buru mengalihkan pembicaraan sambil memasukkan uang seratus ribu itu ke kantong celananya dengan tangan gemetar. "Makasih banyak buat uang dan bintang limanya, Mbak Alya. Ini sangat berarti buat kelangsungan perut saya hari ini."

​Alya terkekeh pelan, suara tawanya terdengar sangat renyah dan sensual di telinga Arya. Gadis itu membalikkan badannya untuk berjalan menuju pintu gerbang rumahnya yang megah, namun setelah mengambil beberapa langkah, dia kembali berhenti. Rintik hujan membuat pakaian putihnya semakin menempel, memperlihatkan lekuk pinggangnya yang ramping dengan sangat jelas. Dia menoleh ke arah Arya dengan tatapan menggoda.

​"Mas Arya..."

​"Ya, Mbak?"

​"Kalau nanti aku pesen ojol lagi... apa bisa langsung request driver-nya Mas Arya? Jujur, aku agak ketagihan dibonceng sama Mas," tanya Alya, bibirnya yang dilapisi lipstik tipis sedikit terbuka, memancarkan ketegangan romantis yang pekat di antara mereka di bawah guyuran hujan sore.

​Arya memberikan senyuman terbaiknya—senyuman jantan alami tanpa bantuan sistem yang bisa membuat pertahanan hati cewek mana pun runtuh. "Tenu saja, Mbak Alya. Aplikasi ojol saya selalu aktif khusus untuk Mbak. Jangankan menembus tawuran warga, menembus masa lalu Mbak yang sepi pun saya siap melayani."

​Alya menggigit bibir bawahnya pelan, tampak sangat tersipu mendengar jawaban Arya. Dia melambaikan tangannya yang mungil sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam gerbang rumahnya yang mewah.

​Arya menghela napas panjang, menatap uang seratus ribu di kantongnya dengan perasaan lega yang luar biasa. Dia melihat sebuah smartphone baru berwarna emas mewah—God-Phone 13 Pro Max—telah terpasang secara ajaib di holder stang motornya, menggantikan HP lamanya yang retak.

​"Uang seratus ribu ini pas banget buat modal Ibu belanja sayur besok, sisa ongkosnya bisa gua pake buat beli bensin pertalite full tank," gumam Arya tersenyum tulus. Meskipun sistem memberinya keajaiban ponsel dewa, mentalitas Arya tetaplah anak berbakti yang mengutamakan keluarganya di atas segalanya. Dengan hati yang ringan, Arya memutar arah motornya, melesat pulang menembus sore Jakarta untuk menyerahkan hasil keringatnya malam ini kepada sang ibu tercinta.

Terpopuler

Comments

Yuyu

Yuyu

🤣

2026-08-09

0

Panggil Zain Aja

Panggil Zain Aja

ganti nama jir

2026-07-30

0

lihat semua
Episodes
1 Ketampanan yang Sia-Sia
2 Barikade Tawuran & Bintang 5 Pertama
3 Aroma Kopi Mbak Sri dan Nasi Timbel Penuh Doa
4 Pacar Sewaan & Perut Buncit
5 Bonus dari Sang Ratu CEO
6 Jaket Baru
7 Rezeki
8 Protokol Darurat Sistem
9 Super Model Pedas Mampus!
10 Desahan Super Model
11 Tiara Puspita
12 Bebek Terbang
13 Panggilan Darurat Stabilitas Pangkalan Ojol Tambora
14 Misi Rahasia
15 Makan Malam Terbaik
16 Basecamp Baru
17 Restu Ibu
18 Preman Elite
19 Restu Mertua Elite
20 Reuni Hangat Dua Hati yang Terabaikan
21 Ciuman Pertama
22 Intrik Kopi Pagi
23 Pertemuan Tidak Terduga
24 Rahasia yang Terungkap
25 Menara Cakrawala
26 Kunang-Kunang di Tepi Kolam
27 Petuah Bapak
28 Fitnah Palsu di Ruang Rapat Federasi
29 Skandal Berita Pagi
30 Surat dari Kerajaan Pratama
31 Tim Legal di Bawah Pohon Beringin
32 Retak dari Dalam
33 Pak Karto dan Angin yang Berbalik
34 Suara yang Tidak Bisa Dibungkam
35 Yang Terjebak di Antara Dua Ketakutan
36 Panggilan dari Sang Patriark
37 Pilihan yang Tidak Pernah Adil
38 Sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Barat
39 Bayang-Bayang Lima Tahun Lalu
40 Barisan Preman di Bawah Pohon Beringin
41 Kebebasan yang Dibeli
42 Pengakuan di Warung Kopi Bekasi
43 Balapan Menuju Kebenaran
44 Berita Acara Pemeriksaan
45 Pulang ke Rumah, Ancaman Baru
46 Gedung Merah Putih
47 Kartu yang Disimpan
48 Jejak Sopir yang Hilang
49 Bengkel Kecil di Karawang
50 Sidang Praperadilan
51 Berlomba dengan Waktu
52 Status Tersangka
53 Vonis Pengadilan
54 Kambing Guling dan Kode Etik Rating Bintang Lima
55 Comeback Sang Ojol Tambora
56 Makan Malam di Menara Kaca
57 Genderowo Penunggu TPU
58 Sesajen Rokok Samsoe
59 Nasihat di Warkop, Panggilan dari Galeri
60 Sesi Foto di Galeri L'Amour
61 Viral di Linimasa
62 Kemeja yang Salah Kancing
63 Sidang Tanpa Palu
64 Pindahan
65 Balas Dendam Dedi Gacor
66 Masuk TV
67 Sofa Ruang Tunggu
68 Pria Sehat dan Isi Kepalanya
69 Toko yang Baru Buka
70 Panggilan Darurat
71 Terjebak di Loker
72 Lima Orang di Bawah Jembatan
73 Lima Orang di Bawah Jembatan
74 Foto yang Disimpan Tiga Puluh Tahun
75 Aroma Anggur
76 Pagi yang Kacau dan Sisi Lain Sang Bos
77 Tom Cat Jenis Predator dan Konspirasi Kerah Jaket
78 Salep Lavender dan Pengintai Gang Buntu
79 Kopi, Kanvas, dan Salep Lavender di Atas Paha Sang Ratu
80 Dansa Di Atas Bara dan Tamparan yang Sempurna
81 Gelombang Cemburu dan Antrean Janji
82 Skandal Pangkalan dan Orderan Abang-Abang Kesurupan K-Pop
83 Langkah Seirama dan Manisnya Es Krim
84 Punggung yang Menghangatkan Malam dan Janji di Bawah Langit Kota
85 Oppa Ojol, Pijatan Ajaib, dan Rahasia Kamar Alya
86 18+ Teori Anatomi, Keingintahuan Ilmiah, dan Gejolak di Atas Kasur Putih
87 Bumbu-Bumbu Dapur, Aroma Garam, dan Restu di Meja Makan
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Ketampanan yang Sia-Sia
2
Barikade Tawuran & Bintang 5 Pertama
3
Aroma Kopi Mbak Sri dan Nasi Timbel Penuh Doa
4
Pacar Sewaan & Perut Buncit
5
Bonus dari Sang Ratu CEO
6
Jaket Baru
7
Rezeki
8
Protokol Darurat Sistem
9
Super Model Pedas Mampus!
10
Desahan Super Model
11
Tiara Puspita
12
Bebek Terbang
13
Panggilan Darurat Stabilitas Pangkalan Ojol Tambora
14
Misi Rahasia
15
Makan Malam Terbaik
16
Basecamp Baru
17
Restu Ibu
18
Preman Elite
19
Restu Mertua Elite
20
Reuni Hangat Dua Hati yang Terabaikan
21
Ciuman Pertama
22
Intrik Kopi Pagi
23
Pertemuan Tidak Terduga
24
Rahasia yang Terungkap
25
Menara Cakrawala
26
Kunang-Kunang di Tepi Kolam
27
Petuah Bapak
28
Fitnah Palsu di Ruang Rapat Federasi
29
Skandal Berita Pagi
30
Surat dari Kerajaan Pratama
31
Tim Legal di Bawah Pohon Beringin
32
Retak dari Dalam
33
Pak Karto dan Angin yang Berbalik
34
Suara yang Tidak Bisa Dibungkam
35
Yang Terjebak di Antara Dua Ketakutan
36
Panggilan dari Sang Patriark
37
Pilihan yang Tidak Pernah Adil
38
Sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Barat
39
Bayang-Bayang Lima Tahun Lalu
40
Barisan Preman di Bawah Pohon Beringin
41
Kebebasan yang Dibeli
42
Pengakuan di Warung Kopi Bekasi
43
Balapan Menuju Kebenaran
44
Berita Acara Pemeriksaan
45
Pulang ke Rumah, Ancaman Baru
46
Gedung Merah Putih
47
Kartu yang Disimpan
48
Jejak Sopir yang Hilang
49
Bengkel Kecil di Karawang
50
Sidang Praperadilan
51
Berlomba dengan Waktu
52
Status Tersangka
53
Vonis Pengadilan
54
Kambing Guling dan Kode Etik Rating Bintang Lima
55
Comeback Sang Ojol Tambora
56
Makan Malam di Menara Kaca
57
Genderowo Penunggu TPU
58
Sesajen Rokok Samsoe
59
Nasihat di Warkop, Panggilan dari Galeri
60
Sesi Foto di Galeri L'Amour
61
Viral di Linimasa
62
Kemeja yang Salah Kancing
63
Sidang Tanpa Palu
64
Pindahan
65
Balas Dendam Dedi Gacor
66
Masuk TV
67
Sofa Ruang Tunggu
68
Pria Sehat dan Isi Kepalanya
69
Toko yang Baru Buka
70
Panggilan Darurat
71
Terjebak di Loker
72
Lima Orang di Bawah Jembatan
73
Lima Orang di Bawah Jembatan
74
Foto yang Disimpan Tiga Puluh Tahun
75
Aroma Anggur
76
Pagi yang Kacau dan Sisi Lain Sang Bos
77
Tom Cat Jenis Predator dan Konspirasi Kerah Jaket
78
Salep Lavender dan Pengintai Gang Buntu
79
Kopi, Kanvas, dan Salep Lavender di Atas Paha Sang Ratu
80
Dansa Di Atas Bara dan Tamparan yang Sempurna
81
Gelombang Cemburu dan Antrean Janji
82
Skandal Pangkalan dan Orderan Abang-Abang Kesurupan K-Pop
83
Langkah Seirama dan Manisnya Es Krim
84
Punggung yang Menghangatkan Malam dan Janji di Bawah Langit Kota
85
Oppa Ojol, Pijatan Ajaib, dan Rahasia Kamar Alya
86
18+ Teori Anatomi, Keingintahuan Ilmiah, dan Gejolak di Atas Kasur Putih
87
Bumbu-Bumbu Dapur, Aroma Garam, dan Restu di Meja Makan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!