Aroma Kopi Mbak Sri dan Nasi Timbel Penuh Doa

​Matahari pagi baru saja mengintip di sela-sela kabel listrik yang semrawut di atas gang pemukiman padat penduduk di daerah Tambora. Arya terbangun bukan karena suara alarm ponselnya, melainkan karena suara bapaknya yang sedang sibuk mengajak ngobrol burung perkututnya yang sudah tiga tahun tidak pernah mengeluarkan suara satu ketukan pun.

​"Ayo dong bunyilah, min-minimal berdehem gitu kayak bapak-bapak komplek," terdengar suara Pak Surya dari arah teras rumah yang hanya berukuran tiga kali tiga meter itu.

​Arya bangkit dari kasur lantai tipisnya sambil meregangkan otot-ofot tubuhnya. Dia hanya mengenakan kaos kutang putih dan celana pendek kain. Di balik pakaian sederhananya itu, tubuh Arya tampak sangat proporsional. Otot dada dan lengannya yang kencang terbentuk bukan karena olahraga di pusat kebugaran mahal, melainkan karena hasil bertahun-tahun membantu ibunya mengangkat galon air isi ulang dan mendorong motor Supra-nya yang hobi mogok. Wajah bangun tidurnya, dengan rambut yang sedikit acak-acakan dan rahang tegas yang dihiasi bayangan jenggot tipis, terlihat begitu menawan. Jika ada agensi model yang tersesat ke gang ini, Arya pasti sudah dikontrak menjadi bintang iklan parfum internasional.

​Namun, ketampanan kelas atas itu langsung buyar saat ibunya, Bu Aminah, masuk ke kamar sambil membawa sapu lidi.

​"Arya! Sudah jam enam lewat, ayo bangun! Itu motor sudah di-lap sama Bapak. Hari ini narik lagi, kan? Ini Ibu sudah buatkan nasi timbel pakai lauk sambal teri sama tahu potong," kata Bu Aminah dengan suara keibuannya yang renyah. Beliau menaruh sebuah bungkusan daun pisang yang rapi di atas meja kayu kecil.

​Arya tersenyum, hatinya mendadak hangat. Dia melangkah mendekati ibunya, lalu mencium tangan wanita yang wajahnya sudah dihiasi kerutan-kerutan halus itu. "Iya, Bu. Kemarin Arya dapet bonus seratus ribu dari penumpang. Uangnya sudah Arya taruh di bawah taplak meja makan buat tambahan beli beras."

​Bu Aminah tertegun sejenak. Matanya menatap Arya dengan binar penuh rasa syukur dan haru. Beliau mengelus pipi anak laki-lakinya itu dengan lembut. "Anak pintar... Meskipun kita hidup pas-pasan, yang penting uang yang kamu bawa pulang itu halal dan berkah, ya. Jangan pernah serakah di jalanan."

​"Siap, Bos Besar," canda Arya sambil memberi hormat militer yang membuat ibunya tertawa pelan.

​Di luar, Pak Surya yang melihat Arya sudah rapi memakai jaket ojol hijau lumutnya langsung menurunkan burung perkututnya. Pria tua itu menepuk pundak Arya dengan tangannya yang kasar. "Le, ingat pesan Bapak. Di jalanan itu kamu ketemu banyak orang. Ada yang baik, ada yang lagi pusing, ada yang galak. Kamu harus tetap sopan. Ketampananmu itu cuma bungkus, tapi isi di dalamnya—kejujuran dan caramu menghargai orang lain—itu yang bikin kamu jadi laki-laki sejati."

​Arya mengangguk dalam-dalam. Kata-kata bapaknya selalu menjadi obat penenang di tengah kerasnya jalanan ibu kota. "Iya, Pak. Arya berangkat dulu. Doakan hari ini akunnya gacor."

​Dua puluh menit kemudian, Arya sudah memarkirkan motor Supra Fit-nya di bawah pohon beringin rindang di samping Warkop Mbak Sri. Tempat ini adalah Markas "PODOMORO", basecamp para driver ojol lokal untuk melepaskan penat sembari menunggu notifikasi pesanan masuk.

​"Waaaaah, si Ganteng Tambora baru dateng nih!" seru Bang Jay, driver senior yang rambutnya sudah memutih setengah, sambil menghisap rokok kreteknya dalam-dalam. "Gimana kemarin, Ya? Katanya lu dapet orderan terbang melompati tawuran? Beneran lu pake khodam penglaris dari daerah Banten yang gua saranin?"

​Arya terkekeh sambil duduk di bangku panjang kayu, meletakkan helmnya. "Kagak ada khodam-khodaman, Bang Jay. Itu murni karena motor Supra gua lagi kesurupan aja kemarin."

​Di sudut lain, Dedi "Gacor" sedang sibuk menatap tiga buah ponsel yang dijajarkan di atas meja warkop. Tangannya bergerak cepat menekan tombol refresh. "Gua heran sama lu, Ya. HP lu merek apaan sih itu? Kemarin gua lihat mengkilap banget kayak emas murni. Terus sinyalnya penuh mulu padahal kita lagi di bawah pohon beringin yang biasanya bikin HP lemot. Bagi-bagi dong apk mod-nya!"

​Arya hanya bisa tersesat dalam senyum kecut di balik cangkir kopi hitamnya. Dia melirik ke arah stang motornya, di mana ponsel gaib God-Phone 13 Pro Max terpasang dengan kokoh. Hanya mata Arya yang bisa melihat bahwa layar ponsel itu sedang menampilkan hitungan mundur performa mingguan dan statistik "Poin Kepuasan Bidadari". Arya masih mengira aplikasi ini adalah semacam program eksperimental rahasia milik pemerintah yang salah sasaran masuk ke ponselnya. Dia belum sepenuhnya paham mengapa takdir memilih dirinya.

​"Mas Arya... kok kopinya cuma diminum dikit? Mau Mbak buatin susu jahe biar makin berstamina main di jalanan?" goda Mbak Sri, sang pemilik warkop, sambil menyandarkan tubuhnya di meja counter dengan pose yang sengaja dibuat agak manja. Kemeja batiknya yang agak ketat sedikit memperlihatkan lekuk dada dan pinggulnya yang berisi.

​Arya buru-buru memalingkan wajahnya, menyeka dahi dengan canggung. "Gak usah, Mbak Sri. Kopi hitam aja cukup kok, makasih banyak."

​Bang Jay dan Dedi langsung tertawa terbahak-bahak melihat Arya yang selalu salah tingkah jika digoda wanita. "Lu mah lempeng banget jadi cowok, Ya! Padahal kalau lu mau, janda kembang komplek ini udah lu dapet dari kemarin-kemarin!" ledek Bang Jay.

​[PERUBAHAN SUDUT PANDANG: POV ALYA NINDITA]

​Sementara itu, beberapa kilometer dari basecamp ojol, di dalam sebuah kamar tidur yang luas dan bernuansa merah muda pastel di kawasan Kebayoran Baru, Alya Nindita sedang duduk di tepi ranjang king size-nya. Di tangannya, sebuah ponsel pintar berlogo buah apel tergenggam erat. Layarnya sedang menampilkan halaman riwayat transaksi aplikasi ojek online miliknya.

​Mata indahnya menatap foto profil seorang driver bernama Arya Prasetya. Di foto itu, Arya tampak tersenyum canggung ke arah kamera dengan latar belakang tembok semen yang belum dicat, namun struktur wajahnya yang sempurna tetap terlihat begitu menawan.

​Alya menyentuh bibir bawahnya sendiri dengan ujung jari telunjuknya. Pikirannya kembali melayang ke kejadian kemarin sore di tengah guyuran hujan rintik-rintik. Kehangatan punggung tegap Arya, aroma tubuhnya yang maskulin bercampur wangi matahari yang anehnya sangat menenangkan, serta caranya berbisik dengan nada protektif yang begitu jantan di tengah kepungan tawuran warga... semuanya masih terekam jelas di benak Alya.

​Jantung Alya mendadak berdegup dua kali lebih cepat hanya dengan mengingat momen saat tubuhnya menempel tanpa celah di punggung Arya ketika motor bebek itu terbang melewati barikade separator beton. Kulitnya terasa berdesir, memberikan sensasi hangat yang belum pernah dia rasakan dari pria-pria kaya atau sesama mahasiswa kedokteran yang selama ini mencoba mendekatinya. Pria-pria itu biasanya hanya pamer mobil mewah atau kekayaan orang tua mereka, sangat berbeda dengan Arya yang mempertaruhkan nyawanya dengan berani demi keselamatan seorang pelanggan yang baru ditemuinya.

​"Arya Prasetya..." bisik Alya pelan, sebuah senyuman tipis yang penuh kerinduan mengembang di wajah cantiknya yang tanpa riasan. "Kenapa seorang ojol bisa punya karisma yang sekuat itu, sih? Kamu itu... sebenarnya siapa?"

​Alya menghela napas panjang, merapatkan kedua lututnya ke dada, lalu menyembunyikan wajahnya yang merona merah panas di balik bantalnya. Dia merasa sedikit malu pada dirinya sendiri karena telah memikirkan seorang driver ojol dengan cara yang begitu intim dan bergairah sepanjang malam.

​[KEMBALI KE POV ARYA]

​Di bawah pohon beringin Markas "PODOMORO", kedamaian Arya mampus seketika.

​BZZZZT!

​Ponsel gaib di stang motornya bergetar dengan frekuensi yang sangat kuat, hingga cangkir kopi di tangan Arya ikut bergetar. Suara asisten sistem wanita yang super ramah namun terdengar sangat mengancam kembali bergema secara eksklusif di dalam gendang telinga Arya.

​"Selamat pagi, Mitra Arya! Waktu bersantai Anda di bawah pohon keramat telah habis. Sistem GODJEK mendeteksi adanya pesanan premium yang baru saja masuk ke server reguler dari pelanggan cantik pilihan takdir! Waktu Anda untuk menekan tombol 'Terima' adalah sepuluh detik..."

​Arya mengumpat dalam hati, buru-buru meletakkan cangkir kopinya ke meja dengan bunyi TAK! yang membuat Bang Jay dan Dedi tersentak bingung. "Ada apa lu, Ya? Akun lu jebol?" tanya Dedi.

​"Kagak, Bang! Gua dapet tarikan darurat!" seru Arya berbohong.

​Di dalam kepalanya, suara sistem kembali melanjutkan dengan nada yang mendadak berubah menjadi sangat sensual sekaligus penuh jika diabaikan. "Peringatan kepada Mitra Arya: Jika Anda sengaja mengabaikan atau menolak pesanan ini, sistem akan mengaktifkan Mode Penalti Instan. Celana pendek jins yang Anda kenakan saat ini akan diuapkan secara gaib, dan tubuh Anda akan dipaksa mengenakan rok mini ketat bermotif macan tutul seksi milik biduan dangdut keliling di depan rekan-rekan ojol Anda sekarang juga."

​Keringat dingin langsung mengucur deras di punggung Arya. Membayangkan dirinya yang bertubuh kekar dan tampan harus berdiri di depan Bang Jay, Dedi, dan Mbak Sri sambil memakai rok mini macan tutul adalah sebuah mimpi buruk yang bisa menghancurkan sisa-sisa harga dirinya sebagai seorang pria sejati.

​"AMBIL! GUA AMBIL, JANGAN MACEM-MACEM LU SAMA ROK MACAN TUTUL!" teriak Arya histeris di dalam batinnya sambil jarinya menghantam layar God-Phone miliknya dengan kecepatan cahaya.

​TING-TONG!

​[ORDERAN KEDUA BERHASIL DI-INTERSEP & DI-UPGRADE!]

​Nama Pelanggan: Citra Kirana (Kategori: CEO Muda Cantik / Korban Penindasan Gengsi).

​Lokasi Penjemputan: Lobi Utama Grand Indonesia Mall (Kawasan Lobi Eksekutif Menara BCA).

​Misi: Menjelma menjadi pacar sewaan kelas atas untuk menyelamatkan Nona Citra dari intimidasi dan kesombongan mantan tunangannya dalam waktu 5 menit!

​Hadiah Awal (Dipinjamkan Sementara): Kekuatan: Karbo-Kinesis (Kemampuan mengendalikan kalori, lemak, dan kandungan karbohidrat makanan secara instan lewat tatapan mata).

​Arya ternganga menatap deskripsi misi di layar ponselnya. "Citra Kirana? CEO muda di Grand Indonesia? Terus ini apa lagi... Karbo-Kinesis? Mengendalikan kalori makanan secara instan buat apa di mall mewah?!" Arya menggelengkan kepalanya dengan pasrah, merasa logika dunia ini sudah benar-benar bergeser sejak aplikasi ini terpasang di HP-nya.

​Arya buru-buru memakai helm ink bututnya, mengambil bungkusan nasi timbel buatan ibunya yang penuh doa itu dan memasukkannya ke dalam bagasi motor bawah jok, lalu menghidupkan mesin Supra Fit-nya. Meskipun Knalpot Karismatiknya sudah berubah kembali menjadi besi berkarat, mesin motor itu entah bagaimana tetap terasa sangat responsif dan bertenaga berkat sisa energi sistem kemarin.

​"Bang Jay, Dedi, Mbak Sri! Gua cabut duluan ya! Ada panggilan negara di pusat kota!" seru Arya sambil menarik tuas gasnya kuat-kuat.

​"Yo! Hati-hati di jalan, Ya! Jangan lupa sapa khodam lu kalau ketemu di jalan!" teriak Bang Jay melambaikan tangan.

​Motor bebek tua itu melesat membelah jalanan Tambora, menuju kawasan megah Grand Indonesia Mall di pusat Jakarta. Arya merapatkan jaket ojolnya yang mulai diterpa angin kencang, bersiap menghadapi badai kesalahpahaman, komedi absurd, dan tensi romansa baru yang jauh lebih panas bersama sang CEO cantik bertubuh molek yang sedang menunggunya di lobi mewah.

Terpopuler

Comments

Panggil Zain Aja

Panggil Zain Aja

bolelah, karakter sampingan aja punya nuansa yang hidup👍

2026-07-30

1

lihat semua
Episodes
1 Ketampanan yang Sia-Sia
2 Barikade Tawuran & Bintang 5 Pertama
3 Aroma Kopi Mbak Sri dan Nasi Timbel Penuh Doa
4 Pacar Sewaan & Perut Buncit
5 Bonus dari Sang Ratu CEO
6 Jaket Baru
7 Rezeki
8 Protokol Darurat Sistem
9 Super Model Pedas Mampus!
10 Desahan Super Model
11 Tiara Puspita
12 Bebek Terbang
13 Panggilan Darurat Stabilitas Pangkalan Ojol Tambora
14 Misi Rahasia
15 Makan Malam Terbaik
16 Basecamp Baru
17 Restu Ibu
18 Preman Elite
19 Restu Mertua Elite
20 Reuni Hangat Dua Hati yang Terabaikan
21 Ciuman Pertama
22 Intrik Kopi Pagi
23 Pertemuan Tidak Terduga
24 Rahasia yang Terungkap
25 Menara Cakrawala
26 Kunang-Kunang di Tepi Kolam
27 Petuah Bapak
28 Fitnah Palsu di Ruang Rapat Federasi
29 Skandal Berita Pagi
30 Surat dari Kerajaan Pratama
31 Tim Legal di Bawah Pohon Beringin
32 Retak dari Dalam
33 Pak Karto dan Angin yang Berbalik
34 Suara yang Tidak Bisa Dibungkam
35 Yang Terjebak di Antara Dua Ketakutan
36 Panggilan dari Sang Patriark
37 Pilihan yang Tidak Pernah Adil
38 Sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Barat
39 Bayang-Bayang Lima Tahun Lalu
40 Barisan Preman di Bawah Pohon Beringin
41 Kebebasan yang Dibeli
42 Pengakuan di Warung Kopi Bekasi
43 Balapan Menuju Kebenaran
44 Berita Acara Pemeriksaan
45 Pulang ke Rumah, Ancaman Baru
46 Gedung Merah Putih
47 Kartu yang Disimpan
48 Jejak Sopir yang Hilang
49 Bengkel Kecil di Karawang
50 Sidang Praperadilan
51 Berlomba dengan Waktu
52 Status Tersangka
53 Vonis Pengadilan
54 Kambing Guling dan Kode Etik Rating Bintang Lima
55 Comeback Sang Ojol Tambora
56 Makan Malam di Menara Kaca
57 Genderowo Penunggu TPU
58 Sesajen Rokok Samsoe
59 Nasihat di Warkop, Panggilan dari Galeri
60 Sesi Foto di Galeri L'Amour
61 Viral di Linimasa
62 Kemeja yang Salah Kancing
63 Sidang Tanpa Palu
64 Pindahan
65 Balas Dendam Dedi Gacor
66 Masuk TV
67 Sofa Ruang Tunggu
68 Pria Sehat dan Isi Kepalanya
69 Toko yang Baru Buka
70 Panggilan Darurat
71 Terjebak di Loker
72 Lima Orang di Bawah Jembatan
73 Lima Orang di Bawah Jembatan
74 Foto yang Disimpan Tiga Puluh Tahun
75 Aroma Anggur
76 Pagi yang Kacau dan Sisi Lain Sang Bos
77 Tom Cat Jenis Predator dan Konspirasi Kerah Jaket
78 Salep Lavender dan Pengintai Gang Buntu
79 Kopi, Kanvas, dan Salep Lavender di Atas Paha Sang Ratu
80 Dansa Di Atas Bara dan Tamparan yang Sempurna
81 Gelombang Cemburu dan Antrean Janji
82 Skandal Pangkalan dan Orderan Abang-Abang Kesurupan K-Pop
83 Langkah Seirama dan Manisnya Es Krim
84 Punggung yang Menghangatkan Malam dan Janji di Bawah Langit Kota
85 Oppa Ojol, Pijatan Ajaib, dan Rahasia Kamar Alya
86 18+ Teori Anatomi, Keingintahuan Ilmiah, dan Gejolak di Atas Kasur Putih
87 Bumbu-Bumbu Dapur, Aroma Garam, dan Restu di Meja Makan
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Ketampanan yang Sia-Sia
2
Barikade Tawuran & Bintang 5 Pertama
3
Aroma Kopi Mbak Sri dan Nasi Timbel Penuh Doa
4
Pacar Sewaan & Perut Buncit
5
Bonus dari Sang Ratu CEO
6
Jaket Baru
7
Rezeki
8
Protokol Darurat Sistem
9
Super Model Pedas Mampus!
10
Desahan Super Model
11
Tiara Puspita
12
Bebek Terbang
13
Panggilan Darurat Stabilitas Pangkalan Ojol Tambora
14
Misi Rahasia
15
Makan Malam Terbaik
16
Basecamp Baru
17
Restu Ibu
18
Preman Elite
19
Restu Mertua Elite
20
Reuni Hangat Dua Hati yang Terabaikan
21
Ciuman Pertama
22
Intrik Kopi Pagi
23
Pertemuan Tidak Terduga
24
Rahasia yang Terungkap
25
Menara Cakrawala
26
Kunang-Kunang di Tepi Kolam
27
Petuah Bapak
28
Fitnah Palsu di Ruang Rapat Federasi
29
Skandal Berita Pagi
30
Surat dari Kerajaan Pratama
31
Tim Legal di Bawah Pohon Beringin
32
Retak dari Dalam
33
Pak Karto dan Angin yang Berbalik
34
Suara yang Tidak Bisa Dibungkam
35
Yang Terjebak di Antara Dua Ketakutan
36
Panggilan dari Sang Patriark
37
Pilihan yang Tidak Pernah Adil
38
Sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Barat
39
Bayang-Bayang Lima Tahun Lalu
40
Barisan Preman di Bawah Pohon Beringin
41
Kebebasan yang Dibeli
42
Pengakuan di Warung Kopi Bekasi
43
Balapan Menuju Kebenaran
44
Berita Acara Pemeriksaan
45
Pulang ke Rumah, Ancaman Baru
46
Gedung Merah Putih
47
Kartu yang Disimpan
48
Jejak Sopir yang Hilang
49
Bengkel Kecil di Karawang
50
Sidang Praperadilan
51
Berlomba dengan Waktu
52
Status Tersangka
53
Vonis Pengadilan
54
Kambing Guling dan Kode Etik Rating Bintang Lima
55
Comeback Sang Ojol Tambora
56
Makan Malam di Menara Kaca
57
Genderowo Penunggu TPU
58
Sesajen Rokok Samsoe
59
Nasihat di Warkop, Panggilan dari Galeri
60
Sesi Foto di Galeri L'Amour
61
Viral di Linimasa
62
Kemeja yang Salah Kancing
63
Sidang Tanpa Palu
64
Pindahan
65
Balas Dendam Dedi Gacor
66
Masuk TV
67
Sofa Ruang Tunggu
68
Pria Sehat dan Isi Kepalanya
69
Toko yang Baru Buka
70
Panggilan Darurat
71
Terjebak di Loker
72
Lima Orang di Bawah Jembatan
73
Lima Orang di Bawah Jembatan
74
Foto yang Disimpan Tiga Puluh Tahun
75
Aroma Anggur
76
Pagi yang Kacau dan Sisi Lain Sang Bos
77
Tom Cat Jenis Predator dan Konspirasi Kerah Jaket
78
Salep Lavender dan Pengintai Gang Buntu
79
Kopi, Kanvas, dan Salep Lavender di Atas Paha Sang Ratu
80
Dansa Di Atas Bara dan Tamparan yang Sempurna
81
Gelombang Cemburu dan Antrean Janji
82
Skandal Pangkalan dan Orderan Abang-Abang Kesurupan K-Pop
83
Langkah Seirama dan Manisnya Es Krim
84
Punggung yang Menghangatkan Malam dan Janji di Bawah Langit Kota
85
Oppa Ojol, Pijatan Ajaib, dan Rahasia Kamar Alya
86
18+ Teori Anatomi, Keingintahuan Ilmiah, dan Gejolak di Atas Kasur Putih
87
Bumbu-Bumbu Dapur, Aroma Garam, dan Restu di Meja Makan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!