GODJEK

GODJEK

Ketampanan yang Sia-Sia

Knalpot motor Honda Supra Fit keluaran tahun 2006 itu terbatuk-batuk, mengeluarkan asap tipis sewarna abu-abu monyet, sebelum akhirnya lepas sepenuhnya dari leher mesin dengan bunyi KLANG-PRANG! yang memekakkan telinga.

​Raka Prasetya menghela napas panjang. Pria itu menepikan motornya di bahu jalan layang Non-Tol Antasari yang sedang terik-teriknya. Dengan gerakan perlahan yang terlihat amat dramatis, dia melepas helm ink-nya yang kacanya sudah baret-baret karena sering tergores stang motor lain di parkiran.

​Begitu helm itu terlepas, beberapa pasang mata dari pengendara mobil yang terjebak macet di sebelahnya langsung tertuju pada Raka. Rambut hitamnya yang sedikit basah oleh keringat jatuh dengan acak-acakan yang justru terlihat estetis di dahinya. Rahang tegas, hidung mancung lurus, dan sepasang mata elang yang tajam namun tampak lelah. Jika Raka memakai setelan jas mahal di dalam sebuah drama Korea, dia adalah tipe CEO muda yang dingin yang siap membeli seluruh gedung di kawasan SCBD.

​Sayangnya, dia tidak sedang memakai jas. Raka memakai jaket ojek online hijau yang warnanya sudah memudar menjadi hijau lumut kelaparan, lengkap dengan noda bekas kecap siomay di bagian lengan kanan. Ketampanan kelas atas itu langsung anjlok bebas ke kerak bumi begitu dia berjongkok dan memungut knalpotnya yang panas menggunakan kresek bekas gorengan.

​"Kenapa setiap kali gua mau nyari duit halal, takdir selalu ngajak berantem, sih?" gumam Raka pada diri sendiri. Suaranya yang berat dan deep—yang biasanya bisa membuat mahasiswi semester awal gemetaran—kini hanya terdengar merana di pinggir jalan raya.

​Hari ini adalah hari terburuk dalam kalender kerja Raka sebagai driver ojol. Sejak jam enam pagi hingga jam dua siang, dia baru mendapatkan dua orderan. Yang pertama adalah mengantar bapak-bapak seberat seratus dua puluh kilo ke pasar ikan, dan yang kedua adalah membelikan pembalut titipan seorang mbak-mbak kosan yang salah pin lokasi hingga Raka harus berputar arah sejauh lima kilometer. Tabungannya di rekening tinggal delapan belas ribu rupiah. Dompetnya bahkan lebih tipis daripada selembar tisu dibagi dua.

​Raka menatap layar ponselnya. Aplikasi ojek online reguler miliknya masih berputar dengan tulisan "Mencari Pesanan..." yang sangat tidak membantu.

​"Kalau sampai jam tiga gak ada tarikan, gua terpaksa buka puasa pake promag lagi," Raka mengeluh, menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan.

​Tiba-tiba, layar ponsel Raka yang retak di bagian sudut kiri bawah itu berkedip-kedip hebat. Layarnya mendadak berubah menjadi hitam pekat, sebelum sebuah logo baru muncul di tengahnya. Logo itu berbentuk kepala motor ojol tradisional, tetapi di atasnya bertengger sebuah lingkaran cahaya malaikat (halo) berwarna emas neon.

​BZZZZT!

​Ponselnya bergetar begitu kuat hingga tangan Raka hampir kesemutan. Sebuah kotak dialog berwarna merah darah muncul dengan tulisan teks berhuruf Gothic yang sangat tidak santai.

​[PEMBERITAHUAN SISTEM: KUALIFIKASI TERPENUHI!]

​Pengguna: Raka Prasetya (Status: Tampan tapi Kere Parah).

Aplikasi "GODJEK" (God-Level Ojek System) telah berhasil diinstal secara paksa ke dalam perangkat Anda.

Mulai detik ini, performa hidup Anda diukur berdasarkan Rating & Review Bintang 5.

​Raka mengerjapkan matanya. Dia memukul-mukul bagian belakang ponselnya ke telapak tangan, mengira layarnya sedang terkena virus akibat kemarin dia salah mengeklik link download anime bajakan. "Wah, rusak nih HP. Mana gak ada duit buat servis ke Roxy."

​Namun, suara itu tidak keluar dari pengeras suara ponselnya. Suara itu menggema langsung di dalam kepalanya dengan nada suara perempuan yang sangat ramah, sangat profesional, layaknya Customer Service bank swasta, tetapi kalimatnya sungguh biadab.

​"Selamat siang, Mitra Raka! Anda mendapatkan satu pesanan darurat khusus kategori 'Penyelamatan Visual Kelas Kakap'. Waktu Anda untuk menekan tombol 'Terima' adalah sepuluh detik," suara itu bergema di gendang telinga Raka.

​"Hah? Pesanan apa? Virus sialan, keluar dari HP gua!" Raka panik, jarinya sibuk menekan tombol power berkali-kali untuk mematikan ponselnya, namun layar itu tetap bergeming.

​Di layar, angka hitung mundur mulai berjalan dengan warna merah menyala.

​09...

08...

07...

​"Peringatan kepada Mitra Raka," suara CS ramah itu kembali terdengar, kali ini dengan intonasi yang sedikit lebih tajam. "Jika Anda tidak mengambil orderan ini dalam waktu 10 detik, sistem akan memberikan penalti instan. Motor bebek Supra Fit Anda yang knalpotnya copot itu akan diubah secara permanen menjadi sepeda roda tiga Barbie warna merah muda legendaris."

​Raka terbelalak. "Eh, bentar! Jangan main-main lu ya! Ini motor satu-satunya peninggalan buat nyari makan!"

​03...

02...

​Bayangan dirinya yang bertubuh tegap, berwajah tampan bak aktor papan atas, namun harus menggenjot sepeda roda tiga kecil berwarna pink sambil membawa helm ink butut di tengah jalanan Sudirman langsung terlintas di benak Raka. Itu bukan sekadar penalti ekonomi, itu adalah pembunuhan karakter dan harga diri secara total.

​"IYA GUA AMBIL! GUA AMBIL, SIALAN!" teriak Raka frustrasi sambil menekan layar ponselnya dengan kasar.

​TING-TONG!

​Sebuah bunyi lonceng yang sangat merdu terdengar, disusul dengan kembang api digital yang meledak-ledak di layar ponselnya.

​[ORDERAN BERHASIL DITERIMA!]

​Nama Pelanggan: Alya Nindita (Kategori: Mahasiswi Kedokteran Cantik/Butuh Pertolongan Segera).*

​Lokasi Penjemputan: Gang Senggol Buntu, Sektor 4 (Daerah Rawan Tawuran & Begal).*

​Misi: Antar Nona Alya menembus barikade tawuran dan kejaran begal malam dengan selamat tanpa ada lecet seujung kuku pun.*

​Hadiah Awal (Dipinjamkan Sementara): Knalpot Karismatik (Item Unik) & Skill: Charm of the Streets.*

​Raka ternganga membaca detail orderan tersebut. "Tunggu dulu... Gang Senggol Sektor 4? Itu kan daerah yang kalau siang aja polisi mikir dua kali buat masuk, apalagi ini udah mau sore? Terus ini apa? Hadiah dipinjamkan?"

​Sebelum Raka sempat protes lebih jauh, kresek hitam berisi knalpot motornya yang berada di tanah tiba-tiba memancarkan cahaya keperakan. Knalpot Supra butut yang tadinya berkarat, penyok, dan penuh oli hitam itu mendadak berganti wujud. Besinya berubah menjadi krom mengilap yang sangat bersih, bahkan saking mengilapnya, Raka bisa melihat pantulan wajah gantengnya dengan sangat jelas di permukaan besi tersebut.

​Lebih gilanya lagi, knalpot itu melayang sendiri dan terpasang secara otomatis ke leher mesin motor Supra-nya dengan bunyi KLIK yang sangat presisi.

​VROOOMMM!

​Motor Raka tiba-tiba menyala sendiri tanpa perlu diengkol. Suara mesin yang biasanya terdengar seperti mesin jahit rusak berumur seratus tahun, kini berubah drastis menjadi suara raungan mesin superbike empat silinder berkapasitas 1000cc yang sangat padat, berat, dan... seksi. BRUMMM! BRUMMM!

​"Ini... ini beneran motor gua?" Raka terbata-bata, menyentuh jok motornya yang mendadak terasa lebih empuk.

​Tidak hanya itu, sebuah kehangatan aneh tiba-tiba mengalir dari stang motor masuk ke dalam lengan Raka, menjalar hingga ke dadanya. Kepala Raka mendadak dipenuhi oleh ribuan baris kalimat rayuan gombal, teknik melirik yang mematikan, serta cara berbisik yang bisa membuat seorang biarawati meragukan imannya.

​[Sistem: Skill 'Charm of the Streets' (Aktif Sementara)! Anda kini memiliki pesona jalanan yang tidak bisa ditolak oleh makhluk hidup apa pun yang memiliki hati nurani.]

Raka memegangi kepalanya yang agak pusing akibat transfer informasi instan tersebut. "Apa-apaan ini... 'Neng, bapak kamu tukang kebun ya? Soalnya kamu telah menanamkan benih cinta di hatiku...' Hah?! Kenapa otak gua isinya ginian semua?!" Raka bergidik ngeri dengan isi pikirannya sendiri.

​Namun, waktu tidak menunggunya. Di sudut atas layar ponsel, sebuah peta navigasi dengan garis bercahaya emas menunjukkan jalan pintas menuju lokasi Alya. Jaraknya sekitar tiga kilometer dari tempatnya berdiri.

​"Bintang lima... demi bintang lima dan demi menyelamatkan motor gua dari kutukan sepeda Barbie," Raka meyakinkan dirinya sendiri. Dia memakai kembali helmnya, menaiki motor Supranya yang kini bersuara garang, lalu menarik gas.

​ZUUUT!

​Motor bebek tua itu melesat ke depan dengan kecepatan yang tidak masuk akal, meninggalkan kepulan debu dan puluhan pengendara mobil yang melongo melihat sebuah Supra Fit melaju secepat mobil balap Formula 1.

​Sementara itu, tiga kilometer dari sana, atmosfer di sekitar Gang Senggol benar-benar sedang mencekam.

​Matahari mulai condong ke barat, melemparkan bayangan panjang di antara dinding-dinding batako yang penuh dengan coretan pilox. Di ujung gang buntu itu, seorang gadis muda berdiri dengan punggung menempel erat pada tembok. Dia adalah Alya Nindita. Wajahnya yang putih bersih tampak pucat pasi, beberapa anak rambutnya menempel di dahi karena keringat dingin. Alya mengenakan kemeja putih khas mahasiswi koas kedokteran dan rok sepan hitam yang kini sedikit kotor. Tas ranselnya dia dekap erat di depan dada seolah itu adalah satu-satunya perisai yang dia miliki.

​Di depannya, sekitar lima langkah jaraknya, tiga orang pria berbadan tegap dengan pakaian rombeng sedang menyeringai. Salah satu dari mereka memutar-mutar sebuah celurit kecil di jarinya, sementara yang lain memegang balok kayu dengan paku yang menonjol di ujungnya. Mereka adalah komplotan begal lokal yang memanfaatkan momen tawuran antar-warga yang sedang pecah di jalan utama untuk menjebak korban yang tersesat.

​"Aduh, Neng Cantik... ngapain main ke sini sore-sore? Nyasar ya?" kata si bos begal, seorang pria dengan tato kalajengking di lehernya yang baunya seperti campuran alkohol murah dan keringat tiga hari tidak mandi. "Sini, tasnya abang bawain. HP-nya juga sekalian, biar abang yang jagain."

​"J-jangan mendekat!" suara Alya bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. Dia merutuki dirinya sendiri karena tadi terlalu percaya pada aplikasi peta di ponselnya yang menyarankan jalan pintas ini untuk menghindari macet tawuran di depan kampus. Sekarang, dia justru terjebak di gang buntu tanpa ada orang yang bisa menolongnya.

​"Jangan teriak, Neng. Di luar lagi rame orang bacok-bacokan. Gak bakal ada yang denger," kata begal kedua sambil melangkah maju, tangannya terjulur untuk merebut tas Alya.

​Alya memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap untuk skenario terburuk dalam hidupnya. Dia berdoa dalam hati, berharap ada keajaiban yang datang, meskipun dia tahu di tempat sekotor ini, keajaiban adalah barang yang sangat langka.

​VROOOOOOOOOMMMMM!!!

​Tiba-tiba, sebuah suara raungan mesin yang sangat menggelegar memecah kesunyian gang. Suara itu begitu bertenaga, seolah-olah ada seekor monster besi raksasa yang sedang mengamuk di ujung jalan. Tiga begal itu tersentak dan menoleh ke belakang dengan panik.

​Dari tikungan gang, sebuah motor meluncur dengan kecepatan tinggi. Motor itu melakukan teknik drifting yang sangat mulus di atas tanah berpasir, memutar bodi motornya seratus delapan puluh derajat sebelum berhenti tepat di antara Alya dan ketiga begal tersebut. Debu-debu beterbangan, menciptakan efek dramatis seperti kemunculan pahlawan di film-film aksi.

​Namun, begitu debu itu agak menipis, seringai kebingungan muncul di wajah para begal.

​"Hah? Ojol?" celetuk si bos begal dengan nada tidak percaya.

​Di atas motor bebek Supra Fit yang bodinya sudah agak longgar dan diikat karet ban di beberapa bagian itu, duduk seorang pria dengan jaket hijau pudar. Pria itu mematikan mesin motornya. Suara raungan knalpot mewah tadi langsung lenyap, berganti dengan kesunyian yang canggung.

​Raka melepas helmnya lagi. Dia menatap ketiga begal itu, lalu melirik ke arah Alya yang berada di belakangnya. Monolog batin Raka langsung berteriak histeris: Busret, ini mahasiswi kedokterannya spek bidadari begini! Benar-benar sistem gak main-main kalau nyari pelanggan!

​"Mbak Alya ya? Yang pesen Godjek?" tanya Raka dengan nada sesantai mungkin, meskipun tangannya sebenarnya agak gemetaran melihat celurit di tangan si begal.

​Alya ternganga. Dia melihat ponsel di tangannya. Di sana tertera nama driver: Raka Prasetya (Supra Fit B 4607 TFR). "I-iya, Mas... tapi kok bisa masuk ke sini? Ini kan dikepung begal!" Alya panik, buru-buru memperingatkan.

​Si bos begal tertawa terbahak-bahak hingga giginya yang ompong kelihatan. "Hahaha! Pahlawan kesiangan! Oy, Ojol tampang artis! Lu salah masuk panggung ya? Nyawa lu mau gua taruh di mana hari ini?"

​Begal kedua maju sambil mengacungkan balok kayunya. "Serahin motor lu, serahin dompet lu, terus lu boleh pergi sambil merangkak!"

​Raka menelan ludah. Dalam kondisi normal, Raka pasti sudah memutar motornya dan kabur secepat mungkin sambil berteriak minta tolong. Namun, begitu dia berniat untuk mundur, sebuah getaran hangat kembali menyengat dadanya dari arah stang motor. Skill Charm of the Streets miliknya terpicu secara paksa oleh sistem.

​Mata Raka mendadak berubah. Sorot matanya yang tadi penuh ketakutan, kini berubah menjadi sangat sayu, penuh karisma, dan terkesan sangat misterius. Tubuhnya bergerak sendiri di luar kendalinya. Dia turun dari motor dengan gerakan yang sangat anggun, seolah-olah dia sedang berjalan di atas catwalk Paris Fashion Week, bukan di gang becek penuh sampah.

​Raka melangkah mendekati si bos begal yang memegang celurit.

​"Mas... apa kamu tidak lelah?" kata Raka tiba-tiba. Suaranya mendadak berubah menjadi sangat berat, lembut, dan memiliki gema seksi yang aneh.

​Si bos begal mengerutkan kening, langkahnya terhenti. "Hah? Lelah apa maksud lu?!"

​Raka tidak berhenti berjalan hingga jarak mereka hanya tinggal satu jengkal. Raka kemudian mengangkat tangan kanannya, mengabaikan celurit tajam yang berada di depan dadanya. Dengan jari-jarinya yang panjang dan rapi, Raka menyentuh dagu si bos begal yang kasar berjanggut itu, lalu mengangkatnya sedikit agar mata mereka saling bertatapan secara mendalam.

​"Lelah menyembunyikan luka di balik tajamnya besi itu," bisik Raka dengan tatapan mata yang begitu intens, seolah dia bisa melihat langsung ke dalam lubuk jiwa si begal. "Aku tahu, jalanan ini dingin. Tapi apakah hatimu harus ikut membeku? Celurit ini bisa melukai tubuh orang lain, tapi... siapa yang akan menyembuhkan luka di hatimu yang merindukan kasih sayang yang tulus?"

​Alya yang berada di belakang Raka langsung membekap mulutnya sendiri dengan mata membelalak sempurna. Ini... ini ojol lagi ngapain?! Kok malah ngegombalin begal?! batin Alya menjerit antara bingung, syok, dan terpesona melihat garis rahang Raka dari samping.

​Begal kedua dan ketiga yang tadinya siap memukul Raka, mendadak menurunkan senjata mereka. Mereka saling berpandangan, lalu menatap Raka dan bos mereka dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

​Si bos begal yang disentuh dagunya oleh Raka mendadak tubuhnya menjadi kaku. Tatapan mata Raka yang menggunakan kekuatan sistem itu seperti sebuah laser yang menembus seluruh pertahanan mentalnya. Kilasan masa lalunya yang kurang kasih sayang dari orang tua, sering ditolak cewek saat remaja, dan terpaksa jadi kriminal karena tuntutan ekonomi tiba-tiba berputar di otaknya.

​"M-Mas..." suara si bos begal mendadak bergetar. Celurit di tangannya terlepas begitu saja dan jatuh ke tanah dengan bunyi dentang pelan.

​"Menangislah jika itu berat," lanjut Raka, memberikan senyuman tipis yang sangat mematikan, lengkap dengan kedipan mata sebelah yang dipaksakan oleh sistem. "Jalanan punya banyak cerita, tapi hari ini, biarkan aku menjadi pendengar setiamu."

​BRET!

​Pertahanan mental si bos begal runtuh sepenuhnya. Pria bertato kalajengking itu langsung berlutut di depan Raka, memegangi celana jins Raka yang sudah robek di bagian lutut, lalu menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil yang kehilangan balonnya.

​"HUWAAAAAAA!!! MAS OJOL!!! KOK LU BISA TAHU?! GUA SEBENARNYA CUMA MAU DIHARGAIN, MAS!!! GUA CAPEK JADI ORANG JAHAT!!!" raung si bos begal dengan air mata dan ingus yang bercucuran rata.

​Begal kedua ikut menjatuhkan balok kayunya dan berlutut di samping bosnya sambil sesenggukan. "Gua juga, Mas! Gua jadi begal cuma buat beli susu anak gua, tapi gua selalu ngerasa berdosa setiap malam! Huuuu..."

​Begal ketiga bahkan sudah bersimpuh sambil memeluk ban depan motor Supra Fit Raka. "Motor ini... motor ini suaranya mengingatkan gua pada rahim ibu gua yang hangat... Mas Ojol, tolong bimbing kami ke jalan yang benar!"

​Raka yang jiwanya masih sadar di dalam tubuhnya sendiri sebenarnya ingin berteriak: Kalian apa-apaan, sih?! Lepasin celana gua! Najis banget ini ingus semua! Sistem sialan, ini kekuatan macam apa yang lu kasih ke gua?!

​Namun, secara fisik, Raka hanya tersenyum bijak, menepuk-nepuk pundak si bos begal dengan penuh wibawa. "Sudah, sudah. Sekarang, tugas kalian adalah membantu jalanku. Aku harus mengantar putri cantik ini ke tujuannya dengan aman. Bisakah kalian melakukannya?"

​Si bos begal langsung berdiri tegak, menghapus air matanya dengan lengan baju, lalu memberi hormat militer kepada Raka. "SIAP, KAPTEN! Apapun demi Mas Ojol! Jangankan gang ini, satu kecamatan bakal kami amankan!"

​Begal kedua langsung mengambil celuritnya kembali, tetapi kali ini posisinya bukan untuk merampok. Dia berdiri di depan sebagai pembuka jalan. "Semuanya awas! Jalur suci Mas Ojol mau lewat! Yang berani ganggu, gua tebas lu pada!"

​Alya yang menyaksikan seluruh kejadian supernatural-komedi ini dari awal sampai akhir merasa otaknya sudah tidak berfungsi dengan benar. Dia adalah mahasiswi kedokteran yang rasional, terbiasa dengan sains dan logika. Tapi melihat tiga begal sadis mendadak tobat dan berubah menjadi bodyguard ojol hanya karena sebuah kalimat gombalan jalanan... ini adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah dia lihat seumur hidupnya.

​Raka berbalik, menatap Alya, lalu menyodorkan helm cadangan yang talinya sudah agak berserabut. Karisma sistemnya masih aktif sekitar tiga puluh persen. "Silakan naik, Nona Alya. Perjalanan kita mungkin agak sedikit bergelombang, tapi aku jamin, perlindunganku jauh lebih pasti daripada masa depan mantanmu."

​Wajah Alya mendadak merona merah sehangat kepiting rebus. Dia menerima helm itu dengan tangan gemetar, memakainya, lalu naik ke jok belakang Supra Fit Raka. Begitu dia duduk, dia bisa mencium aroma parfum murah Raka yang entah kenapa terasa sangat maskulin di hidungnya.

​"M-Makasih ya, Mas Raka..." bisik Alya pelan, menyembunyikan wajahnya di balik punggung tegap Raka.

​"Pegang yang erat, Neng. Kita akan menembus badai," kata Raka dengan nada keren.

​Raka menyalakan mesin motornya. VROOOOOOMMM! Suara mesin superbike itu kembali menggelegar. Tiga begal tadi berlari di depan motor Raka bagaikan pasukan vanguard presiden, membuka jalan, mengusir kelompok tawuran yang sedang melempar batu di ujung gang, dan memastikan motor Raka bisa melaju tanpa hambatan sedikit pun.

​Sepanjang jalan keluar dari daerah konflik itu, Raka tidak henti-hentinya berteriak di dalam hati, bersyukur sekaligus mengutuk aplikasi misterius yang kini tersemat di kantong celananya. Satu hal yang pasti: hidupnya sebagai ojol tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini.

Terpopuler

Comments

Panggil Zain Aja

Panggil Zain Aja

asli, kalau lo nahan biar ga keluar dari ni novel. SERU BANGET ANJER😹

2026-07-30

1

Yuyu

Yuyu

ngakak

2026-08-08

0

lihat semua
Episodes
1 Ketampanan yang Sia-Sia
2 Barikade Tawuran & Bintang 5 Pertama
3 Aroma Kopi Mbak Sri dan Nasi Timbel Penuh Doa
4 Pacar Sewaan & Perut Buncit
5 Bonus dari Sang Ratu CEO
6 Jaket Baru
7 Rezeki
8 Protokol Darurat Sistem
9 Super Model Pedas Mampus!
10 Desahan Super Model
11 Tiara Puspita
12 Bebek Terbang
13 Panggilan Darurat Stabilitas Pangkalan Ojol Tambora
14 Misi Rahasia
15 Makan Malam Terbaik
16 Basecamp Baru
17 Restu Ibu
18 Preman Elite
19 Restu Mertua Elite
20 Reuni Hangat Dua Hati yang Terabaikan
21 Ciuman Pertama
22 Intrik Kopi Pagi
23 Pertemuan Tidak Terduga
24 Rahasia yang Terungkap
25 Menara Cakrawala
26 Kunang-Kunang di Tepi Kolam
27 Petuah Bapak
28 Fitnah Palsu di Ruang Rapat Federasi
29 Skandal Berita Pagi
30 Surat dari Kerajaan Pratama
31 Tim Legal di Bawah Pohon Beringin
32 Retak dari Dalam
33 Pak Karto dan Angin yang Berbalik
34 Suara yang Tidak Bisa Dibungkam
35 Yang Terjebak di Antara Dua Ketakutan
36 Panggilan dari Sang Patriark
37 Pilihan yang Tidak Pernah Adil
38 Sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Barat
39 Bayang-Bayang Lima Tahun Lalu
40 Barisan Preman di Bawah Pohon Beringin
41 Kebebasan yang Dibeli
42 Pengakuan di Warung Kopi Bekasi
43 Balapan Menuju Kebenaran
44 Berita Acara Pemeriksaan
45 Pulang ke Rumah, Ancaman Baru
46 Gedung Merah Putih
47 Kartu yang Disimpan
48 Jejak Sopir yang Hilang
49 Bengkel Kecil di Karawang
50 Sidang Praperadilan
51 Berlomba dengan Waktu
52 Status Tersangka
53 Vonis Pengadilan
54 Kambing Guling dan Kode Etik Rating Bintang Lima
55 Comeback Sang Ojol Tambora
56 Makan Malam di Menara Kaca
57 Genderowo Penunggu TPU
58 Sesajen Rokok Samsoe
59 Nasihat di Warkop, Panggilan dari Galeri
60 Sesi Foto di Galeri L'Amour
61 Viral di Linimasa
62 Kemeja yang Salah Kancing
63 Sidang Tanpa Palu
64 Pindahan
65 Balas Dendam Dedi Gacor
66 Masuk TV
67 Sofa Ruang Tunggu
68 Pria Sehat dan Isi Kepalanya
69 Toko yang Baru Buka
70 Panggilan Darurat
71 Terjebak di Loker
72 Lima Orang di Bawah Jembatan
73 Lima Orang di Bawah Jembatan
74 Foto yang Disimpan Tiga Puluh Tahun
75 Aroma Anggur
76 Pagi yang Kacau dan Sisi Lain Sang Bos
77 Tom Cat Jenis Predator dan Konspirasi Kerah Jaket
78 Salep Lavender dan Pengintai Gang Buntu
79 Kopi, Kanvas, dan Salep Lavender di Atas Paha Sang Ratu
80 Dansa Di Atas Bara dan Tamparan yang Sempurna
81 Gelombang Cemburu dan Antrean Janji
82 Skandal Pangkalan dan Orderan Abang-Abang Kesurupan K-Pop
83 Langkah Seirama dan Manisnya Es Krim
84 Punggung yang Menghangatkan Malam dan Janji di Bawah Langit Kota
85 Oppa Ojol, Pijatan Ajaib, dan Rahasia Kamar Alya
86 18+ Teori Anatomi, Keingintahuan Ilmiah, dan Gejolak di Atas Kasur Putih
87 Bumbu-Bumbu Dapur, Aroma Garam, dan Restu di Meja Makan
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Ketampanan yang Sia-Sia
2
Barikade Tawuran & Bintang 5 Pertama
3
Aroma Kopi Mbak Sri dan Nasi Timbel Penuh Doa
4
Pacar Sewaan & Perut Buncit
5
Bonus dari Sang Ratu CEO
6
Jaket Baru
7
Rezeki
8
Protokol Darurat Sistem
9
Super Model Pedas Mampus!
10
Desahan Super Model
11
Tiara Puspita
12
Bebek Terbang
13
Panggilan Darurat Stabilitas Pangkalan Ojol Tambora
14
Misi Rahasia
15
Makan Malam Terbaik
16
Basecamp Baru
17
Restu Ibu
18
Preman Elite
19
Restu Mertua Elite
20
Reuni Hangat Dua Hati yang Terabaikan
21
Ciuman Pertama
22
Intrik Kopi Pagi
23
Pertemuan Tidak Terduga
24
Rahasia yang Terungkap
25
Menara Cakrawala
26
Kunang-Kunang di Tepi Kolam
27
Petuah Bapak
28
Fitnah Palsu di Ruang Rapat Federasi
29
Skandal Berita Pagi
30
Surat dari Kerajaan Pratama
31
Tim Legal di Bawah Pohon Beringin
32
Retak dari Dalam
33
Pak Karto dan Angin yang Berbalik
34
Suara yang Tidak Bisa Dibungkam
35
Yang Terjebak di Antara Dua Ketakutan
36
Panggilan dari Sang Patriark
37
Pilihan yang Tidak Pernah Adil
38
Sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Barat
39
Bayang-Bayang Lima Tahun Lalu
40
Barisan Preman di Bawah Pohon Beringin
41
Kebebasan yang Dibeli
42
Pengakuan di Warung Kopi Bekasi
43
Balapan Menuju Kebenaran
44
Berita Acara Pemeriksaan
45
Pulang ke Rumah, Ancaman Baru
46
Gedung Merah Putih
47
Kartu yang Disimpan
48
Jejak Sopir yang Hilang
49
Bengkel Kecil di Karawang
50
Sidang Praperadilan
51
Berlomba dengan Waktu
52
Status Tersangka
53
Vonis Pengadilan
54
Kambing Guling dan Kode Etik Rating Bintang Lima
55
Comeback Sang Ojol Tambora
56
Makan Malam di Menara Kaca
57
Genderowo Penunggu TPU
58
Sesajen Rokok Samsoe
59
Nasihat di Warkop, Panggilan dari Galeri
60
Sesi Foto di Galeri L'Amour
61
Viral di Linimasa
62
Kemeja yang Salah Kancing
63
Sidang Tanpa Palu
64
Pindahan
65
Balas Dendam Dedi Gacor
66
Masuk TV
67
Sofa Ruang Tunggu
68
Pria Sehat dan Isi Kepalanya
69
Toko yang Baru Buka
70
Panggilan Darurat
71
Terjebak di Loker
72
Lima Orang di Bawah Jembatan
73
Lima Orang di Bawah Jembatan
74
Foto yang Disimpan Tiga Puluh Tahun
75
Aroma Anggur
76
Pagi yang Kacau dan Sisi Lain Sang Bos
77
Tom Cat Jenis Predator dan Konspirasi Kerah Jaket
78
Salep Lavender dan Pengintai Gang Buntu
79
Kopi, Kanvas, dan Salep Lavender di Atas Paha Sang Ratu
80
Dansa Di Atas Bara dan Tamparan yang Sempurna
81
Gelombang Cemburu dan Antrean Janji
82
Skandal Pangkalan dan Orderan Abang-Abang Kesurupan K-Pop
83
Langkah Seirama dan Manisnya Es Krim
84
Punggung yang Menghangatkan Malam dan Janji di Bawah Langit Kota
85
Oppa Ojol, Pijatan Ajaib, dan Rahasia Kamar Alya
86
18+ Teori Anatomi, Keingintahuan Ilmiah, dan Gejolak di Atas Kasur Putih
87
Bumbu-Bumbu Dapur, Aroma Garam, dan Restu di Meja Makan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!