Alya menyelesaikannya. Pecahan keramik terakhir sudah dibuang ke tempat sampah, dan darah di jarinya telah diusap bersih.
Ia kembali berdiri di depan bak cuci piring, memutar keran, dan membiarkan air dingin membilas tangannya.
"Cepat dikit napa, Alya!" teriak Ratna dari meja persiapan.
Ia melemparkan sebuah wajan kotor berbahan besi tempa yang cukup berat ke dalam bak.
Cipratan air sabun kotor langsung mengenai wajah dan baju kerja Alya.
Alya tidak mengeluh. Ia memejamkan mata sejenak, mengusap wajahnya dengan lengan baju, lalu mengambil sabut besi.
Wiwin menghampiri Ratna sambil membawa nampan berisi potongan daging ayam. "Lihat deh, Na. Mau digituin kayak gimana juga kagak bakal ngelawan. Bener-bener cewek benalu. Nggak punya harga diri."
"Bagus dong," sahut Ratna pelan seraya terkekeh. "Biar dia sadar diri. Orang lemah kayak dia itu pantesnya memang ditindas di tempat kerjaan keras kayak gini. Biar kapok dan keluar sendiri!"
Namun, mereka berdua tidak tahu... di bawah tumpukan busa sabun itu, otot-otot lengan Alya menegang sempurna. Ciri khas reflek terlatih seorang pembunuh.
Tapi Alya tidak terpengaruh dan ambil pusing, karena ia hanya ingin fokus bekerja.
"Sebaiknya kalian tidak menggangguku, selagi aku berbaik hati pada kalian," kata Alya memperingati sambil menatap Ratna dan Wiwin dengan tatapan dingin.
"K-kamu ngancam kita?!" cerca Ratna dengan suara agak gemetar, berusaha menutupi rasa takutnya. "Heh, Alya! Kamu itu cuma tukang cuci piring baru di sini! Sok banget ngomong kayak gitu!"
Wiwin yang berdiri di sampingnya ikut membusungkan dada, meski matanya tak berani menatap langsung ke dalam manik mata Alya. "Iya! Emangnya kamu siapa, hah? Jangan belagu deh! Masih mending kita sapa, dasar cewek sombong!"
Alya tidak membalas cercaan itu dengan emosi. Ia hanya mengalihkan pandangannya kembali ke arah bak cuci piring, meraih sebuah gelas kaca, dan membilasnya di bawah kucuran air keran. Gerakannya begitu tenang, hampir tanpa beban, yang justru membuat suasana makin mengintimidasi.
"Aku sudah memperingatkan kalian," sahut Alya pelan, hampir menyerupai bisikan. "Sekali saja. Jangan menguji kesabaranku."
"Wah, ngelunjak nih anak!" seru Ratna, mukanya memerah panas.
Alya melihat Ratna dari ujung matanya, sepertinya mereka tidak mau berhenti, sepertinya mereka memang harus di beri pelajaran.
Alya pun berjuang menuju ke kamar mandi, dan benar saja, Ratna dan Wiwin juga ikut ke kamar mandi.
Tanpa berpikir panjang, mereka ikut masuk dan mendorong Alya dengan sengaja.
"Ups! Maaf ya, sengaja!" cibir Ratna sambil tersenyum puas.
SREK.
Alya bergerak. Dalam kecepatan yang tak masuk akal bagi seorang wanita awam, Alya sudah berdiri tepat di belakang Ratna. Sebelum Ratna sempat berbalik, jemari Alya sudah mencekik leher bagian belakang Ratna dengan teknik kuncian nerve-point, sebuah teknik pelumpuhan instan.
"AAKH!" Ratna menjerit tertahan.
Seluruh tubuhnya mendadak lemas, lututnya berguncang hebat, dan napasnya seolah tersumbat di tenggorokan.
"R-Ratna?!" Wiwin terperanjat, matanya membelalak lebar melihat sahabatnya mendadak terkulai tak berdaya hanya dalam cengkeraman satu tangan Alya. "K-kamu apain Ratna?! Lepasin!"
Wiwin mencoba mendorong Alya, tetapi Alya hanya mengerlingkan matanya sedikit ke arah Wiwin.
Kilat pembunuh yang terpancar dari mata Alya membuat langkah Wiwin terhenti kaku di tempat. Kakinya gemetar hebat ingin berteriak minta tolong.
"To... "
Secepat kilat, tangan Alya mencengkam leher Wiwin membuat suaranya terdekat di tenggorokan.
"Piring keramik itu bisa diganti dengan uang. Tapi kalau batas kesabaranku yang pecah... nyawa kalian berdua tidak akan cukup untuk membayarnya," bisik Alya tepat di telinga Ratna dan Wiwin yang kini sudah mandi keringat dingin.
"A-Alya... a-ampun..." ratap Ratna terbata-bata, matanya berkaca-kaca menahan rasa sakit luar biasa di saraf lehernya. "M-maaf... maafin aku..."
Alya tidak segera melepaskannya. Ia membiarkan ketakutan itu meresap sedalam-dalamnya ke dalam jiwa kedua wanita tersebut.
Ia ingin memastikan bahwa ancaman ini tertanam sempurna, sehingga mereka tidak akan pernah berani mengganggunya lagi, demi menjaga ketenangan hidupnya.
"Sebut namaku sekali lagi dengan nada menghina... dan aku pastikan besok pagi kalian tidak akan pernah bisa bersuara lagi," kata Alya pelan
Alya lalu mengendurkan cengkeramannya dan mendorong Ratna pelan hingga wanita itu jatuh terduduk di lantai toilet.
Ratna terbatuk-batuk hebat sambil memegangi lehernya, sementara Alya mendorong tubuh Wiwin hingga menghantam dudukan toilet.
Brak!
"Akhhhh!" cicit Wiwin kesakitan.
"Apa kau Paham jika kalian tidak boleh menganggu ku?" tanyanya datar pada mereka berdua.
"P-paham, Alya! Paham!" jawab Ratna cepat dengan suara bersiap menangis. "K-kami nggak bakal ganggu kamu lagi! Kami janji!"
Alya tak merespons lagi. Ia berbalik keluar dari toilet tersebut.
Ratna bergegas menghampiri Wiwin dan bergegas bangun dengan bersusah payah, lalu berjalan kecil meninggalkan toilet,
Mereka pun meninggalkan area cuci piring tanpa berani menoleh sedikit pun ke belakang. Mereka benar-benar takut karena ancaman Alya bukan main-main
Alya mematikan keran air, lalu menghela napas panjang.
"Maafkan Ibu, Alisya..." batin Alya lirih. "Ibu sudah berjanji untuk tidak pernah menyakiti orang lain lagi. Tapi dunia ini... selalu memaksa Ibu untuk menjadi monster."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Ambu Rinddiany Thea
ga apa2 alya , hajar aja tuman , d kasih paham biar jera .. emang teman luknut ya harus d gituin ..
2026-08-05
1
Zaky
Selagi itu untuk kebaikan kenapa tidak, Alya? Jangan terlalu mudah kasihan dengan orang lain. Kamu perempuan tegas, enggak menye-menye, mau berjuang dan bangkit sendiri.
2026-08-09
1
Ria Gazali Dapson
tuman alya , tendang j mulut nya , gpp koq ,
2026-08-21
0