Antara Usaha dan Skenario yang gagal

Bagi Anya, kata menyerah tidak ada dalam kamus hidupnya, terutama jika itu menyangkut Edgard. Kejadian memalukan di meja makan seminggu lalu perlahan dia kubur dalam-dalam, digantikan oleh semburat ambisi baru. Jika Edgard menganggapnya anak kecil karena dia belum bekerja atau selalu membicarakan hal-hal sepele, maka Anya harus masuk ke dunia Edgard dengan caranya sendiri.

Pagi itu, suasana kantor pusat Baskoro Group tampak sibuk seperti biasa. Di lantai teratas gedung pencakar langit di kawasan Sudirman tersebut, Edgard sedang fokus memeriksa laporan keuangan kuartal kedua. Ketukan berirama di pintu ruangannya memecah keheningan.

"Masuk," ucap Edgard tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer.

Pintu terbuka, namun tidak ada suara langkah sepatu hak tinggi sekretarisnya. Yang terdengar justru langkah kaki yang agak ragu, disusul oleh aroma manis stroberi yang sangat familier. Edgard menghentikan jemarinya di atas papan ketik. Dia mendongak dan mendapati Anya berdiri di sana, mengenakan blazer formal berwarna krem yang ukurannya tampak sedikit kebesaran di tubuh kecilnya. Rambutnya dicepol rapi, mencoba meniru gaya wanita karier.

"Halo, Kak Edgard," sapa Anya dengan senyum paling manis yang bisa dia pamerkan. Di kedua tangannya, dia membawa sebuah kotak bekal berwarna pastel.

Edgard menghela napas pendek, menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. "Anya? Bagaimana kamu bisa masuk ke sini? Di mana Siska?"

"Oh, Mbak Siska tadi lagi ke toilet. Aku bilang aku adiknya Kak Edgard—maksudnya, calon... ah, maksudnya adik dari mitra Papa, jadi dijinin masuk," jawab Anya tangkas, menyembunyikan kegugupannya. Dia berjalan mendekat dan meletakkan kotak bekal itu di atas meja kerja Edgard yang rapi, tepat di samping tumpukan berkas penting.

Edgard melirik kotak itu, lalu beralih ke penampilan Anya. "Apa yang kamu lakukan dengan pakaian seperti itu? Dan apa ini?"

"Ini makan siang buat Kak Edgard! Aku tahu Kak Edgard pasti sibuk banget dan sering lupa makan. Ini aku sendiri yang masak, lho. Ayam teriyaki kesukaan Kakak," bohong Anya sedikit. Sebenarnya, dia hanya membantu memotong bawang, sisanya dikerjakan oleh koki di rumahnya. Tapi bagi Anya, niatnya tetaplah yang utama.

Edgard tidak menyentuh kotak itu. Dia justru melirik jam tangan peraknya. "Ini masih jam sepuluh pagi, Anya. Belum waktunya makan siang. Dan ini kantor, bukan tempat untuk bermain rumah-rumahan."

Kalimat dingin Edgard langsung menusuk ego Anya. Senyum di wajah gadis itu agak menyusut, namun dia berusaha bertahan. Dia menarik kursi di depan meja Edgard dan duduk di sana tanpa diminta.

"Aku enggak main-main, Kak. Aku sengaja ke sini karena aku peduli sama Kak Edgard. Aku juga pakai baju rapi begini supaya Kak Edgard tahu kalau aku sudah dewasa, aku bisa diajak bicara soal hal-hal serius," ujar Anya, memajukan tubuhnya dengan tatapan penuh kesungguhan.

Edgard menatap Anya lurus-lurus. Di matanya, usaha Anya justru terlihat menggelikan. Pakaian formal yang dikenakan gadis itu tidak membuatnya tampak dewasa, melainkan seperti anak kecil yang sedang meminjam baju ibunya untuk menghadiri pesta kostum.

"Anya, kedewasaan itu bukan diukur dari pakaian yang kamu pakai atau bekal yang kamu bawa ke kantor orang lain," kata Edgard, suaranya terdengar datar dan dingin, tanpa emosi. "Kedewasaan itu adalah tahu tempat dan situasi. Saat ini, saya sedang bekerja. Setiap menit saya di sini adalah uang dan tanggung jawab. Kamu berada di sini tanpa janji temu, mengganggu waktu saya, dan itu sangat tidak profesional."

Anya menggigit bibir bawahnya. Dadanya terasa sesak mendengar kata "mengganggu" keluar lagi dari mulut pria itu. "Aku cuma mau ketemu Kakak sebentar. Apa sesulit itu memberikan waktu lima menit buat aku? Kenapa kalau sama Kak Joana, Kak Edgard selalu punya waktu buat diskusi berjam-jam?"

Pertanyaan bernada cemburu itu membuat alis Edgard bertaut. "Joana adalah rekan diskusi yang sepadan. Kami bicara tentang bisnis yang menguntungkan kedua perusahaan. Sedangkan kamu? Kamu ke sini hanya untuk memuaskan keinginan kekanak-kanakanmu."

"Aku bukan anak kecil, Edgard!" Kali ini Anya kelepasan. Dia tidak memanggilnya dengan sebutan 'Kakak' lagi. Matanya mulai memanas, memerah menahan air mata yang mendesak ingin keluar.

Edgard tertegun sejenak mendengar bentakan Anya, namun ekspresi wajahnya kembali mengeras. "Jika kamu tidak ingin dianggap anak kecil, bersikaplah seperti orang dewasa. Tolong ambil bekalmu, dan keluar dari ruangan saya. Saya harus melanjutkan pekerjaan."

Anya berdiri dengan sentakan kasar. Dia menyambar kotak bekalnya dengan tangan gemetar. Rasa malu, marah, dan sakit hati bercampur menjadi satu di dadanya. Dia telah menghabiskan waktu dua jam untuk bersiap-siap, menembus kemacetan Jakarta dengan harapan bisa melihat senyum atau setidaknya apresiasi kecil dari Edgard. Namun yang dia dapatkan lagi-and-lagi adalah penolakan yang begitu telak.

"Kak Edgard jahat! Kak Edgard enggak punya hati!" tangis Anya pecah. Dia berbalik dan berlari keluar dari ruangan kerja Edgard tanpa memedulikan tatapan heran dari Siska, sekretaris Edgard yang baru saja kembali dari toilet.

Edgard hanya memandangi pintu yang tertutup rapat itu dengan pandangan datar. Dia tidak mengejar, tidak juga merasa bersalah. Baginya, Anya hanyalah gadis remaja yang sedang mengalami fase cinta monyet yang berlebihan. Dia percaya, bersikap dingin adalah cara terbaik agar Anya sadar dan berhenti melakukan hal-hal konyol seperti ini. Edgard kembali memfokuskan matanya pada layar komputer, melanjutkan analisis keuangannya seolah badai emosi Anya tidak pernah singgah di ruangannya.

Sementara itu, Anya berlari menuju lift dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. Di dalam lift yang sepi, dia memandangi pantulan dirinya di dinding kaca. Maskara yang dipakainya sedikit luntur di sudut mata. Dia merutuki dirinya sendiri yang terlihat begitu menyedihkan.

Sampai di lobi gedung, Anya berjalan dengan kepala tertunduk, memeluk kotak bekalnya erat-erat. Dia berjalan keluar menuju area parkir untuk mencari taksi. Namun, karena tidak fokus memperhatikan jalan, kakinya yang menggunakan sepatu hak tinggi setinggi lima sentimeter—yang belum terbiasa dia pakai—tersandung undakan semen pembatas taman.

Bruk!

Anya jatuh terduduk di atas paving blok. Kotak bekalnya terlempar, penutupnya terbuka, dan ayam teriyaki yang dibuatnya dengan susah payah kini berserakan di atas tanah, kotor terkena debu. Rasa sakit di pergelangan kakinya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Anya duduk di sana, di tengah terik matahari Jakarta, menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang begitu malang.

Beberapa orang yang lewat memandangnya dengan iba, namun tidak ada satu pun dari mereka yang mengenalnya. Di saat-saat seperti ini, Anya menyadari betapa rapuhnya dia. Segala cara kreatif, nekat, dan melelahkan yang dia lakukan selama ini untuk menarik perhatian Edgard selalu berakhir menjadi sebuah lelucon yang tidak lucu. Sikap Edgard yang selalu biasa saja dan sedingin es benar-benar mulai mengikis rasa percaya dirinya.

Namun, di balik tangisnya yang pilu, sebuah ego yang terluka di dalam diri gadis delapan belas tahun itu mulai berbisik. Dia menolak untuk kalah secepat ini. Dia akan mencari cara lain, cara yang lebih besar, yang tidak akan bisa diabaikan begitu saja oleh seorang Edgard Baskoro. Anya tidak pernah menduga bahwa langkah nekat berikutnya justru akan membawanya pada sebuah kenyataan yang akan menghancurkan seluruh harapannya berkeping-keping.

Episodes
1 Bab 1: Sisa Wangi Parfum di Hari Selasa
2 Antara Usaha dan Skenario yang gagal
3 Mengemis Perhatian dibalik Dinsing Es
4 Rahasia di Balik Meja Pertemuan
5 Ketika Seluruh Dunia menjadi Asinga
6 Dingin yang Membelakar Sisa Harapan
7 Titik Balik dan Murka Sang Papa
8 Gerbang Pengasingan dan Sumpah diujung Senja
9 Lembaran Baru di Kota Pahlawan
10 Tiga Ratus Enam Puluh Lima Hari Tanpa Suara
11 Riak di Air Tenang
12 Langkah Kaki di Atas Marmer Dingin
13 Perputaran Poros Takdir
14 Siasat di Balik Secangkir Kopi
15 Surat Digital dari Masa Lalu
16 Perisai yang Mengeras
17 Perban Putih dan Kecurigaan yang Tumbuh
18 Lilin Putih di Atas Reruntuhan
19 Melarikan Diri dari Bayang-bayang
20 Kabut, Badai, dan Sudut yang Terkunci
21 Panggilan dari Ibu Kota
22 Dilema di Ambang Batas
23 Keputusan di Ujung Malam
24 Gemuruh Kota yang Terlupakan
25 Panggung Eksekutif dan Pembelaan dari Balik Meja
26 Di Antara Bau Obat dan Batas Patah Hati
27 Air Hujan di Atas Aspal Sudirman
28 Serpihan Plastik dan Doa di Sepertiga Malam
29 Rekonsiliasi di Bawah Lampu Kamar 501
30 Perubahan Sikap Sang CEO Utama
31 Penghujung Babak dan Janji di Balik Tirai
32 Detik-Detik Menuju Puncak Skenario
33 Kejutan di Malam Sebelum Puncak
34 Mimbar Emas dan Pria di Balik Gerbang Utama
35 Sayap Perak Menuju Gerbang Baru
36 Ketukan di Pintu Sore Hari
37 Meja Makan dan Ujian Keangkuhan
38 Pondasi di Balik Bukit Hijau
39 Kilau Berlian di Malam Pertunangan
40 Kilas Rana di Ruang Imajinasi
41 Jamuan Rahasia di Ruang Kaca
42 Kursi Kepemimpinan dan Langkah Awal sang Direktur Utama
43 Helai Sutra dan Rahasia Mahar yang Unik
44 Air Siraman dan Untaian Doa yang Mengalir
45 Malam Midodareni
46 Fajar Janji dan Getar di Ujung Lisan
47 Ritual Panggih dan Basuhan di Atas Nampan Kuningan
48 Hutan Lili Kontemporer dan Rahasia Kamar Penthouse
49 Mahakarya Resepsi dan Dansa di Atas Hamparan Bintang
50 Wangi Lili di Atas Bukit Hijau
51 Lembaran Baru dan Desain Ruang Hampa
52 Badai Kritik Sang Presdir
53 Kehadiran Leo dan Retakan Pertama
54 Benih di Balik Blokade
55 Refleks di Balik Reruntuhan
56 Retakan di Dinding Es
57 Tembok yang Semakin Tinggi
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Bab 1: Sisa Wangi Parfum di Hari Selasa
2
Antara Usaha dan Skenario yang gagal
3
Mengemis Perhatian dibalik Dinsing Es
4
Rahasia di Balik Meja Pertemuan
5
Ketika Seluruh Dunia menjadi Asinga
6
Dingin yang Membelakar Sisa Harapan
7
Titik Balik dan Murka Sang Papa
8
Gerbang Pengasingan dan Sumpah diujung Senja
9
Lembaran Baru di Kota Pahlawan
10
Tiga Ratus Enam Puluh Lima Hari Tanpa Suara
11
Riak di Air Tenang
12
Langkah Kaki di Atas Marmer Dingin
13
Perputaran Poros Takdir
14
Siasat di Balik Secangkir Kopi
15
Surat Digital dari Masa Lalu
16
Perisai yang Mengeras
17
Perban Putih dan Kecurigaan yang Tumbuh
18
Lilin Putih di Atas Reruntuhan
19
Melarikan Diri dari Bayang-bayang
20
Kabut, Badai, dan Sudut yang Terkunci
21
Panggilan dari Ibu Kota
22
Dilema di Ambang Batas
23
Keputusan di Ujung Malam
24
Gemuruh Kota yang Terlupakan
25
Panggung Eksekutif dan Pembelaan dari Balik Meja
26
Di Antara Bau Obat dan Batas Patah Hati
27
Air Hujan di Atas Aspal Sudirman
28
Serpihan Plastik dan Doa di Sepertiga Malam
29
Rekonsiliasi di Bawah Lampu Kamar 501
30
Perubahan Sikap Sang CEO Utama
31
Penghujung Babak dan Janji di Balik Tirai
32
Detik-Detik Menuju Puncak Skenario
33
Kejutan di Malam Sebelum Puncak
34
Mimbar Emas dan Pria di Balik Gerbang Utama
35
Sayap Perak Menuju Gerbang Baru
36
Ketukan di Pintu Sore Hari
37
Meja Makan dan Ujian Keangkuhan
38
Pondasi di Balik Bukit Hijau
39
Kilau Berlian di Malam Pertunangan
40
Kilas Rana di Ruang Imajinasi
41
Jamuan Rahasia di Ruang Kaca
42
Kursi Kepemimpinan dan Langkah Awal sang Direktur Utama
43
Helai Sutra dan Rahasia Mahar yang Unik
44
Air Siraman dan Untaian Doa yang Mengalir
45
Malam Midodareni
46
Fajar Janji dan Getar di Ujung Lisan
47
Ritual Panggih dan Basuhan di Atas Nampan Kuningan
48
Hutan Lili Kontemporer dan Rahasia Kamar Penthouse
49
Mahakarya Resepsi dan Dansa di Atas Hamparan Bintang
50
Wangi Lili di Atas Bukit Hijau
51
Lembaran Baru dan Desain Ruang Hampa
52
Badai Kritik Sang Presdir
53
Kehadiran Leo dan Retakan Pertama
54
Benih di Balik Blokade
55
Refleks di Balik Reruntuhan
56
Retakan di Dinding Es
57
Tembok yang Semakin Tinggi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!