Ketika Seluruh Dunia menjadi Asinga

Malam perjamuan yang megah itu akhirnya usai, namun bagi Anya, badai baru saja dimulai. Jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Suara deru mobil para tamu yang pulang terdengar menjauh, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam rumah mewah tersebut. Anya masih terduduk di lantai, bersandarkan tempat tidur dengan gaun merah muda yang kini tampak kusut. Matanya sembap dan hidungnya memerah karena tangis yang tak kunjung reda.

Ketukan pelan di pintunya membuat Anya tersentak.

"Anya... ini Kak Joana. Buka pintunya, Sayang," terdengar suara lembut dari balik kayu jati tersebut.

Anya memejamkan mata erat-earat. Dia menyayangi kakaknya. Selama ini, Joana adalah pelindung dan tempatnya mengadu. Namun malam ini, melihat wajah Joana hanya akan mengingatkannya pada kenyataan pahit bahwa pria yang dia puja akan menjadi milik kakaknya. Rasa cemburu, kecewa, dan bersalah bercampur aduk, membuat Anya merasa sangat berdosa karena membenci situasi ini.

"Anya, tolong buka. Kakak mau bicara," bujuk Joana lagi.

Anya bangkit dengan perlahan. Kakinya terasa lemas. Dia berjalan mendekati pintu, memutar kunci, dan membukanya sedikit. Joana berdiri di sana dengan wajah penuh kecemasan. Gaun biru tuanya masih melekat anggun di tubuhnya.

"Ada apa, Kak? Anya capek, mau tidur," ucap Anya dengan suara serak, nyaris berbisik. Dia sengaja tidak membuka pintu lebar-lebar, membatasi jarak di antara mereka.

Joana menghela napas, menatap mata sembap adiknya dengan rasa iba yang mendalam. Sebagai kakak, Joana tidak buta. Dia tahu persis bagaimana perasaan Anya kepada Edgard selama ini. Dia tahu tentang pesan-pesan yang tidak pernah dibalas, tentang bekal makanan yang ditolak, dan tentang segala usaha nekat yang dilakukan Anya.

"Anya, Kakak minta maaf," kata Joana tulus, matanya ikut berkaca-kaca. "Kakak benar-benar tidak tahu kalau Papa dan Om Baskoro merencanakan perjodohan ini malam ini. Kakak tidak bermaksud merebut apa yang kamu suka."

Anya tertawa sumbang, sebuah tawa yang sarat akan rasa sakit hati. "Merebut? Memangnya sejak kapan Kak Edgard jadi milikku? Dia bahkan enggak pernah melihat aku, Kak. Jadi Kak Joana enggak salah. Kak Joana enggak merebut apa-apa."

"Tapi, Anya—"

"Lalu kenapa Kak Joana menerimanya?!" potong Anya, suaranya tiba-tiba meninggi, emosi yang dia tahan sejak di meja makan kini meluap. "Kalau Kak Joana tahu aku suka sama Kak Edgard, kenapa tadi Kakak diam saja? Kenapa Kakak enggak menolak? Kenapa Kakak malah tersenyum?!"

Joana tertegun. Dia mundur satu langkah, terkejut dengan ledakan kemarahan adiknya. "Anya, ini bukan sekadar masalah cinta monyet. Ini tentang bisnis Papa, tentang komitmen dua keluarga. Kakak tidak bisa begitu saja menolak di depan keluarga besar dan mempermalukan Papa."

"Jadi karena bisnis, Kakak rela mengorbankan perasaan adik sendiri?" air mata Anya kembali luruh membasahi pipinya. "Kak Joana tahu betapa aku mencintai Kak Edgard. Aku melakukan segalanya demi dia! Tapi malam ini, kalian semua merayakan pernikahan kalian di depan mukaku sendiri! Kalian kejam!"

"Anya! Jaga bicaramu!" sebuah suara bariton yang tegas dan menggelegar memotong perdebatan mereka.

Bramantyo walked up the stairs, his face red with anger. Di belakangnya, Mama mengikuti dengan wajah cemas, mencoba menenangkan suaminya. Papa menatap Anya dengan pandangan yang sangat tajam, penuh dengan kekecewaan dan amarah yang meluap-luap.

"Papa..." bisik Joana, mencoba menengahi. "Ini salah paham, Pa. Anya hanya sedang lelah."

"Jangan bela adikmu, Joana!" titah Papa dingin. Dia menatap Anya yang berdiri gemetar di ambang pintu kamarnya. "Anya, tindakanmu di meja makan tadi benar-benar memalukan! Kamu meninggalkan perjamuan tanpa izin, merusak suasana, dan sekarang kamu malah berteriak menyalahkan kakakmu?"

Anya mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Rasa takut pada Papanya malam ini kalah oleh rasa sakit hati yang teramat sangat. "Anya enggak salah, Pa! Kenapa Papa menjodohkan Kak Joana dengan Kak Edgard? Papa tahu kan kalau Anya suka sama Kak Edgard? Anya yang selama ini mengejar dia, bukan Kak Joana!"

"Cukup, Anya!" bentak Papa, suaranya menggema di seluruh koridor lantai dua. "Hentikan obsesi konyolmu itu! Edgard itu pria dewasa, calon penerus bisnis besar. Dia butuh pendamping yang sepadan, yang matang, dan bisa membantunya, seperti Joana! Bukan gadis kekanak-kanakan yang hanya tahu cara bersenang-senang dan merengek seperti kamu!"

Kalimat Papa bagai belati yang menusuk tepat di jantung Anya. Mengetahui bahwa ayahnya sendiri menganggapnya tidak berharga dan tidak sepadan dengan Edgard adalah jenis kehancuran yang mutlak. Anya menatap Papanya dengan pandangan tidak percaya.

"Jadi di mata Papa, Anya cuma anak bodoh yang enggak ada gunanya?" tanya Anya, suaranya bergetar hebat, air matanya mengalir semakin deras. "Karena Kak Joana pintar, Kak Joana cum laude, jadi Kak Joana boleh mendapatkan segalanya, termasuk pria yang Anya cintai? Papa enggak pernah memikirkan perasaan Anya sedikit pun!"

"Anya, jaga sopan santunmu pada Papa!" Mama akhirnya ikut bersuara, mencoba memperingatkan anaknya yang sudah kelewat batas.

"Perjodohan ini sudah final!" tegas Papa, tidak memedulikan tangisan putrinya. "Edgard dan Joana akan menikah setelah semua persiapan selesai. Dan kamu, Anya, Papa tidak akan membiarkanmu tinggal di rumah ini dan merusak hubungan mereka dengan tingkah lakumu yang egois dan kekanak-kanakan!"

Anya terdiam. Kata-kata Papa barusan terdengar seperti sebuah ancaman yang nyata. Dia memandangi satu per satu anggota keluarganya. Kakaknya yang menatapnya dengan rasa bersalah, Mamanya yang tampak pasrah, dan Papanya yang menatapnya dengan kemarahan murni. Di rumah ini, di tempat yang seharusnya menjadi tempat paling aman baginya, Anya mendadak merasa seperti orang asing. Dia merasa sendirian, terbuang, dan tidak diinginkan hanya karena dia berani mempertahankan perasaannya.

"Anya benci Papa. Anya benci kalian semua!" teriak Anya histeris.

Sebelum ada yang bisa merespons, Anya menarik pintu kamarnya dan membantingnya dengan kekuatan penuh. BRAAAKK! Bunyi dentuman pintu itu seolah menjadi tanda bahwa hubungan hangat di antara mereka telah runtuh malam itu. Anya mengunci pintunya kembali, lalu melemparkan dirinya ke atas tempat tidur, menenggelamkan wajahnya di bantal untuk meredam jerit tangisnya yang memilukan.

Dia tidak pernah tahu, bahwa penolakannya malam ini terhadap keputusan Papa akan membawa konsekuensi yang jauh lebih berat. Sebuah hukuman yang akan memisahkannya dari rumah ini, dari Jakarta, dan dari semua orang yang pernah dia kenal, mengirimnya ke sebuah kota baru yang asing untuk memulai hidup yang sama sekali berbeda.

Namun bagi Anya saat ini dia hanya ingin didengarkan, hanya ingin perasaannya di hargai bukan hanya untuk kerjasama kemitraan.

Episodes
1 Bab 1: Sisa Wangi Parfum di Hari Selasa
2 Antara Usaha dan Skenario yang gagal
3 Mengemis Perhatian dibalik Dinsing Es
4 Rahasia di Balik Meja Pertemuan
5 Ketika Seluruh Dunia menjadi Asinga
6 Dingin yang Membelakar Sisa Harapan
7 Titik Balik dan Murka Sang Papa
8 Gerbang Pengasingan dan Sumpah diujung Senja
9 Lembaran Baru di Kota Pahlawan
10 Tiga Ratus Enam Puluh Lima Hari Tanpa Suara
11 Riak di Air Tenang
12 Langkah Kaki di Atas Marmer Dingin
13 Perputaran Poros Takdir
14 Siasat di Balik Secangkir Kopi
15 Surat Digital dari Masa Lalu
16 Perisai yang Mengeras
17 Perban Putih dan Kecurigaan yang Tumbuh
18 Lilin Putih di Atas Reruntuhan
19 Melarikan Diri dari Bayang-bayang
20 Kabut, Badai, dan Sudut yang Terkunci
21 Panggilan dari Ibu Kota
22 Dilema di Ambang Batas
23 Keputusan di Ujung Malam
24 Gemuruh Kota yang Terlupakan
25 Panggung Eksekutif dan Pembelaan dari Balik Meja
26 Di Antara Bau Obat dan Batas Patah Hati
27 Air Hujan di Atas Aspal Sudirman
28 Serpihan Plastik dan Doa di Sepertiga Malam
29 Rekonsiliasi di Bawah Lampu Kamar 501
30 Perubahan Sikap Sang CEO Utama
31 Penghujung Babak dan Janji di Balik Tirai
32 Detik-Detik Menuju Puncak Skenario
33 Kejutan di Malam Sebelum Puncak
34 Mimbar Emas dan Pria di Balik Gerbang Utama
35 Sayap Perak Menuju Gerbang Baru
36 Ketukan di Pintu Sore Hari
37 Meja Makan dan Ujian Keangkuhan
38 Pondasi di Balik Bukit Hijau
39 Kilau Berlian di Malam Pertunangan
40 Kilas Rana di Ruang Imajinasi
41 Jamuan Rahasia di Ruang Kaca
42 Kursi Kepemimpinan dan Langkah Awal sang Direktur Utama
43 Helai Sutra dan Rahasia Mahar yang Unik
44 Air Siraman dan Untaian Doa yang Mengalir
45 Malam Midodareni
46 Fajar Janji dan Getar di Ujung Lisan
47 Ritual Panggih dan Basuhan di Atas Nampan Kuningan
48 Hutan Lili Kontemporer dan Rahasia Kamar Penthouse
49 Mahakarya Resepsi dan Dansa di Atas Hamparan Bintang
50 Wangi Lili di Atas Bukit Hijau
51 Lembaran Baru dan Desain Ruang Hampa
52 Badai Kritik Sang Presdir
53 Kehadiran Leo dan Retakan Pertama
54 Benih di Balik Blokade
55 Refleks di Balik Reruntuhan
56 Retakan di Dinding Es
57 Tembok yang Semakin Tinggi
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Bab 1: Sisa Wangi Parfum di Hari Selasa
2
Antara Usaha dan Skenario yang gagal
3
Mengemis Perhatian dibalik Dinsing Es
4
Rahasia di Balik Meja Pertemuan
5
Ketika Seluruh Dunia menjadi Asinga
6
Dingin yang Membelakar Sisa Harapan
7
Titik Balik dan Murka Sang Papa
8
Gerbang Pengasingan dan Sumpah diujung Senja
9
Lembaran Baru di Kota Pahlawan
10
Tiga Ratus Enam Puluh Lima Hari Tanpa Suara
11
Riak di Air Tenang
12
Langkah Kaki di Atas Marmer Dingin
13
Perputaran Poros Takdir
14
Siasat di Balik Secangkir Kopi
15
Surat Digital dari Masa Lalu
16
Perisai yang Mengeras
17
Perban Putih dan Kecurigaan yang Tumbuh
18
Lilin Putih di Atas Reruntuhan
19
Melarikan Diri dari Bayang-bayang
20
Kabut, Badai, dan Sudut yang Terkunci
21
Panggilan dari Ibu Kota
22
Dilema di Ambang Batas
23
Keputusan di Ujung Malam
24
Gemuruh Kota yang Terlupakan
25
Panggung Eksekutif dan Pembelaan dari Balik Meja
26
Di Antara Bau Obat dan Batas Patah Hati
27
Air Hujan di Atas Aspal Sudirman
28
Serpihan Plastik dan Doa di Sepertiga Malam
29
Rekonsiliasi di Bawah Lampu Kamar 501
30
Perubahan Sikap Sang CEO Utama
31
Penghujung Babak dan Janji di Balik Tirai
32
Detik-Detik Menuju Puncak Skenario
33
Kejutan di Malam Sebelum Puncak
34
Mimbar Emas dan Pria di Balik Gerbang Utama
35
Sayap Perak Menuju Gerbang Baru
36
Ketukan di Pintu Sore Hari
37
Meja Makan dan Ujian Keangkuhan
38
Pondasi di Balik Bukit Hijau
39
Kilau Berlian di Malam Pertunangan
40
Kilas Rana di Ruang Imajinasi
41
Jamuan Rahasia di Ruang Kaca
42
Kursi Kepemimpinan dan Langkah Awal sang Direktur Utama
43
Helai Sutra dan Rahasia Mahar yang Unik
44
Air Siraman dan Untaian Doa yang Mengalir
45
Malam Midodareni
46
Fajar Janji dan Getar di Ujung Lisan
47
Ritual Panggih dan Basuhan di Atas Nampan Kuningan
48
Hutan Lili Kontemporer dan Rahasia Kamar Penthouse
49
Mahakarya Resepsi dan Dansa di Atas Hamparan Bintang
50
Wangi Lili di Atas Bukit Hijau
51
Lembaran Baru dan Desain Ruang Hampa
52
Badai Kritik Sang Presdir
53
Kehadiran Leo dan Retakan Pertama
54
Benih di Balik Blokade
55
Refleks di Balik Reruntuhan
56
Retakan di Dinding Es
57
Tembok yang Semakin Tinggi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!