Mengemis Perhatian dibalik Dinsing Es

Rasa sakit di pergelangan kaki akibat jatuh di pelataran kantor Edgard sembuh dalam beberapa hari, namun luka di hati Anya justru semakin menganga. Bukannya jera, penolakan demi penolakan itu malah memicu keras kepalanya yang legendaris. Anya meyakinkan dirinya sendiri bahwa Edgard hanya belum terbiasa melihatnya sebagai wanita dewasa. Dia percaya, konsistensi adalah kunci untuk mencairkan gunung es seperti Edgard Baskoro.

Maka, dimulailah rangkaian rencana-rencana baru yang jauh lebih gencar.

Anya mulai mengirimi Edgard pesan singkat setiap pagi. Mulai dari ucapan sederhana seperti, "Selamat pagi, Kak Edgard! Jangan lupa sarapan, ya, hari ini Jakarta diprediksi hujan," hingga foto-foto pemandangan jalanan yang dia ambil saat berangkat kuliah. Namun, layar ponsel Anya lebih sering menampilkan status Read tanpa ada balasan sama sekali. Jika beruntung, Edgard hanya akan membalas dengan satu kata: "Ya." atau "Terima kasih." Pendek, padat, dan sangat menyakitkan.

Tidak berhenti di situ, Anya juga kerap memanfaatkan hubungan bisnis ayah mereka. Setiap kali Papa mengatakan bahwa Edgard akan datang ke rumah untuk mengantarkan dokumen atau sekadar mampir, Anya akan langsung heboh. Dia akan menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin, berganti-ganti pakaian hingga kamarnya berantakan seperti kapal pecah.

Sore itu, kesempatan itu datang lagi. Mobil Edgard memasuki pekarangan rumah keluarga Bramantyo. Anya, yang sudah menunggu di balik tirai jendela kamarnya sejak satu jam lalu, langsung berlari turun dengan setengah melompat. Dia sengaja membawa sebuah buku tebal tentang analisis saham—buku yang sebenarnya tidak dia pahami sama sekali, melainkan milik Joana yang dia pinjam diam-diam.

"Kak Edgard!" seru Anya riang, menghadang Edgard tepat di depan pintu masuk sebelum pria itu sempat mengetuk.

Edgard menghentikan langkahnya. Dia mengenakan setelan kerja abu-abu gelap tanpa dasi, terlihat sedikit lelah namun tetap memesona. Matanya melirik Anya yang berdiri dengan senyum lebar, lalu turun ke buku tebal yang didekap gadis itu di dadanya.

"Halo, Anya. Papamu ada di dalam?" tanya Edgard, suaranya sedatar biasanya, tanpa ada riak terkejut atau senang melihat kehadiran Anya.

"Papa lagi di ruang kerja, tapi katanya Kak Edgard disuruh tunggu di ruang tamu dulu," bohong Anya cepat. Padahal Papa sudah berpesan agar Edgard langsung masuk ke ruang kerjanya. Anya hanya ingin mencuri waktu beberapa menit bersama pria impiannya ini.

Edgard menghela napas, namun tetap melangkah masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Anya dengan sigap ikut duduk di sofa yang sama, berjarak hanya beberapa puluh sentimeter dari Edgard. Aroma parfum stroberi Anya kembali memenuhi ruangan, namun Edgard tampak tidak terganggu maupun tertarik. Dia mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik sesuatu dengan serius.

"Kak Edgard, aku lagi baca buku ini, lho," pancing Anya, menyodorkan buku analisis saham ke hadapan Edgard. "Aku rasa bab tentang pergerakan grafik pasar modal ini agak membingungkan. Menurut Kak Edgard, bagaimana cara membaca tren sentimen pasar yang benar?"

Anya sengaja menghafal kalimat itu dari internet semalam, berharap Edgard akan terkesan dan mengajaknya berdiskusi panjang lebar seperti yang biasa pria itu lakukan dengan Joana.

Edgard menghentikan ketukannya di ponsel. Dia menatap buku itu, lalu beralih menatap mata Anya yang memancarkan binar penuh kepura-puraan. Edgard adalah pria yang sangat peka. Dia tahu persis Anya sedang berakting.

"Anya," panggil Edgard pelan, namun nadanya begitu berat. "Kamu kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual, bukan Ekonomi atau Akuntansi."

Anya tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya langsung memerah karena tertangkap basah. "Ya... memang. Tapi kan enggak ada salahnya kalau aku mau belajar bisnis? Biar nanti kalau ngobrol sama Kak Edgard bisa nyambung."

Edgard meletakkan ponselnya di atas meja kaca. Dia memutar tubuhnya menghadap Anya, memberikan perhatian penuh yang ironisnya justru membuat Anya merasa terintimidasi.

"Dengarkan saya," kata Edgard dengan suara yang teramat tenang namun menusuk. "Kamu tidak perlu memaksakan diri membaca buku yang tidak kamu sukai hanya untuk menarik perhatian saya. Hubungan kita tidak akan berubah hanya karena kamu tahu cara membaca grafik saham."

"Kenapa?" potong Anya, suaranya mulai meninggi, menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya. "Kenapa kalau Kak Joana yang bicara soal ini Kak Edgard mendengarkan dengan antusias? Kenapa kalau aku yang mencoba, Kak Edgard selalu menganggapnya sebagai lelucon? Apa aku sebegitu tidak berartinya di mata Kakak?"

Edgard menatap Anya tanpa ekspresi bersalah atau kasihan. "Karena Joana membicarakan hal itu karena dia memang mengerti dan itu adalah dunianya. Sedangkan kamu melakukannya sebagai kedok. Anya, sikap kamu yang selalu memaksakan diri seperti ini lama-lama membuat saya tidak nyaman."

Kata tidak nyaman itu menghantam jantung Anya seperti gada besi. Air mata yang sejak tadi dia tahan mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Aku cuma suka sama Kak Edgard! Apa salah kalau aku melakukan banyak cara supaya Kakak melihat aku?" tanya Anya dengan suara bergetar, air matanya akhirnya luruh membasahi pipinya. "Aku sudah menahan malu, aku mengirimi Kakak pesan setiap hari, aku membuatkan makanan, aku mencoba masuk ke dunia Kakak... tapi sikap Kak Edgard selalu seperti ini! Dingin! Biasa saja! Seperti aku ini enggak ada harganya!"

Di tengah luapan emosi Anya, pintu ruang tamu terbuka. Joana berjalan masuk dengan langkahnya yang anggun, mengenakan pakaian rumah yang kasual namun tetap terlihat berkelas. Dia terkejut melihat Anya yang menangis sesenggukan di depan Edgard.

"Eh? Ada apa ini? Anya, kamu kenapa menangis?" tanya Joana bingung, langsung mendekati adiknya.

Edgard berdiri dari sofa, merapikan jasnya yang sedikit kusut tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang sedingin es. "Tidak ada apa-apa, Joana. Anya hanya sedikit sensitif. Di mana Papamu? Saya ada dokumen yang harus segera ditandatangani."

"Oh, Papa ada di ruang kerjanya sejak tadi, Edgard. Dia menunggumu," jawab Joana.

"Baik, saya ke ruang kerja Papamu dulu," ucap Edgard. Sebelum melangkah pergi, dia melirik Anya sekilas—tatapan yang kosong, seolah tangisan dan air mata Anya barusan tidak memberikan dampak apa pun pada perasaannya. Pria itu kemudian berjalan melewati Anya begitu saja, meninggalkan sisa keheningan yang menyakitkan.

Anya menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah sejadi-jadinya di pelukan Joana. Dia merasa sangat kecil, sangat bodoh, dan sangat tidak berdaya. Di depan Edgard, segala pesona dan usahanya runtuh tak bersisa. Sikap Edgard yang selalu tampak biasa saja di tengah badai perasaan Anya adalah jenis penolakan yang paling kejam yang pernah dia rasakan.

Anya tidak tahu bahwa beberapa minggu setelah hari itu, sebuah badai yang jauh lebih besar akan datang menghancurkan seluruh sisa harapannya, mengubah rasa kagumnya menjadi sebuah trauma yang mendalam.

Episodes
1 Bab 1: Sisa Wangi Parfum di Hari Selasa
2 Antara Usaha dan Skenario yang gagal
3 Mengemis Perhatian dibalik Dinsing Es
4 Rahasia di Balik Meja Pertemuan
5 Ketika Seluruh Dunia menjadi Asinga
6 Dingin yang Membelakar Sisa Harapan
7 Titik Balik dan Murka Sang Papa
8 Gerbang Pengasingan dan Sumpah diujung Senja
9 Lembaran Baru di Kota Pahlawan
10 Tiga Ratus Enam Puluh Lima Hari Tanpa Suara
11 Riak di Air Tenang
12 Langkah Kaki di Atas Marmer Dingin
13 Perputaran Poros Takdir
14 Siasat di Balik Secangkir Kopi
15 Surat Digital dari Masa Lalu
16 Perisai yang Mengeras
17 Perban Putih dan Kecurigaan yang Tumbuh
18 Lilin Putih di Atas Reruntuhan
19 Melarikan Diri dari Bayang-bayang
20 Kabut, Badai, dan Sudut yang Terkunci
21 Panggilan dari Ibu Kota
22 Dilema di Ambang Batas
23 Keputusan di Ujung Malam
24 Gemuruh Kota yang Terlupakan
25 Panggung Eksekutif dan Pembelaan dari Balik Meja
26 Di Antara Bau Obat dan Batas Patah Hati
27 Air Hujan di Atas Aspal Sudirman
28 Serpihan Plastik dan Doa di Sepertiga Malam
29 Rekonsiliasi di Bawah Lampu Kamar 501
30 Perubahan Sikap Sang CEO Utama
31 Penghujung Babak dan Janji di Balik Tirai
32 Detik-Detik Menuju Puncak Skenario
33 Kejutan di Malam Sebelum Puncak
34 Mimbar Emas dan Pria di Balik Gerbang Utama
35 Sayap Perak Menuju Gerbang Baru
36 Ketukan di Pintu Sore Hari
37 Meja Makan dan Ujian Keangkuhan
38 Pondasi di Balik Bukit Hijau
39 Kilau Berlian di Malam Pertunangan
40 Kilas Rana di Ruang Imajinasi
41 Jamuan Rahasia di Ruang Kaca
42 Kursi Kepemimpinan dan Langkah Awal sang Direktur Utama
43 Helai Sutra dan Rahasia Mahar yang Unik
44 Air Siraman dan Untaian Doa yang Mengalir
45 Malam Midodareni
46 Fajar Janji dan Getar di Ujung Lisan
47 Ritual Panggih dan Basuhan di Atas Nampan Kuningan
48 Hutan Lili Kontemporer dan Rahasia Kamar Penthouse
49 Mahakarya Resepsi dan Dansa di Atas Hamparan Bintang
50 Wangi Lili di Atas Bukit Hijau
51 Lembaran Baru dan Desain Ruang Hampa
52 Badai Kritik Sang Presdir
53 Kehadiran Leo dan Retakan Pertama
54 Benih di Balik Blokade
55 Refleks di Balik Reruntuhan
56 Retakan di Dinding Es
57 Tembok yang Semakin Tinggi
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Bab 1: Sisa Wangi Parfum di Hari Selasa
2
Antara Usaha dan Skenario yang gagal
3
Mengemis Perhatian dibalik Dinsing Es
4
Rahasia di Balik Meja Pertemuan
5
Ketika Seluruh Dunia menjadi Asinga
6
Dingin yang Membelakar Sisa Harapan
7
Titik Balik dan Murka Sang Papa
8
Gerbang Pengasingan dan Sumpah diujung Senja
9
Lembaran Baru di Kota Pahlawan
10
Tiga Ratus Enam Puluh Lima Hari Tanpa Suara
11
Riak di Air Tenang
12
Langkah Kaki di Atas Marmer Dingin
13
Perputaran Poros Takdir
14
Siasat di Balik Secangkir Kopi
15
Surat Digital dari Masa Lalu
16
Perisai yang Mengeras
17
Perban Putih dan Kecurigaan yang Tumbuh
18
Lilin Putih di Atas Reruntuhan
19
Melarikan Diri dari Bayang-bayang
20
Kabut, Badai, dan Sudut yang Terkunci
21
Panggilan dari Ibu Kota
22
Dilema di Ambang Batas
23
Keputusan di Ujung Malam
24
Gemuruh Kota yang Terlupakan
25
Panggung Eksekutif dan Pembelaan dari Balik Meja
26
Di Antara Bau Obat dan Batas Patah Hati
27
Air Hujan di Atas Aspal Sudirman
28
Serpihan Plastik dan Doa di Sepertiga Malam
29
Rekonsiliasi di Bawah Lampu Kamar 501
30
Perubahan Sikap Sang CEO Utama
31
Penghujung Babak dan Janji di Balik Tirai
32
Detik-Detik Menuju Puncak Skenario
33
Kejutan di Malam Sebelum Puncak
34
Mimbar Emas dan Pria di Balik Gerbang Utama
35
Sayap Perak Menuju Gerbang Baru
36
Ketukan di Pintu Sore Hari
37
Meja Makan dan Ujian Keangkuhan
38
Pondasi di Balik Bukit Hijau
39
Kilau Berlian di Malam Pertunangan
40
Kilas Rana di Ruang Imajinasi
41
Jamuan Rahasia di Ruang Kaca
42
Kursi Kepemimpinan dan Langkah Awal sang Direktur Utama
43
Helai Sutra dan Rahasia Mahar yang Unik
44
Air Siraman dan Untaian Doa yang Mengalir
45
Malam Midodareni
46
Fajar Janji dan Getar di Ujung Lisan
47
Ritual Panggih dan Basuhan di Atas Nampan Kuningan
48
Hutan Lili Kontemporer dan Rahasia Kamar Penthouse
49
Mahakarya Resepsi dan Dansa di Atas Hamparan Bintang
50
Wangi Lili di Atas Bukit Hijau
51
Lembaran Baru dan Desain Ruang Hampa
52
Badai Kritik Sang Presdir
53
Kehadiran Leo dan Retakan Pertama
54
Benih di Balik Blokade
55
Refleks di Balik Reruntuhan
56
Retakan di Dinding Es
57
Tembok yang Semakin Tinggi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!