Love, Kisah Manis Anya

Love, Kisah Manis Anya

Bab 1: Sisa Wangi Parfum di Hari Selasa

Bab 1: Sisa Wangi Parfum di Hari Selasa

Gadis itu berdiri di depan cermin besar kamarnya, mematut diri untuk kesekian kalinya. Anya menghela napas panjang, merapikan rok jepret selutut berwarna biru pastel yang baru dibelinya minggu lalu. Di usianya yang baru menginjak delapan belas tahun, dunia Anya rasanya hanya berputar pada satu poros tunggal: Edgard.

Edgard adalah anak dari rekan bisnis paling penting papanya. Sosoknya tinggi, rahangnya tegas, dan selalu mengenakan kemeja yang seolah disetrika dengan presisi tanpa cela. Bagi Anya, Edgard adalah definisi sempurna dari seorang pria. Masalahnya hanya satu: di mata Edgard, Anya tidak lebih dari seonggok angin lalu atau, paling bagus, seorang adik kecil yang berisik.

"Anya! Cepat turun, Sayang! Tamu Papa sudah mau sampai!" Suara mamanya melengking dari lantai bawah, memecah lamunan Anya.

"Iya, Ma! Sebentar lagi!" sahut Anya setengah berteriak.

Anya menyambar botol parfum beraroma manis stroberi di atas mejanya. Dia menyemprotkannya dengan murah hati ke pergelangan tangan, leher, dan rambutnya. Dia tahu Edgard tidak menyukai bau yang terlalu menyengat, jadi dia memilih aroma buah yang segar, berharap aroma ini bisa tertinggal di indra penciuman pria itu malam ini.

Dengan langkah riang dan hati yang berdebar-debar, Anya menuruni anak tangga rumah mewahnya di kawasan Jakarta Selatan. Di ruang tamu, papanya, Bramantyo, sedang berbincang serius dengan Joana, kakak kandung Anya. Joana, yang berusia dua puluh dua tahun, baru saja menyelesaikan sidang skripsinya dengan predikat cum laude. Joana adalah kebanggaan keluarga—anggun, pintar, tenang, dan selalu tahu cara bersikap di depan kolega Papa. Berbeda jauh dengan Anya yang masih sering meledak-ledak dan bertingkah kekanak-kanakan.

"Kamu wangi sekali, Anya. Seperti toko permen karet berjalan," goda Joana saat Anya duduk di sampingnya.

Anya hanya mengerucutkan bibirnya. "Ini parfum mahal, Kak. Biar segar."

"Sudah, jangan ribut. Mereka sudah datang," potong Papa sambil berdiri dari sofa ketika mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumah.

Jantung Anya serasa melompat ke tenggorokan. Dia ikut berdiri di belakang Papa dan Mamanya, meremas ujung blusnya dengan gugup. Pintu depan terbuka, menampilkan sosok Om Baskoro—mitra bisnis Papa—bersama istrinya. Dan di belakang mereka, berdirilah Edgard.

Malam itu, Edgard mengenakan kemeja rajut hitam dengan lengan yang digulung hingga sikut, memperlihatkan jam tangan perak yang melingkar kokoh di pergelangan tangan kirinya. Rambutnya ditata rapi, menyisakan beberapa helai yang jatuh di dahinya. Anya menahan napas. Ketampanan Edgard selalu berhasil membuatnya terpaku.

Setelah sesi salam-salaman yang formal antara orang tua, pandangan Edgard akhirnya jatuh pada kedua anak gadis keluarga Bramantyo.

"Halo, Kak Joana. Selamat atas kelulusannya," ucap Edgard dengan suara baritonnya yang berat dan tenang. Senyum tipis mengembang di bibirnya—sebuah senyuman yang sangat jarang dia perlihatkan.

Joana tersenyum anggun. "Terima kasih, Edgard. Senang kamu bisa datang malam ini."

Anya segera memajukan langkahnya, memotong jarak agar Edgard melihatnya. "Halo, Kak Edgard! Kak Edgard apa kabar? Aku sengaja pakai baju biru malam ini, lho. Katanya Kak Edgard suka warna biru, ya?" rentond Anya tanpa jeda, matanya berbinar penuh harap.

Senyum tipis di wajah Edgard langsung lenyap, digantikan oleh ekspresi datar yang biasa. Dia menatap Anya datar, tatapan yang selalu membuat Anya merasa seperti anak kecil yang sedang merengek meminta mainan.

"Kabar baik, Anya. Terima kasih," jawab Edgard singkat, sangat singkat hingga terasa dingin. Pria itu bahkan tidak mengomentari baju atau usaha Anya sama sekali. Dia langsung mengalihkan pandangannya kembali ke arah Papa dan Om Baskoro yang mulai bergerak menuju ruang makan.

Anya terpaku di tempatnya berdiri. Bahunya merosot seketika. Sisa wangi parfum stroberinya seolah menguap sia-sia di udara, tidak mampu menembus dinding es yang selalu dibangun Edgard di sekelilingnya.

"Anya, ayo ke meja makan. Jangan melamun di situ," tegur Mama dengan suara berbisik namun penuh penekanan. Anya mengangguk lemah dan mengikuti dari belakang.

Di meja makan, makan malam berlangsung dengan obrolan bisnis yang membosankan bagi Anya. Papa dan Om Baskoro tertawa keras membahas saham dan ekspansi pabrik baru mereka. Joana sesekali menimpali dengan cerdas, membuat Om Baskoro berkali-kali memujinya di depan semua orang.

"Joana ini memang luar biasa, Bram. Sudah cantik, pintar berbisnis lagi. Beruntung sekali kamu punya anak seperti dia," puji Om Baskoro tulus.

Papa tertawa bangga. "Ah, Baskoro bisa saja. Tapi memang Joana ini yang paling bisa diandalkan di rumah."

Anya yang duduk di seberang Edgard hanya bisa memainkan sendoknya, menusuk-nusuk daging steak di piringnya tanpa selera. Dia melirik Edgard. Pria itu sedang mendengarkan Joana berbicara tentang tren ekonomi terkini dengan perhatian penuh. Tatapan Edgard pada Joana terasa berbeda—ada rasa hormat dan ketertarikan intelektual di sana. Sesuatu yang tidak pernah Edgard berikan pada Anya.

Rasa cemburu dan tidak aman mulai merayap di dada Anya. Dia ingin memecah perhatian itu. Dia ingin Edgard melihatnya, bukan kakaknya.

"Kak Edgard!" panggil Anya sedikit keras, memotong pembicaraan Joana yang belum selesai.

Seluruh meja makan mendadak hening. Semua mata tertuju pada Anya. Papa memberikan tatapan memperingatkan, namun Anya mengabaikannya.

"Kak Edgard, minggu depan kampusku mengadakan festival seni. Aku ikut panitia bagian dekorasi. Kak Edgard mau datang, kan? Aku bisa pesankan tiket VIP buat Kakak," ujar Anya dengan senyum yang dipaksakan ceria, mencoba terdengar penting.

Edgard meletakkan garpu dan pisaunya dengan perlahan. Dia menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain sebelum menatap Anya. Tatapannya sangat tenang, namun terasa begitu menghakimi.

"Maaf, Anya. Minggu depan jadwal kerja saya sangat padat. Saya tidak punya waktu untuk datang ke acara seperti itu," jawab Edgard. Suaranya datar, tanpa ada nada penyesalan sedikit pun.

"Tapi kan cuma sebentar, Kak? Malam hari juga bisa..." Anya mencoba membujuk, suaranya mulai bergetar karena menahan malu.

"Anya, cukup. Jangan kekanak-kanakan. Edgard itu sibuk mengurus perusahaan, bukan waktunya mengurusi pensi sekolahmu," potong Papa dengan suara tegas dan dingin. Kalimat Papa bagai tamparan keras di wajah Anya di depan keluarga Edgard.

"Ini festival kampus, Pa, bukan pensi sekolah," bisik Anya lirih, matanya mulai berkaca-kaca.

"Sama saja. Habiskan makananmu dan jangan mengganggu tamu," titah Papa tidak terbantahkan.

Anya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air mata sudah mengumpul di pelupuk matanya, siap tumpah kapan saja. Dia melirik ke arah Edgard melalui sudut matanya, berharap pria itu setidaknya menunjukkan sedikit rasa kasihan atau pembelaan. Namun, Edgard justru kembali melanjutkan makannya seolah penolakan kejam tadi tidak pernah terjadi. Edgard tampak begitu biasa saja, begitu tidak peduli pada badai yang sedang berkecamuk di dalam hati gadis delapan belas tahun di hadapannya.

Malam itu, Anya menyadari satu hal yang menyakitkan. Di dunia Edgard yang penuh dengan angka, logika, dan kedewasaan, tidak ada tempat bagi Anya yang penuh dengan imajinasi dan obsesi remaja. Namun, alih-alih menyerah, rasa sakit itu justru memicu sesuatu yang lain di dalam diri Anya. Dia bersumpah, dengan cara apa pun, dia akan membuat Edgard melihatnya sebagai seorang wanita, bukan lagi sebagai pengganggu yang tidak signifikan.

Anya tidak pernah tahu, bahwa keputusasaan dan obsesinya malam ini akan menuntunnya pada sebuah jurang patah hati yang jauh lebih dalam di masa depan.

Terpopuler

Comments

Skyline Scribe

Skyline Scribe

mampir kak
semangat nulisnya 💪

2026-08-08

3

Alia Chans

Alia Chans

Jadi ingat lirik sebuah lagu nih thor🤭🤭

2026-08-08

2

Irene

Irene

😍😍😍

2026-08-03

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Sisa Wangi Parfum di Hari Selasa
2 Antara Usaha dan Skenario yang gagal
3 Mengemis Perhatian dibalik Dinsing Es
4 Rahasia di Balik Meja Pertemuan
5 Ketika Seluruh Dunia menjadi Asinga
6 Dingin yang Membelakar Sisa Harapan
7 Titik Balik dan Murka Sang Papa
8 Gerbang Pengasingan dan Sumpah diujung Senja
9 Lembaran Baru di Kota Pahlawan
10 Tiga Ratus Enam Puluh Lima Hari Tanpa Suara
11 Riak di Air Tenang
12 Langkah Kaki di Atas Marmer Dingin
13 Perputaran Poros Takdir
14 Siasat di Balik Secangkir Kopi
15 Surat Digital dari Masa Lalu
16 Perisai yang Mengeras
17 Perban Putih dan Kecurigaan yang Tumbuh
18 Lilin Putih di Atas Reruntuhan
19 Melarikan Diri dari Bayang-bayang
20 Kabut, Badai, dan Sudut yang Terkunci
21 Panggilan dari Ibu Kota
22 Dilema di Ambang Batas
23 Keputusan di Ujung Malam
24 Gemuruh Kota yang Terlupakan
25 Panggung Eksekutif dan Pembelaan dari Balik Meja
26 Di Antara Bau Obat dan Batas Patah Hati
27 Air Hujan di Atas Aspal Sudirman
28 Serpihan Plastik dan Doa di Sepertiga Malam
29 Rekonsiliasi di Bawah Lampu Kamar 501
30 Perubahan Sikap Sang CEO Utama
31 Penghujung Babak dan Janji di Balik Tirai
32 Detik-Detik Menuju Puncak Skenario
33 Kejutan di Malam Sebelum Puncak
34 Mimbar Emas dan Pria di Balik Gerbang Utama
35 Sayap Perak Menuju Gerbang Baru
36 Ketukan di Pintu Sore Hari
37 Meja Makan dan Ujian Keangkuhan
38 Pondasi di Balik Bukit Hijau
39 Kilau Berlian di Malam Pertunangan
40 Kilas Rana di Ruang Imajinasi
41 Jamuan Rahasia di Ruang Kaca
42 Kursi Kepemimpinan dan Langkah Awal sang Direktur Utama
43 Helai Sutra dan Rahasia Mahar yang Unik
44 Air Siraman dan Untaian Doa yang Mengalir
45 Malam Midodareni
46 Fajar Janji dan Getar di Ujung Lisan
47 Ritual Panggih dan Basuhan di Atas Nampan Kuningan
48 Hutan Lili Kontemporer dan Rahasia Kamar Penthouse
49 Mahakarya Resepsi dan Dansa di Atas Hamparan Bintang
50 Wangi Lili di Atas Bukit Hijau
51 Lembaran Baru dan Desain Ruang Hampa
52 Badai Kritik Sang Presdir
53 Kehadiran Leo dan Retakan Pertama
54 Benih di Balik Blokade
55 Refleks di Balik Reruntuhan
56 Retakan di Dinding Es
57 Tembok yang Semakin Tinggi
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Bab 1: Sisa Wangi Parfum di Hari Selasa
2
Antara Usaha dan Skenario yang gagal
3
Mengemis Perhatian dibalik Dinsing Es
4
Rahasia di Balik Meja Pertemuan
5
Ketika Seluruh Dunia menjadi Asinga
6
Dingin yang Membelakar Sisa Harapan
7
Titik Balik dan Murka Sang Papa
8
Gerbang Pengasingan dan Sumpah diujung Senja
9
Lembaran Baru di Kota Pahlawan
10
Tiga Ratus Enam Puluh Lima Hari Tanpa Suara
11
Riak di Air Tenang
12
Langkah Kaki di Atas Marmer Dingin
13
Perputaran Poros Takdir
14
Siasat di Balik Secangkir Kopi
15
Surat Digital dari Masa Lalu
16
Perisai yang Mengeras
17
Perban Putih dan Kecurigaan yang Tumbuh
18
Lilin Putih di Atas Reruntuhan
19
Melarikan Diri dari Bayang-bayang
20
Kabut, Badai, dan Sudut yang Terkunci
21
Panggilan dari Ibu Kota
22
Dilema di Ambang Batas
23
Keputusan di Ujung Malam
24
Gemuruh Kota yang Terlupakan
25
Panggung Eksekutif dan Pembelaan dari Balik Meja
26
Di Antara Bau Obat dan Batas Patah Hati
27
Air Hujan di Atas Aspal Sudirman
28
Serpihan Plastik dan Doa di Sepertiga Malam
29
Rekonsiliasi di Bawah Lampu Kamar 501
30
Perubahan Sikap Sang CEO Utama
31
Penghujung Babak dan Janji di Balik Tirai
32
Detik-Detik Menuju Puncak Skenario
33
Kejutan di Malam Sebelum Puncak
34
Mimbar Emas dan Pria di Balik Gerbang Utama
35
Sayap Perak Menuju Gerbang Baru
36
Ketukan di Pintu Sore Hari
37
Meja Makan dan Ujian Keangkuhan
38
Pondasi di Balik Bukit Hijau
39
Kilau Berlian di Malam Pertunangan
40
Kilas Rana di Ruang Imajinasi
41
Jamuan Rahasia di Ruang Kaca
42
Kursi Kepemimpinan dan Langkah Awal sang Direktur Utama
43
Helai Sutra dan Rahasia Mahar yang Unik
44
Air Siraman dan Untaian Doa yang Mengalir
45
Malam Midodareni
46
Fajar Janji dan Getar di Ujung Lisan
47
Ritual Panggih dan Basuhan di Atas Nampan Kuningan
48
Hutan Lili Kontemporer dan Rahasia Kamar Penthouse
49
Mahakarya Resepsi dan Dansa di Atas Hamparan Bintang
50
Wangi Lili di Atas Bukit Hijau
51
Lembaran Baru dan Desain Ruang Hampa
52
Badai Kritik Sang Presdir
53
Kehadiran Leo dan Retakan Pertama
54
Benih di Balik Blokade
55
Refleks di Balik Reruntuhan
56
Retakan di Dinding Es
57
Tembok yang Semakin Tinggi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!