Bab 3: Aturan Permainan Baru

lKeheningan yang berat kembali menyelimuti ruangan itu, hanya terdengar suara detak jam dinding yang teratur seolah menghitung setiap detik perubahan nasib yang baru saja terjadi. Argan masih terpaku menatap Aruna, kata-kata gadis itu masih berputar di benaknya—terasa asing, namun entah mengapa sedikit demi sedikit mengikis dinding pertahanan yang selama ini ia bangun setinggi langit. Tidak ada yang pernah berani berkata demikian padanya; semua orang hanya memandangnya dengan rasa iba, rasa jijik yang disembunyikan, atau sekadar menghormati namanya saja tanpa melihat siapa dirinya sebenarnya.

Dengan perlahan, Argan menggerakkan kursi rodanya mendekat. Raut wajahnya masih dingin, namun tatapan tajamnya kini tak lagi penuh amarah, melainkan penuh kewaspadaan yang mendalam.

“Kau bilang kau tidak menganggapku cacat?” suaranya rendah, namun terdengar jelas bergetar sedikit—entah karena emosi yang tertahan atau karena rasa terkejut yang belum hilang. “Kau belum tahu apa yang harus kau hadapi mulai detik ini, Aruna. Kau pikir pernikahan ini hanya soal berdiri di sampingku di depan tamu? Kau pikir kau hanya perlu tersenyum dan berpura-pura bahagia? Tidak semudah itu.”

Aruna menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu tak menentu. Ia tahu konsekuensi dari keputusan yang diambilnya sesaat lalu sangat besar, namun ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mundur, apa pun yang terjadi.

“Katakan padaku apa yang harus saya lakukan, Tuan,” jawabnya mantap, meski tangannya masih gemetar di samping tubuh. “Saya sudah siap menjalani semuanya.”

Argan mengangguk pelan, lalu mulai merangkai aturan main yang akan menjadi batas di antara mereka berdua selama ikatan ini masih berlangsung.

“Baik. Kalau begitu dengarkan baik-baik. Ini adalah perjanjian yang mengikat, bukan pernikahan yang didasari perasaan. Jangan pernah berharap aku akan memperlakukanmu layaknya suami yang penuh kasih sayang, apalagi menggantikan perasaan yang seharusnya untuk kakakmu—walaupun dia ternyata pengecut yang tak tahu diri.”

Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam hati gadis itu sebelum melanjutkan dengan nada yang makin tegas:

“Pertama, di hadapan publik, keluarga, dan semua orang yang mengenal kita, kau adalah istriku yang sah. Kau harus bersikap seolah kita adalah pasangan yang paling bahagia. Jangan pernah tunjukkan kelemahan atau keraguan sedikit pun, karena itu akan menjadi bahan cemoohan bagi mereka yang menunggu kesalahan keluarga Adhyaksa.”

“Kedua, di balik pintu tertutup seperti sekarang, kau bebas menjadi dirimu sendiri. Tapi ingat batasnya. Jangan pernah mencoba masuk ke ruang pribadiku yang belum kubuka untuk siapa pun. Jangan bertanya berlebihan tentang masa laluku, tentang lukaku, atau tentang apa yang kurasakan. Aku butuh waktu untuk sendiri, dan aku harap kau menghormatinya.”

“Ketiga, kau akan tinggal di sini, di rumah ini. Kau akan memegang kendali atas urusan rumah tangga sebagaimana layaknya nyonya rumah. Tapi jangan berpikir kau bisa mengatur hidupku atau mengubah kebiasaanku sesuka hati. Aku yang memegang kendali penuh di sini.”

“Dan yang paling penting,” Argan menatapnya tajam seolah ingin menembus kedalaman jiwa gadis itu, “jangan sampai kau jatuh cinta padaku. Karena jika itu terjadi, kau yang akan terluka paling dalam. Aku tak punya hati yang tersisa untuk dicintai, Aruna. Semuanya sudah hancur bersamaan dengan kecelakaan itu setahun yang lalu. Kau hanya pengganti sementara, dan saat waktunya tiba, kau akan melepaskanku begitu saja.”

Setelah menyampaikan semua itu, Argan berhenti bicara. Ia membiarkan Aruna mencerna setiap aturan yang terasa begitu dingin dan keras itu.

Aruna menunduk sejenak, air mata yang sempat mengering kini kembali menggenang di pelupuk matanya. Sakit memang mendengar kalimat bahwa ia hanya sekadar pengganti sementara, dan bahwa ia dilarang untuk merasakan hal yang paling manusiawi—cinta. Namun ia tahu, ia tak berhak menuntut apa pun saat ini. Ia datang bukan membawa cinta, melainkan datang untuk menutupi kesalahan orang lain.

Dengan berani, ia kembali mengangkat wajahnya, menghapus jejak air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu berkata dengan suara yang tenang namun teguh:

“Saya mengerti semua aturan itu, Tuan Argan. Saya akan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Saya tak akan menuntut apa pun dari Anda, dan saya berjanji tak akan memaksakan perasaan apa pun yang tak Anda inginkan. Saya hanya meminta satu hal pada Anda: perlakukanlah saya dengan jujur, sebagaimana saya akan bersikap jujur pada Anda.”

Mendengar jawaban itu, Argan terdiam cukup lama. Ada sesuatu dalam tatapan mata Aruna yang membuatnya sulit untuk terus bersikap dingin sepenuhnya—seperti ada cahaya kecil yang mencoba menerangi ruangan yang sudah gelap terlalu lama. Namun ia segera menepis perasaan itu. Ia tak boleh melemah, apalagi pada gadis yang baru saja menjadi korban keadaan sama sepertinya.

“Baik,” ucapnya singkat. “Mulai besok, kau akan memulai peranmu yang sesungguhnya. Sekarang istirahatlah. Kamar tamu sebelah kanan sudah disiapkan untukmu. Jangan pernah mencoba masuk ke kamarku sendiri tanpa izinku.”

Tanpa menunggu jawaban, Argan menekan tombol pada sandaran kursi rodanya, lalu bergerak perlahan meninggalkan ruangan itu menuju kamarnya sendiri yang sunyi. Pintu ditutup perlahan, memisahkan mereka berdua dalam dunia yang berbeda—namun kini terikat oleh janji yang dipaksakan oleh keadaan.

Aruna duduk perlahan di tepi tempat tidur yang besar itu, menatap pantulan dirinya sendiri di cermin besar di sudut ruangan. Gaun pengantin yang ia kenakan terasa semakin berat, bukan karena kainnya, melainkan karena tanggung jawab yang baru saja ia pikul. Namun di dalam hatinya, ia berjanji: ia akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak hanya menyelamatkan kehormatan keluarganya, tapi juga perlahan menyembuhkan hati pria yang kini menjadi suaminya itu—tanpa ia sadari, perjalanan panjang dan penuh rintangan baru saja dimulai.

Episodes
1 Bab 1: Pengantin yang Hilang
2 Bab 2: Di Balik Topeng Kebenaran
3 Bab 3: Aturan Permainan Baru
4 Bab 4: Hati yang Beku
5 Bab 5: Jejak Pengkhianatan
6 Bab 6: Jejak yang Tak Hilang
7 Bab 7: Memperbaiki Segalanya
8 Bab 8: Langkah Kecil yang Berani
9 Bab 9: Bayang yang Belum Hilang
10 Bab 10: Belajar Berdiri Bersama
11 Bab 11: Ancaman yang Tak Lagi Sembunyi
12 Bab 12: Langkah Pertama Kembali
13 Bab 13: Berdiri Saling Menguatkan
14 Bab 14: Berjalan di Hadapan Dunia
15 Bab 15: Janji yang Sebenarnya
16 Bab 16: Memimpin dengan Hati
17 Bab 17: Menjadi Penopang Saat Kau Tak Bisa Berdiri
18 Bab 18: Pulang ke Awal yang Berbeda
19 Bab 19: Badai Terakhir Sebelum Teduh
20 Bab 20: Cahaya Setelah Badai
21 Bab 21: Langkah Menuju Hari Esok
22 Bab 22: Kasih yang Semakin Tumbuh
23 Bab 23: Bukti Kasih yang Tak Bersuara
24 Bab 24: Rumah Tempat Hati Pulang
25 Bab 25: Satu Hati, Satu Jalan
26 Bab 26: Saat Waktu Menghampiri
27 Bab 27: Cahaya Baru Bernama Arka
28 Bab 28: Mendidik Tanpa Kemewahan
29 Bab 29: Ujian Kepercayaan
30 Bab 30: Musuh dari Masa Lalu
31 Bab 31: Cinta yang Tak Luntur
32 Bab 32: Belajar Melangkah Bersama Arka
33 Bab 33: Keputusan yang Sulit
34 Bab 34: Kembali Mengajar
35 Bab 35: Arka Mulai Bertanya
36 Bab 36: Perjalanan Menemukan Jati Diri
37 Bab 37: Ancaman Baru di Dunia Bisnis
38 Bab 38: Aruna Berdiri di Garis Depan
39 Bab 39: Argan Memilih Percaya
40 Bab 40: Ujian Kesetiaan Paling Berat
Episodes

Updated 40 Episodes

1
Bab 1: Pengantin yang Hilang
2
Bab 2: Di Balik Topeng Kebenaran
3
Bab 3: Aturan Permainan Baru
4
Bab 4: Hati yang Beku
5
Bab 5: Jejak Pengkhianatan
6
Bab 6: Jejak yang Tak Hilang
7
Bab 7: Memperbaiki Segalanya
8
Bab 8: Langkah Kecil yang Berani
9
Bab 9: Bayang yang Belum Hilang
10
Bab 10: Belajar Berdiri Bersama
11
Bab 11: Ancaman yang Tak Lagi Sembunyi
12
Bab 12: Langkah Pertama Kembali
13
Bab 13: Berdiri Saling Menguatkan
14
Bab 14: Berjalan di Hadapan Dunia
15
Bab 15: Janji yang Sebenarnya
16
Bab 16: Memimpin dengan Hati
17
Bab 17: Menjadi Penopang Saat Kau Tak Bisa Berdiri
18
Bab 18: Pulang ke Awal yang Berbeda
19
Bab 19: Badai Terakhir Sebelum Teduh
20
Bab 20: Cahaya Setelah Badai
21
Bab 21: Langkah Menuju Hari Esok
22
Bab 22: Kasih yang Semakin Tumbuh
23
Bab 23: Bukti Kasih yang Tak Bersuara
24
Bab 24: Rumah Tempat Hati Pulang
25
Bab 25: Satu Hati, Satu Jalan
26
Bab 26: Saat Waktu Menghampiri
27
Bab 27: Cahaya Baru Bernama Arka
28
Bab 28: Mendidik Tanpa Kemewahan
29
Bab 29: Ujian Kepercayaan
30
Bab 30: Musuh dari Masa Lalu
31
Bab 31: Cinta yang Tak Luntur
32
Bab 32: Belajar Melangkah Bersama Arka
33
Bab 33: Keputusan yang Sulit
34
Bab 34: Kembali Mengajar
35
Bab 35: Arka Mulai Bertanya
36
Bab 36: Perjalanan Menemukan Jati Diri
37
Bab 37: Ancaman Baru di Dunia Bisnis
38
Bab 38: Aruna Berdiri di Garis Depan
39
Bab 39: Argan Memilih Percaya
40
Bab 40: Ujian Kesetiaan Paling Berat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!