Bab 5: Jejak Pengkhianatan

Tiga hari berlalu begitu cepat, namun bagi Aruna rasanya seperti telah melewati berbulan-bulan. Hari-harinya diisi dengan mempelajari tumpukan dokumen tebal yang diberikan Argan, menghafal nama-nama rekan bisnis, memahami aturan adat keluarga Adhyaksa yang begitu ketat, hingga belajar menata sikap dan pembawaan yang pantas sebagai istri seorang CEO ternama. Setiap malam ia duduk di meja belajarnya, membaca ulang catatan kecil yang ia buat sendiri—menuliskan hal-hal penting agar tak mudah lupa. Sementara itu, Argan hampir tak pernah menemuinya kecuali saat makan malam yang sunyi, atau saat ia memanggilnya sebentar untuk memastikan apakah ia sudah menguasai apa yang dipelajarinya.

Malam itu adalah malam jamuan makan yang menjadi ujian pertamanya. Ruang jamuan utama di kediaman Adhyaksa sudah dihias sedemikian rupa, penuh bunga segar dan pencahayaan yang lembut namun mewah. Tamu-tamu penting mulai berdatangan satu per satu, disambut pelayan dengan penuh sopan santun. Aruna berdiri di samping Argan yang duduk di kursi roda, mengenakan gaun panjang berwarna biru dongker yang anggun, dengan riasan sederhana namun mempertegas raut wajahnya yang lembut namun tegas.

“Tarik napas,” bisik Argan pelan, hanya terdengar oleh mereka berdua. “Jangan menunduk. Tatap mata mereka saat berbicara. Ingat: kau adalah Nyonya Adhyaksa. Bukan adik yang menggantikan kakaknya.”

Aruna mengangguk pelan, meremas ujung gaunnya yang halus lalu melepaskannya kembali. “Terima kasih... Argan.”

Saat tamu mulai mendekat, Aruna menjalankan perannya dengan sangat baik. Ia menyapa dengan senyum tulus, menjawab pertanyaan dengan cerdas, dan tak sekalipun menunjukkan rasa gugup yang melumpuhkan. Namun di balik senyum itu, telinganya tetap menangkap bisik-bisik samar yang tak sengaja terdengar:

“Bukankah seharusnya Aisyah yang berdiri di sana?”

“Katanya dia kabur tak mau menikah dengan orang lumpuh...”

“Kasihan gadis ini, dipaksa menggantikan nasib kakaknya...”

Setiap bisikan itu seperti jarum kecil yang menusuk, namun Aruna tak membiarkannya terlihat. Ia justru semakin erat berdiri di samping Argan, sesekali menyentuh bahu pria itu seolah memberi isyarat bahwa ia tak sendirian. Argan yang merasakan sentuhan itu sempat tertegun sejenak, namun ia tak menepisnya. Justru tanpa sadar, tangannya yang bertumpu pada sandaran kursi roda sedikit melonggar.

Saat suasana mulai agak lengang, seorang pria berjas rapi mendekat dengan wajah penuh keraguan. Itu adalah pengawal pribadi Argan yang setia, Bimo. Ia membungkuk hormat, lalu menyodorkan sebuah amplop cokelat tertutup rapat.

“Maaf mengganggu, Tuan. Ini baru saja dikirimkan orang tak dikenal lewat kurir. Katanya khusus untuk Anda.”

Argan mengambil amplop itu dengan ragu. Tak ada nama pengirim, hanya tulisan tangan kasar bertuliskan: BUKTI MENGAPA SAYA PERGI.

Dahi Argan langsung berkerut. Ia merobek segelnya dengan kasar, lalu mengeluarkan selembar foto dan selembar kertas berisi tulisan tangan Aisyah. Jantung Aruna seakan berhenti berdetak saat melihat pandangan mata Argan berubah—dari tenang menjadi marah, lalu berganti menjadi kecewa yang begitu dalam.

“Apa isinya?” tanya Aruna pelan.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, Argan meletakkan foto itu di atas meja kecil di sampingnya. Aruna menatapnya dan seketika darahnya terasa mendidih. Di foto itu terlihat jelas Aisyah sedang berpelukan mesra dengan seorang pria yang tak lain adalah saingan bisnis utama Argan—Dimas Pratama. Dan di surat itu tertulis kalimat yang menghancurkan segala alasan yang pernah dikatakan Aisyah:

“Maaf Argan. Aku tak pernah mencintaimu. Semua ini hanya rencana agar aku bisa masuk ke lingkaran bisnismu, mengambil informasi penting, lalu bergabung dengan Dimas yang jauh lebih berkuasa dan bisa memberiku kemewahan tanpa harus mengurus suami yang tak bisa berjalan. Aku pergi bukan karena malu... tapi karena aku sudah menemukan orang yang benar-benar bisa kucintai dan bersamaku berdiri tegak. Jangan cari aku.”

Argan meremas kertas itu hingga hancur, rahangnya mengeras begitu kuat hingga terlihat urat-urat di lehernya menegang. Napasnya memburu, matanya memerah menahan amarah yang meluap-luap. Ternyata selama ini ia bukan hanya dikhianati karena dianggap cacat—ia telah dipermainkan, dijadikan alat, dan dihina sedemikian rupa oleh wanita yang dulu dipercaya keluarganya.

“Dia... dia sudah merencanakan ini sejak lama,” suara Argan bergetar menahan amarah yang meledak. “Semua keraguan, semua alasan yang ia ucapkan... semuanya sandiwara. Dia sudah bekerja sama dengan musuhku dari awal.”

Aruna merasakan dadanya sesak. Ia merasa malu, marah, sekaligus sedih mendengar betapa rendahnya kakaknya memperlakukan pria di hadapannya. Tanpa pikir panjang, ia meraih tangan Argan yang mengepal erat, memegangnya dengan lembut namun tegas.

“Ini bukan salah Anda, Argan. Dan ini bukan kesalahan Anda untuk merasa rendah diri. Dia yang tak tahu beruntung memiliki Anda. Dia yang kehilangan pria yang setia, bukan Anda yang kehilangan wanita yang pantas untuk Anda.”

Argan menatap tangan gadis itu yang memeluk tangannya, lalu menatap wajah Aruna. Di matanya tak ada rasa iba, tak ada rasa malu. Yang ada hanyalah kemarahan atas ketidakadilan yang menimpanya, dan keteguhan untuk tetap berdiri di sisinya. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, Argan merasakan ada seseorang yang tak memandangnya sebagai korban, melainkan sebagai pria yang telah dikhianati secara keji namun tetap berharga.

“Kau seharusnya membenci keluarga kami,” ucap Argan parau. “Kakakmu telah merusak segalanya, mempermalukanmu, dan menjadikanmu tumbal atas kejahatannya.”

“Kakak saya salah,” jawab Aruna mantap. “Tapi saya bukan dia. Dan saya tidak akan membiarkan perbuatan jahatnya membuat Anda berpikir semua orang sama saja.”

Di tengah kemegahan ruangan itu, di antara sisa-sisa kemeriahan yang perlahan memudar, benih kepercayaan yang sempat mati perlahan mulai tumbuh kembali. Argan menyadari bahwa pernikahan yang dimulai dari kebohongan ternyata menyimpan jejak pengkhianatan yang jauh lebih besar—namun di tengah kegelapan itu, ia justru menemukan seseorang yang tak pernah ia duga akan berdiri paling teguh di sampingnya.

Lanjut ke Bab 6?

Episodes
1 Bab 1: Pengantin yang Hilang
2 Bab 2: Di Balik Topeng Kebenaran
3 Bab 3: Aturan Permainan Baru
4 Bab 4: Hati yang Beku
5 Bab 5: Jejak Pengkhianatan
6 Bab 6: Jejak yang Tak Hilang
7 Bab 7: Memperbaiki Segalanya
8 Bab 8: Langkah Kecil yang Berani
9 Bab 9: Bayang yang Belum Hilang
10 Bab 10: Belajar Berdiri Bersama
11 Bab 11: Ancaman yang Tak Lagi Sembunyi
12 Bab 12: Langkah Pertama Kembali
13 Bab 13: Berdiri Saling Menguatkan
14 Bab 14: Berjalan di Hadapan Dunia
15 Bab 15: Janji yang Sebenarnya
16 Bab 16: Memimpin dengan Hati
17 Bab 17: Menjadi Penopang Saat Kau Tak Bisa Berdiri
18 Bab 18: Pulang ke Awal yang Berbeda
19 Bab 19: Badai Terakhir Sebelum Teduh
20 Bab 20: Cahaya Setelah Badai
21 Bab 21: Langkah Menuju Hari Esok
22 Bab 22: Kasih yang Semakin Tumbuh
23 Bab 23: Bukti Kasih yang Tak Bersuara
24 Bab 24: Rumah Tempat Hati Pulang
25 Bab 25: Satu Hati, Satu Jalan
26 Bab 26: Saat Waktu Menghampiri
27 Bab 27: Cahaya Baru Bernama Arka
28 Bab 28: Mendidik Tanpa Kemewahan
29 Bab 29: Ujian Kepercayaan
30 Bab 30: Musuh dari Masa Lalu
31 Bab 31: Cinta yang Tak Luntur
32 Bab 32: Belajar Melangkah Bersama Arka
33 Bab 33: Keputusan yang Sulit
34 Bab 34: Kembali Mengajar
35 Bab 35: Arka Mulai Bertanya
36 Bab 36: Perjalanan Menemukan Jati Diri
37 Bab 37: Ancaman Baru di Dunia Bisnis
38 Bab 38: Aruna Berdiri di Garis Depan
39 Bab 39: Argan Memilih Percaya
40 Bab 40: Ujian Kesetiaan Paling Berat
Episodes

Updated 40 Episodes

1
Bab 1: Pengantin yang Hilang
2
Bab 2: Di Balik Topeng Kebenaran
3
Bab 3: Aturan Permainan Baru
4
Bab 4: Hati yang Beku
5
Bab 5: Jejak Pengkhianatan
6
Bab 6: Jejak yang Tak Hilang
7
Bab 7: Memperbaiki Segalanya
8
Bab 8: Langkah Kecil yang Berani
9
Bab 9: Bayang yang Belum Hilang
10
Bab 10: Belajar Berdiri Bersama
11
Bab 11: Ancaman yang Tak Lagi Sembunyi
12
Bab 12: Langkah Pertama Kembali
13
Bab 13: Berdiri Saling Menguatkan
14
Bab 14: Berjalan di Hadapan Dunia
15
Bab 15: Janji yang Sebenarnya
16
Bab 16: Memimpin dengan Hati
17
Bab 17: Menjadi Penopang Saat Kau Tak Bisa Berdiri
18
Bab 18: Pulang ke Awal yang Berbeda
19
Bab 19: Badai Terakhir Sebelum Teduh
20
Bab 20: Cahaya Setelah Badai
21
Bab 21: Langkah Menuju Hari Esok
22
Bab 22: Kasih yang Semakin Tumbuh
23
Bab 23: Bukti Kasih yang Tak Bersuara
24
Bab 24: Rumah Tempat Hati Pulang
25
Bab 25: Satu Hati, Satu Jalan
26
Bab 26: Saat Waktu Menghampiri
27
Bab 27: Cahaya Baru Bernama Arka
28
Bab 28: Mendidik Tanpa Kemewahan
29
Bab 29: Ujian Kepercayaan
30
Bab 30: Musuh dari Masa Lalu
31
Bab 31: Cinta yang Tak Luntur
32
Bab 32: Belajar Melangkah Bersama Arka
33
Bab 33: Keputusan yang Sulit
34
Bab 34: Kembali Mengajar
35
Bab 35: Arka Mulai Bertanya
36
Bab 36: Perjalanan Menemukan Jati Diri
37
Bab 37: Ancaman Baru di Dunia Bisnis
38
Bab 38: Aruna Berdiri di Garis Depan
39
Bab 39: Argan Memilih Percaya
40
Bab 40: Ujian Kesetiaan Paling Berat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!