BAB 2: Armada Matahari Darah

Jeritan histeris Ketua Sekte Jiu Feixue masih menggema, memantul di antara tebing-tebing Puncak Pedang Sekte Angin Merah. Puluhan ribu murid yang berada di pelataran bawah saling berpandangan dengan wajah pucat. Mereka belum pernah mendengar Dewi Es kebanggaan sekte mereka kehilangan kendali seperti itu.

Di atas pelataran utama, Leluhur Jiu Zui menatap Zeng Niu dengan mata membelalak, mabuknya hilang seketika. Kendi araknya yang pecah di lantai bahkan tidak ia pedulikan.

"Membunuh... Pangeran Pertama?" suara Jiu Zui bergetar, terdengar setua usianya untuk pertama kalinya. "Zeng Niu, bocah gila... Istana Pusat bukanlah Sekte Iblis Darah! Mereka adalah penguasa mutlak! Kaisar Langit memiliki ribuan ahli Soul Transformation dan lusinan dewa Ascendant! Menyinggung mereka sama dengan menantang seluruh langit Alam Abadi!"

Jiu Feixue mengusap wajahnya yang pucat, matanya menatap Zeng Niu dengan keputusasaan murni. "Kita tamat. Ribuan tahun warisan Angin Merah... akan hancur menjadi abu karena arogansimu."

Zeng Niu berdiri diam membiarkan mereka meluapkan kepanikan. Sang Algojo tidak tersinggung. Ia tahu betul beban mental dari nama "Istana Pusat" bagi kultivator pinggiran seperti mereka.

Namun, waktu untuk panik sudah habis.

BOOOOOOOOOOOM!

Zeng Niu menghentakkan kaki kanannya ke lantai marmer.

Seketika, fluktuasi absolut dari Soul Transformation Tahap Akhir meledak keluar dari tubuhnya! Tekanan Domain Ketiadaan miliknya menyebar bagaikan badai, menekan seluruh pelataran. Jiu Feixue dan Jiu Zui terdorong mundur beberapa langkah, napas mereka tercekat. Udara di sekeliling Zeng Niu berubah menjadi sangat berat, membuat ruang itu sendiri berderak.

"Dengarkan baik-baik," suara Zeng Niu tidak keras, namun menggema di Lautan Kesadaran setiap orang yang hadir, dingin dan penuh otoritas mutlak.

"Pertama," Zeng Niu mengangkat satu jarinya. "Secara teknis, aku tidak membunuhnya. Dia terlalu rakus, menginjak jebakanku, dan ditelan bulat-bulat oleh monster lumpur kosmik dari zaman purba. Jadi, secara hukum, monster itulah pembunuhnya."

"Kau pikir Istana Pusat peduli pada teknis hukum sialanmu?!" desis Jiu Feixue, matanya merah.

"Tentu saja tidak," Zeng Niu menyeringai, memamerkan deretan giginya. "Itulah poin keduaku. Keadilan di dunia ini hanya berlaku untuk mereka yang lehernya cukup keras untuk menahan pedang algojo. Istana Pusat memang raksasa, tapi kitalah yang memegang sumber dayanya sekarang!"

Zeng Niu menunjuk ke arah gunungan harta karun yang menjulang di tengah pelataran. Cahaya dari ribuan artefak tingkat bumi dan surga, serta aroma puluhan ribu pil spiritual, kembali menyadarkan Jiu Feixue dan Jiu Zui pada realitas di depan mata mereka.

"Kalian meratapi kematian sekte, tapi apakah kalian buta melihat gunung emas di depan kalian?" ucap Zeng Niu. "Lautan Bintang telah memberiku fondasi! Aku berada di Soul Transformation Tahap Akhir. Dengan fisik asuraku, bahkan jika ahli Ascendant Tahap Awal datang, aku bisa mematahkan lehernya!"

Zeng Niu menoleh ke arah sepuluh muridnya yang sejak tadi berdiri tegak tanpa rasa takut sedikit pun di belakangnya.

"Mo Tian!"

"Ya, Paman Muda!" teriak Mo Tian lantang.

"Buka seluruh segel cincin jarahan itu. Distribusikan pil spiritual tingkat puncak kepada seluruh Tetua dan murid inti! Siapa pun yang berada di Golden Core Puncak, paksa mereka menerobos ke Nascent Soul hari ini juga! Jika ada yang gagal dan meridiannya meledak, itu salah mereka sendiri karena terlalu lemah! Kita butuh pasukan, bukan sekumpulan cendekiawan manja!"

"Laksanakan!" kelompok Angin Merah langsung bergerak seperti mesin perang yang efisien, membongkar harta dan mulai menyortirnya dengan kecepatan gila.

Zeng Niu menatap kembali Jiu Feixue. Niat Membunuh yang sedingin es neraka terpancar dari matanya.

"Ketua Sekte Nenek, berhenti meratapi nasib. Aktifkan Formasi Perlindungan Angin Darah sekarang juga. Aku membawa Kristal Esensi Bintang dan sebongkah batu aneh bernama Air Mata Kiamat dari suku primitif. Aku akan memodifikasi formasi sekte kita dari tingkat pertahanan fana menjadi formasi pembunuh tingkat kosmik!"

Jiu Feixue menelan ludahnya. Ketegasan, kekejaman, dan rasa percaya diri yang memancar dari pemuda ini... perlahan menularkan keberanian yang gila ke dalam hatinya. Zeng Niu benar. Mereka tidak bisa melarikan diri. Satu-satunya jalan adalah menghadapi langit itu sendiri!

"Berapa lama waktu yang kita miliki?" tanya Jiu Feixue, suaranya kembali sedingin pualam, akhirnya menerima kenyataan perangnya.

"Paling cepat tiga hari, paling lambat satu minggu, sebelum barisan depan mereka mencapai Benua Utara," analisis Zeng Niu santai. "Cukup waktu untuk mengasah pedang kita."

Jiu Zui tertawa parau, menenggak sisa arak dari botol cadangannya. "Gila. Kita semua benar-benar sudah gila. Menantang Istana Pusat... hahaha! Baiklah! Tulang tuaku ini sudah lama tidak dipanaskan!"

Mesin perang Sekte Angin Merah akhirnya dihidupkan pada kapasitas dua ratus persen. Gunung harta jarahan itu langsung dilebur. Sepanjang malam, raungan terobosan kultivasi terdengar sambung-menyambung dari seluruh penjuru puncak gunung, diiringi oleh getaran formasi pelindung yang sedang diperkuat oleh Zeng Niu menggunakan pilar-pilar kosmik.

Tiga Hari Kemudian — Perbatasan Langit Benua Tengah dan Utara

Sementara Sekte Angin Merah mengubah rumah mereka menjadi benteng landak yang dipenuhi duri mematikan, langit di perbatasan Benua Tengah telah berubah warna menjadi lautan darah.

Sebuah pemandangan yang cukup untuk membuat sekte lapis pertama mana pun menyerah tanpa syarat sedang melintasi hamparan awan.

Lima puluh kapal perang astral raksasa melayang membelah angin. Setiap kapal terbuat dari kayu dewa berwarna emas dan merah, panjangnya mencapai lima ribu tombak, dilengkapi dengan meriam formasi yang moncongnya sebesar kawah gunung berapi.

Ini adalah Divisi Matahari Darah, pasukan pelopor yang paling ditakuti dari Istana Pusat. Mereka tidak dikirim untuk menaklukkan; mereka dikirim secara eksklusif untuk menghapus sebuah wilayah dari sejarah.

Di geladak kapal bendera yang berada paling depan, berdiri puluhan jenderal bertubuh kekar mengenakan zirah api. Fluktuasi kultivasi mereka rata-rata berada di Soul Transformation Tahap Menengah hingga Akhir.

Namun, yang membuat aura kapal itu begitu mencekik adalah pria yang duduk di singgasana naga di tengah geladak.

Jenderal Xue Yang (Matahari Berdarah).

Pria itu mengenakan jubah merah tua yang terbuat dari kulit naga api. Wajahnya dipenuhi bekas luka bakar, dan matanya tidak memiliki putih mata, melainkan sepenuhnya berwarna merah magma. Ia adalah ahli Ascendant Tahap Awal, salah satu dari tiga puluh enam Jenderal Dewa Istana Pusat.

Seorang letnan tingkat Soul Transformation melangkah maju, berlutut dengan satu kaki di hadapan Xue Yang.

"Jenderal! Kami telah memasuki ruang udara Benua Utara. Radar formasi spiritual mendeteksi target: Sekte Angin Merah, berjarak sekitar sepuluh ribu mil ke arah utara. Estimasi waktu ketibaan: setengah hari."

Xue Yang memutar cincin giok di jari telunjuknya perlahan. Udara di sekitarnya mendesis, membakar setiap tetes embun yang berani mendekat.

"Hanya sebuah sekte pinggiran," suara Xue Yang terdengar seperti batu bara yang dihancurkan. "Sungguh penghinaan bagi Divisi Matahari Darah karena harus turun tangan membasmi semut. Namun, titah Yang Mulia Kaisar mutlak. Mereka berani menyentuh sehelai rambut Pangeran Pertama."

Xue Yang berdiri. Tubuhnya yang menjulang tinggi memancarkan paksaan hukum dunia yang menekan seluruh pasukan di kapal itu.

"Dengarkan perintahku!" raung Xue Yang, suaranya diperkuat oleh Niat Langit, menggema melintasi lima puluh kapal perang raksasa.

"Aktifkan seluruh Meriam Bintang Pembakar! Begitu kita berada dalam jangkauan pandang, jangan berikan peringatan, jangan berikan kesempatan menyerah! Ratakan gunung mereka! Bakar laut mereka! Jangan tinggalkan anjing atau ayam yang hidup di Sekte Angin Merah! Aku ingin kepala pelakunya dibawa hidup-hidup ke hadapanku untuk dikuliti!"

"SIAP, JENDERAL!" seratus ribu pasukan elit Matahari Darah meraung serempak, Niat Membunuh mereka menyatu menjadi Niat Perang berbentuk naga darah raksasa di atas armada tersebut.

Armada maut itu melaju semakin cepat, meninggalkan jejak awan terbakar di langit Benua Utara.

Terpopuler

Comments

Indah Hidayat

Indah Hidayat

bukannya yg bunuh si monster ?

2026-08-06

0

🔴༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐

🔴༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐

Meluncur 5 gift ☕ Semangat Thor 💪💪

2026-08-04

0

yos helmi

yos helmi

😍😍😍😍😍

2026-08-06

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Giok Jiwa Emas
2 BAB 2: Armada Matahari Darah
3 BAB 3: Janji di Bawah Langit
4 BAB 4: Hancurnya Wujud Dewa Matahari
5 BAB 5: Hierarki Alam Semesta
6 BAB 6: Panen Raya Angin Merah
7 BAB 7: Keringat Tuan Muda
8 BAB 8: Bayangan Kota Penghakiman
9 BAB 9: Penipu Kecil di Alam Bawah
10 BAB 10: Kedatangan Leluhur Gongsun
11 BAB 11: Kota Lelang Awan Ungu
12 BAB 12: Kota di Atas Tempurung
13 BAB 13: Penghinaan Tuan Muda Pil Emas
14 BAB 14: Perseteruan dengan Monster Tua
15 BAB 15: Kunci Istana Naga Primal
16 BAB 16: Kemurkaan Klan Pil Emas
17 BAB 17: Terbukanya Retakan Naga Purba
18 BAB 18: Formasi Jaring Darah
19 BAB 19: Pembuluh Darah Fosil
20 BAB 20: Kemurkaan Sang Dewi Es
21 BAB 21: Fisik Penentang Surga
22 BAB 22: Terobosan Berdarah
23 BAB 23: Reuni Dua Patriark Tua
24 BAB 24: Sebab-Akibat 10.000 Tahun
25 BAB 25: Delapan Wajah Takdir
26 BAB 26: Pintu Lautan Kesadaran
27 BAB 27: Bangkitnya Kaisar Purba
28 BAB 28: Harga Sebuah Keserakahan
29 BAB 29: Kehadiran Sang Tiran Ketiadaan
30 BAB 30: Gema Otoritas Ketiadaan
31 BAB 31: Formasi Waktu Angin Merah
32 BAB 32: Jejak Tanpa Wajah
33 BAB 33: Garis Kematian
34 BAB 34: Jaring Laba-Laba Tuan Bai
35 BAB 35: Dao Ketiadaan
36 BAB 36: Undangan dari Benua Tengah
37 BAB 37: Penyamaran
38 BAB 38: Umpan Dewa
39 BAB 39: Kematian di Ruang VVIP
40 BAB 40: Kembang Api di Hutan Tulang Layu
41 BAB 41: Evolusi Ranah Ascendant
42 BAB 42: Runtuhnya Kubah Samsara
43 BAB 43: Penyatuan Benua Utara
44 BAB 44: Umpan Karma
45 BAB 45: Runtuhnya Pagoda Bintang
46 BAB 46: Menelan Fondasi Dunia
47 BAB 47: Langit yang Runtuh
48 BAB 48: Dekrit Surgawi
49 BAB 49: Runtuhnya Era Naga
50 BAB 50: Undangan Emas dari Langit
51 BAB 51: Jubah Darah Kekaisaran
52 BAB 52: Takhta Langit Selatan
53 BAB 53: Menelan Naga Surga
54 BAB 54: Meja Perundingan
55 BAB 55: Para Penjaga
56 BAB 56: Tiga Utusan Dao
57 BAB 57: Kota Seribu Pedang
58 BAB 58: Kompas Darah Iblis
59 BAB 59: Altar Persembahan Keluarga Gu
60 BAB 60: Terbukanya Gerbang Iblis
61 BAB 61: Langit Ungu Alam Iblis
62 BAB 62: Dunia di Balik Kabut Ungu
63 BAB 63: Kesepakatan di Kota Taring
64 BAB 64: Pengembara Darah Besi
65 BAB 65: Jejak Pedang
66 BAB 66: Sekte Pedang Astral
67 BAB 67: Kamp Suplai Bintang
68 BAB 68: Runtuhnya Benteng Bintang
69 BAB 69: Phoenix Kegelapan
70 BAB 70: Pulau Tengkorak Kaisar
71 BAB 71: Tubuh Pedang
72 BAB 72: Menelan Jantung Kaisar
73 BAB 73: Tiga Benih Ketiadaan
74 BAB 74: Reuni di Kota Seribu Pedang
75 BAB 75: Jubah Hukum Ketiadaan
76 BAB 76: Domain Kaisar Bumi
77 BAB 77: Jatuhnya Mahkota Bintang
78 BAB 78: Hancurnya Kesombongan Langit
79 BAB 79: Lahirnya Sekte Asura Langit
80 BAB 80: Kereta Kayu dan Aturan Menjadi Fana
81 BAB 81: Kedatangan Seseorang
82 BAB 82: Murid Pertama Asura Langit
83 BAB 83: Berdirinya Asura Langit
84 BAB 84: Gadis Pembawa Peti Mati
Episodes

Updated 84 Episodes

1
BAB 1: Giok Jiwa Emas
2
BAB 2: Armada Matahari Darah
3
BAB 3: Janji di Bawah Langit
4
BAB 4: Hancurnya Wujud Dewa Matahari
5
BAB 5: Hierarki Alam Semesta
6
BAB 6: Panen Raya Angin Merah
7
BAB 7: Keringat Tuan Muda
8
BAB 8: Bayangan Kota Penghakiman
9
BAB 9: Penipu Kecil di Alam Bawah
10
BAB 10: Kedatangan Leluhur Gongsun
11
BAB 11: Kota Lelang Awan Ungu
12
BAB 12: Kota di Atas Tempurung
13
BAB 13: Penghinaan Tuan Muda Pil Emas
14
BAB 14: Perseteruan dengan Monster Tua
15
BAB 15: Kunci Istana Naga Primal
16
BAB 16: Kemurkaan Klan Pil Emas
17
BAB 17: Terbukanya Retakan Naga Purba
18
BAB 18: Formasi Jaring Darah
19
BAB 19: Pembuluh Darah Fosil
20
BAB 20: Kemurkaan Sang Dewi Es
21
BAB 21: Fisik Penentang Surga
22
BAB 22: Terobosan Berdarah
23
BAB 23: Reuni Dua Patriark Tua
24
BAB 24: Sebab-Akibat 10.000 Tahun
25
BAB 25: Delapan Wajah Takdir
26
BAB 26: Pintu Lautan Kesadaran
27
BAB 27: Bangkitnya Kaisar Purba
28
BAB 28: Harga Sebuah Keserakahan
29
BAB 29: Kehadiran Sang Tiran Ketiadaan
30
BAB 30: Gema Otoritas Ketiadaan
31
BAB 31: Formasi Waktu Angin Merah
32
BAB 32: Jejak Tanpa Wajah
33
BAB 33: Garis Kematian
34
BAB 34: Jaring Laba-Laba Tuan Bai
35
BAB 35: Dao Ketiadaan
36
BAB 36: Undangan dari Benua Tengah
37
BAB 37: Penyamaran
38
BAB 38: Umpan Dewa
39
BAB 39: Kematian di Ruang VVIP
40
BAB 40: Kembang Api di Hutan Tulang Layu
41
BAB 41: Evolusi Ranah Ascendant
42
BAB 42: Runtuhnya Kubah Samsara
43
BAB 43: Penyatuan Benua Utara
44
BAB 44: Umpan Karma
45
BAB 45: Runtuhnya Pagoda Bintang
46
BAB 46: Menelan Fondasi Dunia
47
BAB 47: Langit yang Runtuh
48
BAB 48: Dekrit Surgawi
49
BAB 49: Runtuhnya Era Naga
50
BAB 50: Undangan Emas dari Langit
51
BAB 51: Jubah Darah Kekaisaran
52
BAB 52: Takhta Langit Selatan
53
BAB 53: Menelan Naga Surga
54
BAB 54: Meja Perundingan
55
BAB 55: Para Penjaga
56
BAB 56: Tiga Utusan Dao
57
BAB 57: Kota Seribu Pedang
58
BAB 58: Kompas Darah Iblis
59
BAB 59: Altar Persembahan Keluarga Gu
60
BAB 60: Terbukanya Gerbang Iblis
61
BAB 61: Langit Ungu Alam Iblis
62
BAB 62: Dunia di Balik Kabut Ungu
63
BAB 63: Kesepakatan di Kota Taring
64
BAB 64: Pengembara Darah Besi
65
BAB 65: Jejak Pedang
66
BAB 66: Sekte Pedang Astral
67
BAB 67: Kamp Suplai Bintang
68
BAB 68: Runtuhnya Benteng Bintang
69
BAB 69: Phoenix Kegelapan
70
BAB 70: Pulau Tengkorak Kaisar
71
BAB 71: Tubuh Pedang
72
BAB 72: Menelan Jantung Kaisar
73
BAB 73: Tiga Benih Ketiadaan
74
BAB 74: Reuni di Kota Seribu Pedang
75
BAB 75: Jubah Hukum Ketiadaan
76
BAB 76: Domain Kaisar Bumi
77
BAB 77: Jatuhnya Mahkota Bintang
78
BAB 78: Hancurnya Kesombongan Langit
79
BAB 79: Lahirnya Sekte Asura Langit
80
BAB 80: Kereta Kayu dan Aturan Menjadi Fana
81
BAB 81: Kedatangan Seseorang
82
BAB 82: Murid Pertama Asura Langit
83
BAB 83: Berdirinya Asura Langit
84
BAB 84: Gadis Pembawa Peti Mati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!