Dewa Abadi Season 2

Dewa Abadi Season 2

BAB 1: Giok Jiwa Emas

Benua Tengah adalah pusat dari Alam Abadi. Di tempat ini, Qi spiritual sepuluh kali lipat lebih padat daripada di Wilayah Utara. Di sinilah Istana Pusat berdiri, bukan di atas tanah, melainkan berupa gugusan pulau melayang yang terbuat dari giok putih abadi, diselimuti oleh awan emas dan dijaga oleh ribuan naga bersisik baja.

Di puncak tertinggi Istana Pusat, terdapat sebuah paviliun sakral yang dijaga oleh sembilan ahli Ascendant Tahap Awal: Aula Giok Jiwa.

Di dalam aula ini, jutaan keping giok jiwa dari seluruh pejabat, jenderal, dan murid elit Istana Pusat tersusun rapi. Namun, di altar tertinggi, hanya ada segelintir giok jiwa yang memancarkan cahaya matahari menyilaukan. Itu adalah giok jiwa milik garis keturunan langsung sang Kaisar Langit.

Di posisi kedua teratas, giok jiwa milik Pangeran Pertama, Di Tian, bersinar paling terang, melambangkan calon pewaris takhta yang sedang berada di ambang ranah Ascendant Sejati.

Seorang Tetua Penjaga berambut putih sedang duduk bermeditasi di sudut aula. Selama puluhan ribu tahun, tempat ini adalah tempat paling damai di seluruh Istana Pusat.

Namun, kedamaian itu pecah pada hari ini.

KRAAAAK...

Sebuah suara retakan yang sangat pelan terdengar.

Tetua Penjaga itu perlahan membuka matanya. Ia mencari sumber suara tersebut, dan pandangannya langsung tertuju pada altar tertinggi.

Seketika, darah di sekujur tubuh sang Tetua membeku. Jantungnya berhenti berdetak.

Giok jiwa milik Di Tian, yang selalu memancarkan cahaya matahari keemasan... kini dipenuhi oleh retakan mengerikan berwarna hitam pekat!

"T-T-Tidak mungkin... Pangeran Pertama sedang berada di Lautan Bintang... Dimensi itu ditutup untuk siapa pun di atas ranah Soul Transformation! Siapa yang bisa mengancam nyawanya?!" sang Tetua bergetar hebat, merangkak maju menuju altar.

Namun, sebelum ia sempat menyentuh altar tersebut...

PRANG!

Giok jiwa emas itu meledak hancur berkeping-keping! Cahaya keemasannya padam sepenuhnya, digantikan oleh kepulan asap hitam berbau busuk yang memancarkan penderitaan karma ekstrem.

Di Tian telah mati. Jiwanya bahkan tidak tersisa untuk memasuki siklus reinkarnasi!

"TIDAAAAAKK!" Tetua Penjaga itu menjerit ngeri, memuntahkan darah karena serangan balik dari hancurnya formasi jiwa sang Pangeran.

Pada detik yang sama, jauh di kedalaman inti bintang yang menjadi fondasi Istana Pusat, sebuah mata raksasa yang telah tertutup selama ribuan tahun tiba-tiba terbuka.

BOOOOOOOOOOOOOOOOM!

Seluruh Benua Tengah berguncang dahsyat! Langit yang cerah mendadak berubah menjadi merah darah. Suhu udara melonjak drastis hingga lautan di sekitar benua itu mendidih. Sebuah Niat Membunuh yang jauh melampaui ranah Ascendant sebuah kehendak dari Kaisar Langit Di Shitian meledak menembus langit!

Sebuah raungan yang dipenuhi duka dan amarah menggema di benak triliunan penduduk Benua Tengah.

"SIAPA YANG BERANI MEMUTUS GARIS KETURUNANKU?! SIAPA YANG MEMBUNUH TIAN'ER?!"

Suara itu menghancurkan awan-awan di langit. Di Aula Utama Istana Pusat, ratusan jenderal tingkat Soul Transformation dan Ascendant langsung jatuh berlutut hingga lantai marmer retak. Mereka berkeringat dingin, tak berani mengangkat kepala.

"Segel seluruh akses antar benua! Kirim Divisi Matahari Darah ke perbatasan Lautan Bintang! Ekstrak sisa-sisa karma dari giok jiwa Tian'er! Temukan siapa pun yang bertanggung jawab... aku ingin sektenya, keluarganya, dan benuanya dihapus dari peta Alam Abadi!"

Di Waktu yang Sama, Benua Utara — Sekte Angin Merah

Langit di atas Puncak Pedang tampak damai. Burung-burung spiritual berkicau, dan para murid Pelataran Luar sedang berlatih formasi dasar di bawah bimbingan para instruktur.

Ketua Sekte Jiu Feixue sedang berdiri di balkon Paviliun Utama, memandang hamparan sektenya dengan wajah sedingin pualam. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada kecemasan yang terus beriak.

Sudah berbulan-bulan sejak Zeng Niu membawa sepuluh jenius terbaik mereka ke Lautan Bintang. Tidak ada kabar. Mengingat kekejaman Turnamen Lautan Bintang yang dikuasai oleh Istana Pusat, peluang sekte kelas menengah seperti mereka untuk kembali utuh sangatlah tipis.

Di sudut balkon, Leluhur Jiu Zui sedang duduk bersandar, menenggak arak dari kendi kesayangannya.

"Kau terlalu tegang, Feixue," kekeh pria tua pemabuk itu. "Berhentilah mondar-mandir di dalam hatimu. Asura kecil itu memiliki kulit yang lebih tebal dari tembok sekte kita. Dia tidak akan mati semudah itu."

"Aku tidak mengkhawatirkan anak barbar itu, Paman," balas Jiu Feixue dingin. "Aku mengkhawatirkan Mo Tian, Wang Chen, dan yang lainnya. Mereka adalah tulang punggung masa depan sekte ini. Jika Zeng Niu bertindak gila di dalam sana dan mengorbankan mereka..."

Sebelum Jiu Feixue sempat menyelesaikan kalimatnya, udara di langit pelataran utama tiba-tiba berdistorsi hebat.

ZRAAAAAASH!

Sebuah robekan spasial berukuran besar terbuka. Dari dalam robekan itu, energi kosmik ungu pekat meluap keluar.

Puluhan ribu murid sekte langsung menghentikan latihan mereka dan mendongak kaget.

"Musuh menyerang?!" teriak seorang Tetua Penegak Hukum.

Namun, dari balik robekan dimensi itu, bukan pasukan musuh yang keluar. Melainkan seorang pemuda berjubah hitam yang melangkah dengan santai, mengunyah batang rumput spiritual. Ia meregangkan pinggangnya, memancarkan aura Soul Transformation Tahap Akhir yang luar biasa padat dan mendominasi.

Di belakangnya, sepuluh pemuda-pemudi mengikuti dengan langkah tegap, wajah berbinar-binar, dan... mengenakan pakaian berlapis-lapis yang tampak sangat konyol karena kepenuhan barang jarahan.

"PAMAN MUDA ZENG NIU!"

Sorak-sorai menggelegar dari pelataran bawah. Para murid mengenali sosok idola mereka yang akhirnya kembali dengan selamat.

Jiu Feixue dan Jiu Zui langsung berteleportasi dari balkon, mendarat di depan kelompok tersebut.

Mata Jiu Feixue melebar melihat kesepuluh murid elitnya. Bukan karena mereka terluka, melainkan karena mereka tampak jauh lebih kuat dari sebelumnya! Fluktuasi kultivasi, Wang Chen, dan Lin Feng telah mencapai puncak Nascent Soul, hanya selangkah lagi menuju Soul Transformation. Ketajaman di mata mereka bukanlah ketajaman murid akademi, melainkan ketajaman veteran yang telah meminum darah musuh.

"Kalian... kalian semua selamat?" ucap Jiu Feixue, nada suaranya yang selalu dingin kini sedikit bergetar karena lega.

"Melapor pada Ketua Sekte!" Mo Tian melangkah maju, lalu berlutut dengan satu kaki. Sembilan jenius lainnya serentak mengikuti. "Kami telah kembali dengan selamat di bawah bimbingan Paman Muda!"

Zeng Niu meludah batang rumputnya ke samping, lalu menyeringai pada Jiu Feixue. "Kulihat rambutmu tidak tambah putih, Nenek maksudku, Ketua Sekte. Jangan menatapku seolah aku hantu."

Urat kesabaran Jiu Feixue sedikit berkedut mendengar panggilan hampir kelepasan itu, tapi ia menahannya karena kelegaan yang luar biasa.

Leluhur Jiu Zui berjalan tertatih-tatih mendekat, matanya yang sayu tiba-tiba memicing tajam saat menatap tubuh Zeng Niu. Pria tua itu nyaris tersedak araknya sendiri.

"Bocah... kau... Soul Transformation Tahap Akhir?! Dan fisikmu... bau bintang purba apa ini?!" seru Jiu Zui tak percaya. "Hanya dalam beberapa bulan?!"

Zeng Niu terkekeh, menggaruk belakang kepalanya. "Yah, ada beberapa kecelakaan kecil. Aku kebetulan menemukan kolam air hangat di sana, jadi aku berendam sebentar. Ternyata itu cukup bergizi."

Zeng Niu menoleh ke arah Mo Tian. Ia menganggukkan kepalanya pelan. "Mo Tian, tunjukkan pada Ketua Sekte dan Guru Tua ini suvenir yang kita bawa dari Lautan Bintang."

Mo Tian menyeringai lebar. Ia berdiri, lalu melepas cincin penyimpanan utamanya. Sembilan murid lainnya melakukan hal yang sama. Mereka maju ke tengah pelataran batu raksasa tersebut, memfokuskan Qi mereka, dan membuka kunci cincin-cincin curian mereka secara serentak.

WUUUUUUSSSSHHH!

KRAK! KLINTING! PRANG!

Seketika, badai harta karun meledak di tengah pelataran utama Sekte Angin Merah!

Ribuan senjata tingkat bumi, ratusan zirah sutra dari Benua Timur, puluhan ribu botol pil spiritual kualitas puncak, gulungan sihir dari Sekte Awan Ungu, hingga Kristal Esensi Bintang yang belum dipoles tumpah ruah bagaikan air bah!

Tumpukan harta karun itu terus menggunung hingga mencapai ketinggian tiga tombak, berkilauan di bawah sinar matahari, memancarkan fluktuasi Qi yang begitu pekat hingga awan di atas Puncak Pedang tersapu bersih.

Puluhan ribu murid Pelataran Luar, para Tetua, hingga Tetua Pertama Mo Cang yang baru saja tiba, membeku seperti patung. Mulut mereka menganga cukup lebar untuk dimasuki kepalan tangan.

Jiu Feixue mundur selangkah, matanya terbelalak tak percaya. Bahkan sebagai Ketua Sekte, ia belum pernah melihat kekayaan sebanyak ini terkumpul di satu tempat seumur hidupnya. Seluruh perbendaharaan Sekte Angin Merah selama seribu tahun bahkan tidak mencapai sepersepuluh dari tumpukan rongsokan mewah di depannya ini!

"A... A... Apa ini?!" Jiu Feixue tergagap, menunjuk gunung harta itu dengan jari gemetar.

"Ini adalah sumbangan sukarela dari saudara-saudara kita di sekte lain, Ketua Sekte!" jawab Wang Chen dengan bangga, membusungkan dadanya. "Paman Muda mengajari kami bahwa mengumpulkan karma adalah hal lain, sementara mengumpulkan harta benda duniawi orang mati adalah kewajiban kultivator sejati!"

Jiu Zui menjatuhkan kendinya hingga pecah. Mulut pria tua pemabuk itu bergetar. "Kalian... kalian tidak pergi ikut turnamen... kalian merampok seluruh dimensi itu?!"

"Kami merampok dengan sangat sopan, Leluhur!" timpal Mu Qingqing polos.

Zeng Niu hanya tertawa melihat ekspresi para petinggi sektenya. Ia berjalan mendekati tumpukan harta itu, menepuknya pelan, lalu menoleh ke arah Jiu Feixue dan Jiu Zui. Senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan algojo yang dingin, tenang, dan luar biasa mematikan.

"Nikmati pandangan ini, Ketua Sekte. Bagikan sumber daya ini pada para murid, percepat kultivasi mereka ke batas maksimal, perkuat formasi pertahanan sekte hingga tingkat tertinggi, dan panggil kembali seluruh murid yang sedang menjalankan misi di luar," ucap Zeng Niu santai, namun kata-katanya membawa bobot gunung es.

Jiu Feixue merasakan hawa dingin merayap di tulang punggungnya. Ia sangat mengenal Zeng Niu. Di balik harta yang melimpah, asura ini pasti membawa masalah yang sebanding.

"Zeng Niu..." bisik Jiu Feixue. "Apa yang sebenarnya kau lakukan di Lautan Bintang?"

Zeng Niu menyilangkan lengannya, memandang langit biru Benua Utara dengan tatapan kosong.

"Tidak banyak. Turnamennya batal karena kiamat monster purba. Tapi sebelum itu terjadi..." Zeng Niu mengusap dagunya, menyeringai dengan Niat Ketiadaan yang sangat pekat.

"...aku mungkin tidak sengaja membuat Pangeran Pertama dari Istana Pusat terbunuh dengan cara yang sangat mengenaskan. Jadi, aku sarankan kalian bersiap-siap. Karena tidak lama lagi, seluruh armada dewa dari Benua Tengah akan mengetuk pintu depan sekte kita."

Hening.

Keheningan yang luar biasa mutlak melanda seluruh Sekte Angin Merah. Angin berhenti bertiup. Jantung setiap orang yang mendengar ucapan Zeng Niu seakan berhenti berdetak.

Membunuh Pangeran Pertama Istana Pusat? Pewaris takhta Kaisar Langit?!

Wajah Jiu Feixue perlahan berubah memucat, kemudian memerah karena amarah bercampur syok, dan akhirnya menjadi putih murni seputih salju kematian.

Wanita sedingin es itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, menarik napas panjang, lalu berteriak dengan suara yang mengguncang seluruh Puncak Pedang.

"ZENG NIUUUU! KAU BENAR-BENAR INGIN MENGUBUR SEKTE INI BERSAMAMU?!"

Terpopuler

Comments

Rhaka Kelana

Rhaka Kelana

wkwkwkwkk...nenek tua awas sirihnya muncrat 🤣🤣🤣🤣

2026-08-04

1

saniscara_Patriawuha

saniscara_Patriawuha

vote meluncur mang niu...

2026-08-05

0

yos helmi

yos helmi

0💪💪💪💪

2026-08-06

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Giok Jiwa Emas
2 BAB 2: Armada Matahari Darah
3 BAB 3: Janji di Bawah Langit
4 BAB 4: Hancurnya Wujud Dewa Matahari
5 BAB 5: Hierarki Alam Semesta
6 BAB 6: Panen Raya Angin Merah
7 BAB 7: Keringat Tuan Muda
8 BAB 8: Bayangan Kota Penghakiman
9 BAB 9: Penipu Kecil di Alam Bawah
10 BAB 10: Kedatangan Leluhur Gongsun
11 BAB 11: Kota Lelang Awan Ungu
12 BAB 12: Kota di Atas Tempurung
13 BAB 13: Penghinaan Tuan Muda Pil Emas
14 BAB 14: Perseteruan dengan Monster Tua
15 BAB 15: Kunci Istana Naga Primal
16 BAB 16: Kemurkaan Klan Pil Emas
17 BAB 17: Terbukanya Retakan Naga Purba
18 BAB 18: Formasi Jaring Darah
19 BAB 19: Pembuluh Darah Fosil
20 BAB 20: Kemurkaan Sang Dewi Es
21 BAB 21: Fisik Penentang Surga
22 BAB 22: Terobosan Berdarah
23 BAB 23: Reuni Dua Patriark Tua
24 BAB 24: Sebab-Akibat 10.000 Tahun
25 BAB 25: Delapan Wajah Takdir
26 BAB 26: Pintu Lautan Kesadaran
27 BAB 27: Bangkitnya Kaisar Purba
28 BAB 28: Harga Sebuah Keserakahan
29 BAB 29: Kehadiran Sang Tiran Ketiadaan
30 BAB 30: Gema Otoritas Ketiadaan
31 BAB 31: Formasi Waktu Angin Merah
32 BAB 32: Jejak Tanpa Wajah
33 BAB 33: Garis Kematian
34 BAB 34: Jaring Laba-Laba Tuan Bai
35 BAB 35: Dao Ketiadaan
36 BAB 36: Undangan dari Benua Tengah
37 BAB 37: Penyamaran
38 BAB 38: Umpan Dewa
39 BAB 39: Kematian di Ruang VVIP
40 BAB 40: Kembang Api di Hutan Tulang Layu
41 BAB 41: Evolusi Ranah Ascendant
42 BAB 42: Runtuhnya Kubah Samsara
43 BAB 43: Penyatuan Benua Utara
44 BAB 44: Umpan Karma
45 BAB 45: Runtuhnya Pagoda Bintang
46 BAB 46: Menelan Fondasi Dunia
47 BAB 47: Langit yang Runtuh
48 BAB 48: Dekrit Surgawi
49 BAB 49: Runtuhnya Era Naga
50 BAB 50: Undangan Emas dari Langit
51 BAB 51: Jubah Darah Kekaisaran
52 BAB 52: Takhta Langit Selatan
53 BAB 53: Menelan Naga Surga
54 BAB 54: Meja Perundingan
55 BAB 55: Para Penjaga
56 BAB 56: Tiga Utusan Dao
57 BAB 57: Kota Seribu Pedang
58 BAB 58: Kompas Darah Iblis
59 BAB 59: Altar Persembahan Keluarga Gu
60 BAB 60: Terbukanya Gerbang Iblis
61 BAB 61: Langit Ungu Alam Iblis
62 BAB 62: Dunia di Balik Kabut Ungu
63 BAB 63: Kesepakatan di Kota Taring
64 BAB 64: Pengembara Darah Besi
65 BAB 65: Jejak Pedang
66 BAB 66: Sekte Pedang Astral
67 BAB 67: Kamp Suplai Bintang
68 BAB 68: Runtuhnya Benteng Bintang
69 BAB 69: Phoenix Kegelapan
70 BAB 70: Pulau Tengkorak Kaisar
71 BAB 71: Tubuh Pedang
72 BAB 72: Menelan Jantung Kaisar
73 BAB 73: Tiga Benih Ketiadaan
74 BAB 74: Reuni di Kota Seribu Pedang
75 BAB 75: Jubah Hukum Ketiadaan
76 BAB 76: Domain Kaisar Bumi
77 BAB 77: Jatuhnya Mahkota Bintang
78 BAB 78: Hancurnya Kesombongan Langit
79 BAB 79: Lahirnya Sekte Asura Langit
80 BAB 80: Kereta Kayu dan Aturan Menjadi Fana
81 BAB 81: Kedatangan Seseorang
82 BAB 82: Murid Pertama Asura Langit
83 BAB 83: Berdirinya Asura Langit
84 BAB 84: Gadis Pembawa Peti Mati
Episodes

Updated 84 Episodes

1
BAB 1: Giok Jiwa Emas
2
BAB 2: Armada Matahari Darah
3
BAB 3: Janji di Bawah Langit
4
BAB 4: Hancurnya Wujud Dewa Matahari
5
BAB 5: Hierarki Alam Semesta
6
BAB 6: Panen Raya Angin Merah
7
BAB 7: Keringat Tuan Muda
8
BAB 8: Bayangan Kota Penghakiman
9
BAB 9: Penipu Kecil di Alam Bawah
10
BAB 10: Kedatangan Leluhur Gongsun
11
BAB 11: Kota Lelang Awan Ungu
12
BAB 12: Kota di Atas Tempurung
13
BAB 13: Penghinaan Tuan Muda Pil Emas
14
BAB 14: Perseteruan dengan Monster Tua
15
BAB 15: Kunci Istana Naga Primal
16
BAB 16: Kemurkaan Klan Pil Emas
17
BAB 17: Terbukanya Retakan Naga Purba
18
BAB 18: Formasi Jaring Darah
19
BAB 19: Pembuluh Darah Fosil
20
BAB 20: Kemurkaan Sang Dewi Es
21
BAB 21: Fisik Penentang Surga
22
BAB 22: Terobosan Berdarah
23
BAB 23: Reuni Dua Patriark Tua
24
BAB 24: Sebab-Akibat 10.000 Tahun
25
BAB 25: Delapan Wajah Takdir
26
BAB 26: Pintu Lautan Kesadaran
27
BAB 27: Bangkitnya Kaisar Purba
28
BAB 28: Harga Sebuah Keserakahan
29
BAB 29: Kehadiran Sang Tiran Ketiadaan
30
BAB 30: Gema Otoritas Ketiadaan
31
BAB 31: Formasi Waktu Angin Merah
32
BAB 32: Jejak Tanpa Wajah
33
BAB 33: Garis Kematian
34
BAB 34: Jaring Laba-Laba Tuan Bai
35
BAB 35: Dao Ketiadaan
36
BAB 36: Undangan dari Benua Tengah
37
BAB 37: Penyamaran
38
BAB 38: Umpan Dewa
39
BAB 39: Kematian di Ruang VVIP
40
BAB 40: Kembang Api di Hutan Tulang Layu
41
BAB 41: Evolusi Ranah Ascendant
42
BAB 42: Runtuhnya Kubah Samsara
43
BAB 43: Penyatuan Benua Utara
44
BAB 44: Umpan Karma
45
BAB 45: Runtuhnya Pagoda Bintang
46
BAB 46: Menelan Fondasi Dunia
47
BAB 47: Langit yang Runtuh
48
BAB 48: Dekrit Surgawi
49
BAB 49: Runtuhnya Era Naga
50
BAB 50: Undangan Emas dari Langit
51
BAB 51: Jubah Darah Kekaisaran
52
BAB 52: Takhta Langit Selatan
53
BAB 53: Menelan Naga Surga
54
BAB 54: Meja Perundingan
55
BAB 55: Para Penjaga
56
BAB 56: Tiga Utusan Dao
57
BAB 57: Kota Seribu Pedang
58
BAB 58: Kompas Darah Iblis
59
BAB 59: Altar Persembahan Keluarga Gu
60
BAB 60: Terbukanya Gerbang Iblis
61
BAB 61: Langit Ungu Alam Iblis
62
BAB 62: Dunia di Balik Kabut Ungu
63
BAB 63: Kesepakatan di Kota Taring
64
BAB 64: Pengembara Darah Besi
65
BAB 65: Jejak Pedang
66
BAB 66: Sekte Pedang Astral
67
BAB 67: Kamp Suplai Bintang
68
BAB 68: Runtuhnya Benteng Bintang
69
BAB 69: Phoenix Kegelapan
70
BAB 70: Pulau Tengkorak Kaisar
71
BAB 71: Tubuh Pedang
72
BAB 72: Menelan Jantung Kaisar
73
BAB 73: Tiga Benih Ketiadaan
74
BAB 74: Reuni di Kota Seribu Pedang
75
BAB 75: Jubah Hukum Ketiadaan
76
BAB 76: Domain Kaisar Bumi
77
BAB 77: Jatuhnya Mahkota Bintang
78
BAB 78: Hancurnya Kesombongan Langit
79
BAB 79: Lahirnya Sekte Asura Langit
80
BAB 80: Kereta Kayu dan Aturan Menjadi Fana
81
BAB 81: Kedatangan Seseorang
82
BAB 82: Murid Pertama Asura Langit
83
BAB 83: Berdirinya Asura Langit
84
BAB 84: Gadis Pembawa Peti Mati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!