BAB 4: Hancurnya Wujud Dewa Matahari

Di langit Benua Utara yang telah berubah sewarna darah, raksasa magma setinggi seratus tombak mengayunkan pedang apinya. Ruang di lintasan pedang itu meleleh, menciptakan celah dimensi hitam yang memancarkan badai spasial. Ini adalah kekuatan Ascendant Awal yang didorong hingga batas puncaknya melalui formasi lima puluh kapal perang!

Menyongsong kiamat yang turun dari langit itu, sesosok bayangan hitam melesat naik tanpa sedikit pun keraguan.

Zeng Niu menjejakkan kaki di kehampaan. Fluktuasi Soul Transformation Tahap Akhir meledak dari Dantiannya, mengubah ruang di sekitarnya menjadi rawa ketiadaan.

"Mati kau, Serangga Utara!" raung Jenderal Xue Yang dari dalam wujud raksasa magmanya.

Zeng Niu tidak menghindar. Ia menyalurkan seluruh Qi ke kedua lengannya, mencabut Nisan Petir Asura, dan menebas ke atas menyambut pedang raksasa yang sepuluh kali lebih besar dari tubuhnya itu!

BOOOOOOOOOOOOOOOM!

Benturan pertama terjadi. Gelombang kejut dahsyat meledak di udara, menyapu awan dalam radius sepuluh ribu mil menjadi ketiadaan! Sisa-sisa energi benturan itu bahkan membuat kubah pelindung Sekte Angin Merah di bawah sana bergetar hebat.

Di titik benturan, Zeng Niu terdorong mundur sejauh tiga puluh tombak. Tangannya bergetar hebat, dan setitik darah merembes dari sudut bibirnya. Panas ekstrem dari Hukum Api Ascendant mencoba menyusup ke dalam meridiannya, membakar dari dalam.

"Hanya segini kekuatan fisik dewa-iblis yang kau banggakan?!" tawa Xue Yang menggelegar, melihat Zeng Niu berdarah. "Di hadapan hukum dunia ranah Ascendant, kekuatan fisik murni tak lebih dari gumpalan daging mati!"

Zeng Niu mengusap darah di bibirnya dengan punggung tangan. Bukannya ketakutan, seulas senyum gila justru perlahan mengembang di wajahnya.

"Hukum dunia?" kekeh Zeng Niu, matanya yang sebelah emas dan sebelah hitam berputar beringas. Urat-urat keemasan gelap mulai menonjol di leher dan lengannya.

"Kau meminjam tenaga dari lima puluh perahu kayu di belakangmu dan menyebut dirimu dewa? Kalau begitu, biar kutunjukkan padamu apa itu kekuatan yang tak butuh pinjaman!"

Zeng Niu menghentakkan kakinya.

[Teknik Darah: Kebangkitan Bintang Primal!]

KRAAAK! KRAAAK!

Tulang-tulang Zeng Niu berderak keras. Ia tidak membesar menjadi raksasa seperti Tuoba Gu, melainkan memampatkan seluruh esensi darah kosmik ke dalam sel-selnya! Kulitnya kini memancarkan kilau perak gelap yang absolut. Rasa panas di meridiannya seketika ditelan habis oleh Domain Ketiadaan.

WUSSSSH!

Zeng Niu menghilang dari pandangan. Ia melesat dengan kecepatan yang merobek ruang, muncul tepat di depan dada raksasa magma Xue Yang, dan mengayunkan pedangnya ratusan kali dalam satu tarikan napas!

TRANG! TRANG! TRANG! TRANG!

Bunyi logam surgawi yang beradu dengan magma padat bergema layaknya simfoni kematian. Xue Yang terkejut bukan main. Pemuda ini tidak hanya bertahan, ia menyerang balik dengan intensitas yang membuat wujud magmanya teriris!

"Kurang ajar! Lautan Api Penyucian!" Xue Yang meraung, melepaskan gelombang api dari seluruh pori-pori raksasanya, mencoba menelan Zeng Niu dari segala arah.

Pertarungan tidak berakhir dalam satu jurus. Zeng Niu terlempar, kembali menerjang, tertusuk pilar api, namun fisik asuranya menolak untuk hancur. Ia bertarung layaknya binatang buas purba, menggerogoti energi Ascendant Xue Yang sedikit demi sedikit, menjadikan sang jenderal sebagai batu asahan untuk mematangkan fondasi Soul Transformation-nya!

Di balkon Paviliun Utama, Jiu Feixue berdiri mematung. Matanya yang indah tak berkedip menatap langit. Tangannya mencengkeram pagar balkon hingga kayu abadi itu retak.

"Dia... dia benar-benar mengimbangi seorang Ascendant secara langsung," gumam Jiu Feixue. Meskipun ranah Ketua Sekte ini berada di Setengah Langkah Kaisar Bumi (yang secara teori berada jauh di atas Ascendant), ia tahu betapa mustahilnya apa yang dilakukan Zeng Niu. Di dunia kultivasi, seorang Soul Transformation melawan Ascendant adalah kemustahilan yang melanggar hukum alam.

Di sampingnya, Leluhur Jiu Zui menenggak araknya dengan santai. Ranah Kaisar Raja Akhir yang dimilikinya membuat matanya bisa melihat setiap detail pertarungan dengan sangat jelas.

"Kau salah, Feixue," ucap Jiu Zui dengan suara parau. "Bocah itu belum mengimbanginya. Dia sedang dipukuli. Ranah Ascendant memiliki pasokan energi dari langit dan bumi yang tiada habisnya, sedangkan bocah itu hanya mengandalkan kolam Dantiannya sendiri."

Jiu Zui tersenyum tipis, matanya menyipit penuh kekaguman yang jarang ia tunjukkan. "Namun... fisik anak itu adalah anomali. Setiap kali tulang peraknya retak, energi asura dan bintang purba di dalamnya langsung merekatkannya kembali, menjadikannya sepuluh kali lebih keras dari sebelumnya. Dia sengaja tidak menggunakan sihir ilusi atau kelicikannya... dia sedang menempa tubuhnya menggunakan palu dewa musuh!"

Sementara itu, melayang beberapa puluh tombak di atas atap paviliun, Zhao Ying berdiri dengan tenang.

Roda 7 Bintang di punggungnya berputar perlahan, memancarkan kedinginan yang menjaga agar sisa-sisa api dari langit tidak melukai para murid sekte di bawah. Mata biru jernihnya menatap sosok Zeng Niu yang terus menerjang badai magma.

Sebagai ahli Ascendant Menengah, Zhao Ying bisa saja menggerakkan jarinya dan membekukan raksasa magma itu hingga hancur. Namun, ia tidak melakukannya. Ia memahami kebanggaan pria yang berjanji akan menembus langit untuknya itu.

"Jangan memaksakan diri, Asura Bodoh," batin Zhao Ying, meski Niat Es di telapak tangannya telah bersiap sedia untuk meledak jika nyawa Zeng Niu benar-benar terancam. Tidak ada aturan sekte yang bisa mencegahnya menyelamatkan pria itu.

Di pelataran bawah, pertarungan juga tidak kalah berdarah.

Mo Tian, Wang Chen, dan Lin Feng memimpin puluhan murid inti yang baru menembus Nascent Soul Puncak. Mereka mengepung dan membantai sisa-sisa Jenderal Sayap Kiri Istana Pusat. Formasi pedang Angin Merah, yang dikombinasikan dengan kelicikan merampok ajaran Zeng Niu, membuat para jenderal Benua Tengah itu mati dalam keadaan frustrasi dan terhina.

"Tusuk dari bawah! Ambil cincinnya sebelum dia jatuh!" teriak Wang Chen sambil menendang wajah seorang jenderal yang baru saja kehilangan keseimbangan.

Kembali ke pertempuran di langit tertinggi.

Napas Zeng Niu memburu. Jubahnya telah hangus separuh, mengekspos otot perunggu dan urat-urat emas yang berdenyut gila-gilaan. Qi di Dantiannya telah terkuras hingga tersisa tiga puluh persen.

Namun, kondisi Xue Yang jauh dari kata baik. Raksasa magmanya dipenuhi oleh celah-celah pedang yang memancarkan hawa ketiadaan hitam, menghalangi magma itu untuk beregenerasi.

Xue Yang merasa terhina. Sebagai Jenderal Dewa, ditahan begitu lama oleh seorang kultivator pinggiran adalah aib yang akan membuatnya ditertawakan seumur hidup di Istana Pusat.

"KESABARANKU SUDAH HABIS!" raung Xue Yang.

Raksasa magma itu mengangkat kedua tangannya. Kelima puluh kapal perang di belakangnya bersinar terang, menyalurkan seluruh energi inti mereka langsung ke tubuh Xue Yang. Suhu udara melonjak miliaran derajat! Langit benar-benar mulai mencair.

[Teknik Tabu Ascendant: Tombak Penghakiman Matahari!]

Sebuah tombak yang terbuat dari inti matahari bermanifestasi di tangan raksasa itu. Ini bukan sekadar energi; ini adalah hukum pemusnahan murni. Jika tombak ini dilemparkan, bukan hanya Zeng Niu, seluruh Puncak Pedang Sekte Angin Merah akan rata dengan tanah!

Melihat ancaman itu, Zhao Ying di bawah sana mengerutkan kening. Roda bintangnya bergetar, bersiap untuk ikut campur.

Namun, dari atas langit, suara tawa biadab Zeng Niu terdengar mengalahkan gemuruh badai api.

"Hahahaha! Bagus! Kekuatan yang sangat bagus, Jenderal Anjing!" Zeng Niu menyarungkan Nisan Petir Asura kembali ke punggungnya. Ia tidak menghindar. Ia justru mengambil postur merendah di udara, tangan kanannya mencengkeram gagang pedang di sarungnya.

Zeng Niu menutup matanya. Lautan Ketiadaan di Dantiannya yang tersisa tiga puluh persen ia kompresi ke satu titik mutlak. Seluruh kekuatan Tulang Perak Asura dan Teknik Darah Bintang Primal ia salurkan ke pergelangan tangannya.

"Jika ruang adalah lembaran kertas... maka pedang ini adalah jarum yang menembusnya."

Zeng Niu membuka matanya. Petir ungu membelah pupil matanya yang hitam pekat.

Tombak matahari itu dilemparkan turun oleh Xue Yang, membawa raungan naga api yang menelan langit!

[Pedang Ketiga: Runtuhnya Tatanan Bintang!]

SRINGGGGG!

Zeng Niu mencabut pedangnya, tidak menebas secara vertikal maupun horizontal, melainkan menusukkannya langsung menyambut ujung tombak matahari raksasa tersebut!

Pertemuan antara mata pedang hitam dan tombak matahari raksasa itu tidak menghasilkan ledakan cahaya.

Sebaliknya, segalanya menjadi sunyi.

Ruang di titik benturan itu... melengkung ke dalam. Gravitasi di ujung pedang Zeng Niu meningkat miliaran kali lipat dalam sepersepuluh detik! Tombak matahari yang membawa hukum pemusnahan itu secara paksa terhisap dan terpelintir ke dalam singularitas sekecil biji kacang di ujung pedang Zeng Niu.

"T-TIDAK MUNGKIN! HUKUM APA INI?!" Xue Yang menjerit histeris dari dalam wujud magmanya. Ia merasakan koneksi hukum apinya ditarik secara paksa.

Zeng Niu menggertakkan giginya hingga berdarah. Matanya melotot gila.

"RUNTUHLAH!" raung Zeng Niu.

Titik itu tidak bisa menahan kompresi lebih lama lagi dan akhirnya meledak ke arah sebaliknya!

Gaya gravitasi yang tak tertahankan berbalik menghantam raksasa magma Xue Yang. Ruang di sekitar raksasa itu hancur berkeping-keping layaknya cermin yang dihancurkan palu godam. Jalur koneksi energi antara Xue Yang dan kelima puluh kapal perang astral di belakangnya... terpotong paksa oleh robekan dimensi!

KRAAAAAAAAK!

Wujud raksasa magma setinggi seratus tombak itu hancur berantakan seperti patung tanah liat yang ditendang!

Dari tengah puing-puing lahar yang berjatuhan, sesosok tubuh manusia terpental keluar dengan kecepatan meteor, memuntahkan darah segar sejauh puluhan tombak.

Itu adalah Xue Yang dalam wujud aslinya! Zirah naga apinya hancur lebur. Dada kanannya melesak ke dalam akibat gaya gravitasi. Ia adalah ahli Ascendant Awal yang baru saja dipukul mundur hingga sekarat oleh kultivator Soul Transformation!

Xue Yang melayang di udara dengan napas tersengal-sengal. Matanya yang merah kini dipenuhi oleh kengerian yang dalam saat menatap pemuda berjubah hitam di depannya.

Zeng Niu berdiri di udara, napasnya berat, tubuhnya dipenuhi luka bakar ringan dan darah. Namun, punggungnya tegak lurus menentang surga. Senyumnya yang kejam terukir sempurna.

"Bagaimana rasanya, Jenderal?" kekeh Zeng Niu, memiringkan pedangnya. "Apa Istana Pusat kalian kekurangan ahli, sampai mengirim orang selemah ini ke wilayah Sekte Angin Merah?"

Terpopuler

Comments

Rinaldi Sigar

Rinaldi Sigar

lanjut

2026-08-06

0

yos helmi

yos helmi

🤭🤭🤭🤭🤭🤭

2026-08-06

0

saniscara_Patriawuha

saniscara_Patriawuha

gassssss polllll

2026-08-05

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Giok Jiwa Emas
2 BAB 2: Armada Matahari Darah
3 BAB 3: Janji di Bawah Langit
4 BAB 4: Hancurnya Wujud Dewa Matahari
5 BAB 5: Hierarki Alam Semesta
6 BAB 6: Panen Raya Angin Merah
7 BAB 7: Keringat Tuan Muda
8 BAB 8: Bayangan Kota Penghakiman
9 BAB 9: Penipu Kecil di Alam Bawah
10 BAB 10: Kedatangan Leluhur Gongsun
11 BAB 11: Kota Lelang Awan Ungu
12 BAB 12: Kota di Atas Tempurung
13 BAB 13: Penghinaan Tuan Muda Pil Emas
14 BAB 14: Perseteruan dengan Monster Tua
15 BAB 15: Kunci Istana Naga Primal
16 BAB 16: Kemurkaan Klan Pil Emas
17 BAB 17: Terbukanya Retakan Naga Purba
18 BAB 18: Formasi Jaring Darah
19 BAB 19: Pembuluh Darah Fosil
20 BAB 20: Kemurkaan Sang Dewi Es
21 BAB 21: Fisik Penentang Surga
22 BAB 22: Terobosan Berdarah
23 BAB 23: Reuni Dua Patriark Tua
24 BAB 24: Sebab-Akibat 10.000 Tahun
25 BAB 25: Delapan Wajah Takdir
26 BAB 26: Pintu Lautan Kesadaran
27 BAB 27: Bangkitnya Kaisar Purba
28 BAB 28: Harga Sebuah Keserakahan
29 BAB 29: Kehadiran Sang Tiran Ketiadaan
30 BAB 30: Gema Otoritas Ketiadaan
31 BAB 31: Formasi Waktu Angin Merah
32 BAB 32: Jejak Tanpa Wajah
33 BAB 33: Garis Kematian
34 BAB 34: Jaring Laba-Laba Tuan Bai
35 BAB 35: Dao Ketiadaan
36 BAB 36: Undangan dari Benua Tengah
37 BAB 37: Penyamaran
38 BAB 38: Umpan Dewa
39 BAB 39: Kematian di Ruang VVIP
40 BAB 40: Kembang Api di Hutan Tulang Layu
41 BAB 41: Evolusi Ranah Ascendant
42 BAB 42: Runtuhnya Kubah Samsara
43 BAB 43: Penyatuan Benua Utara
44 BAB 44: Umpan Karma
45 BAB 45: Runtuhnya Pagoda Bintang
46 BAB 46: Menelan Fondasi Dunia
47 BAB 47: Langit yang Runtuh
48 BAB 48: Dekrit Surgawi
49 BAB 49: Runtuhnya Era Naga
50 BAB 50: Undangan Emas dari Langit
51 BAB 51: Jubah Darah Kekaisaran
52 BAB 52: Takhta Langit Selatan
53 BAB 53: Menelan Naga Surga
54 BAB 54: Meja Perundingan
55 BAB 55: Para Penjaga
56 BAB 56: Tiga Utusan Dao
57 BAB 57: Kota Seribu Pedang
58 BAB 58: Kompas Darah Iblis
59 BAB 59: Altar Persembahan Keluarga Gu
60 BAB 60: Terbukanya Gerbang Iblis
61 BAB 61: Langit Ungu Alam Iblis
62 BAB 62: Dunia di Balik Kabut Ungu
63 BAB 63: Kesepakatan di Kota Taring
64 BAB 64: Pengembara Darah Besi
65 BAB 65: Jejak Pedang
66 BAB 66: Sekte Pedang Astral
67 BAB 67: Kamp Suplai Bintang
68 BAB 68: Runtuhnya Benteng Bintang
69 BAB 69: Phoenix Kegelapan
70 BAB 70: Pulau Tengkorak Kaisar
71 BAB 71: Tubuh Pedang
72 BAB 72: Menelan Jantung Kaisar
73 BAB 73: Tiga Benih Ketiadaan
74 BAB 74: Reuni di Kota Seribu Pedang
75 BAB 75: Jubah Hukum Ketiadaan
76 BAB 76: Domain Kaisar Bumi
77 BAB 77: Jatuhnya Mahkota Bintang
78 BAB 78: Hancurnya Kesombongan Langit
79 BAB 79: Lahirnya Sekte Asura Langit
80 BAB 80: Kereta Kayu dan Aturan Menjadi Fana
81 BAB 81: Kedatangan Seseorang
82 BAB 82: Murid Pertama Asura Langit
83 BAB 83: Berdirinya Asura Langit
84 BAB 84: Gadis Pembawa Peti Mati
Episodes

Updated 84 Episodes

1
BAB 1: Giok Jiwa Emas
2
BAB 2: Armada Matahari Darah
3
BAB 3: Janji di Bawah Langit
4
BAB 4: Hancurnya Wujud Dewa Matahari
5
BAB 5: Hierarki Alam Semesta
6
BAB 6: Panen Raya Angin Merah
7
BAB 7: Keringat Tuan Muda
8
BAB 8: Bayangan Kota Penghakiman
9
BAB 9: Penipu Kecil di Alam Bawah
10
BAB 10: Kedatangan Leluhur Gongsun
11
BAB 11: Kota Lelang Awan Ungu
12
BAB 12: Kota di Atas Tempurung
13
BAB 13: Penghinaan Tuan Muda Pil Emas
14
BAB 14: Perseteruan dengan Monster Tua
15
BAB 15: Kunci Istana Naga Primal
16
BAB 16: Kemurkaan Klan Pil Emas
17
BAB 17: Terbukanya Retakan Naga Purba
18
BAB 18: Formasi Jaring Darah
19
BAB 19: Pembuluh Darah Fosil
20
BAB 20: Kemurkaan Sang Dewi Es
21
BAB 21: Fisik Penentang Surga
22
BAB 22: Terobosan Berdarah
23
BAB 23: Reuni Dua Patriark Tua
24
BAB 24: Sebab-Akibat 10.000 Tahun
25
BAB 25: Delapan Wajah Takdir
26
BAB 26: Pintu Lautan Kesadaran
27
BAB 27: Bangkitnya Kaisar Purba
28
BAB 28: Harga Sebuah Keserakahan
29
BAB 29: Kehadiran Sang Tiran Ketiadaan
30
BAB 30: Gema Otoritas Ketiadaan
31
BAB 31: Formasi Waktu Angin Merah
32
BAB 32: Jejak Tanpa Wajah
33
BAB 33: Garis Kematian
34
BAB 34: Jaring Laba-Laba Tuan Bai
35
BAB 35: Dao Ketiadaan
36
BAB 36: Undangan dari Benua Tengah
37
BAB 37: Penyamaran
38
BAB 38: Umpan Dewa
39
BAB 39: Kematian di Ruang VVIP
40
BAB 40: Kembang Api di Hutan Tulang Layu
41
BAB 41: Evolusi Ranah Ascendant
42
BAB 42: Runtuhnya Kubah Samsara
43
BAB 43: Penyatuan Benua Utara
44
BAB 44: Umpan Karma
45
BAB 45: Runtuhnya Pagoda Bintang
46
BAB 46: Menelan Fondasi Dunia
47
BAB 47: Langit yang Runtuh
48
BAB 48: Dekrit Surgawi
49
BAB 49: Runtuhnya Era Naga
50
BAB 50: Undangan Emas dari Langit
51
BAB 51: Jubah Darah Kekaisaran
52
BAB 52: Takhta Langit Selatan
53
BAB 53: Menelan Naga Surga
54
BAB 54: Meja Perundingan
55
BAB 55: Para Penjaga
56
BAB 56: Tiga Utusan Dao
57
BAB 57: Kota Seribu Pedang
58
BAB 58: Kompas Darah Iblis
59
BAB 59: Altar Persembahan Keluarga Gu
60
BAB 60: Terbukanya Gerbang Iblis
61
BAB 61: Langit Ungu Alam Iblis
62
BAB 62: Dunia di Balik Kabut Ungu
63
BAB 63: Kesepakatan di Kota Taring
64
BAB 64: Pengembara Darah Besi
65
BAB 65: Jejak Pedang
66
BAB 66: Sekte Pedang Astral
67
BAB 67: Kamp Suplai Bintang
68
BAB 68: Runtuhnya Benteng Bintang
69
BAB 69: Phoenix Kegelapan
70
BAB 70: Pulau Tengkorak Kaisar
71
BAB 71: Tubuh Pedang
72
BAB 72: Menelan Jantung Kaisar
73
BAB 73: Tiga Benih Ketiadaan
74
BAB 74: Reuni di Kota Seribu Pedang
75
BAB 75: Jubah Hukum Ketiadaan
76
BAB 76: Domain Kaisar Bumi
77
BAB 77: Jatuhnya Mahkota Bintang
78
BAB 78: Hancurnya Kesombongan Langit
79
BAB 79: Lahirnya Sekte Asura Langit
80
BAB 80: Kereta Kayu dan Aturan Menjadi Fana
81
BAB 81: Kedatangan Seseorang
82
BAB 82: Murid Pertama Asura Langit
83
BAB 83: Berdirinya Asura Langit
84
BAB 84: Gadis Pembawa Peti Mati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!