BAB 3: Janji di Bawah Langit

Langit di atas Benua Utara yang biasanya cerah dan membeku kini berubah menjadi lautan api karma. Lima puluh kapal perang astral raksasa dari Divisi Matahari Darah merobek awan, memancarkan niat membunuh yang membuat binatang spiritual di radius ribuan mil tiarap tak berani bernapas.

Di geladak kapal bendera, Jenderal Xue Yang berdiri dengan tangan di belakang punggung. Matanya yang semerah magma menatap merendahkan ke arah Puncak Pedang Sekte Angin Merah di bawah sana.

"Tembak," perintahnya dingin.

BOOOOOOOOOOOOOOM!

Lima puluh Meriam Bintang Pembakar memuntahkan pilar cahaya merah yang membawa fluktuasi penghancuran. Serangan gabungan ini cukup untuk menghapus sebuah kerajaan fana dari peta keberadaan dalam satu kedipan mata!

Namun, saat pilar-pilar api itu tinggal sepuluh tombak dari atap paviliun sekte...

WUUUUUUNG...

Sebuah tabir pelindung berbentuk kubah bermanifestasi. Tabir itu tidak berwarna emas atau putih layaknya formasi pedang ortodoks, melainkan berwarna hitam legam dengan kilatan perak kosmik hasil modifikasi Zeng Niu menggunakan Air Mata Kiamat dan Kristal Esensi Bintang.

Alih-alih meledak, pilar-pilar api dari meriam kapal perang itu justru terisap dan terdistorsi ke dalam tabir hitam tersebut, layaknya lumpur yang dilemparkan ke dalam rawa ketiadaan. Tabir itu bahkan tidak bergetar!

Di atas geladak, mata Xue Yang menyipit. "Formasi yang menarik untuk ukuran sekte pinggiran. Pantas saja Pangeran Pertama bisa terjebak jika mereka memiliki ahli formasi tingkat ini. Sayangnya, formasi kura-kura tidak akan menyelamatkan nyawa kalian."

Xue Yang tidak langsung turun tangan. Sebagai ahli Ascendant Tahap Awal, harga dirinya terlalu tinggi untuk memukul tabir secara langsung. Ia mengangkat tangannya, memberikan isyarat.

"Sepuluh Jenderal Sayap Kiri, turun! Hancurkan titik tumpu formasi mereka dan seret ketua sektenya keluar!"

"Siap, Jenderal!"

WUSH! WUSH! WUSH!

Sepuluh ahli tingkat Soul Transformation Tahap Menengah melesat turun dari kapal perang layaknya meteor merah. Mereka menghunuskan tombak dan pedang yang memancarkan api matahari, membentuk formasi tempur di udara untuk menggempur kubah ketiadaan tersebut.

Di dalam kubah, suasana Sekte Angin Merah jauh dari kata panik.

Di balkon tertinggi Paviliun Utama, Ketua Sekte Jiu Feixue sedang duduk di kursi kebesarannya, menyeruput teh spiritual yang masih mengepul. Fluktuasi auranya yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat kini sedikit beriak. Bukan lagi sekadar batas fana, melainkan sebuah tekanan yang menyatu dengan kehendak bumi itu sendiri Setengah Langkah Kaisar Bumi!

Di sampingnya, Leluhur Jiu Zui bersandar malas di pilar kayu, menenggak arak dari kendi barunya. Jika ada ahli mata batin yang melihatnya, mereka akan menyadari bahwa pria tua pemabuk ini adalah monster purba sejati yang tertidur. Kultivasinya telah lama mencapai Kaisar Raja Tahap Akhir, sebuah ranah yang bahkan membuat Kaisar Langit di Benua Tengah harus berpikir dua kali sebelum menyerang secara personal!

Inilah alasan mengapa mereka berdua tidak terburu-buru turun tangan menghadapi armada pelopor ini. Bagi sosok seperti Jiu Zui, Jenderal Xue Yang yang baru mencapai Ascendant Awal hanyalah seekor anak harimau yang sedang mengaum di depan gua naga.

"Kau tidak mau turun tangan, Paman?" tanya Jiu Feixue tanpa menoleh, matanya menatap tajam ke arah sepuluh jenderal yang sedang membombardir formasi dari luar.

"Untuk apa mengotori tanganku?" kekeh Jiu Zui. "Bocah asura itu yang membawa masalah ini, biarkan dia yang memanaskan otot-otot murid pelataran dalam. Jika kita turun tangan sekarang, kapan anak-anak itu akan belajar mencicipi darah sungguhan?"

Tepat seperti perkataan sang Leluhur, sesosok bayangan hitam melesat dari Puncak Pedang, menembus kubah formasi dari dalam, dan berdiri melayang tepat di hadapan sepuluh jenderal musuh.

Zeng Niu.

Sang Algojo mengibaskan jubah hitamnya. Tangan kanannya mencengkeram gagang Nisan Petir Asura. Auranya tidak lagi ditahan; fluktuasi Soul Transformation Tahap Akhir meledak keluar, berpadu dengan Niat Jurang Ketiadaan yang membuat langit di sekitarnya menjadi redup.

"Sepuluh serangga pemakan bangkai dari Istana Pusat," Zeng Niu menyeringai biadab, mematahkan lehernya hingga berbunyi krak. "Kalian sangat terburu-buru mencari jalan ke alam baka."

"Lancang!" raung salah satu jenderal Benua Tengah. "Hanya kultivator barbar yang baru menembus Soul Transformation! Formasi Segi Sepuluh Matahari! Bakar dia menjadi abu!"

Kesepuluh jenderal itu menyerang serentak. Tombak-tombak mereka menyatu membentuk seekor gagak api raksasa yang menukik ke arah Zeng Niu. Panasnya cukup untuk melelehkan baja surgawi.

Zeng Niu tidak menghindar. Ia tidak menggunakan kekuatan instan untuk menyelesaikan pertarungan. Ia ingin menguji seberapa jauh batas fisik dan ranah barunya di pertarungan nyata.

[Pedang Pertama: Pemisah Debu Fana - Tebasan Tarikan Gravitasi!]

SRAAAAAASH!

Zeng Niu mengayunkan pedangnya secara horizontal. Bukannya gelombang energi yang melesat keluar, melainkan gravitasi di sekitar gagak api itu mendadak berlipat ganda seribu kali! Gagak api itu terdistorsi, sayapnya hancur terkompresi sebelum sempat menyentuh tubuh Zeng Niu.

"Apa?!" jenderal musuh membelalakkan matanya, mundur teratur. "Niat apa itu?!"

"Kalian terlalu lambat," Zeng Niu melesat menembus sisa-sisa api. Tulang Perak Asura-nya bersinar keemasan. Ia muncul tepat di hadapan jenderal terdepan, bukan menebas dengan pedang, melainkan merapatkan jari kirinya dan menusuk lurus!

BAM!

Tangan kosong Zeng Niu menembus zirah tingkat surga dan merobek dada jenderal Soul Transformation Menengah itu layaknya kertas basah. Ia mencabut jantung musuhnya dan meremasnya hingga hancur dalam satu genggaman!

Satu jatuh dalam tiga tarikan napas. Pertarungan bertahap ini mulai memancarkan kengerian murni dari sang Algojo.

Di bawah sana, Mo Tian, Wang Chen, dan puluhan murid inti yang baru menembus Nascent Soul Puncak turut melesat keluar dari formasi, mulai mengepung sisa-sisa jenderal yang formasi tempurnya telah dikacaukan oleh Zeng Niu. Pertempuran berdarah di udara pun pecah!

Di tengah kekacauan benturan senjata dan ledakan Qi, suhu udara di sekitar Zeng Niu tiba-tiba anjlok hingga mencapai titik beku. Kepingan salju berbentuk teratai turun dari langit yang terbakar, memadamkan sisa-sisa api dari serangan musuh.

Udara beriak. Sesosok wanita bermanifestasi di samping Zeng Niu, melayang dengan keanggunan seorang dewi yang turun dari kahyangan.

Ia mengenakan gaun putih seputih salju, rambut panjangnya dihiasi jepit es abadi. Matanya biru jernih, memancarkan kedinginan yang cukup untuk membekukan jiwa. Di belakang punggungnya, sebuah roda ilusi yang terbuat dari tujuh bintang kosmik berputar perlahan, memancarkan Niat Langit yang luar biasa menindas.

Zhao Ying.

Dewi Es dari dimensi atas yang selama ini memulihkan kekuatannya di kedalaman sekte, akhirnya keluar. Kultivasinya saat ini berada di ranah Ascendant Menengah - Roda Bintang 7! Kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat sisa jenderal Istana Pusat bergidik ketakutan.

"Kau bermain-main terlalu lama, Zeng Niu," suara Zhao Ying merdu namun membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Ia melentikkan jari telunjuknya.

CRAT! CRAT!

Dua jenderal musuh di kejauhan bahkan tidak sempat menjerit saat tubuh mereka tiba-tiba membeku menjadi patung es transparan, lalu pecah berkeping-keping tertiup angin!

Zeng Niu menoleh ke samping, memandangi wajah cantik nan dingin itu. Senyum algojonya melembut. Ia tidak merasa terintimidasi oleh ranah Zhao Ying yang lebih tinggi, karena ia tahu jiwa dewi es ini telah lama bertaut dengan takdirnya.

"Aku hanya membiarkan anak-anak pemula itu berlatih memegang pedang, Ying'er," balas Zeng Niu santai, menyarungkan kembali pedangnya sejenak. Ia melangkah mendekat, mengabaikan medan perang di sekitar mereka, lalu menyelipkan sehelai rambut putih Zhao Ying ke belakang telinganya.

"Kau merindukanku setelah aku berbulan-bulan pergi ke Lautan Bintang?" bisik Zeng Niu menggoda.

Zhao Ying mendengus pelan, semburat merah tipis (yang sangat langka) muncul di pipinya yang sedingin es. "Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya keluar karena lalat-lalat berisik di atas sana mengganggu meditasiku."

Zeng Niu tertawa pelan. Ia menatap lurus ke dalam mata biru jernih wanita itu. Ekspresinya berubah serius.

"Sesuai janjiku," ucap Zeng Niu pelan, namun penuh dengan keteguhan asura. "Setelah aku memenggal kepala kaisar bodoh di Benua Tengah yang mengirim anjing-anjing ini... ranahku akan cukup tinggi untuk menembus parit kosmik. Saat itu tiba, aku akan memegang tanganmu, menembus langit ini, dan mengantarkanmu pulang ke alam semestamu. Dan siapa pun di atas sana yang berani menghalangimu... akan kucincang menjadi makanan anjing."

Mendengar janji yang begitu brutal namun diucapkan dengan ketulusan, Zhao Ying menundukkan tatapannya, senyum tipis yang luar biasa indah akhirnya mekar.

"Kau berutang padaku, Asura Pembohong. Pastikan kau tidak mati hari ini."

"Mati?" Zeng Niu kembali menyeringai biadab, berbalik menatap armada kapal raksasa di atas mereka. "Di kamusku, hanya ada kata merampok dan memenggal."

Di atas geladak kapal bendera, urat di dahi Jenderal Xue Yang menonjol hebat.

Matanya yang merah magma membelalak melihat Jenderal-jenderalnya dibantai satu per satu oleh seorang pemuda Soul Transformation Akhir dan murid-muridnya. Namun, yang paling membuatnya gemetar adalah kehadiran wanita berambut salju dengan Roda 7 Bintang di punggungnya.

"Ascendant Menengah..." Xue Yang menggertakkan giginya hingga berdarah. "Laporan intelijen sialan! Mereka bilang ini hanya sekte fana tingkat menengah! Dari mana datangnya ahli Ascendant Menengah ini?!"

Xue Yang tahu, di hadapan Ascendant Menengah, armada pelopornya bisa hancur berantakan jika mereka bertarung gegabah. Ia harus bertindak sekarang sebelum moral pasukannya hancur total!

"AKTIFKAN FORMASI DEWA MATAHARI DARAH!" raung Xue Yang. "Gabungkan seluruh Niat dari lima puluh kapal padaku! Aku akan membakar wanita es itu dan asura sombong itu sendiri!"

BOOOOOOOOOOOM!

Xue Yang melompat dari geladak. Tubuhnya membesar, menyerap seluruh energi dari armada kapalnya. Ia bermanifestasi menjadi raksasa magma setinggi seratus tombak, memegang pedang api yang membelah awan. Ranahnya melonjak secara paksa, mendekati puncak Ascendant Awal, menantang langit Benua Utara.

Di bawah sana, Zeng Niu mencabut kembali Nisan Petir Asura-nya. Urat-urat emas kegelapan di lengannya berdenyut.

Zhao Ying melangkah maju, es abadi di telapak tangannya mulai memadat. "Biar aku yang membekukan anjing merah ini."

"Tidak," Zeng Niu mengangkat tangannya, menghentikan Zhao Ying. Matanya yang sebelah memancarkan emas suci dan sebelahnya hitam berputar ganas.

"Kau simpan tenagamu untuk kaisar mereka. Anjing besar yang satu ini... adalah batu asahan yang sempurna untuk menguji batas dari Pedang Ketigaku!"

Zeng Niu menjejakkan kaki ke udara, memelesat naik menyongsong raksasa magma Ascendant itu sendirian.

Terpopuler

Comments

yos helmi

yos helmi

👍👍👍👍👍

2026-08-06

1

saniscara_Patriawuha

saniscara_Patriawuha

nahhhhh lohhhhhh....

2026-08-05

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Giok Jiwa Emas
2 BAB 2: Armada Matahari Darah
3 BAB 3: Janji di Bawah Langit
4 BAB 4: Hancurnya Wujud Dewa Matahari
5 BAB 5: Hierarki Alam Semesta
6 BAB 6: Panen Raya Angin Merah
7 BAB 7: Keringat Tuan Muda
8 BAB 8: Bayangan Kota Penghakiman
9 BAB 9: Penipu Kecil di Alam Bawah
10 BAB 10: Kedatangan Leluhur Gongsun
11 BAB 11: Kota Lelang Awan Ungu
12 BAB 12: Kota di Atas Tempurung
13 BAB 13: Penghinaan Tuan Muda Pil Emas
14 BAB 14: Perseteruan dengan Monster Tua
15 BAB 15: Kunci Istana Naga Primal
16 BAB 16: Kemurkaan Klan Pil Emas
17 BAB 17: Terbukanya Retakan Naga Purba
18 BAB 18: Formasi Jaring Darah
19 BAB 19: Pembuluh Darah Fosil
20 BAB 20: Kemurkaan Sang Dewi Es
21 BAB 21: Fisik Penentang Surga
22 BAB 22: Terobosan Berdarah
23 BAB 23: Reuni Dua Patriark Tua
24 BAB 24: Sebab-Akibat 10.000 Tahun
25 BAB 25: Delapan Wajah Takdir
26 BAB 26: Pintu Lautan Kesadaran
27 BAB 27: Bangkitnya Kaisar Purba
28 BAB 28: Harga Sebuah Keserakahan
29 BAB 29: Kehadiran Sang Tiran Ketiadaan
30 BAB 30: Gema Otoritas Ketiadaan
31 BAB 31: Formasi Waktu Angin Merah
32 BAB 32: Jejak Tanpa Wajah
33 BAB 33: Garis Kematian
34 BAB 34: Jaring Laba-Laba Tuan Bai
35 BAB 35: Dao Ketiadaan
36 BAB 36: Undangan dari Benua Tengah
37 BAB 37: Penyamaran
38 BAB 38: Umpan Dewa
39 BAB 39: Kematian di Ruang VVIP
40 BAB 40: Kembang Api di Hutan Tulang Layu
41 BAB 41: Evolusi Ranah Ascendant
42 BAB 42: Runtuhnya Kubah Samsara
43 BAB 43: Penyatuan Benua Utara
44 BAB 44: Umpan Karma
45 BAB 45: Runtuhnya Pagoda Bintang
46 BAB 46: Menelan Fondasi Dunia
47 BAB 47: Langit yang Runtuh
48 BAB 48: Dekrit Surgawi
49 BAB 49: Runtuhnya Era Naga
50 BAB 50: Undangan Emas dari Langit
51 BAB 51: Jubah Darah Kekaisaran
52 BAB 52: Takhta Langit Selatan
53 BAB 53: Menelan Naga Surga
54 BAB 54: Meja Perundingan
55 BAB 55: Para Penjaga
56 BAB 56: Tiga Utusan Dao
57 BAB 57: Kota Seribu Pedang
58 BAB 58: Kompas Darah Iblis
59 BAB 59: Altar Persembahan Keluarga Gu
60 BAB 60: Terbukanya Gerbang Iblis
61 BAB 61: Langit Ungu Alam Iblis
62 BAB 62: Dunia di Balik Kabut Ungu
63 BAB 63: Kesepakatan di Kota Taring
64 BAB 64: Pengembara Darah Besi
65 BAB 65: Jejak Pedang
66 BAB 66: Sekte Pedang Astral
67 BAB 67: Kamp Suplai Bintang
68 BAB 68: Runtuhnya Benteng Bintang
69 BAB 69: Phoenix Kegelapan
70 BAB 70: Pulau Tengkorak Kaisar
71 BAB 71: Tubuh Pedang
72 BAB 72: Menelan Jantung Kaisar
73 BAB 73: Tiga Benih Ketiadaan
74 BAB 74: Reuni di Kota Seribu Pedang
75 BAB 75: Jubah Hukum Ketiadaan
76 BAB 76: Domain Kaisar Bumi
77 BAB 77: Jatuhnya Mahkota Bintang
78 BAB 78: Hancurnya Kesombongan Langit
79 BAB 79: Lahirnya Sekte Asura Langit
80 BAB 80: Kereta Kayu dan Aturan Menjadi Fana
81 BAB 81: Kedatangan Seseorang
82 BAB 82: Murid Pertama Asura Langit
83 BAB 83: Berdirinya Asura Langit
84 BAB 84: Gadis Pembawa Peti Mati
Episodes

Updated 84 Episodes

1
BAB 1: Giok Jiwa Emas
2
BAB 2: Armada Matahari Darah
3
BAB 3: Janji di Bawah Langit
4
BAB 4: Hancurnya Wujud Dewa Matahari
5
BAB 5: Hierarki Alam Semesta
6
BAB 6: Panen Raya Angin Merah
7
BAB 7: Keringat Tuan Muda
8
BAB 8: Bayangan Kota Penghakiman
9
BAB 9: Penipu Kecil di Alam Bawah
10
BAB 10: Kedatangan Leluhur Gongsun
11
BAB 11: Kota Lelang Awan Ungu
12
BAB 12: Kota di Atas Tempurung
13
BAB 13: Penghinaan Tuan Muda Pil Emas
14
BAB 14: Perseteruan dengan Monster Tua
15
BAB 15: Kunci Istana Naga Primal
16
BAB 16: Kemurkaan Klan Pil Emas
17
BAB 17: Terbukanya Retakan Naga Purba
18
BAB 18: Formasi Jaring Darah
19
BAB 19: Pembuluh Darah Fosil
20
BAB 20: Kemurkaan Sang Dewi Es
21
BAB 21: Fisik Penentang Surga
22
BAB 22: Terobosan Berdarah
23
BAB 23: Reuni Dua Patriark Tua
24
BAB 24: Sebab-Akibat 10.000 Tahun
25
BAB 25: Delapan Wajah Takdir
26
BAB 26: Pintu Lautan Kesadaran
27
BAB 27: Bangkitnya Kaisar Purba
28
BAB 28: Harga Sebuah Keserakahan
29
BAB 29: Kehadiran Sang Tiran Ketiadaan
30
BAB 30: Gema Otoritas Ketiadaan
31
BAB 31: Formasi Waktu Angin Merah
32
BAB 32: Jejak Tanpa Wajah
33
BAB 33: Garis Kematian
34
BAB 34: Jaring Laba-Laba Tuan Bai
35
BAB 35: Dao Ketiadaan
36
BAB 36: Undangan dari Benua Tengah
37
BAB 37: Penyamaran
38
BAB 38: Umpan Dewa
39
BAB 39: Kematian di Ruang VVIP
40
BAB 40: Kembang Api di Hutan Tulang Layu
41
BAB 41: Evolusi Ranah Ascendant
42
BAB 42: Runtuhnya Kubah Samsara
43
BAB 43: Penyatuan Benua Utara
44
BAB 44: Umpan Karma
45
BAB 45: Runtuhnya Pagoda Bintang
46
BAB 46: Menelan Fondasi Dunia
47
BAB 47: Langit yang Runtuh
48
BAB 48: Dekrit Surgawi
49
BAB 49: Runtuhnya Era Naga
50
BAB 50: Undangan Emas dari Langit
51
BAB 51: Jubah Darah Kekaisaran
52
BAB 52: Takhta Langit Selatan
53
BAB 53: Menelan Naga Surga
54
BAB 54: Meja Perundingan
55
BAB 55: Para Penjaga
56
BAB 56: Tiga Utusan Dao
57
BAB 57: Kota Seribu Pedang
58
BAB 58: Kompas Darah Iblis
59
BAB 59: Altar Persembahan Keluarga Gu
60
BAB 60: Terbukanya Gerbang Iblis
61
BAB 61: Langit Ungu Alam Iblis
62
BAB 62: Dunia di Balik Kabut Ungu
63
BAB 63: Kesepakatan di Kota Taring
64
BAB 64: Pengembara Darah Besi
65
BAB 65: Jejak Pedang
66
BAB 66: Sekte Pedang Astral
67
BAB 67: Kamp Suplai Bintang
68
BAB 68: Runtuhnya Benteng Bintang
69
BAB 69: Phoenix Kegelapan
70
BAB 70: Pulau Tengkorak Kaisar
71
BAB 71: Tubuh Pedang
72
BAB 72: Menelan Jantung Kaisar
73
BAB 73: Tiga Benih Ketiadaan
74
BAB 74: Reuni di Kota Seribu Pedang
75
BAB 75: Jubah Hukum Ketiadaan
76
BAB 76: Domain Kaisar Bumi
77
BAB 77: Jatuhnya Mahkota Bintang
78
BAB 78: Hancurnya Kesombongan Langit
79
BAB 79: Lahirnya Sekte Asura Langit
80
BAB 80: Kereta Kayu dan Aturan Menjadi Fana
81
BAB 81: Kedatangan Seseorang
82
BAB 82: Murid Pertama Asura Langit
83
BAB 83: Berdirinya Asura Langit
84
BAB 84: Gadis Pembawa Peti Mati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!