BAB 2: Pertemuan Pertama

Suara langkah sepatu kulit yang mantap dan teratur bergaung di lantai marmer area kolam renang. Keheningan menyergap seketika. Para pelayan menundukkan kepala sangat dalam, bahkan Clara yang tadi berlagak menantang kini mendadak mematung dengan wajah penuh kecemasan.

Dari balik pintu kaca, sosok pria jangkung berjalan masuk. Ia mengenakan setelan jas hitam yang terpotong sangat rapi, membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Wajahnya rupawan dengan rahang yang tegas, namun garis bibirnya yang rapat dan sepasang mata tajam berkehitaman memancarkan aura dingin yang membekukan udara di sekitarnya.

Dia adalah Adrian Vane. CEO muda dari Vane Group sekaligus penguasa tak terlihat dari sindikat bawah tanah yang ditakuti seluruh negeri.

Di belakangnya, seorang pria bersetelan rapi membawa sebuah map dokumen tebal berjalan dengan langkah konstan—asisten pribadinya.

Adrian menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Vanya. Pandangannya menyapu genangan air di lantai, gaun malam Vanya yang basah kuyup, lalu beralih menatap wajah Vanya yang pucat namun terikat aura yang sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada gemetar di tubuh wanita itu, tidak ada air mata, dan yang paling aneh—matanya menatap tepat ke arah mata Adrian tanpa ada intensi untuk menunduk sama sekali.

"Ada apa dengan kekacauan ini?" suara Adrian terdengar berat, dalam, dan tanpa emosi.

Clara cepat-cepat mengambil kesempatan. Dengan akting yang sudah dilatih puluhan kali, ia memegang lengannya sendiri dan memotong suasana dengan suara bergetar yang dibuat-buat.

"Kak Adrian! Akhirnya Kamu datang!" seru Clara pura-pura ketakutan. "Aura... Aura tiba-tiba mengamuk setelah hampir tenggelam di kolam. Dia... dia memfitnahku mendorongnya, bahkan dia mengancam akan mematahkan tanganku! Aku takut sekali, Kak. Sikapnya benar-benar aneh dan kasar!"

Adrian tidak langsung merespons Clara. Matanya masih terkunci pada Vanya. Biasanya, jika Clara sudah mulai menyudutkannya seperti ini, Aura yang lama akan langsung menangis sesenggukan, gemetaran, dan bersembunyi di balik ketakutannya sendiri tanpa berani membela diri.

Namun, Vanya bukanlah Aura yang dulu.

Vanya memutar bola matanya malas. Bicaranya langsung menyambar secepat senapan mesin, memotong Clara sebelum wanita itu sempat mengusap air mata buayanya.

"Ancam mematahkan tangan? Itu bukan ancaman, itu peringatan dini. Kamu pikir aku tidak tahu trik murahanmu? Dorong orang dari belakang saat CCTV mati, lalu pura-pura jadi korban begitu ada yang datang? Aktingmu itu sampah banget, Clara. Kalau mau jadi antagonis, belajar dulu analisis lapangan supaya tidak ketahuan dalam tiga detik pertama. Dan satu lagi—suara jeritanmu itu sumbang banget, merusak gendang telingaku!"

Semua orang di ruangan itu menahan napas. Pelayan-pelayan hampir tersedak ludah mereka sendiri. Aura Valeria yang terkenal pemalu dan jika bicara hanya bisa membisikkan dua atau tiga kata, baru saja melontarkan omelan super cepat tanpa napas dalam kurun waktu lima detik!

Bahkan mata Adrian sempat berkilat kaget untuk sepetik detik, meski dengan cepat ia menguasai ekspresinya kembali.

"Cukup," potong Adrian tenang namun tegas. Aura otoritasnya begitu kuat hingga udara terasa semakin berat. Ia memberi sinyal kecil pada asistennya.

Sang asisten melangkah maju dan menyerahkan map tebal di tangannya kepada Vanya.

"Nona Aura," ucap sang asisten sopan. "Tuan Besar meminta Anda menandatangani dokumen ini malam ini juga."

Vanya menerima map tersebut. Menggunakan kemampuan analisis cepatnya sebagai agen rahasia, ia membuka sampul depan dan membaca puluhan lembar pasal dalam hitungan detik. Matanya memindai tulisan cetak tebal di halaman utama: *Surat Perjanjian Perceraian dan Pengalihan Aset.*

"Ah," Vanya terkekeh pelan. "Surat cerai."

Clara di sampingnya langsung tersenyum puas secara sembunyi-sembunyi. Ini yang ditunggu-tunggunya. Pernikahan perjodohan antara Adrian dan Aura yang baru berjalan satu bulan ini memang tidak pernah diinginkan oleh Adrian. Keluarga Valeria hanya memanfaatkan Aura untuk mendapat suntikan dana dari Vane Group, dan kini setelah dana cair, Adrian siap membuang "beban" yang tak berguna ini.

"Syarat-syaratnya sudah tertulis di sana," kata Adrian dingin, menatap Vanya dengan pandangan menilai. "Kamu akan mendapatkan kompensasi satu unit apartemen dan uang bulanan yang cukup sampai kamu menemukan pekerjaan. Saya tidak suka pernikahan yang didasari kebohongan keluarga kamu."

Dalam ingatan Aura yang lama, surat cerai ini adalah mimpi buruk terbesar. Aura yang asli sangat takut diceraikan karena ia tahu keluarganya sendiri akan membuangnya jika ia tidak lagi berguna sebagai istri CEO.

Tetapi bagi Vanya? Ini adalah hadiah terbesar dari langit!

*Bebas dari pernikahan settingan? Bebas dari keluarga beracun ini? Dapat apartemen gratis pula? Ya ampun, ini sih namanya rezeki anak soleh!* batin Vanya bersorak riang.

"Mana pulpennya?" tanya Vanya tanpa ragu-ragu.

Adrian mengernyitkan alisnya. "Apa?"

"Pulpen. Pen. Alat tulis. Benda yang dipakai buat tanda tangan," balas Vanya secepat kilat, bicaranya yang terlalu cepat membuat kata-katanya meluncur seperti peluru. "Kamu bilang minta ditandatangani sekarang kan? Ya sudah, cepat kasih pulpennya. Lebih cepat selesai, lebih cepat aku bisa ganti baju basah ini dan angkat kaki dari rumah ini. Aku juga malas lama-lama dikelilingi orang-orang bersuara sumbang dan bermuka dua!"

Asisten Adrian menyodorkan pulpen dengan tangan gemetar, masih syok dengan respons Vanya.

Vanya meraih pulpen itu, membalik halaman terakhir dengan gerakan yang sangat efisien, lalu menorehkan tanda tangan yang tegas dan mantap di atas nama Aura Valeria. Tanpa membuang waktu semenit pun, ia menjejal lembaran surat cerai itu kembali ke dada sang asisten.

"Bagus. Selesai," ujar Vanya puas sambil menepuk kedua tangannya. "Uang kompensasi kirim ke rekening pribadi atas namaku, jangan lewat rekening keluarga Valeria. Paham? Oke, terima kasih atas kerjasamanya, Tuan CEO. Sampai jumpa di pengadilan!"

Vanya berbalik dengan gerakan sapuan gaun basahnya yang elegan, bersiap melangkah masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri.

Namun, kecerobohan bawaan jiwanya yang sedang merasa terlalu senang tiba-tiba berulah. Tubuhnya bergerak terlalu cepat sementara lantai marmer masih licin oleh air kolam.

*Srettt!*

Kaki kanan Vanya terpeleset hebat.

"Aah, sial!" jerit Vanya refleks.

Di saat yang bersamaan, Adrian yang berada paling dekat refleks mengulurkan tangannya. Dengan kecepatan dan refleks luar biasa khas seorang petarung dunia bawah, tangan kekar Adrian menangkap pinggang Vanya sebelum tubuh wanita itu menghantam lantai marmer yang keras.

*Greb!*

Tubuh Vanya terangkat sedikit dan menempel rapat pada dada bidang Adrian. Aroma parfum maskulin berkayu milik Adrian merasuk ke indra penciuman Vanya, sementara hawa dingin dari baju basah Vanya menembus jas tebal Adrian.

Mata mereka beradu dari jarak beberapa sentimeter saja.

Vanya berkedip dua kali. Agen elit yang tadi kelihatan sangat berbahaya dan bicaranya secepat senapan mesin, kini mematung konyol di pelukan suaminya hanya karena terpeleset lantai licin.

"Kamu..." Adrian menyipitkan matanya, menatap wajah Vanya dari dekat. Ada rasa heran yang sangat besar tercermin di matanya. "Sejak kapan kamu bisa bicara secepat itu dan mendadak jadi sangat ceroboh?"

Vanya buru-buru menegakkan tubuhnya dan mendorong dada Adrian dengan cepat. Ia berdeham keras untuk menutupi rasa malunya yang membumbung tinggi.

"Lantainya licin! Bukan aku yang ceroboh, tapi marmer rumahmu yang tidak memenuhi standar keselamatan bangunan!" elak Vanya cepat, berusaha membela diri dengan alasan konyol. "Lagipula refleksmu lumayan juga untuk ukuran CEO yang biasanya cuma duduk di balik meja. Oke, terima kasih bantuannya, aku mau mandi dulu!"

Tanpa menunggu balasan Adrian, Vanya langsung setengah berlari menuju tangga, meninggalkan genangan air dan jejak kaki basah di sepanjang jalan.

Di area kolam, suasana mendadak hening total.

Clara terpaku, asisten pribadi Adrian ternganga, dan para pelayan tidak berani bernapas.

Adrian berdiri di tempatnya, menatap ke arah tangga di mana Vanya baru saja menghilang. Ia perlahan mengangkat tangannya yang tadi sempat menahan pinggang Vanya. Kehangatan dan ketegasan dari tubuh "Aura Baru" itu masih terasa.

"Tuan Besar..." asistennya berbisik pelan, menyodorkan berkas cerai yang sudah ditandatangani. "Apakah... apakah dokumen ini akan langsung dikirim ke pengadilan besok pagi?"

Adrian mengambil kembali berkas tersebut. Matanya menatap tanda tangan Aura yang tergores sangat tajam dan percaya diri—sangat berbeda dengan tanda tangan lambat dan ragu-ragu yang pernah ia lihat di dokumen pernikahan mereka bulan lalu.

Wanita yang tadi melawan Clara dengan omongan secepat kilat, yang menatap matanya tanpa rasa takut sedikit pun, dan yang baru saja terpeleset konyol di depannya... sama sekali tidak cocok dengan profil "Aura Valeria" yang lemah dan penakut dalam laporan intelijennya.

Sebuah ukiran senyum tipis yang penuh misteri dan bahaya terbentuk di bibir Adrian. Sisi mafia dalam dirinya yang selalu haus akan teka-teki mendadak terpicu.

"Tahan dokumennya," perintah Adrian dingin sambil meremukkan sedikit tepi kertas berkas tersebut.

Sang asisten terkejut. "Maksud Anda, Tuan?"

"Batalkan perceraian untuk sementara waktu," kata Adrian sambil berbalik, matanya berkilat penuh ketertarikan. "Istriku yang pendiam ini... mendadak jadi sangat menarik. Aku ingin tahu permainan apa yang sedang dia mainkan."

visual Adrian vane

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

TBC ❤️🥰😘

Terpopuler

Comments

Osie

Osie

iyuuhh roman romannya cikal bakal bucin n penisirin mulai melanda sang ceo nih🤣🤣moga aura bisa lepas dr vane. jgn cepat luluh

2026-08-06

1

Uthie

Uthie

semakin menarik disimak 👍👍😁

2026-08-15

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Kematian Paling Konyol dan Tubuh Baru
2 BAB 2: Pertemuan Pertama
3 BAB 3
4 BAB 4: Peraturan Baru dan Kontak Pertama Mafia
5 BAB 5: Unjuk Gigi di Jamuan Bisnis
6 BAB 6
7 BAB 7: Pengawasan Ketat dan Bisnis Rahasia
8 BAB 8
9 BAB 9: Malam di Mansion Vane dan Gejolak di Dada
10 BAB 10: Serangan di Tengah Malam
11 BAB 11: Interogasi
12 BAB 12: Sekretaris Khusus
13 BAB 13
14 BAB 14
15 BAB 15
16 BAB 16
17 BAB 17
18 BAB 18
19 BAB 19
20 BAB 20: Pengakuan Publik dan Bayang-Bayang Baru
21 BAB 21: Kedatangan Dewan Tetua dan Sambutan Hangat di Bandara
22 BAB 22: Jamuan Keluarga
23 BAB 23
24 BAB 24
25 BAB 25
26 BAB 26
27 BAB 27
28 BAB 28: Strategi Dua Sisi dan Permainan Catur Kakak-Adik
29 BAB 29:
30 BAB 30
31 BAB 31: Manja Tanpa Batas
32 BAB 32: Sisi Lemah sang CEO dan Panik Berjamaah
33 BAB 33: Kamar Bayi, Harapan, dan Rasa Takut yang Menghangatkan
34 BAB 34: Detik-Detik Menegangkan dan Suara Pertama Kehidupan
35 BAB 35: Kehadiran Alexander dan Aturan Baru di Mansion Vane
36 BAB 36: Jejak Masa Lalu dan Pesta Penyambutan Sang Pewaris
37 BAB 37: Babak Baru dan Jejak Langkah Pertama
38 BAB 38: Cahaya di Pulau Selatan dan Masa Depan yang Menanti
39 BAB 39
40 BAB 40: Bayang-Bayang yang Hilang dan Keretakan di Balik Kemegahan
41 BAB 41: Garis Takdir di Antara Dua Dunia
42 BAB 42: Mata yang Mengawasi
43 BAB 43: Bunga Tanpa Nama dan Pengintai di Balik Layar
44 BAB 44: Benang Merah di Antara Tiga Arah
45 BAB 45: Simpul yang Mulai Terikat
46 BAB 46: Pertemuan dan Ketegangan
47 BAB 47
48 BAB 48
49 BAB 49
50 BAB 50
51 BAB 51: Garis-Garis yang Bersimpangan dan Bayangan Masa Lalu
52 BAB 52: Jejak yang Saling Memburu
53 BAB 53: Percikan yang Mulai Menyala
54 BAB 54: Tatapan di Lobi Sekolah dan Kontak yang Terikat
55 BAB 55: Kepastian Sang Kakak dan Kontak Pertama
56 BAB 56: Pertemuan Dua Dunia di Balik Layar
57 BAB 57
58 BAB 58: Jaringan yang Mulai Merapat
59 BAB 59: Tarikan Senar di Bawah Permukaan
60 BAB 60: Papan Catur yang Makin Menegang
61 BAB 61: Bayangan di Luar Aula
62 BAB 62: Jejak Gelap dan Garis Depan
63 BAB 63
64 BAB 64: Undangan di Meja Makan dan Pelukan yang Kembali
65 BAB 65
66 BAB 66
67 BAB 67
68 BAB 68
69 BAB 69
70 BAB 70: Interogasi
71 BAB 71
72 BAB 72: Lembaran Baru
73 BAB 73
74 BAB 74
75 BAB 75
76 BAB 76
77 BAB 77
78 BAB 78
79 BAB 79
80 BAB 80
81 BAB 81
82 BAB 82
83 BAB 83
84 BAB 84
85 BAB 85
86 BAB 86 (TAMAT)
87 BAB 87 (EKSTRA)
Episodes

Updated 87 Episodes

1
BAB 1: Kematian Paling Konyol dan Tubuh Baru
2
BAB 2: Pertemuan Pertama
3
BAB 3
4
BAB 4: Peraturan Baru dan Kontak Pertama Mafia
5
BAB 5: Unjuk Gigi di Jamuan Bisnis
6
BAB 6
7
BAB 7: Pengawasan Ketat dan Bisnis Rahasia
8
BAB 8
9
BAB 9: Malam di Mansion Vane dan Gejolak di Dada
10
BAB 10: Serangan di Tengah Malam
11
BAB 11: Interogasi
12
BAB 12: Sekretaris Khusus
13
BAB 13
14
BAB 14
15
BAB 15
16
BAB 16
17
BAB 17
18
BAB 18
19
BAB 19
20
BAB 20: Pengakuan Publik dan Bayang-Bayang Baru
21
BAB 21: Kedatangan Dewan Tetua dan Sambutan Hangat di Bandara
22
BAB 22: Jamuan Keluarga
23
BAB 23
24
BAB 24
25
BAB 25
26
BAB 26
27
BAB 27
28
BAB 28: Strategi Dua Sisi dan Permainan Catur Kakak-Adik
29
BAB 29:
30
BAB 30
31
BAB 31: Manja Tanpa Batas
32
BAB 32: Sisi Lemah sang CEO dan Panik Berjamaah
33
BAB 33: Kamar Bayi, Harapan, dan Rasa Takut yang Menghangatkan
34
BAB 34: Detik-Detik Menegangkan dan Suara Pertama Kehidupan
35
BAB 35: Kehadiran Alexander dan Aturan Baru di Mansion Vane
36
BAB 36: Jejak Masa Lalu dan Pesta Penyambutan Sang Pewaris
37
BAB 37: Babak Baru dan Jejak Langkah Pertama
38
BAB 38: Cahaya di Pulau Selatan dan Masa Depan yang Menanti
39
BAB 39
40
BAB 40: Bayang-Bayang yang Hilang dan Keretakan di Balik Kemegahan
41
BAB 41: Garis Takdir di Antara Dua Dunia
42
BAB 42: Mata yang Mengawasi
43
BAB 43: Bunga Tanpa Nama dan Pengintai di Balik Layar
44
BAB 44: Benang Merah di Antara Tiga Arah
45
BAB 45: Simpul yang Mulai Terikat
46
BAB 46: Pertemuan dan Ketegangan
47
BAB 47
48
BAB 48
49
BAB 49
50
BAB 50
51
BAB 51: Garis-Garis yang Bersimpangan dan Bayangan Masa Lalu
52
BAB 52: Jejak yang Saling Memburu
53
BAB 53: Percikan yang Mulai Menyala
54
BAB 54: Tatapan di Lobi Sekolah dan Kontak yang Terikat
55
BAB 55: Kepastian Sang Kakak dan Kontak Pertama
56
BAB 56: Pertemuan Dua Dunia di Balik Layar
57
BAB 57
58
BAB 58: Jaringan yang Mulai Merapat
59
BAB 59: Tarikan Senar di Bawah Permukaan
60
BAB 60: Papan Catur yang Makin Menegang
61
BAB 61: Bayangan di Luar Aula
62
BAB 62: Jejak Gelap dan Garis Depan
63
BAB 63
64
BAB 64: Undangan di Meja Makan dan Pelukan yang Kembali
65
BAB 65
66
BAB 66
67
BAB 67
68
BAB 68
69
BAB 69
70
BAB 70: Interogasi
71
BAB 71
72
BAB 72: Lembaran Baru
73
BAB 73
74
BAB 74
75
BAB 75
76
BAB 76
77
BAB 77
78
BAB 78
79
BAB 79
80
BAB 80
81
BAB 81
82
BAB 82
83
BAB 83
84
BAB 84
85
BAB 85
86
BAB 86 (TAMAT)
87
BAB 87 (EKSTRA)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!