BAB 4: Peraturan Baru dan Kontak Pertama Mafia

Mobil Limosin Roll-Royce warna hitam legam membelah jalanan kota yang sepi di tengah malam. Di dalam kabin penumpang yang luas dan mewah, suasana terasa sangat sunyi hingga suara deru mesin pun hampir tak terdengar.

Vanya duduk di sudut kanan jok kulit, sementara Adrian berada di sudut kiri, terpisah jarak yang cukup jauh. Laptop tipis menyala di pangkuan Adrian; jemari pria itu bergerak lincah menekan kibor, mengecek laporan transaksi keuangan Vane Group—sekaligus pergerakan amunisi gelap jaringan mafianya di pelabuhan utara.

Vanya menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, matanya memindai rute jalanan dengan cermat. Sebagai mantan agen rahasia, insting dasarnya melatih mata Vanya untuk merekam setiap sudut jalan, posisi kamera pengawas kota, hingga celah untuk melarikan diri jika terjadi serangan mendadak.

*Rute ini... bukan jalan utama menuju kawasan perumahan elit,* batin Vanya cepat. *Dia sengaja memutar lewat jalur sepi yang minim penerangan. Tipikal pemimpin organisasi bawah tanah—selalu mengantisipasi pengintaian musuh.*

Vanya menoleh ke arah Adrian. "Jalur melingkar yang bagus, Tuan CEO. Tapi kamu tahu tidak? Kalau ada musuh yang mau mencegat di persimpangan tiga ratus meter di depan, jalur sepi ini justru menjebak mobil armor ini dalam posisi mati."

Jemari Adrian di atas kibor berhenti mendadak.

Pria itu menoleh perlahan, menatap Vanya dengan tatapan tajam dan penuh ketertarikan yang membahayakan. "Kamu tahu rute ini sepi?"

"Siapa pun yang punya otak dan mata normal bisa bedakan rute utama sama rute jalan pintas pelabuhan," jawab Vanya santai dan secepat senapan mesin. "Lagipula, mobil pengawal di belakang kita jaraknya terlalu jauh—sekitar empat puluh meter. Kalau ada penembak jitu di atas gedung tua di sebelah kiri itu, ban depan kanan mobil ini bisa hancur sebelum pengawalmu sempat membalas tembakan."

Adrian menyipitkan matanya. Apa yang dikatakan Vanya bukanlah omongan asal. Itu adalah analisis taktis tingkat tinggi yang biasa digunakan oleh tentara bayaran atau agen profesional.

"Sejak kapan seorang putri keluarga Valeria yang pemalu paham soal posisi penembak jitu dan perimeter pengawalan?" tanya Adrian dingin, suaranya mengandung intimidasi yang pekat.

*Sial, aku terlalu refleks!* batin Vanya meringis. Sifatnya yang serba cepat dan reaktif sering kali membuat lidahnya terpeleset sebelum otaknya sempat mengeramkan kebohongan.

Vanya berdeham keras, langsung memutar otak dengan kecepatan penuh untuk bersilat lidah.

"Ya... ya baca novel lah!" sahut Vanya secepat kilat tanpa berkedip. "Kamu pikir aku di rumah cuma diam menunduk saja? Aku baca ratusan novel aksi dan mafia! Semua trik murahan begitu sudah basi di bab sepuluh!"

Adrian tidak menjawab. Ia hanya menatap Vanya selama beberapa detik yang terasa sangat panjang, seolah sedang menguliti setiap lapisan kebohongan wanita di depannya. Namun, sebelum Adrian sempat menginterogasi lebih jauh, pengemudi di depan mendadak menginjak rem dengan keras!

*Ckiiiiiittt!*

Ban mobil mencicit hebat di atas aspal basah. Tubuh Vanya terdorong ke depan dengan keras karena efek inersia.

"Aww!" Vanya meringis konyol saat dahinya hampir menghantam sandaran kursi depan. Untungnya, tangan kekar Adrian bergerak secepat kilat menahan bahunya, menyelamatkannya dari benturan konyol untuk kedua kalinya malam ini.

"Ada apa?" suara Adrian berubah menjadi sangat berat dan berbahaya. Hawa membunuh menyebar di dalam mobil dalam sekejap.

"Tuan Besar, ada dua mobil SUV hitam tanpa pelat nomor memblokir jalan di depan," lapor sang sopir dengan suara gemetar, tangannya sudah bersiap merogoh senjata di bawah jok.

Dari kegelapan jalanan pelabuhan yang sepi, delapan orang bersetelan serba hitam keluar dari SUV tersebut. Mereka memegang pipa besi dan beberapa di antaranya membawa senjata api. Ini adalah kelompok mafia kelas teri yang mencoba memeras atau memberi peringatan pada Vane Group.

"Tetap di dalam mobil," kata Adrian dingin kepada Vanya. Pria itu membuka kancing jasnya, bersiap turun untuk membereskan pengacau tersebut bersama para pengawalnya.

Namun, Vanya yang dasarnya adalah agen rahasia yang tidak betah diam melihat aksi pertarungan, justru sudah membuka pintu mobil di sisinya terlebih dahulu!

"Hei! Kamu mau ke mana?!" bentak Adrian kaget, tertahan oleh gerakan nekat istrinya.

"Kelamaan!" seru Vanya cepat. "Kalau nunggu pengawalmu yang jaraknya jauh itu datang, mobil mahal ini keburu lecet kena pipa besi!"

Vanya keluar dari mobil dengan gerakan anggun namun sangat cepat. Salah satu anggota penjahat yang memegang pipa besi langsung berlari mendekati Vanya, mengira wanita bergaun simpel itu adalah mangsa empuk yang mudah dijadikan sandera.

"Serahkan wanita itu!" teriak si penjahat sambil mengayunkan pipa besinya ke arah bahu Vanya.

Vanya bahkan tidak berkedip. Dalam mode bertarung, otaknya bekerja dalam hitungan milidetik.

Ia memiringkan tubuhnya sedikit ke kanan, membiarkan pipa besi itu meleset menabrak angin. Sebelum si penjahat menyadari apa yang terjadi, Vanya melangkah masuk ke area jarak dekat, menggunakan telapak tangannya untuk menghantam dagu pria itu dengan gaya *palm strike* yang sangat presisi!

*Brak!*

Pria berbadan besar itu langsung pingsan di tempat dengan rahang tergeser.

Vanya dengan mulus menangkap pipa besi yang terlepas di udara, memutarnya di jemarinya dengan lihai, lalu melakukan tendangan memutar yang mengenai dada penjahat kedua yang mencoba mendekat!

*Krak!*

"Aaargh!"

Hanya dalam waktu kurang dari lima belas detik, dua penjahat roboh di atas aspal tanpa sempat menyentuh gaun Vanya sedikit pun.

Pengawal Adrian yang baru saja melompat keluar dari mobil belakang mematung di tempat. Mereka ternganga menyaksikan Nona Muda keluarga Valeria—wanita yang dilaporkan sangat lemah dan penakut—sedang berdiri santai sambil memutar-mutar pipa besi di tangannya bak seorang profesional.

Adrian yang keluar dari mobilnya berdiri membatu. Matanya menangkap setiap gerakan Vanya yang serba cepat, efisien, dan mematikan. Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan. Gerakan itu adalah hasil latihan bertahun-tahun dalam seni membunuh.

"Siapa lagi yang mau maju?!" tantang Vanya secepat senapan mesin, memutar pipa besi itu ke arah sisa penjahat. "Cepat! Aku mau mandi dan tidur, jangan buang-buang waktuku!"

Sisa penjahat yang melihat rekannya tumbang dalam hitungan detik langsung ciut. Mereka menyeret teman-teman mereka yang pingsan dan buru-buru masuk kembali ke dalam SUV, lalu tancap gas melarikan diri dari tempat kejadian.

"Pengecut," cibir Vanya sambil melempar pipa besi itu ke pinggir jalan dengan santai.

Ia berbalik, hendak berjalan kembali menuju mobil Adrian dengan gaya bak pahlawan yang menang perang. Namun, sifat ceroboh jiwanya yang mendadak muncul saat ketegangan mereda kembali membawa petaka.

Tumit sepatu *heels* yang dikenakannya tersangkut di celah lubang saluran air di tepi jalan.

"Waaa!"

Vanya hilang keseimbangan total dan tubuhnya meluncur jatuh ke depan!

*Greb!*

Untuk ketiga kalinya dalam semalam, Adrian berhasil menangkap tubuh Vanya. Kali ini, Adrian mendekapnya erat, menahan dada Vanya di pelukannya agar tidak menghantam aspal.

Keheningan kembali melingkupi jalanan sepi itu.

Vanya menengadah, mendapati wajah Adrian yang berjarak hanya beberapa senti dari wajahnya. Mata gelap pria itu menatapnya dengan intensitas yang begitu kuat hingga dada Vanya berdesir aneh.

"Mematikan saat bertarung, tapi tersandung lubang jalanan saat berjalan biasa," suara Adrian bergetar pelan, ada nada geli sekaligus ketertarikan yang sangat mendalam dalam suaranya. "Istriku... rahasia apa lagi yang kamu sembunyikan dariku?"

Vanya buru-buru berdiri tegak, merapikan gaunnya dengan wajah yang mendadak memerah panas.

"I-itu gara-gara hak sepatunya kepanjangan! Lagipula jalanan kota ini buruk sekali pembangunannya!" elak Vanya secepat kilat, bicaranya yang serba cepat berusaha menutupi rasa malu akibat kecerobohannya sendiri. "Sudah ah! Cepat jalan! Jangan senyum-senyum begitu, kelihatannya aneh tahu!"

Vanya langsung masuk kembali ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan keras.

Adrian berdiri di luar mobil, mendengus kekeh pelan—sebuah tawa kecil yang belum pernah didengar oleh para pengawalnya selama bertahun-tahun. Sang CEO berdarah dingin itu menyapu jasnya, lalu melangkah masuk ke dalam mobil.

Malam ini, Adrian sadar bahwa pernikahan formalitasnya yang membosankan telah berubah menjadi permainan paling berbahaya dan menarik dalam hidupnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

TBC ❤️🥰😘

Terpopuler

Comments

Uthie

Uthie

kocak saat tokoh wanitanya yg udah keren-keren, tapi selalu berulang kali jatoh dan ada-ada aja hal sepele tingkahnya 😂👍

2026-08-15

0

Osie

Osie

aura dilawan..jiwa agen elit lho dlm raga nya...ya mana lawaaaann

2026-08-06

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Kematian Paling Konyol dan Tubuh Baru
2 BAB 2: Pertemuan Pertama
3 BAB 3
4 BAB 4: Peraturan Baru dan Kontak Pertama Mafia
5 BAB 5: Unjuk Gigi di Jamuan Bisnis
6 BAB 6
7 BAB 7: Pengawasan Ketat dan Bisnis Rahasia
8 BAB 8
9 BAB 9: Malam di Mansion Vane dan Gejolak di Dada
10 BAB 10: Serangan di Tengah Malam
11 BAB 11: Interogasi
12 BAB 12: Sekretaris Khusus
13 BAB 13
14 BAB 14
15 BAB 15
16 BAB 16
17 BAB 17
18 BAB 18
19 BAB 19
20 BAB 20: Pengakuan Publik dan Bayang-Bayang Baru
21 BAB 21: Kedatangan Dewan Tetua dan Sambutan Hangat di Bandara
22 BAB 22: Jamuan Keluarga
23 BAB 23
24 BAB 24
25 BAB 25
26 BAB 26
27 BAB 27
28 BAB 28: Strategi Dua Sisi dan Permainan Catur Kakak-Adik
29 BAB 29:
30 BAB 30
31 BAB 31: Manja Tanpa Batas
32 BAB 32: Sisi Lemah sang CEO dan Panik Berjamaah
33 BAB 33: Kamar Bayi, Harapan, dan Rasa Takut yang Menghangatkan
34 BAB 34: Detik-Detik Menegangkan dan Suara Pertama Kehidupan
35 BAB 35: Kehadiran Alexander dan Aturan Baru di Mansion Vane
36 BAB 36: Jejak Masa Lalu dan Pesta Penyambutan Sang Pewaris
37 BAB 37: Babak Baru dan Jejak Langkah Pertama
38 BAB 38: Cahaya di Pulau Selatan dan Masa Depan yang Menanti
39 BAB 39
40 BAB 40: Bayang-Bayang yang Hilang dan Keretakan di Balik Kemegahan
41 BAB 41: Garis Takdir di Antara Dua Dunia
42 BAB 42: Mata yang Mengawasi
43 BAB 43: Bunga Tanpa Nama dan Pengintai di Balik Layar
44 BAB 44: Benang Merah di Antara Tiga Arah
45 BAB 45: Simpul yang Mulai Terikat
46 BAB 46: Pertemuan dan Ketegangan
47 BAB 47
48 BAB 48
49 BAB 49
50 BAB 50
51 BAB 51: Garis-Garis yang Bersimpangan dan Bayangan Masa Lalu
52 BAB 52: Jejak yang Saling Memburu
53 BAB 53: Percikan yang Mulai Menyala
54 BAB 54: Tatapan di Lobi Sekolah dan Kontak yang Terikat
55 BAB 55: Kepastian Sang Kakak dan Kontak Pertama
56 BAB 56: Pertemuan Dua Dunia di Balik Layar
57 BAB 57
58 BAB 58: Jaringan yang Mulai Merapat
59 BAB 59: Tarikan Senar di Bawah Permukaan
60 BAB 60: Papan Catur yang Makin Menegang
61 BAB 61: Bayangan di Luar Aula
62 BAB 62: Jejak Gelap dan Garis Depan
63 BAB 63
64 BAB 64: Undangan di Meja Makan dan Pelukan yang Kembali
65 BAB 65
66 BAB 66
67 BAB 67
68 BAB 68
69 BAB 69
70 BAB 70: Interogasi
71 BAB 71
72 BAB 72: Lembaran Baru
73 BAB 73
74 BAB 74
75 BAB 75
76 BAB 76
77 BAB 77
78 BAB 78
79 BAB 79
80 BAB 80
81 BAB 81
82 BAB 82
83 BAB 83
84 BAB 84
85 BAB 85
86 BAB 86 (TAMAT)
87 BAB 87 (EKSTRA)
Episodes

Updated 87 Episodes

1
BAB 1: Kematian Paling Konyol dan Tubuh Baru
2
BAB 2: Pertemuan Pertama
3
BAB 3
4
BAB 4: Peraturan Baru dan Kontak Pertama Mafia
5
BAB 5: Unjuk Gigi di Jamuan Bisnis
6
BAB 6
7
BAB 7: Pengawasan Ketat dan Bisnis Rahasia
8
BAB 8
9
BAB 9: Malam di Mansion Vane dan Gejolak di Dada
10
BAB 10: Serangan di Tengah Malam
11
BAB 11: Interogasi
12
BAB 12: Sekretaris Khusus
13
BAB 13
14
BAB 14
15
BAB 15
16
BAB 16
17
BAB 17
18
BAB 18
19
BAB 19
20
BAB 20: Pengakuan Publik dan Bayang-Bayang Baru
21
BAB 21: Kedatangan Dewan Tetua dan Sambutan Hangat di Bandara
22
BAB 22: Jamuan Keluarga
23
BAB 23
24
BAB 24
25
BAB 25
26
BAB 26
27
BAB 27
28
BAB 28: Strategi Dua Sisi dan Permainan Catur Kakak-Adik
29
BAB 29:
30
BAB 30
31
BAB 31: Manja Tanpa Batas
32
BAB 32: Sisi Lemah sang CEO dan Panik Berjamaah
33
BAB 33: Kamar Bayi, Harapan, dan Rasa Takut yang Menghangatkan
34
BAB 34: Detik-Detik Menegangkan dan Suara Pertama Kehidupan
35
BAB 35: Kehadiran Alexander dan Aturan Baru di Mansion Vane
36
BAB 36: Jejak Masa Lalu dan Pesta Penyambutan Sang Pewaris
37
BAB 37: Babak Baru dan Jejak Langkah Pertama
38
BAB 38: Cahaya di Pulau Selatan dan Masa Depan yang Menanti
39
BAB 39
40
BAB 40: Bayang-Bayang yang Hilang dan Keretakan di Balik Kemegahan
41
BAB 41: Garis Takdir di Antara Dua Dunia
42
BAB 42: Mata yang Mengawasi
43
BAB 43: Bunga Tanpa Nama dan Pengintai di Balik Layar
44
BAB 44: Benang Merah di Antara Tiga Arah
45
BAB 45: Simpul yang Mulai Terikat
46
BAB 46: Pertemuan dan Ketegangan
47
BAB 47
48
BAB 48
49
BAB 49
50
BAB 50
51
BAB 51: Garis-Garis yang Bersimpangan dan Bayangan Masa Lalu
52
BAB 52: Jejak yang Saling Memburu
53
BAB 53: Percikan yang Mulai Menyala
54
BAB 54: Tatapan di Lobi Sekolah dan Kontak yang Terikat
55
BAB 55: Kepastian Sang Kakak dan Kontak Pertama
56
BAB 56: Pertemuan Dua Dunia di Balik Layar
57
BAB 57
58
BAB 58: Jaringan yang Mulai Merapat
59
BAB 59: Tarikan Senar di Bawah Permukaan
60
BAB 60: Papan Catur yang Makin Menegang
61
BAB 61: Bayangan di Luar Aula
62
BAB 62: Jejak Gelap dan Garis Depan
63
BAB 63
64
BAB 64: Undangan di Meja Makan dan Pelukan yang Kembali
65
BAB 65
66
BAB 66
67
BAB 67
68
BAB 68
69
BAB 69
70
BAB 70: Interogasi
71
BAB 71
72
BAB 72: Lembaran Baru
73
BAB 73
74
BAB 74
75
BAB 75
76
BAB 76
77
BAB 77
78
BAB 78
79
BAB 79
80
BAB 80
81
BAB 81
82
BAB 82
83
BAB 83
84
BAB 84
85
BAB 85
86
BAB 86 (TAMAT)
87
BAB 87 (EKSTRA)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!