BAB 3

Aroma rempah mahal dan masakan koki bintang lima membumbung di ruang makan utama keluarga Valeria. Namun, alih-alih hangat, suasana di meja makan panjang itu terasa sedingin ruang otopsi.

Vanya—yang kini menghuni tubuh Aura—duduk di salah satu kursi kayu jati berukir. Ia sudah berganti pakaian menggunakan gaun santai warna krem yang simpel. Rambut panjangnya yang masih sedikit basah dibiarkan terurai bebas.

Di ujung meja, duduk Hermawan Valeria, ayah kandung Aura yang matre dan keras kepala. Di samping Hermawan, ada Siska, ibu tiri Aura yang anggun tapi berhati licik, serta Clara yang masih menatap Vanya dengan tatapan benci tertahan.

"Aura," suara Hermawan memecah keheningan, terdengar berat dan penuh wibawa palsu. "Papa mendengar dari Clara soal kejadian di kolam renang tadi. Kenapa kamu makin hari makin tidak sopan? Sudah bagus keluarga Vane mau menampung kamu, sekarang kamu malah bikin ulah di depan Adrian!"

Siska buru-buru menyahut dengan nada mengelus dada yang dibuat-buat, "Iya, Aura... Ibu tahu kamu frustrasi karena Adrian tidak pernah menyentuhmu sejak menikah. Tapi jangan limpahkan kemarahanmu pada Clara dong. Kasihan adikmu, dia kan cuma khawatir saat melihat kamu tenggelam."

Vanya yang sedang menikmati sup krimnya terhenti sejenak. Ia meletakkan sendok dengan dentang halus yang menggema.

*Ah, drama teratai putih klasik,* batin Vanya terkekeh. *Ibu dan anak sama saja, pinter banget memutarbalikkan fakta.*

Sesuai tabiat aslinya yang serba cepat dan tidak tahan dengan basa-basi, Vanya langsung menyambar tanpa memberikan jeda satu detik pun untuk mereka bernapas.

"Khawatir?" Vanya terkekeh sinis, matanya menatap Siska dan Hermawan bergantian dengan tatapan tajam yang membuat Hermawan tersedak udara. "Khawatir itu memanggil tim medis atau melempar pelampung. Bukan berdiri di tepi kolam sambil senyum-senyum nungguin paru-paru orang lain kepenuhan air kaporit. Dan Papa, daripada sibuk menyalahkan aku tanpa bukti, lebih baik Papa periksa CCTV area kolam jam delapan malam tadi. Tapi oh ya, aku lupa, kabel CCTV area sana sengaja dicabut jam tujuh malam, kan? Siapa lagi yang punya akses ke ruang kontrol kalau bukan putri kesayangan Papa ini?"

Satu rentetan kalimat secepat senapan mesin meluncur dari bibir Vanya hanya dalam waktu tiga detik!

Wajah Clara seketika pucat pasi. Siska terperangah sampai mulutnya sedikit terbuka, sementara Hermawan melotot kaget.

"K-kamu... bicara apa kamu secepat itu?!" Hermawan menggebrak meja, berusaha mengembalikan wibawanya yang mendadak terkikis. "Sejak kapan kamu jadi berani memotong omongan orang tua?!"

"Sejak aku hampir mati dan sadar kalau berbakti pada orang tua yang cuma memanfaatkan anaknya itu adalah kebodohan tingkat dewa," balas Vanya secepat kilat. Ia mengambil gelas air putih di samping piringnya.

Namun, karena refleks tubuh dan otaknya yang terlalu cepat tidak seimbang saat ia sedang santai berbicara, tangan Vanya menyenggol pinggiran piring.

*Pyar!*

Gelas air putih itu terguling, menyiram sup krim mahal milik Hermawan hingga meluber ke celana pria paruh baya itu!

"AARGH! Panas! Celanaku!" Hermawan langsung berdiri panik, mengibaskan celananya dengan wajah merah padam.

Siska dan para pelayan buru-buru mengerumuni Hermawan dengan tisu dan kain lap.

Vanya yang mematung menatap tangan kirinya sendiri hanya bisa meringis konyol dalam hati. *Aduh, sialan... kenapa sifat cerobohku harus kumat di saat aku lagi keren-kerennya menutori mereka?!*

"A-aduh, maaf ya Pa," ujar Vanya dengan nada polos yang dibuat-buat, berdeham pelan untuk menutupi kecerobohannya. "Tanganku licin. Anggap saja itu bonus air doa supaya pikiran Papa agak adem dan tidak gampang dibodohi anak tiri."

"Kamu... kamu benar-benar melunjak, Aura!" Siska berteriak penuh emosi sambil menunjuk wajah Vanya. "Kurang ajar! Biarkan Adrian menceraikanmu! Kita lihat bagaimana kamu bisa bertahan hidup tanpa uang keluarga Valeria dan keluarga Vane!"

"Siapa bilang aku takut diceraikan?" Vanya bersedekah dada, menegakkan punggungnya. "Malah surat cerainya sudah aku tanda tangani tadi. Kalian tidak usah repot-repot memikirkan caraku bertahan hidup. Pikirkan saja nasib bisnis Papa yang pusing mencari suntikan dana baru setelah Adrian resmi mendepak keluarga ini!"

*Degh!*

Kalimat Vanya menghantam titik terlemah Hermawan. Pria itu seketika berhenti mengelap celananya. "A-apa kamu bilang? Kamu sudah menandatangani surat cerai?!"

"Tentu saja. Kenapa? Papa pikir aku mau bertahan di pernikahan dingin demi membiayai gaya hidup Clara yang hobi beli tas premium KW?" cetus Vanya tanpa ampun.

Sebelum Hermawan sempat meledakkan kemarahannya lebih jauh, suara langkah kaki berwibawa kembali terdengar dari pintu ruang makan.

Adrian Vane berjalan masuk dengan tenang. Ia sudah melepas jas luarnya, kini hanya mengenakan kemeja hitam yang lengannya tergulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah dan garis otot tangannya yang kokoh.

Kehadiran sosok penguasa mafia itu langsung menyerap seluruh keberanian di ruangan tersebut. Hermawan yang tadi mengamuk mendadak menundukkan kepala, memaksakan senyum ramah yang terlihat sangat konyol.

"T-Tuan Adrian..." Hermawan menyapa gagap. "Ada apa kembali lagi ke sini? Apakah... apakah proses perceraian Aura sudah selesai?"

Adrian tidak menjawab Hermawan. Matanya yang tajam langsung terarah pada Vanya yang sedang mengelap jarinya yang terkena cipratan air.

"Perceraian ditunda," kata Adrian dingin. Suaranya datar, tetapi memotong seluruh harapan keluarga Valeria.

Clara dan Siska melotot tidak percaya. "A-apa? Ditunda?"

Adrian melangkah mendekati Vanya, lalu berdiri tepat di samping kursi wanita itu. Ia meletakkan sebuah berkas baru di atas meja makan, tepat di depan Vanya.

"Berdasarkan klausul tambahan yang baru saya masukkan, kamu harus tinggal di mansion Vane selama tiga bulan ke depan sebelum berkas perceraian bisa diproses oleh pengadilan," ujar Adrian sambil menatap Vanya dari atas.

Vanya mendongak, matanya membelalak kaget. "Tiga bulan?! Tadi di surat yang pertama tidak ada pasal konyol begitu! Kamu main ubah-ubah dokumen seenaknya?!"

"Ini bisnis, dan saya pemegang kendalinya," balas Adrian tenang tanpa beban. Ada kilatan provokasi yang sangat tipis di matanya. "Kecuali kalau kamu takut tidak bisa bertahan tinggal bersamaku?"

Vanya memicingkan matanya. Sebagai mantan agen rahasia yang pantang menerima tantangan, kata 'takut' adalah tabu terbesar dalam kamusnya.

"Takut? Sama kamu?" Vanya langsung berdiri, menantang tatapan mata Adrian dari jarak dekat. Bicaranya meluncur deras seperti senapan mesin lagi. "Dalam kamusku tidak ada kata takut pada pria bersetelan hitam yang sukanya main gertak! Tiga bulan? Oke! Jangankan tiga bulan, tiga tahun juga aku layani! Tapi ingat ya, sediakan makanan yang enak dan pastikan di mansionmu tidak ada lantai licin!"

Adrian alisnya terangkat sebelah. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sangat tipis—hampir tak terlihat, tetapi cukup untuk membuat asistennya di belakang menjerit kaget dalam hati. *Tuan Besar... baru saja tersenyum?!*

"Kemasi barang-barangmu sekarang," perintah Adrian singkat. "Kita pulang ke mansion malam ini."

"Sekarang banget? Aku belum beres-beres!" protes Vanya cepat.

"Waktumu lima menit," jawab Adrian dingin lalu berbalik arah, berjalan meninggalkan ruang makan.

Vanya menatap punggung Adrian dengan gemas. "Cepat banget lima menit! Pikirnya aku robot apa?!" gumam Vanya mengomel, tetapi langkah kakinya langsung bergerak secepat kilat menuju kamarnya.

Di belakangnya, keluarga Valeria hanya bisa berdiri mematung dengan wajah syok. Rencana mereka untuk mendepak Aura dan menguasai harta kompensasi hancur berantakan dalam semalam—hanya karena sifat "Aura Baru" yang sama sekali tidak bisa diprediksi!

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

TBC ❤️🥰😘

Episodes
1 BAB 1: Kematian Paling Konyol dan Tubuh Baru
2 BAB 2: Pertemuan Pertama
3 BAB 3
4 BAB 4: Peraturan Baru dan Kontak Pertama Mafia
5 BAB 5: Unjuk Gigi di Jamuan Bisnis
6 BAB 6
7 BAB 7: Pengawasan Ketat dan Bisnis Rahasia
8 BAB 8
9 BAB 9: Malam di Mansion Vane dan Gejolak di Dada
10 BAB 10: Serangan di Tengah Malam
11 BAB 11: Interogasi
12 BAB 12: Sekretaris Khusus
13 BAB 13
14 BAB 14
15 BAB 15
16 BAB 16
17 BAB 17
18 BAB 18
19 BAB 19
20 BAB 20: Pengakuan Publik dan Bayang-Bayang Baru
21 BAB 21: Kedatangan Dewan Tetua dan Sambutan Hangat di Bandara
22 BAB 22: Jamuan Keluarga
23 BAB 23
24 BAB 24
25 BAB 25
26 BAB 26
27 BAB 27
28 BAB 28: Strategi Dua Sisi dan Permainan Catur Kakak-Adik
29 BAB 29:
30 BAB 30
31 BAB 31: Manja Tanpa Batas
32 BAB 32: Sisi Lemah sang CEO dan Panik Berjamaah
33 BAB 33: Kamar Bayi, Harapan, dan Rasa Takut yang Menghangatkan
34 BAB 34: Detik-Detik Menegangkan dan Suara Pertama Kehidupan
35 BAB 35: Kehadiran Alexander dan Aturan Baru di Mansion Vane
36 BAB 36: Jejak Masa Lalu dan Pesta Penyambutan Sang Pewaris
37 BAB 37: Babak Baru dan Jejak Langkah Pertama
38 BAB 38: Cahaya di Pulau Selatan dan Masa Depan yang Menanti
39 BAB 39
40 BAB 40: Bayang-Bayang yang Hilang dan Keretakan di Balik Kemegahan
41 BAB 41: Garis Takdir di Antara Dua Dunia
42 BAB 42: Mata yang Mengawasi
43 BAB 43: Bunga Tanpa Nama dan Pengintai di Balik Layar
44 BAB 44: Benang Merah di Antara Tiga Arah
45 BAB 45: Simpul yang Mulai Terikat
46 BAB 46: Pertemuan dan Ketegangan
47 BAB 47
48 BAB 48
49 BAB 49
50 BAB 50
51 BAB 51: Garis-Garis yang Bersimpangan dan Bayangan Masa Lalu
52 BAB 52: Jejak yang Saling Memburu
53 BAB 53: Percikan yang Mulai Menyala
54 BAB 54: Tatapan di Lobi Sekolah dan Kontak yang Terikat
55 BAB 55: Kepastian Sang Kakak dan Kontak Pertama
56 BAB 56: Pertemuan Dua Dunia di Balik Layar
57 BAB 57
58 BAB 58: Jaringan yang Mulai Merapat
59 BAB 59: Tarikan Senar di Bawah Permukaan
60 BAB 60: Papan Catur yang Makin Menegang
61 BAB 61: Bayangan di Luar Aula
62 BAB 62: Jejak Gelap dan Garis Depan
63 BAB 63
64 BAB 64: Undangan di Meja Makan dan Pelukan yang Kembali
65 BAB 65
66 BAB 66
67 BAB 67
68 BAB 68
69 BAB 69
70 BAB 70: Interogasi
71 BAB 71
72 BAB 72: Lembaran Baru
73 BAB 73
74 BAB 74
75 BAB 75
76 BAB 76
77 BAB 77
78 BAB 78
79 BAB 79
80 BAB 80
81 BAB 81
82 BAB 82
83 BAB 83
84 BAB 84
85 BAB 85
86 BAB 86 (TAMAT)
87 BAB 87 (EKSTRA)
Episodes

Updated 87 Episodes

1
BAB 1: Kematian Paling Konyol dan Tubuh Baru
2
BAB 2: Pertemuan Pertama
3
BAB 3
4
BAB 4: Peraturan Baru dan Kontak Pertama Mafia
5
BAB 5: Unjuk Gigi di Jamuan Bisnis
6
BAB 6
7
BAB 7: Pengawasan Ketat dan Bisnis Rahasia
8
BAB 8
9
BAB 9: Malam di Mansion Vane dan Gejolak di Dada
10
BAB 10: Serangan di Tengah Malam
11
BAB 11: Interogasi
12
BAB 12: Sekretaris Khusus
13
BAB 13
14
BAB 14
15
BAB 15
16
BAB 16
17
BAB 17
18
BAB 18
19
BAB 19
20
BAB 20: Pengakuan Publik dan Bayang-Bayang Baru
21
BAB 21: Kedatangan Dewan Tetua dan Sambutan Hangat di Bandara
22
BAB 22: Jamuan Keluarga
23
BAB 23
24
BAB 24
25
BAB 25
26
BAB 26
27
BAB 27
28
BAB 28: Strategi Dua Sisi dan Permainan Catur Kakak-Adik
29
BAB 29:
30
BAB 30
31
BAB 31: Manja Tanpa Batas
32
BAB 32: Sisi Lemah sang CEO dan Panik Berjamaah
33
BAB 33: Kamar Bayi, Harapan, dan Rasa Takut yang Menghangatkan
34
BAB 34: Detik-Detik Menegangkan dan Suara Pertama Kehidupan
35
BAB 35: Kehadiran Alexander dan Aturan Baru di Mansion Vane
36
BAB 36: Jejak Masa Lalu dan Pesta Penyambutan Sang Pewaris
37
BAB 37: Babak Baru dan Jejak Langkah Pertama
38
BAB 38: Cahaya di Pulau Selatan dan Masa Depan yang Menanti
39
BAB 39
40
BAB 40: Bayang-Bayang yang Hilang dan Keretakan di Balik Kemegahan
41
BAB 41: Garis Takdir di Antara Dua Dunia
42
BAB 42: Mata yang Mengawasi
43
BAB 43: Bunga Tanpa Nama dan Pengintai di Balik Layar
44
BAB 44: Benang Merah di Antara Tiga Arah
45
BAB 45: Simpul yang Mulai Terikat
46
BAB 46: Pertemuan dan Ketegangan
47
BAB 47
48
BAB 48
49
BAB 49
50
BAB 50
51
BAB 51: Garis-Garis yang Bersimpangan dan Bayangan Masa Lalu
52
BAB 52: Jejak yang Saling Memburu
53
BAB 53: Percikan yang Mulai Menyala
54
BAB 54: Tatapan di Lobi Sekolah dan Kontak yang Terikat
55
BAB 55: Kepastian Sang Kakak dan Kontak Pertama
56
BAB 56: Pertemuan Dua Dunia di Balik Layar
57
BAB 57
58
BAB 58: Jaringan yang Mulai Merapat
59
BAB 59: Tarikan Senar di Bawah Permukaan
60
BAB 60: Papan Catur yang Makin Menegang
61
BAB 61: Bayangan di Luar Aula
62
BAB 62: Jejak Gelap dan Garis Depan
63
BAB 63
64
BAB 64: Undangan di Meja Makan dan Pelukan yang Kembali
65
BAB 65
66
BAB 66
67
BAB 67
68
BAB 68
69
BAB 69
70
BAB 70: Interogasi
71
BAB 71
72
BAB 72: Lembaran Baru
73
BAB 73
74
BAB 74
75
BAB 75
76
BAB 76
77
BAB 77
78
BAB 78
79
BAB 79
80
BAB 80
81
BAB 81
82
BAB 82
83
BAB 83
84
BAB 84
85
BAB 85
86
BAB 86 (TAMAT)
87
BAB 87 (EKSTRA)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!