BAB 5: Unjuk Gigi di Jamuan Bisnis

Mulai dari bab ini dan seterusnya kita panggil Aura yaks (nama pemilik tubuh asli yang kini dihidupi oleh jiwa agen rahasia Vanya).

Mansion utama Vane Group berdiri megah di kawasan puncak perbukitan elit, dikelilingi oleh benteng tinggi dan sistem keamanan berlapis tingkat tinggi. Namun, bukannya beristirahat tenang setelah insiden di pelabuhan, Aura sudah disibukkan dengan agenda berikutnya dari Adrian: menghadiri Jamuan Bisnis Tahunan Konglomerat Kota.

Acara malam ini diadakan di ballroom hotel bintang lima paling mewah. Tempat di mana para pebisnis papan atas, pejabat korup, hingga pimpinan dunia bawah tanah berkumpul mengenakan topeng keramahan.

Aura berdiri di depan cermin raksasa dalam kamar riasnya. Ia mengenakan gaun malam berpotongan *A-line* berwarna biru gelap berbahan sutra yang memeluk tubuhnya dengan sangat indah. Dandanannya simpel namun elegan, menyorot keindahan alami wajah Aura. Hanya saja, tatapan mata yang memancar di balik bulu matanya tidak lagi sayu dan penakut, melainkan tajam bak sebilah belati yang tersembunyi di dalam sarung beludru.

"Nona Muda, Tuan Besar sudah menunggu di bawah," panggil seorang pelayan wanita dengan sopan dan hati-hati.

"Ya, aku turun sekarang," jawab Aura secepat kilat.

Saat Aura melangkah turun dari tangga melingkar di lobi utama mansion, Adrian yang sedang merapikan jam tangannya mendongak. Langkah kaki pria itu terhenti sejenak. Matanya yang tajam menyapu sosok Aura dari atas ke bawah. Untuk sepetik detik, Adrian tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. Aura tidak hanya terlihat anggun, tetapi cara berjalannya tegak, penuh percaya diri, dan memancarkan aura dominasi yang sukar diabaikan.

"Bagaimana? Sudah cukup memenuhi standar istrimu yang baru?" tanya Aura dengan nada menantang saat tiba di depan Adrian, bicaranya langsung menyambar secepat senapan mesin. "Kalau sudah, ayo cepat berangkat! Aku dengar menu utama jamuan malam ini ada *wagyu steak* premium, aku tidak mau terlambat cuma gara-gara kamu bernostalgia menatapku!"

Adrian menyipitkan mata, sudut bibirnya terangkat tipis. "Sifat tidak sabaranmu ini benar-benar tidak cocok dengan gaun anggun itu, Aura."

"Yang penting cocok di badan!" tembak Aura secepat kilat tanpa mau kalah.

Suasana *ballroom* hotel bergemerlap oleh lampu kristal raksasa. Musik klasik mengalun lembut mengiringi obrolan para tamu yang saling melempar senyum kepalsuan.

Kedatangan Adrian Vane bersama Aura langsung menyedot perhatian seluruh ruangan. Bisik-bisik kasak-kusuk menyebar secepat api membakar jerami kering.

"Lihat itu... bukankah itu istri Adrian dari keluarga Valeria?"

"Katanya dia cuma pajangan yang penakut dan tidak punya wibawa?"

"Tapi malam ini... tatapannya kok membuat merinding ya?"

Di tengah kerumunan, Clara yang hadir bersama Siska menatap Aura dengan mata membara penuh kedengkian. Clara tidak terima melihat Aura yang biasanya terlihat lusuh dan menyedihkan kini justru mencuri panggung di acara bergengsi ini.

Dengan langkah yang disengaja, Clara mendekati kerumunan pengusaha asing dari Eropa yang sedang mengobrol dengan beberapa direktur Vane Group. Clara bermaksud mempermalukan Aura di depan para investor asing tersebut.

"Aura! Kamu datang juga?" Clara menyapa dengan suara lembut yang memotong obrolan para pengusaha tersebut. "Wah, gaunmu cantik sekali. Tapi... kamu pasti bingung ya berada di sini? Mumpung ada Tuan Smith dari *London Capital*, mau aku perkenalkan? Tapi kamu mengerti bahasa Inggris bisnis kan? Ah, aku lupa... dulu nilai bahasamu kan selalu jelek di sekolah."

Clara tersenyum puas, melirik para investor asing yang mulai menatap Aura dengan pandangan meremehkan. Siska di sampingnya ikut tersenyum culas.

Adrian yang berdiri tak jauh dari sana hendak melangkah maju untuk memotong drama murahan keluarga Valeria tersebut. Namun, Aura memberi isyarat mata kecil agar Adrian tetap di tempatnya.

Aura melangkah maju satu langkah. Ia menatap Clara dan Tuan Smith bergantian. Begitu bibirnya terbuka, kata-kata mengalir dari mulut Aura dalam bahasa Inggris beraksen *British* yang sangat sempurna, cepat, dan menggunakan kosakata keuangan tingkat tinggi yang sangat rumit!

*"I must correct my stepsister’s misguided assumption,"* ucap Aura dengan lancar tanpa terbata-bata sedikit pun, bicaranya mengalir secepat peluru. *"Not only am I deeply familiar with London Capital’s recent Q2 restructuring policy, but I also find their projected yield in the Asian market slightly overestimated due to the fluctuating bond yields. Wouldn't you agree, Mr. Smith?"*

Tuan Smith terperangah. Pengusaha asal Inggris itu membelalakkan mata kaget, lalu senyum kagum terkembang di wajahnya. *"Brilliant! Absolutely brilliant analysis, Mrs. Vane! I didn't expect someone here to grasp our Q2 report so thoroughly!"*

Tuan Smith langsung menjabat tangan Aura dengan penuh rasa hormat, menanyakan lebih lanjut pandangan Aura mengenai pergerakan pasar saham internasional. Tanpa ragu dan tanpa jeda, Aura membalas obrolan itu dengan bahasa Perancis dan Jerman dengan sangat fasih saat pengusaha dari Eropa lainnya bergabung dalam percakapan!

Semua orang di sekitar mereka ternganga.

Clara berdiri mematung bak patung es. Mukanya memerah padam, menahan malu yang luar biasa di depan puluhan pasang mata. Saudara tirinya yang selalu dianggap bodoh dan lambat kini berbicara dalam tiga bahasa asing secepat senapan mesin dan memukau para investor triliunan rupiah!

"B-bagaimana bisa...?" gumam Clara syok setengah mati.

Adrian yang menyaksikan seluruh kejadian itu melipat kedua tangannya di dada. Matanya berkilat penuh kebanggaan dan rasa ingin tahu yang semakin membumbung tinggi. *Penguasaan tiga bahasa asing tingkat tinggi dan analisis ekonomi makro dalam kurun waktu lima menit? Siapa sebenarnya wanita yang menghuni tubuh istrinya ini?*

Aura yang baru saja memenangkan perdebatan intelektual itu tersenyum manis pada Clara. "Lain kali kalau mau menjebak orang, pastikan dulu level pengetahuan umummu berada di atas rata-rata ya, Clara."

Setelah menyelesaikan percakapannya dengan Tuan Smith, Aura merasa tenggorokannya haus setelah berbicara super cepat. Ia mengambil segelas *champagne* dari nampan pelayan yang melintas.

Ia melangkah menuju area yang lebih sepi di dekat balkon untuk menikmati hidangan penutup. Namun, lagi-lagi... sifat ceroboh jiwanya yang sedang merasa terlalu bangga berulah!

Mata Aura terlalu fokus melihat piring kue mousse cokelat di meja prasmanan sampai ia tidak memperhatikan gaun panjangnya sendiri.

*Srettt!*

Ujung gaun Aura terinjak oleh hak sepatunya sendiri!

"Eh, ya ampun—!"

Aura hilang keseimbangan dan tubuhnya limbung ke belakang. Gelas *champagne* di tangannya terlepas dan terlempar ke udara!

*Greb!*

Tangan kokoh Adrian yang sudah bersiap sejak tadi kembali melingkar di pinggang Aura dengan sangat pas, menahan tubuh wanita itu tepat sebelum membentur lantai. Sementara tangan kanan Adrian yang lain bergerak refleks menangkap gelas *champagne* yang jatuh melayang di udara tanpa menumpahkan secangkir pun cairannya!

Aura mendongak, matanya yang bulat berkedip-kedip menatap Adrian yang kini tersenyum tipis tepat di atas wajahnya.

"Gaya bicaramu di depan para investor tadi sangat memukau, Aura," bisik Adrian dengan suara berat yang sangat seksi di dekat telinga Aura. "Tapi kenapa setiap kali kamu selesai bersikap keren, kamu selalu mengakhirinya dengan manuver jatuh yang konyol?"

Muka Aura seketika memerah panas sampai ke ujung telinga. Ia buru-buru menyambar gelas *champagne* dari tangan Adrian dan menegaknya cepat.

"I-itu karena gaun ini terlalu panjang! Bukan aku yang ceroboh!" elak Aura secepat kilat, bicaranya yang serba cepat kembali keluar untuk menutupi rasa malu. "Lagipula kamu ngapain nempel-nempel begini?! Cepat lepaskan tanganmu, banyak orang yang lihat tahu!"

"Biarkan mereka melihat," balas Adrian santai, justru makin mempererat cengkeramannya di pinggang Aura. "Mereka harus tahu kalau istriku yang cerdas dan ceroboh ini... hanya milikku."

Dada Aura berdesir hebat. Kata-kata dari sang CEO dingin itu berhasil membuat agen rahasia berdarah dingin yang biasanya tak tersentuh ini mendadak kehilangan kata-kata!

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

TBC ❤️🥰😘

Terpopuler

Comments

Uthie

Uthie

keren and kocak emang 😂👍👍

Adrian: "Udah keren-keren, selalu jatuh dalam manuver yg konyol" 😂

2026-08-15

0

partini

partini

lanjut Thor 👍

2026-08-04

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Kematian Paling Konyol dan Tubuh Baru
2 BAB 2: Pertemuan Pertama
3 BAB 3
4 BAB 4: Peraturan Baru dan Kontak Pertama Mafia
5 BAB 5: Unjuk Gigi di Jamuan Bisnis
6 BAB 6
7 BAB 7: Pengawasan Ketat dan Bisnis Rahasia
8 BAB 8
9 BAB 9: Malam di Mansion Vane dan Gejolak di Dada
10 BAB 10: Serangan di Tengah Malam
11 BAB 11: Interogasi
12 BAB 12: Sekretaris Khusus
13 BAB 13
14 BAB 14
15 BAB 15
16 BAB 16
17 BAB 17
18 BAB 18
19 BAB 19
20 BAB 20: Pengakuan Publik dan Bayang-Bayang Baru
21 BAB 21: Kedatangan Dewan Tetua dan Sambutan Hangat di Bandara
22 BAB 22: Jamuan Keluarga
23 BAB 23
24 BAB 24
25 BAB 25
26 BAB 26
27 BAB 27
28 BAB 28: Strategi Dua Sisi dan Permainan Catur Kakak-Adik
29 BAB 29:
30 BAB 30
31 BAB 31: Manja Tanpa Batas
32 BAB 32: Sisi Lemah sang CEO dan Panik Berjamaah
33 BAB 33: Kamar Bayi, Harapan, dan Rasa Takut yang Menghangatkan
34 BAB 34: Detik-Detik Menegangkan dan Suara Pertama Kehidupan
35 BAB 35: Kehadiran Alexander dan Aturan Baru di Mansion Vane
36 BAB 36: Jejak Masa Lalu dan Pesta Penyambutan Sang Pewaris
37 BAB 37: Babak Baru dan Jejak Langkah Pertama
38 BAB 38: Cahaya di Pulau Selatan dan Masa Depan yang Menanti
39 BAB 39
40 BAB 40: Bayang-Bayang yang Hilang dan Keretakan di Balik Kemegahan
41 BAB 41: Garis Takdir di Antara Dua Dunia
42 BAB 42: Mata yang Mengawasi
43 BAB 43: Bunga Tanpa Nama dan Pengintai di Balik Layar
44 BAB 44: Benang Merah di Antara Tiga Arah
45 BAB 45: Simpul yang Mulai Terikat
46 BAB 46: Pertemuan dan Ketegangan
47 BAB 47
48 BAB 48
49 BAB 49
50 BAB 50
51 BAB 51: Garis-Garis yang Bersimpangan dan Bayangan Masa Lalu
52 BAB 52: Jejak yang Saling Memburu
53 BAB 53: Percikan yang Mulai Menyala
54 BAB 54: Tatapan di Lobi Sekolah dan Kontak yang Terikat
55 BAB 55: Kepastian Sang Kakak dan Kontak Pertama
56 BAB 56: Pertemuan Dua Dunia di Balik Layar
57 BAB 57
58 BAB 58: Jaringan yang Mulai Merapat
59 BAB 59: Tarikan Senar di Bawah Permukaan
60 BAB 60: Papan Catur yang Makin Menegang
61 BAB 61: Bayangan di Luar Aula
62 BAB 62: Jejak Gelap dan Garis Depan
63 BAB 63
64 BAB 64: Undangan di Meja Makan dan Pelukan yang Kembali
65 BAB 65
66 BAB 66
67 BAB 67
68 BAB 68
69 BAB 69
70 BAB 70: Interogasi
71 BAB 71
72 BAB 72: Lembaran Baru
73 BAB 73
74 BAB 74
75 BAB 75
76 BAB 76
77 BAB 77
78 BAB 78
79 BAB 79
80 BAB 80
81 BAB 81
82 BAB 82
83 BAB 83
84 BAB 84
85 BAB 85
86 BAB 86 (TAMAT)
87 BAB 87 (EKSTRA)
Episodes

Updated 87 Episodes

1
BAB 1: Kematian Paling Konyol dan Tubuh Baru
2
BAB 2: Pertemuan Pertama
3
BAB 3
4
BAB 4: Peraturan Baru dan Kontak Pertama Mafia
5
BAB 5: Unjuk Gigi di Jamuan Bisnis
6
BAB 6
7
BAB 7: Pengawasan Ketat dan Bisnis Rahasia
8
BAB 8
9
BAB 9: Malam di Mansion Vane dan Gejolak di Dada
10
BAB 10: Serangan di Tengah Malam
11
BAB 11: Interogasi
12
BAB 12: Sekretaris Khusus
13
BAB 13
14
BAB 14
15
BAB 15
16
BAB 16
17
BAB 17
18
BAB 18
19
BAB 19
20
BAB 20: Pengakuan Publik dan Bayang-Bayang Baru
21
BAB 21: Kedatangan Dewan Tetua dan Sambutan Hangat di Bandara
22
BAB 22: Jamuan Keluarga
23
BAB 23
24
BAB 24
25
BAB 25
26
BAB 26
27
BAB 27
28
BAB 28: Strategi Dua Sisi dan Permainan Catur Kakak-Adik
29
BAB 29:
30
BAB 30
31
BAB 31: Manja Tanpa Batas
32
BAB 32: Sisi Lemah sang CEO dan Panik Berjamaah
33
BAB 33: Kamar Bayi, Harapan, dan Rasa Takut yang Menghangatkan
34
BAB 34: Detik-Detik Menegangkan dan Suara Pertama Kehidupan
35
BAB 35: Kehadiran Alexander dan Aturan Baru di Mansion Vane
36
BAB 36: Jejak Masa Lalu dan Pesta Penyambutan Sang Pewaris
37
BAB 37: Babak Baru dan Jejak Langkah Pertama
38
BAB 38: Cahaya di Pulau Selatan dan Masa Depan yang Menanti
39
BAB 39
40
BAB 40: Bayang-Bayang yang Hilang dan Keretakan di Balik Kemegahan
41
BAB 41: Garis Takdir di Antara Dua Dunia
42
BAB 42: Mata yang Mengawasi
43
BAB 43: Bunga Tanpa Nama dan Pengintai di Balik Layar
44
BAB 44: Benang Merah di Antara Tiga Arah
45
BAB 45: Simpul yang Mulai Terikat
46
BAB 46: Pertemuan dan Ketegangan
47
BAB 47
48
BAB 48
49
BAB 49
50
BAB 50
51
BAB 51: Garis-Garis yang Bersimpangan dan Bayangan Masa Lalu
52
BAB 52: Jejak yang Saling Memburu
53
BAB 53: Percikan yang Mulai Menyala
54
BAB 54: Tatapan di Lobi Sekolah dan Kontak yang Terikat
55
BAB 55: Kepastian Sang Kakak dan Kontak Pertama
56
BAB 56: Pertemuan Dua Dunia di Balik Layar
57
BAB 57
58
BAB 58: Jaringan yang Mulai Merapat
59
BAB 59: Tarikan Senar di Bawah Permukaan
60
BAB 60: Papan Catur yang Makin Menegang
61
BAB 61: Bayangan di Luar Aula
62
BAB 62: Jejak Gelap dan Garis Depan
63
BAB 63
64
BAB 64: Undangan di Meja Makan dan Pelukan yang Kembali
65
BAB 65
66
BAB 66
67
BAB 67
68
BAB 68
69
BAB 69
70
BAB 70: Interogasi
71
BAB 71
72
BAB 72: Lembaran Baru
73
BAB 73
74
BAB 74
75
BAB 75
76
BAB 76
77
BAB 77
78
BAB 78
79
BAB 79
80
BAB 80
81
BAB 81
82
BAB 82
83
BAB 83
84
BAB 84
85
BAB 85
86
BAB 86 (TAMAT)
87
BAB 87 (EKSTRA)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!