Episode 3

Bab 3: Telepon dari Tiara

"Revan Hadinata ada di balik foto-foto itu."

Suara Tiara tidak lagi bercanda.

Arya berdiri di atas jembatan penyeberangan, membiarkan hujan menetes dari ujung rambutnya. Di bawah sana, kendaraan merayap perlahan. Kota Awan tampak seperti sungai lampu yang tersumbat, penuh orang yang ingin cepat pulang tetapi terjebak oleh malam.

"Buktinya?" tanya Arya.

"Aku punya rekaman panggilan Wulan dengan seseorang dari pihak Revan. Belum sempurna, tapi cukup untuk menunjukkan arah." Tiara berhenti sebentar. "Dan ada transfer ke rekening adik Wulan, dua kali, masing-masing lima puluh juta. Pengirimnya bukan Revan langsung. Tapi orang yang biasa mengurus urusan kotornya."

Arya menatap arus mobil di bawah.

Lima puluh juta.

Harga untuk menjual martabat orang lain di ruang keluarga.

"Kirim ke Pak Satria," katanya.

"Sudah. Aku tidak mungkin meneleponmu tanpa menyiapkan itu dulu."

Arya akhirnya tersenyum sedikit. "Kamu masih sama."

"Cantik, pintar, dan selalu lebih cepat dari orang yang meremehkanku?"

"Aku ingin bilang cerewet."

Tiara tertawa, kali ini lebih lepas. Suara itu pernah sering Arya dengar dari televisi, iklan parfum, panggung musik, dan layar besar mall. Bagi warga Kota Awan, Tiara adalah wajah yang selalu tersenyum di poster. Artis muda yang bersinar, sepupu Sinta yang lebih berani, lebih bebas, dan jauh lebih sulit ditebak.

Tetapi bagi Arya, Tiara adalah salah satu dari sedikit orang yang pernah melihat topengnya retak.

Tiga tahun lalu, di sebuah acara amal Keluarga Permata, Tiara melihatnya berdiri sendirian di koridor belakang. Saat semua orang mengira ia hanya menantu miskin yang tidak pantas masuk ruang utama, Tiara melihat seorang pensiunan jenderal tua berhenti di depannya, menundukkan kepala sedikit, lalu memanggilnya dengan suara pelan, "Tuan Muda."

Sejak malam itu, Tiara tahu.

Dan selama tiga tahun, ia menutup mulut.

"Kenapa baru bicara sekarang?" tanya Arya.

Di seberang sana, Tiara menghela napas. "Karena selama ini kamu memilih diam. Aku tidak mau merusak permainanmu. Tapi malam ini mereka sudah melewati batas."

"Mereka?"

"Sinta tidak sebersih yang kamu harapkan, Mas." Suara Tiara melembut, tetapi kata-katanya tetap tajam. "Dia mungkin tidak mengatur semuanya dari awal, tapi dia tahu foto itu tidak kuat. Dia tahu ada yang janggal. Dia tetap memilih membiarkan ibunya mengusirmu."

Arya tidak menjawab.

Fakta itu tidak baru.

Yang membuatnya sakit bukan karena Sinta tertipu. Yang membuatnya selesai adalah karena Sinta tidak ingin tahu apakah ia tertipu.

"Revan mendekati Sinta sejak dua bulan lalu," lanjut Tiara. "Awalnya lewat proyek iklan PT Suara Kreatif. Lalu makan siang. Lalu rapat malam. Kamu tahu gaya Revan. Dia tidak pernah mendekati perempuan tanpa menghitung keuntungan."

"PT Takdir."

"Ya." Tiara menurunkan suara. "Dia mengira, selama Sinta masih menjadi istrimu, Keluarga Permata punya celah untuk menekan Takdir lewat hubungan keluarga. Tapi kalau kamu diusir sebagai pihak yang bersalah, semua narasi berubah. Sinta menjadi korban. Permata bisa menjaga muka. Revan bisa muncul sebagai penyelamat."

Arya menatap logo Gedung Takdir yang jauh di depan.

Revan Hadinata.

Anak konglomerat kelas dua yang terlalu sering difoto di restoran mahal, klub privat, dan acara balap mobil. Lelaki yang mengira dunia bisa dibeli dengan uang ayahnya dan diselesaikan dengan pengawal.

Arya pernah melihat namanya di beberapa proposal mencurigakan. Keluarga Hadinata ingin masuk ke jaringan kontraktor Takdir Infrastruktur, tetapi kualitas perusahaan mereka buruk, arus kasnya kotor, dan beberapa dokumen tendernya berbau suap. Arya menolak proposal itu tanpa pernah muncul langsung.

Mungkin sejak saat itu Revan mulai mencari jalan lain.

"Dia mengira aku pintu belakang," kata Arya.

"Dia mengira kamu gagang pintu yang sudah berkarat," balas Tiara. "Itu masalahnya."

Kali ini Arya benar-benar tertawa pendek.

"Mas Arya," kata Tiara, tiba-tiba serius lagi, "kamu mau apa?"

Pertanyaan itu sederhana.

Tetapi di baliknya ada pintu yang sangat besar.

Selama tiga tahun, Arya membiarkan dirinya menjadi bayangan. Ia menahan tangan saat dihina. Ia menundukkan kepala saat dipanggil benalu. Ia duduk di ujung meja keluarga seperti orang yang meminta sisa tempat.

Malam ini, meja itu sudah ditinggalkan.

"Untuk sekarang," kata Arya, "aku ingin mereka merasa menang."

Tiara terdiam sebentar. "Kamu mau membiarkan mereka tidur nyenyak?"

"Tidak." Mata Arya menjadi dingin. "Aku mau mereka tidur sambil memeluk bom yang belum mereka tahu sudah menyala."

Di ujung telepon, Tiara menarik napas pelan.

"Astaga," bisiknya. "Aku hampir lupa kenapa orang-orang tua itu takut padamu."

Sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari kaki jembatan. Arya meliriknya. Kaca belakang turun sedikit. Di dalamnya, ia melihat wajah Pak Satria yang sudah memutih karena usia, tetapi matanya tetap tajam seperti pisau lama yang dirawat baik.

Arya menuruni tangga jembatan.

"Aku tutup dulu," katanya.

"Tunggu." Tiara cepat-cepat bicara. "Satu hal lagi. Jangan percaya semua orang dari pihak Suryanegara yang datang padamu. Aku mendengar kabar dari manajerku di Jakarta, nama Prabu Suryanegara mulai disebut lagi di lingkaran bisnis. Kalau dia sudah bergerak, ini lebih dari sekadar soal Sinta dan Revan."

Langkah Arya melambat.

Prabu.

Nama itu turun seperti batu ke dalam air gelap.

"Dari mana manajermu mendengar nama itu?"

"Acara tertutup. Beberapa investor tua. Aku belum dapat detail. Tapi mereka bicara seolah-olah kamu akan segera dipanggil pulang."

Arya menatap mobil Pak Satria.

"Baik. Kirim semua yang kamu punya."

"Mas Arya."

"Ya?"

Suara Tiara berubah lebih pelan. Tidak main-main, tidak menggoda. "Aku senang kamu akhirnya keluar dari rumah itu."

Arya diam beberapa detik.

"Terima kasih, Tiara."

"Jangan cuma terima kasih. Nanti traktir aku makan."

"Kalau jadwalku kosong."

"Jadwal pewaris konglomerat pasti bisa dikosongkan untuk artis tercantik Kota Awan."

Sambungan terputus sebelum Arya sempat membalas.

Ia memasukkan ponsel ke saku dan berjalan menuju mobil hitam. Pak Satria sudah turun lebih dulu, berdiri di bawah payung besar. Pria tua itu mengenakan setelan gelap sederhana, tetapi cara ia berdiri membuat satpam komplek mana pun langsung tahu bahwa ia bukan sopir biasa.

"Tuan Muda," katanya sambil menunduk.

"Jangan menunduk di tempat umum."

Pak Satria mengangkat kepala, tetapi matanya merah. "Maaf. Saya menunggu hari ini terlalu lama."

Arya menerima payung darinya. "Dokumen dari Tiara?"

"Sudah masuk. Rekaman panggilan, bukti transfer, dan satu foto Revan Hadinata bertemu Wulan di restoran privat dua hari lalu." Pak Satria membuka pintu mobil. "Cukup untuk menghancurkan narasi mereka, tapi belum cukup untuk menjatuhkan Revan sepenuhnya."

"Aku tidak ingin menjatuhkannya terlalu cepat."

Pak Satria tersenyum tipis. "Saya paham. Kalau tikus langsung mati, kita tidak tahu lubang mana yang dia pakai."

Arya masuk ke mobil. Di dalam, udara hangat dan aroma kulit baru menyambutnya. Sebuah handuk putih sudah disiapkan di kursi. Di konsol tengah, ada folder tablet berisi laporan singkat: Keluarga Permata, PT Suara Kreatif, Revan Hadinata, Keluarga Hadinata.

Semua rapi.

Semua menunggu satu perintah.

Pak Satria duduk di depan. "Ke mana, Tuan Muda? Gedung Takdir? Apartemen privat? Atau rumah aman?"

Arya membuka tablet. Di layar, foto Revan muncul: setelan mahal, senyum tipis, tangan memegang gelas jus di sebuah restoran privat. Di sampingnya, Wulan menunduk dengan wajah dibuat manis.

"Kontrakan lama dulu," kata Arya. "Biarkan semua orang mengira aku benar-benar tidak punya tempat."

Pak Satria tidak membantah. "Baik."

Mobil melaju meninggalkan komplek elite itu.

Sepanjang perjalanan, Arya membaca laporan tanpa bicara. Setiap halaman membuat gambarnya semakin jelas. Revan lebih dari sekadar ingin Sinta. Ia mengincar akses ke daftar vendor Takdir, jalur kontrak infrastruktur, dan kemungkinan menekan Keluarga Permata untuk menjadi pintu masuk.

Anak itu serakah.

Serakah biasanya mudah dikendalikan.

Dua puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan kontrakan sederhana di gang yang tidak terlalu lebar. Dindingnya kusam, lampu terasnya redup, dan beberapa motor terparkir berdesakan. Tempat itu adalah salah satu lokasi yang Arya pakai selama tiga tahun untuk bekerja diam-diam tanpa diketahui Keluarga Permata.

Ia baru saja turun ketika suara dari langit membuat beberapa warga membuka pintu.

DHUM. DHUM. DHUM.

Angin kencang menyapu ujung gang. Daun-daun basah beterbangan. Lampu teras bergoyang.

Pak Satria mendongak. Wajahnya berubah waspada.

Di atas deretan atap rumah, sebuah helikopter hitam bergerak rendah, lampu navigasinya berkedip merah di tengah hujan tipis. Bukan helikopter polisi. Bukan ambulans udara. Terlalu bersih, terlalu mahal, terlalu berani untuk turun di kawasan sempit seperti ini.

Ponsel Arya bergetar.

Satu pesan masuk dari nomor yang sudah tiga tahun tidak ia hubungi.

Adikku, aku datang.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
143 Episode 143
144 Episode 144
145 Episode 145
146 Episode 146
147 Episode 147
148 Episode 148
149 Episode 149
150 Episode 150
151 Episode 151
152 Episode 152
153 Episode 153
154 Episode 154
155 Episode 155
156 Episode 156
157 Episode 157
158 Episode 158
159 Episode 159
160 Episode 160
161 Episode 161
162 Episode 162
163 Episode 163
164 Episode 164
165 Episode 165
166 Episode 166
167 Episode 167
168 Episode 168
169 Episode 169
170 Episode 170
171 Episode 171
172 Episode 172
173 Episode 173
174 Episode 174
175 Episode 175
176 Episode 176
177 Episode 177
178 Episode 178
179 Episode 179
180 Episode 180
181 Episode 181
182 Episode 182
183 Episode 183
184 Episode 184
185 Episode 185
186 Episode 186
187 Episode 187
188 Episode 188
189 Episode 189
190 Episode 190
191 Episode 191
192 Episode 192
193 Episode 193
194 Episode 194
195 Episode 195
196 Episode 196
197 Episode 197
198 Episode 198
199 Episode 199
200 Episode 200
201 Episode 201
202 Episode 202
203 Episode 203
204 Episode 204
205 Episode 205
206 Episode 206
207 Episode 207
208 Episode 208
209 Episode 209
210 Episode 210
211 Episode 211
212 Episode 212
213 Episode 213
214 Episode 214
215 Episode 215
216 Episode 216
217 Episode 217
218 Episode 218
219 Episode 219
220 Episode 220
221 Episode 221
222 Episode 222
223 Episode 223
224 Episode 224
225 Episode 225
226 Episode 226
227 Episode 227
228 Episode 228
229 Episode 229
230 Episode 230
231 Episode 231
232 Episode 232
233 Episode 233
234 Episode 234
235 Episode 235
236 Episode 236
237 Episode 237
238 Episode 238
239 Episode 239
240 Episode 240
241 Episode 241
242 Episode 242
243 Episode 243
244 Episode 244
245 Episode 245
246 Episode 246
247 Episode 247
248 Episode 248
249 Episode 249
250 Episode 250
Episodes

Updated 250 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142
143
Episode 143
144
Episode 144
145
Episode 145
146
Episode 146
147
Episode 147
148
Episode 148
149
Episode 149
150
Episode 150
151
Episode 151
152
Episode 152
153
Episode 153
154
Episode 154
155
Episode 155
156
Episode 156
157
Episode 157
158
Episode 158
159
Episode 159
160
Episode 160
161
Episode 161
162
Episode 162
163
Episode 163
164
Episode 164
165
Episode 165
166
Episode 166
167
Episode 167
168
Episode 168
169
Episode 169
170
Episode 170
171
Episode 171
172
Episode 172
173
Episode 173
174
Episode 174
175
Episode 175
176
Episode 176
177
Episode 177
178
Episode 178
179
Episode 179
180
Episode 180
181
Episode 181
182
Episode 182
183
Episode 183
184
Episode 184
185
Episode 185
186
Episode 186
187
Episode 187
188
Episode 188
189
Episode 189
190
Episode 190
191
Episode 191
192
Episode 192
193
Episode 193
194
Episode 194
195
Episode 195
196
Episode 196
197
Episode 197
198
Episode 198
199
Episode 199
200
Episode 200
201
Episode 201
202
Episode 202
203
Episode 203
204
Episode 204
205
Episode 205
206
Episode 206
207
Episode 207
208
Episode 208
209
Episode 209
210
Episode 210
211
Episode 211
212
Episode 212
213
Episode 213
214
Episode 214
215
Episode 215
216
Episode 216
217
Episode 217
218
Episode 218
219
Episode 219
220
Episode 220
221
Episode 221
222
Episode 222
223
Episode 223
224
Episode 224
225
Episode 225
226
Episode 226
227
Episode 227
228
Episode 228
229
Episode 229
230
Episode 230
231
Episode 231
232
Episode 232
233
Episode 233
234
Episode 234
235
Episode 235
236
Episode 236
237
Episode 237
238
Episode 238
239
Episode 239
240
Episode 240
241
Episode 241
242
Episode 242
243
Episode 243
244
Episode 244
245
Episode 245
246
Episode 246
247
Episode 247
248
Episode 248
249
Episode 249
250
Episode 250

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!