Episode 5

Bab 5: Pesta Perpisahan di Gedung Takdir

Malam berikutnya, Gedung Takdir menyala seperti menara emas di tengah Kota Awan.

Di lantai empat puluh delapan, aula perjamuan PT Takdir Nusantara Group dipenuhi cahaya hangat, rangkaian bunga putih, dan deretan meja bundar dengan taplak gelap. Para direktur anak perusahaan, kepala divisi, konsultan hukum, dan beberapa mitra penting hadir dengan batik terbaik mereka. Tidak ada musik keras. Tidak ada alkohol di meja. Hanya teh, kopi, jus, dan makanan fine dining yang disusun seperti acara korporat tingkat tinggi.

Nama acara di layar besar terdengar sederhana:

Pelepasan Internal dan Rapat Apresiasi Strategis.

Orang luar mengira ini acara biasa. Sebagian karyawan mengira ini perpisahan kecil untuk "konsultan lama" yang selama ini membantu beberapa proyek internal. Hanya orang-orang inti yang tahu bahwa malam itu adalah tanda berakhirnya satu fase penyamaran Arya.

Arya berdiri dekat jendela kaca, mengenakan setelan hitam sederhana. Tidak ada jam mewah. Tidak ada pin keluarga. Tidak ada pengawal yang menempel di bahunya.

Tetapi semua orang penting di ruangan itu menjaga jarak hormat.

Dewi Suryanegara berdiri di sampingnya, gaun merah gelapnya membuat wibawanya semakin tajam. Ia memegang segelas teh melati, tetapi matanya memindai aula seperti komandan yang menghitung titik tembak.

"SUV semalam sudah pergi?" tanya Dewi.

"Pergi sebelum subuh."

"Mereka melapor ke siapa?"

"Belum pasti." Arya menatap pantulan kota di kaca. "Tapi malam ini mereka akan mendapat bahan yang cukup."

Dewi tersenyum. "Kamu benar-benar ingin mereka melihatmu dipermalukan dulu?"

"Musuh yang merasa aman biasanya bicara lebih banyak."

"Dan musuh yang terlalu banyak bicara biasanya mati lebih cepat."

Arya meliriknya. "Kakak terlalu dramatis."

"Aku turun dari helikopter ke gang kontrakan. Tentu saja aku dramatis."

Sebelum Arya sempat membalas, Eko, kepala keamanan gedung malam itu, mendekat dan menunduk.

"Pak Arya, ada tamu tidak terdaftar di lobi VIP."

Dewi tidak menoleh. "Nama?"

Eko ragu sepersekian detik. "Revan Hadinata."

Senyum Dewi menghilang.

Arya justru tampak tenang. "Dia datang dengan siapa?"

"Enam orang. Satu di antaranya bernama Dodi. Data awal: purnawirawan Kopassus, sekarang pengawal pribadi Keluarga Hadinata."

Dewi mendengus. "Dia membawa mantan Kopassus untuk menekanmu? Lucu."

"Biarkan masuk," kata Arya.

Eko menatap Dewi, lalu Arya. "Pak?"

"Biarkan masuk. Tapi pastikan jalur evakuasi bersih dan kamera internal menyala."

"Siap."

Tidak sampai lima menit, pintu aula terbuka.

Revan Hadinata masuk seolah ruangan itu miliknya.

Ia mengenakan jas abu-abu muda, sepatu Italia mengilap, dan senyum yang terlalu percaya diri. Di belakangnya, lima pengawal berbadan besar berjalan menyebar. Paling depan adalah Dodi, pria berusia akhir tiga puluhan dengan rambut cepak, leher tebal, dan mata yang tidak banyak bergerak. Berbeda dari pengawal lain yang memamerkan otot, Dodi justru tenang. Tangan kirinya kosong, posisi kakinya ringan, bahunya tidak kaku.

Arya mengenali tipe itu.

Orang yang pernah dilatih untuk mematahkan tubuh manusia tanpa perlu terlihat marah.

Percakapan di aula perlahan berhenti.

Revan bertepuk tangan pelan. "Wah. Pesta bagus. Aku kira acara internal Takdir pasti sulit dimasuki. Ternyata tidak juga."

Dewi melangkah maju, tetapi Arya mengangkat tangan kecil. Ia ingin mendengar.

Revan berjalan melewati meja, mengambil segelas jus dari nampan pelayan tanpa izin, lalu menatap Arya dari atas ke bawah.

"Arya. Aku hampir tidak mengenalimu. Kemarin masih menantu miskin yang diusir dari rumah mertua, malam ini sudah pakai jas di Gedung Takdir." Ia tertawa. "Pinjam jas siapa?"

Beberapa orang di aula menahan napas.

Seorang direktur keuangan tua hampir berdiri, tetapi Pak Satria yang duduk di baris depan hanya menggeleng sangat pelan. Semua orang inti langsung menahan diri.

Arya meletakkan gelas tehnya di meja.

"Kamu datang untuk bicara soal jas?"

"Aku datang untuk mengucapkan selamat." Revan tersenyum lebih lebar. "Selamat sudah bebas dari Sinta. Perempuan sekelas dia memang pantas bersama laki-laki yang bisa memberi masa depan, bukan lelaki yang bertahun-tahun numpang hidup."

Nama Sinta membuat beberapa tamu saling pandang.

Dewi menatap Revan seperti menatap noda di lantai.

Revan melanjutkan, "Tenang. Aku bukan orang kejam. Kalau kamu butuh pekerjaan setelah ini, Keluarga Hadinata bisa memberi tempat. Satpam gudang, mungkin? Dengan pengalamanmu jadi pembantu di rumah Permata, kamu pasti kuat berdiri lama."

Tawa kecil terdengar dari salah satu pengawalnya.

Dodi tidak tertawa.

Mata Arya justru mengarah pada Dodi. "Kamu purnawirawan Kopassus?"

Dodi sedikit menyipitkan mata. "Pernah bertugas."

"Unit?"

"Itu bukan urusanmu."

Arya mengangguk. "Benar."

Revan merasa diabaikan. Wajahnya mengeras. "Hei, aku yang bicara denganmu."

"Aku dengar."

"Kalau dengar, jawab dengan sopan." Revan maju satu langkah. "Kamu mungkin bisa menipu beberapa orang Takdir supaya menganggapmu penting, tapi di mataku kamu tetap mantan suami gagal yang dibuang keluarga istri."

Arya menatapnya. "Kamu selesai?"

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Revan tertawa, tetapi nadanya pecah. "Sombong juga. Apa karena ada Dewi Suryanegara di sini? Kamu pikir berdiri dekat perempuan kuat bisa membuatmu ikut kuat?"

Dewi meletakkan gelas tehnya.

Suara kaca menyentuh meja terdengar kecil, tetapi beberapa direktur langsung menunduk. Mereka tahu ekspresi itu. Jika Dewi bergerak, biasanya ada orang yang kehilangan jabatan sebelum malam selesai.

Namun Arya tetap lebih dulu bicara.

"Revan, pulanglah."

"Takut?"

"Bosan."

Wajah Revan memerah.

Ia menoleh pada Dodi. "Beri dia pelajaran. Jangan terlalu parah. Aku masih ingin dia bisa merangkak keluar dari sini."

Dodi tidak langsung bergerak. Ia menatap Arya sekali lagi. Ada sesuatu di mata pria itu, semacam keraguan kecil yang muncul dari insting orang yang pernah melewati latihan keras.

"Tuan Revan," katanya pelan, "ini acara perusahaan besar. Mungkin sebaiknya..."

"Aku membayarmu untuk berpikir atau bergerak?"

Kalimat itu membuat wajah Dodi mengeras.

Ia maju.

Eko dan beberapa keamanan Takdir refleks bergerak, tetapi Arya mengangkat tangan. "Tidak perlu."

Dodi berhenti dua meter di depan Arya. "Maaf."

Arya mengangguk. "Kamu masih punya sopan santun. Sayang majikanmu tidak."

Serangan Dodi datang cepat.

Tidak ada teriakan. Tidak ada gerakan berlebihan. Ia masuk dari sisi kanan, tangan kiri mengalihkan perhatian, bahu memotong jarak, lutut siap mengunci kaki Arya. Untuk orang biasa, gerakan itu terlalu cepat untuk dibaca. Untuk pengawal profesional, itu bersih dan efisien.

Tetapi Arya sudah bergerak sebelum serangan selesai.

Ia mundur setengah langkah, memutar pergelangan tangan Dodi dari sudut yang sangat kecil, lalu menekan titik siku sambil menggeser kaki ke belakang lutut lawan.

Tubuh Dodi kehilangan poros.

Dalam satu tarikan napas, pria itu jatuh berlutut.

BUK.

Lututnya menghantam karpet tebal. Tangan kanannya terkunci di belakang punggung, lehernya tertahan oleh lengan Arya. Tidak patah. Tidak berdarah. Tetapi siapa pun yang paham pertarungan tahu, jika Arya menambah tekanan sedikit saja, bahu Dodi akan lepas.

Seluruh aula membeku.

Revan tidak berkedip.

Lima pengawalnya yang lain langsung mundur setengah langkah, wajah mereka berubah pucat.

Dodi sendiri menahan napas. Keringat dingin muncul di dahinya. Ia mencoba menggerakkan kaki, lalu berhenti. Tidak ada celah.

Arya menunduk dekat telinganya. "Kamu pernah dilatih baik. Jangan membuang sisa hidupmu untuk anak manja."

Ia melepaskan kuncian.

Dodi jatuh satu tangan ke karpet, terengah, lalu perlahan berdiri. Kali ini ia tidak lagi menatap Arya seperti target. Ia menatapnya seperti seorang prajurit melihat instruktur yang tidak pernah tercatat di papan nama.

"Siapa Anda?" bisik Dodi.

Arya tidak menjawab.

Dewi melangkah maju.

Suara hak sepatunya di lantai membuat semua orang sadar kembali bahwa aula itu masih penuh manusia.

"Revan Hadinata," kata Dewi, suaranya dingin dan jelas. "Kamu masuk tanpa undangan, menghina tamu kehormatan Takdir, lalu memerintahkan pengawal menyerang di acara internal kami."

Revan menelan ludah, tetapi gengsinya memaksanya tetap berdiri tegak. "Nona Dewi, jangan dibesar-besarkan. Ini cuma salah paham."

"Salah paham?" Dewi tersenyum. "Kamu menyebut adikku satpam gudang."

Kata itu jatuh seperti petir.

Adikku.

Beberapa direktur muda yang belum tahu seluruh kebenaran langsung saling pandang. Para kepala divisi yang sebelumnya hanya mendengar rumor kini menahan napas. Revan membeku.

"A-adik?" ulangnya.

Dewi mendekat satu langkah. "Kamu tahu orang yang baru saja kamu hina itu bermarga apa?"

Revan memandang Arya, lalu Dewi, lalu kembali ke Arya.

Wajahnya mulai kehilangan warna.

Dewi tidak membuka seluruh kartu. Ia tidak perlu. Nama Suryanegara sendiri sudah cukup membuat udara di ruangan berubah berat.

"Arya," kata Dewi perlahan, "adalah orang yang bahkan ayahmu seharusnya berpikir dua kali sebelum menyebut namanya dengan nada tinggi."

Gelas jus di tangan Revan hampir terlepas.

Dodi menunduk, wajahnya kini benar-benar serius. "Tuan Revan, kita harus pergi."

"Diam," bisik Revan, tetapi suaranya lemah.

Arya mengambil kembali gelas tehnya, seolah kejadian tadi hanya gangguan kecil.

"Pulanglah, Revan. Malam ini aku masih memberi wajah untuk Keluarga Hadinata."

Revan ingin membalas, tetapi kata-kata tidak keluar. Ia melihat sekeliling. Tidak ada yang tertawa lagi. Tidak ada yang membelanya. Bahkan para pengawal yang ia bawa kini lebih sibuk menghindari mata Arya.

Untuk pertama kalinya sejak masuk aula, Revan terlihat seperti tamu tak diundang.

Ia berbalik dengan kaku.

Dodi berjalan di belakangnya, tetapi sebelum keluar, pria itu berhenti sejenak dan menunduk pendek ke arah Arya.

Gestur kecil itu dilihat semua orang.

Wajah Revan semakin buruk.

Pintu aula tertutup.

Baru setelah itu napas banyak orang kembali terdengar. Dewi menoleh kepada seluruh hadirin.

"Acara dilanjutkan," katanya. "Dan rekaman kamera internal malam ini disimpan aman. Jika ada yang bocor keluar tanpa izin, saya akan tahu."

Para direktur serempak mengangguk.

Arya memandang jendela. Di kaca, ia melihat pantulan wajahnya sendiri: tenang, basah oleh sisa hujan yang belum sepenuhnya hilang, tetapi matanya sudah tidak lagi milik menantu miskin dari rumah Permata.

Di parkiran basement, Revan masuk ke mobil dengan wajah gelap.

Ia menghubungi ayahnya, Suharto Hadinata, dengan tangan gemetar.

"Bapak..." Suaranya parau. "Arya itu... mungkin bukan orang biasa."

Di aula, ponsel Arya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor internal Takdir.

PT Takdir Nusantara Group siap mengumumkan pemutusan seluruh kerja sama dengan Keluarga Permata. Perintah eksekusi?

Arya menatap layar itu beberapa detik.

Lalu ia mengetik satu kata.

Ya.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
143 Episode 143
144 Episode 144
145 Episode 145
146 Episode 146
147 Episode 147
148 Episode 148
149 Episode 149
150 Episode 150
151 Episode 151
152 Episode 152
153 Episode 153
154 Episode 154
155 Episode 155
156 Episode 156
157 Episode 157
158 Episode 158
159 Episode 159
160 Episode 160
161 Episode 161
162 Episode 162
163 Episode 163
164 Episode 164
165 Episode 165
166 Episode 166
167 Episode 167
168 Episode 168
169 Episode 169
170 Episode 170
171 Episode 171
172 Episode 172
173 Episode 173
174 Episode 174
175 Episode 175
176 Episode 176
177 Episode 177
178 Episode 178
179 Episode 179
180 Episode 180
181 Episode 181
182 Episode 182
183 Episode 183
184 Episode 184
185 Episode 185
186 Episode 186
187 Episode 187
188 Episode 188
189 Episode 189
190 Episode 190
191 Episode 191
192 Episode 192
193 Episode 193
194 Episode 194
195 Episode 195
196 Episode 196
197 Episode 197
198 Episode 198
199 Episode 199
200 Episode 200
201 Episode 201
202 Episode 202
203 Episode 203
204 Episode 204
205 Episode 205
206 Episode 206
207 Episode 207
208 Episode 208
209 Episode 209
210 Episode 210
211 Episode 211
212 Episode 212
213 Episode 213
214 Episode 214
215 Episode 215
216 Episode 216
217 Episode 217
218 Episode 218
219 Episode 219
220 Episode 220
221 Episode 221
222 Episode 222
223 Episode 223
224 Episode 224
225 Episode 225
226 Episode 226
227 Episode 227
228 Episode 228
229 Episode 229
230 Episode 230
231 Episode 231
232 Episode 232
233 Episode 233
234 Episode 234
235 Episode 235
236 Episode 236
237 Episode 237
238 Episode 238
239 Episode 239
240 Episode 240
241 Episode 241
242 Episode 242
243 Episode 243
244 Episode 244
245 Episode 245
246 Episode 246
247 Episode 247
248 Episode 248
249 Episode 249
250 Episode 250
Episodes

Updated 250 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142
143
Episode 143
144
Episode 144
145
Episode 145
146
Episode 146
147
Episode 147
148
Episode 148
149
Episode 149
150
Episode 150
151
Episode 151
152
Episode 152
153
Episode 153
154
Episode 154
155
Episode 155
156
Episode 156
157
Episode 157
158
Episode 158
159
Episode 159
160
Episode 160
161
Episode 161
162
Episode 162
163
Episode 163
164
Episode 164
165
Episode 165
166
Episode 166
167
Episode 167
168
Episode 168
169
Episode 169
170
Episode 170
171
Episode 171
172
Episode 172
173
Episode 173
174
Episode 174
175
Episode 175
176
Episode 176
177
Episode 177
178
Episode 178
179
Episode 179
180
Episode 180
181
Episode 181
182
Episode 182
183
Episode 183
184
Episode 184
185
Episode 185
186
Episode 186
187
Episode 187
188
Episode 188
189
Episode 189
190
Episode 190
191
Episode 191
192
Episode 192
193
Episode 193
194
Episode 194
195
Episode 195
196
Episode 196
197
Episode 197
198
Episode 198
199
Episode 199
200
Episode 200
201
Episode 201
202
Episode 202
203
Episode 203
204
Episode 204
205
Episode 205
206
Episode 206
207
Episode 207
208
Episode 208
209
Episode 209
210
Episode 210
211
Episode 211
212
Episode 212
213
Episode 213
214
Episode 214
215
Episode 215
216
Episode 216
217
Episode 217
218
Episode 218
219
Episode 219
220
Episode 220
221
Episode 221
222
Episode 222
223
Episode 223
224
Episode 224
225
Episode 225
226
Episode 226
227
Episode 227
228
Episode 228
229
Episode 229
230
Episode 230
231
Episode 231
232
Episode 232
233
Episode 233
234
Episode 234
235
Episode 235
236
Episode 236
237
Episode 237
238
Episode 238
239
Episode 239
240
Episode 240
241
Episode 241
242
Episode 242
243
Episode 243
244
Episode 244
245
Episode 245
246
Episode 246
247
Episode 247
248
Episode 248
249
Episode 249
250
Episode 250

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!