Episode 2

Bab 002

Kamu Nggak Ingat Aku, ya?

“Laras Anjani?”

Suara itu menghantamnya untuk kedua kali.

Tanpa desis radio, tanpa derak hujan, suara Arkan terdengar sedikit lebih dalam. Tetap tenang. Tetap membuat jantung Laras lupa cara berdetak dengan wajar.

Arkan turun dari kursi tinggi dan menatapnya selama dua detik. Tidak ada tanda pengenalan di matanya. Ia hanya memeriksa wajah Laras, lalu mencocokkannya dengan sesuatu di layar ponsel.

“Aku Arkan.”

Seolah Laras mungkin tidak tahu.

Seolah nama lengkap laki-laki itu tidak pernah memenuhi satu buku harian yang ia kunci di dasar laci.

“Iya.” Laras memaksa bibirnya bergerak. “Aku Laras.”

Arkan mengangguk ke kursi di seberangnya. “Duduk?”

Baru saat itulah Laras sadar ia masih berdiri di tengah jalan pelayan. Ia menarik kursi terlalu cepat. Kaki kursi bergesek dengan lantai dan menghasilkan bunyi nyaring yang membuat dua orang di meja sebelah menoleh.

Panas merambat sampai ke telinganya.

Arkan tidak tertawa. Ia menahan sisi meja agar tidak ikut bergeser, lalu menunggu sampai Laras benar-benar duduk.

“Mama kasih fotomu,” katanya. “Tapi fotonya agak lama.”

Laras melirik foto profil WhatsApp yang terbuka di ponsel Arkan. Foto itu diambil Wulan hampir tiga tahun lalu, saat Laras sedang membantu di Kopi Wulan.

“Pantas kamu harus memastikan.”

“Bukan begitu.” Tatapan Arkan kembali ke wajahnya. “Kamu kelihatan lebih muda dari fotonya.”

Laras tak tahu harus menjawab apa. Sepuluh tahun lalu, satu kalimat darinya bisa membuat Laras tersenyum diam-diam selama berhari-hari. Rupanya tubuhnya belum belajar menjadi lebih bijak. Telapak tangannya mulai basah di bawah meja.

Seorang pelayan datang membawa menu.

“Mau pesan apa, Kak?”

“Es latte, tanpa gula,” jawab Laras cepat.

Pelayan itu mengulang pesanannya, lalu menunjuk cangkir di depan Arkan. “Untuk Kakak, tambah americano lagi?”

“Nggak usah. Tolong air mineral satu.” Arkan melirik Laras. “Buat dia.”

“Aku nggak pesan air.”

“Kamu kelihatan butuh.”

Laras menutup mulut. Pelayan itu tersenyum kecil sebelum pergi, membuat panas di telinganya naik satu tingkat.

Arkan menyandarkan punggung. Kemeja hitam yang ia kenakan polos, tetapi jam di pergelangan tangannya dan cara ia duduk membuat tempat itu mendadak terasa terlalu sempit.

“Mama bilang kamu dua puluh delapan.”

“Iya.”

Alis Arkan terangkat tipis. “Kamu udah dua puluh delapan?”

Laras hampir tertawa karena gugup. “Kenapa? Kelihatannya masih anak kuliahan?”

“Aku kira Mama salah kasih umur.”

“Mama jarang salah kalau urusan biodata calon menantu.”

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Arkan bergerak. Bukan senyum penuh, hanya garis tipis yang mengubah wajah dinginnya selama sesaat.

“Berarti kamu juga dipaksa datang?”

“Dibujuk,” koreksi Laras. “Dengan enam pesan dan satu telepon.”

“Aku dapat sembilan pesan.”

“Kamu menang.”

“Bukan kemenangan yang ingin kubanggakan.”

Percakapan kecil itu meredakan sesak di dada Laras. Ia memberanikan diri mengangkat wajah lebih lama. Waktu memang mengubah Arkan. Bahunya lebih lebar, sorot matanya lebih tenang, dan ada ketegasan orang yang terbiasa membuat keputusan tanpa ruang untuk ragu.

Namun, bekas luka tipis dekat alis kirinya masih ada.

Laras mengenali luka itu.

Arkan tidak mengenalinya.

Pertanyaan yang sedari tadi tertahan akhirnya lolos sebelum ia sempat menimbang harga dirinya.

“Kamu nggak ingat aku, ya?”

Arkan berhenti menyentuh cangkir.

“Kita pernah ketemu?”

Ada sesuatu yang jatuh pelan di dalam dada Laras. Ia sudah menduga, tetapi mendengar pertanyaan itu langsung tetap terasa berbeda.

“Kita satu SMA,” katanya. “Satu angkatan.”

Tatapan Arkan menyapu wajahnya sekali lagi. Kali ini lebih lama. Laras melihat ia berusaha menarik suatu ingatan, lalu gagal menemukannya.

“Maaf.”

Hanya satu kata. Jujur dan sopan.

Tetap saja, jari Laras mengerat di pangkuan.

“Nggak apa-apa. Kita memang nggak dekat.”

Ia tidak mengatakan bahwa Arkan pernah berdiri di antara dirinya dan sekelompok orang yang mempermalukannya. Tidak mengatakan bahwa beberapa menit keberanian Arkan hari itu telah menjadi alasan Laras bertahan melewati sisa masa sekolah.

Pelayan datang membawa latte dan air mineral. Laras segera meraih gelas dingin itu, bersyukur punya alasan untuk memutus tatapan.

“Sekarang kerja di mana?” tanya Arkan.

“AirNav Indonesia.”

“Bagian?”

“Jakarta Approach. Aku controller.”

Ada ketertarikan tipis di mata Arkan, kali ini nyata.

“Pantas.”

“Pantas apa?”

“Cara kamu jawab pendek-pendek.”

Laras hampir tersedak air.

Arkan mengambil tisu dari kotak dan menggesernya ke seberang meja. “Aku pilot di Angkasa Nusantara. Kapten A330.”

Aku tahu.

Kata-kata itu sudah sampai di ujung lidah, tetapi Laras menggigit bagian dalam pipinya.

Ia tahu Arkan masuk sekolah penerbangan di luar negeri. Ia tahu kapan laki-laki itu kembali ke Indonesia. Ia tahu foto pertamanya dengan empat garis di pundak seragam pernah beredar di grup angkatan. Bahkan tanpa sengaja, ia baru mengetahui penerbangan Arkan semalam, setelah suara di frekuensi dan sosok di depannya menyatu menjadi satu orang.

Namun, Laras hanya berkata, “Berarti pekerjaan kita kadang bersinggungan.”

“Mungkin kita pernah bicara di frekuensi.”

Jari Laras tergelincir di permukaan gelas yang berembun.

Semalam.

Aku yang memasukkanmu ke celah badai semalam.

Aku memilih pekerjaan ini karena dulu aku terlalu takut terbang, tetapi masih ingin berada di langit yang sama denganmu.

Tiga pengakuan itu berdesakan di belakang giginya. Tak satu pun keluar.

“Mungkin,” jawabnya akhirnya.

Arkan tidak mengejar. Ia bertanya tentang jam kerja, dan Laras menjelaskan singkat tentang sistem shift. Sebagai gantinya, Arkan bercerita bahwa jadwal terbang membuatnya lebih sering melihat matahari terbit dari kokpit daripada dari rumah. Mereka bicara hampir setengah jam, cukup sopan untuk disebut berhasil, terlalu berjarak untuk disebut dekat.

Namun, beberapa kali Laras menangkap Arkan menatapnya seperti sedang mencari potongan ingatan yang hilang.

Ketika kopi Laras tinggal separuh, Arkan melihat jam.

“Aku harus pergi.”

“Oh. Iya.”

Ia berdiri, tetapi tidak langsung mengambil kunci mobil. “Boleh minta WhatsApp kamu?”

Laras menatapnya. “Mama kita belum saling memberikan nomor?”

“Sudah.” Arkan mengangkat ponsel. “Tapi kalau aku langsung chat dari nomor yang dikasih Mama, rasanya aneh.”

“Sekarang nggak aneh?”

Sudut bibirnya bergerak lagi. “Sekarang aku minta sendiri.”

Laras menyebutkan nomornya. Notifikasi masuk beberapa detik kemudian.

Arkan:

Arkan.

Hanya itu. Bahkan pesan pertamanya sehemat cara ia bicara.

“Instagram?” tanyanya.

Laras memberikan akun miliknya, lalu menerima permintaan mengikuti dari akun yang dipenuhi foto langit, kokpit, dan seragam putih dengan empat garis di pundak.

“Biar kalau Mama tanya, kita punya bukti sudah berusaha,” kata Arkan.

Kalimat itu seharusnya membuat semuanya kembali biasa. Sebuah pertemuan karena dua ibu memaksa. Satu kontak baru yang mungkin tak akan pernah dipakai.

Laras tersenyum setipis mungkin. “Tentu.”

Arkan pergi setelah membayar kedua pesanan. Laras menatap punggungnya melewati pintu kaca sampai sosok itu hilang di antara kendaraan.

Baru sesudahnya ia mengembuskan napas panjang.

Sepuluh tahun, dan Arkan bahkan tidak ingat mereka pernah berada di sekolah yang sama.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Bukan pesan dari Arkan.

Seratus tiga puluh tujuh notifikasi muncul dari grup WhatsApp angkatan yang sudah berbulan-bulan ia bisukan.

REUNI SABTU!

Yang ganteng-ganteng wajib dateng 😏

Pesan berikutnya dipenuhi tag.

@Tiara

@Sherly

@Vina

Tiga nama itu menyala di layar seperti pintu lama yang baru saja ditendang terbuka.

Jari Laras mendadak dingin.

Lalu panas.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
Episodes

Updated 119 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!