Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Episode 1

Bab 001

Suara di Frekuensi Badai

“Nusantara 4521, deviasi ke kiri tidak dapat disetujui karena ada pesawat lain. Belok kanan ke heading 310 sekarang, atau beri tahu jika memilih pola tunggu.”

Kilatan merah dan ungu menutupi hampir separuh layar radar. Di luar gedung Jakarta Approach, hujan menghantam kaca seperti ribuan butir kerikil. Di dalam ruang kendali, suara Laras justru terdengar lembut, nyaris terlalu manis untuk perintah setegas itu.

Kapten Nusantara 4521 tidak segera membaca ulang.

“Jakarta Approach, apa cuma bisa dari kanan? Sel badai di depan kami makin menutup.”

Jari Laras berhenti di atas strip elektronik penerbangan itu. Di sisi kiri pesawat ada dua lalu lintas yang sedang turun, masing-masing membawa ratusan nyawa. Citra cuaca di layar mereka terlambat beberapa menit. Yang bisa melihat celah awan secara langsung hanyalah radar cuaca di kokpit.

Ia menekan tombol transmisi.

“Nusantara 4521, sisi kiri tidak tersedia. Ada pesawat yang mendekat dari arah pukul sepuluh, jarak dua belas mil. Belok kanan ke heading 310. Jika sudah memungkinkan, lanjutkan langsung ke rute dan laporkan setelah keluar dari area cuaca buruk.”

Kali ini jawaban datang tanpa bantahan.

“Belok kanan heading 310, akan melapor setelah keluar dari area cuaca buruk, Nusantara 4521.”

Laras baru melepaskan tombol ketika Rosa, yang duduk di posisi planner di sebelahnya, mendorong segelas air ke dekat sikunya.

“Tiga pesawat holding, dua minta deviasi, satu mulai hitung bahan bakar,” bisik Rosa. “Aku sudah koordinasi. Kalau angin geser muncul lagi, Tower mungkin tutup sementara 25L.”

Laras mengangguk tanpa mengalihkan mata dari layar. “Siapkan Halim dan Kertajati untuk opsi pengalihan. Yang bahan bakarnya paling ketat taruh di urutan pertama setelah celah terbuka.”

“Siap.”

Frekuensi kembali dipenuhi suara berlapis. Permintaan turun, laporan turbulensi, bunyi peringatan, dan desis statis saling mengejar. Di layar, label-label kecil bergerak menuju Soekarno-Hatta dari berbagai arah, sementara badai memaksa semuanya berebut jalur sempit yang sama.

Laras merapikan jarak satu penerbangan, menahan penerbangan lain di ketinggian delapan ribu kaki, lalu memindahkan pesawat yang bahan bakarnya menipis ke depan antrean. Bahunya kaku. Bantalan headset menekan pelipisnya, tetapi suaranya tak berubah sedikit pun.

“Jakarta Approach, Nusantara 8966, sedang turun melewati FL100, informasi Kilo, meminta pendekatan ILS runway 25L.”

Tangan Laras membeku sepersekian detik.

Suara itu rendah dan dingin. Tidak tergesa meski awan badai memenuhi jalur kedatangan. Setiap katanya jatuh bersih, tanpa satu suku kata berlebih.

Aneh. Ia merasa pernah mendengarnya.

“Nusantara 8966, Jakarta Approach, kontak radar. Turun ke ketinggian 6.000 kaki, QNH 1008. Karena cuaca, bersiap menerima panduan radar.”

“Turun ke 6.000 kaki, QNH 1008, Nusantara 8966.”

Pesawat itu muncul di tepi sel cuaca. Jalur yang beberapa menit lalu terbuka kini menyempit pada layar Laras. Ia tidak bisa mengambil keputusan hanya berdasarkan warna yang mungkin sudah terlambat dua atau tiga menit.

“Nusantara 8966, konfirmasi mampu mempertahankan heading saat ini. Sel cuaca di arah pukul dua belas, jarak lima belas mil.”

Hanya ada satu detik desis statis sebelum suara berat itu kembali.

“Mampu. Celah terlihat aman pada radar kami. Kami dapat melanjutkan.”

Tidak ada keluhan. Tidak ada usaha memaksakan prioritas.

Ia memberi Laras informasi yang dibutuhkan, lalu menunggu keputusan.

Entah mengapa, detak jantung Laras ikut menyesuaikan irama suara itu.

“Nusantara 8966, pertahankan heading saat ini. Turun ke ketinggian 5.000 kaki, kurangi kecepatan menjadi 210 knot.”

“Pertahankan heading, turun ke 5.000 kaki, kecepatan 210 knot, Nusantara 8966.”

Mereka bergerak seolah telah berkali-kali melakukan ini bersama. Laras menutup jarak di belakang pesawat pertama, menggeser satu lalu lintas ke kanan, lalu memasukkan Nusantara 8966 tepat ketika celah di antara dua sel hujan terbuka.

Garis lintasannya bersih.

“Nusantara 8966, belok kiri heading 250, diizinkan melakukan pendekatan ILS runway 25L. Hubungi Tower di 118.75.”

Suara itu terdengar sekali lagi di telinganya.

“Belok kiri heading 250, diizinkan melakukan pendekatan ILS runway 25L. Tower 118.75. Terima kasih, Nusantara 8966.”

Terima kasih.

Dua kata sederhana itu terasa terlalu lama tertinggal setelah label penerbangannya berpindah dari frekuensi Laras.

Beberapa menit kemudian, peringatan angin geser kembali muncul. Tower menahan kedatangan berikutnya. Satu penerbangan memilih berputar, dua lainnya mulai membahas pengalihan.

Rosa melirik layar koordinasi, lalu menyentuh lengan Laras singkat.

“Delapan sembilan enam enam sudah mendarat. Dia satu-satunya yang berhasil masuk sebelum 25L ditahan.”

Laras menelan ludah. “Bagus.”

Hanya itu jawabannya. Ia kembali mengatur langit, tetapi suara kapten tadi terus berputar di kepalanya sampai akhir giliran kerja.

Saat Laras keluar dari gedung JATSC lewat tengah malam, hujan telah berubah menjadi gerimis. Udara Tangerang berbau aspal basah. Ia masuk ke mobil daring, menyandarkan kepala, lalu memejamkan mata.

Suara rendah itu datang lagi di sela deru ban.

Pertahankan heading.

Terima kasih.

Lalu, tanpa diundang, satu nama lama naik dari tempat paling dalam di ingatannya.

Arkananta.

Laras membuka mata begitu cepat sampai pengemudi di depan sempat menatapnya lewat kaca spion.

“Mbak nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa, Pak. Maaf.”

Ia memalingkan wajah ke jendela. Konyol. Sudah lebih dari sepuluh tahun, dan satu suara asing saja masih bisa menyeretnya kembali kepada laki-laki itu.

Sesampainya di rumah, Laras tidur tanpa sempat mengganti kaus. Namun, tidurnya dangkal. Ia bermimpi berdiri di bawah langit hitam, memanggil sebuah pesawat yang tak pernah menjawab. Ketika terbangun menjelang siang, dadanya masih sesak oleh nama yang sama.

Ponselnya menampilkan enam pesan dari Mama.

Mama:

Bangun belum?

Mama:

Jangan lupa jam dua.

Mama:

Mama sudah bilang kamu datang.

Mama:

Sekali ini aja, Nak. Kalau nggak cocok, Mama nggak paksa.

Laras mengusap wajah. Seminggu terakhir, Wulan membicarakan pertemuan itu seolah anaknya akan menghadapi wawancara kerja, bukan sekadar dikenalkan dengan putra seorang kenalan.

Ia menelepon balik sambil berjalan menuju dapur.

“Ma, Laras baru selesai shift malam.”

“Makanya Mama pilih jam dua, bukan jam sembilan pagi.” Suara Wulan terdengar bersama bunyi mesin penggiling kopi dari Kopi Wulan. “Datang, ngobrol baik-baik, minum kopi. Habis itu kalau kamu nggak suka, pulang.”

“Memangnya dia mau datang?”

“Mau. Mamanya sendiri yang bilang.”

“Itu bisa berarti dia juga dipaksa.”

Wulan tertawa kecil. “Berarti kalian sudah punya satu kesamaan.”

Laras tak bisa menahan senyum tipis. “Iya, iya. Laras datang.”

“Pakai yang rapi.”

“Laras cuma minum kopi, Ma.”

“Minum kopi juga jangan pakai kaus bekas tidur.”

Sambungan berakhir sebelum Laras sempat membantah.

Ia kembali ke kamar. Saat menarik laci untuk mencari jam tangan, ujung jarinya menyentuh sebuah buku bersampul biru tua di bagian paling belakang.

Gerakannya terhenti.

Karet pengikat buku itu sudah longgar. Sudut sampulnya aus, tetapi Laras tahu persis apa yang tersimpan di setiap halaman. Nama yang tadi muncul di mobil memenuhi terlalu banyak lembar di dalamnya.

Ia menarik buku harian itu setengah keluar. Ibu jarinya menekan tepi halaman, nyaris membukanya.

Tidak.

Laras mendorongnya kembali, menutup laci, lalu memutar kunci kecil yang selalu dibiarkan tergantung di sana.

Pukul setengah dua, ia baru memesan mobil menuju sebuah kafe di Jakarta Selatan. Ia tidak memakai riasan selain tabir surya dan lip balm. Blus putih sederhana dipadukan dengan celana panjang hitam. Rambutnya hanya diikat rendah.

Ia benar-benar berniat datang, menyelesaikan kewajiban, lalu pulang dan tidur lagi.

Kafe itu ramai oleh percakapan pelan dan aroma biji kopi yang baru dipanggang. Laras memeriksa pesan dari Wulan sekali lagi.

Meja dekat bar. Kemeja hitam.

Ia melangkah masuk sambil mencari sosok yang dimaksud.

Pandangan Laras berhenti pada seorang pria yang duduk santai di kursi tinggi dekat bar. Kemeja hitamnya digulung sampai siku. Sebelah tangannya memegang cangkir, sementara wajahnya menoleh sedikit ke arah jendela.

Garis rahang itu.

Mata tenang yang dulu hanya berani ia pandangi dari ujung koridor sekolah.

Laras berhenti bernapas.

Suara di frekuensi semalam. Nama yang memenuhi buku hariannya. Laki-laki yang membuatnya memilih jalan menuju langit meski ia sendiri takut pada ketinggian.

Arkan.

Ternyata dia.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
Episodes

Updated 119 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!