Episode 4

Bab 004

Yang Dulu Menindas

Tatapan pertama datang dari meja terdekat. Tatapan berikutnya menyusul dari seluruh ruangan.

Laras masih memegang gagang pintu ketika seseorang menjatuhkan sendok ke piring. Bunyi kecil itu memecahkan keheningan. Bisik-bisik segera muncul, mula-mula pelan, lalu cukup jelas untuk ia dengar.

“Itu Laras?”

“Serius?”

“Beda banget.”

Ketua panitia reuni bangkit paling dulu dan melambaikan tangan. “Laras! Akhirnya datang juga. Sini, tempatmu di meja tengah.”

Laras melepaskan gagang pintu. Punggungnya tegak saat ia melangkah masuk. Gaun hijau gelap pilihan Wulan menangkap cahaya lampu dengan lembut, sementara ujung rambutnya bergerak di bahu setiap kali sepatu haknya menyentuh lantai.

Ia tidak menunduk.

Beberapa teman lama menyapanya dengan antusias yang terasa jujur. Sebagian lain mengangkat ponsel, entah untuk memeriksa grup atau diam-diam mengambil foto. Laras membalas salam seperlunya sebelum duduk di kursi yang telah disiapkan.

Sherly berada tepat di seberangnya.

Perempuan itu mengenakan blus dengan logo merek besar di dada. Tas yang tadi pagi muncul di Instagram Story diletakkan di atas meja, bukan di kursi kosong di sampingnya. Wajahnya masih tersenyum, tetapi jemarinya mencengkeram rantai tas terlalu erat.

“Aku sampai nggak kenal,” katanya. “Kamu berubah total.”

“Sudah lama nggak ketemu.” Laras mengambil gelas air.

“Iya, sih.” Sherly memiringkan kepala, mengamati hidung dan dagunya tanpa malu. “Tapi perubahanmu ekstrem banget. Pasti operasi plastik, ya?”

Suara di meja sekitar merendah. Orang-orang yang semula berpura-pura sibuk mendadak memasang telinga.

Laras meletakkan gelas tanpa bunyi.

“Kenapa hal pertama yang kamu pikirkan operasi plastik?”

Sherly tertawa kecil. “Ya karena hasilnya kelihatan. Nggak usah malu. Sekarang itu biasa.”

“Aku memang nggak malu.” Laras menatap lurus ke matanya. “Karena aku nggak pernah melakukannya.”

Senyum Sherly menegang.

“Tapi kamu benar, sekarang itu biasa,” lanjut Laras. “Klinik tempat kamu membentuk ulang hidung juga bilang begitu di Story mereka. Kamu repost tiga kali, kan?”

Seseorang di ujung meja gagal menahan tawa. Sherly refleks menyentuh hidungnya.

“Itu cuma perawatan.”

“Kalau begitu, kamu seharusnya paling paham bahwa menuduh orang tanpa ditanya itu nggak sopan.”

“Aku cuma bercanda.”

“Aku juga cuma mengingatkan.”

Laras tersenyum tipis. Tidak keras, tidak pula kasar. Justru ketenangannya membuat wajah Sherly semakin merah.

Seorang teman mencoba mengalihkan percakapan. “Sher, sekarang masih di perusahaan lama?”

Pertanyaan itu membuat rahang Sherly kaku.

Laras tidak perlu menambahkan apa pun. Dua minggu lalu, Sherly menghapus seluruh foto kantor dan memasang tanda Open to Work di profil profesionalnya. Seisi meja rupanya tahu. Mereka hanya selama ini terlalu sungkan bertanya.

“Lagi cari suasana baru,” jawab Sherly cepat.

“Bukannya divisi kamu kena pengurangan karyawan?” sahut seseorang dari meja sebelah.

Tawa kecil kembali pecah. Sherly meraih ponsel dan pura-pura membaca pesan.

Laras mengambil satu potong makanan pembuka. Tangannya tidak gemetar. Untuk pertama kalinya, ia melihat salah satu orang yang dulu membuatnya takut kehilangan kata-kata hanya karena satu pertanyaan sederhana.

Ternyata mereka tidak sebesar yang disimpan ingatannya.

“Jangan merasa menang dulu.”

Vina, yang duduk dua kursi dari Sherly, menyilangkan tangan. Gaun merahnya mencolok. Sebuah gelang mahal berkilau setiap kali ia menggerakkan pergelangan tangan.

“Sherly setidaknya jujur datang dengan penampilan sendiri,” katanya. “Ada orang yang baru kelihatan bagus sedikit saja sudah merasa paling hebat.”

Laras menoleh. “Aku belum bicara denganmu.”

“Memangnya aku perlu izin?”

“Nggak. Tapi kalau kamu ingin ikut mempermalukan diri sendiri, silakan.”

Beberapa orang spontan menutup mulut. Vina membelalak, seolah tidak menyangka Laras yang dulu diam saat dihina sekarang mampu membalas tanpa menaikkan suara.

Ponsel di meja mulai bergetar hampir bersamaan.

Satu orang membuka Instagram, lalu wajahnya berubah. Ia menyodorkan layar kepada teman di sebelah. Dalam hitungan detik, tangkapan layar yang sama berpindah dari satu ponsel ke ponsel lain.

Vina menatap mereka. “Kenapa?”

Tak ada yang menjawab.

Laras tidak berniat ikut melihat sampai ponsel di sampingnya didorong ke arah tengah meja. Di layar tampak sebuah unggahan dari akun gosip lokal. Foto pertama memperlihatkan Vina turun dari mobil hitam milik Pak Gunawan. Foto kedua menunjukkan mereka di lobi sebuah vila. Pada foto ketiga, tangan laki-laki itu melingkar di pinggang Vina, sementara cincin kawin terlihat jelas di jarinya.

Keterangan di bawahnya menyebut istri Pak Gunawan telah mengumpulkan bukti dan meminta warganet berhenti menandai anak-anak mereka.

Wajah Vina kehilangan warna.

“Itu editan.” Ia merampas ponsel dari tangan teman di sampingnya. “Aku kenal Pak Gunawan karena urusan bisnis.”

“Urusan bisnis di vila?” seseorang bertanya.

“Kami nggak berdua!”

“Tapi istrinya bilang kamu sudah diteror berkali-kali supaya menjauh.”

“Dia bohong!”

Suara Vina semakin tinggi. Ia membuka ponselnya sendiri, tetapi layar yang penuh notifikasi membuat jemarinya salah menekan. Pesan baru terus masuk. Unggahan itu rupanya sudah menyebar ke grup lain.

Sherly bergeser menjauh, pura-pura tidak mengenalnya.

“Kalian jangan sok suci,” desis Vina. “Kalian nggak tahu hubungan kami.”

“Benar,” kata Laras. “Kami cuma melihat bukti yang dibagikan istri sahnya.”

Dua kata terakhir membuat Vina menatapnya tajam.

Sebelum ia sempat membalas, pintu ruangan kembali terbuka.

Percakapan yang berlapis-lapis terputus untuk kedua kalinya malam itu.

Arkan berdiri di ambang pintu dengan kemeja abu gelap dan celana hitam. Ia tidak berdandan berlebihan, tetapi kehadirannya membuat beberapa laki-laki otomatis duduk lebih tegak. Seseorang di dekat pintu menyambutnya dengan tepukan keras di bahu.

“Kapten akhirnya datang!”

“Kami kira terbang lagi.”

“Baru selesai urusan,” jawab Arkan singkat.

Tiara tidak ada di ruangan itu untuk menyambutnya seperti yang ia janjikan di grup.

Tatapan Arkan menyapu meja-meja, berhenti pada Laras, lalu tidak segera berpindah.

Laras merasakan denyut di lehernya.

Seorang teman mengikuti arah pandang Arkan dan langsung bersiul. “Wah, kalian sudah saling kenal?”

“Kemarin baru dijodohkan, kan?” sahut yang lain.

“Pantas Laras datang cantik begini.”

Tawa dan godaan meledak. Laras ingin menyuruh mereka diam, tetapi Arkan sudah berjalan menuju meja tengah. Ia menarik kursi kosong tidak jauh darinya dan duduk seolah keributan itu tidak penting.

“Hai,” katanya kepada Laras.

Satu sapaan pendek itu memancing suara lebih ramai.

Di sisi lain meja, Vina masih berdiri dengan ponsel di tangan. Tak seorang pun lagi membahas penampilannya. Semua perhatian telah berpindah kepada Laras dan Arkan.

Wajah Vina berkerut.

“Kalian heboh banget cuma karena dia kelihatan beda,” katanya tajam. “Kalau mau bicara soal siapa yang pantas dekat sama siapa, sekalian lihat asal-usulnya.”

Laras menoleh perlahan.

Vina mengangkat dagu. Malu akibat unggahan tadi berubah menjadi kemarahan yang mencari sasaran baru.

“Kalian tahu nggak,” suaranya meninggi, “dia itu anak pelakor!”

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
Episodes

Updated 119 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!