Episode 2

Bab 2

Katanya Aku Terlalu Pemilih

"Dua kali dalam seminggu?"

dr. Yudha menurunkan kacamatanya, seolah perlu memastikan pria yang duduk di depannya benar-benar Narendra Adiwangsa.

Pukul sepuluh pagi, ruang wakil direktur RS Medika Jakarta dipenuhi cahaya matahari dan aroma kopi hitam. Narendra duduk tegak di sofa, masih dengan kemeja kerja dan ekspresi yang biasa membuat direksi menahan napas.

Namun ujung telinganya merah.

"Kamu tidak perlu mengulangnya," kata Narendra.

"Aku perlu. Hampir dua puluh tahun kenal kamu, baru hari ini aku dengar kamu mengaku mimpi basah." Yudha menyandarkan tubuh, menahan senyum. "Dan dengan perempuan yang sama."

Narendra menatapnya datar.

"Berkebaya," tambah Yudha.

"Aku bisa pergi sekarang."

"Duduk, Ndra. Aku dokter, ingat?"

"Dokter kandungan."

Senyum Yudha langsung lenyap setengah. "Aku tahu. Makanya semalam aku sudah bicara secara pribadi dengan teman Sp.U dan psikiater yang dulu membaca hasil pemeriksaanmu. Tanpa nama, tanpa membuka identitasmu."

Narendra tidak jadi berdiri.

Yudha mendorong secarik catatan ke meja. Hasil hormon, pemeriksaan pembuluh darah, dan evaluasi fisik bertahun-tahun lalu tetap menunjukkan tidak ada gangguan organik. Respons terhadap perempuan tertentu, mimpi berulang, dan ereksi spontan justru menandakan fungsi tubuhnya bekerja.

"Jadi?" tanya Narendra.

"Jadi ini bukan konsultasi resmi. Kalau mau diagnosis baru, kamu tetap harus diperiksa langsung oleh Sp.U dan psikiater. Tapi dari riwayatmu, kemungkinan besar hambatannya psikologis."

Narendra teringat seprai basah, air dingin, dan darah di punggung tangannya.

"Selama ini tidak pernah ada respons."

"Terhadap siapa pun?"

"Tidak."

"Termasuk Vania?"

Tatapan Narendra berubah dingin. "Kamu sudah tahu jawabannya."

Yudha mengangkat kedua tangan. "Baik. Dua tahun menikah, tidak pernah menyentuhnya. Setelah cerai juga tidak tertarik pada siapa pun. Lalu sekarang ada satu perempuan yang bahkan belum kamu kenal, tapi tubuhmu langsung bereaksi."

Narendra membuang pandang ke jendela.

"Kamu bukan nggak bisa, Ndra." Nada Yudha melunak, meski sudut bibirnya masih bergerak geli. "Kamu cuma terlalu pemilih."

Ruangan itu mendadak terasa sangat sunyi.

Terlalu pemilih.

Selama enam tahun, orang-orang menyebutnya lemah syahwat, mandul, atau terlalu menjaga harga diri untuk mengakui kekurangan. Tak satu pun dari sebutan itu pernah mengusiknya seperti kalimat sederhana Yudha.

Karena jika Yudha benar, berarti tubuhnya tidak rusak.

Tubuhnya hanya menunggu seseorang.

"Jangan langsung senang," lanjut Yudha. "Satu mimpi bukan dasar untuk mengambil kesimpulan besar."

"Dua."

Yudha tertawa keras. "Nah, sekarang kamu sendiri yang mengingatkan jumlahnya."

Narendra meraih cangkir kopi, tetapi tidak meminumnya. "Aku akan melihatnya lagi."

"Kamu tahu dia siapa?"

"Belum."

"Namanya?"

"Belum."

"Statusnya?"

Narendra menatap Yudha. "Belum."

"Luar biasa. CEO Grup Adiwangsa jatuh cinta pada data kosong."

"Aku tidak bilang jatuh cinta."

"Kamu memindahkan rapat hanya untuk datang ke pameran kebaya."

Narendra diam.

Yudha membuka laci, mengambil kartu nama seorang spesialis urologi, lalu meletakkannya di meja. "Simpan. Kalau reaksi itu muncul lagi saat kamu sadar dan berada dekat dengannya, buat janji. Bukan karena aku menganggapmu sakit, tapi supaya kamu tidak membangun kesimpulan hanya dari rasa lega. Kita tetap harus membedakan ketertarikan, kecemasan performa, dan kebiasaan tubuh."

Narendra mengambil kartu itu. "Kamu pikir aku cemas?"

"Kamu datang tanpa rombongan perusahaan, memilih lift samping, dan meminta sekretarisku mengosongkan jadwal satu jam. Untuk ukuranmu, itu sudah mendekati panik."

Narendra menyelipkan kartu tersebut ke dompet. Setidaknya Yudha tidak menawarkan obat, tidak memandangnya dengan iba, dan tidak menyuruhnya menikah lagi seperti dokter pilihan keluarganya dulu.

Itu cukup untuk membuat dadanya terasa sedikit lebih lapang.

Yudha bersiul pelan. "Setidaknya cari tahu dulu dia sudah menikah atau belum. Jangan sampai tubuhmu akhirnya bangun, lalu kamu malah dipukul suaminya."

Ponsel Narendra bergetar. Fikri mengirimkan jadwal Pameran Wastra Nusantara, denah pintu masuk, dan daftar tenant yang berjumlah puluhan.

Narendra membalas singkat.

Cari daftar sanggar kebaya yang hadir. Jangan hubungi panitia atas namaku.

Balasan datang kurang dari satu menit.

Siap, Pak.

Saat Narendra berdiri, Yudha masih menggeleng-geleng.

"Kalau ketemu, jangan langsung tanya kenapa dia bisa bikin kamu mimpi basah."

Narendra mengambil jasnya. "Aku menyesal datang ke sini."

"Tapi kamu lebih lega."

Langkah Narendra berhenti sepersekian detik di depan pintu.

Ia tidak membantah.

***

Pada petang yang sama, Sekar pulang ke Bekasi dengan bahu pegal dan ujung jari yang masih menyisakan bekas tusukan jarum.

Perjalanan dari Jakarta terasa lebih panjang dari biasanya. Begitu membuka pintu rumah, ia mencium gorengan dan teh melati dari ruang tamu.

"Sekar, sini dulu. Mbak bikinin teh."

Sekar menghentikan langkah.

Yuni duduk di sofa sambil mengusap perutnya yang mulai membesar. Di meja ada secangkir teh hangat dan pisang goreng. Kakak iparnya itu bahkan menarik bantal agar Sekar bisa duduk lebih nyaman.

Terlalu ramah.

"Tumben," kata Sekar.

"Tumben apanya? Kita kan keluarga." Yuni mendorong piring ke arahnya. "Makan dulu. Kamu pasti capek jahit baju seharian."

Sekar duduk tanpa menyentuh teh. "Ada apa, Mbak?"

"Kok curiga banget? Mbak cuma perhatian." Yuni tersenyum, lalu matanya menyapu wajah Sekar. "Kamu itu cantik, tanganmu juga terampil. Sayang kalau sampai umur segini belum ada yang serius."

Sekar hampir tertawa. Ia baru dua puluh lima tahun, tetapi di mulut Yuni terdengar seperti sudah terlambat satu dekade.

"Aku masih kerja."

"Jahit kebaya bisa setelah nikah. Malah kalau suamimu mapan, kamu nggak perlu capek jadi tukang jahit terus."

Jari Sekar yang memegang tali tas mengencang.

Sanggar Kebaya Laksmi bukan kios permak. Sebuah kebaya bisa membutuhkan puluhan jam untuk pola, jahitan tangan, bordir, dan pemasangan payet. Namun menjelaskan itu kepada Yuni sama melelahkannya dengan menyulam di atas kain yang sudah robek.

"Mbak punya saudara jauh," lanjut Yuni. "Namanya Pak Herman. Umurnya tiga puluhan, punya dealer motor, rumah sendiri. Mapan."

"Lalu?"

"Besok sore ketemu saja. Kopi-kopi sebentar."

"Aku tidak minta dikenalkan."

Yuni menghela napas seolah Sekar anak kecil yang sulit diatur. "Makanya jangan terlalu pemilih. Orang seperti Pak Herman saja belum tentu mau kalau kamu banyak syarat."

Kalimat itu membuat Sekar teringat pada semua lamaran kerja, pesanan mendadak, serta malam-malam ketika ia menjahit sampai jari kebas demi membantu cicilan rumah ini.

Ternyata di mata keluarganya, ia tetap perempuan yang seharusnya bersyukur jika ada laki-laki mau mengambilnya.

"Mamah tahu?" tanyanya.

"Tahu. Malah Mamah senang. Pak Herman keluarga baik-baik." Yuni mencondongkan tubuh. "Besok ketemu, ya. Sekali saja, buat Mbak."

Sekar menatap senyum manis di wajah kakak iparnya.

Ia tidak percaya satu kata pun.

Yuni tidak pernah membuatkan teh tanpa meminta sesuatu. Jika hari ini sampai menyediakan pisang goreng dan bantal, pasti ada harga yang ingin ditagih.

Sekar akhirnya mengangkat cangkir, tetapi tidak meminumnya.

Kali ini apa lagi maunya?

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!