Episode 4

Bab 4

Herman

Sekar tiba di Kopi & Co pukul 14.48.

Pak Herman belum datang.

Kafe di Senopati itu jauh lebih tenang daripada kedai yang biasa ia kunjungi. Mesin kopi mendesis pelan, musik jaz mengalun dari pengeras suara, dan aroma biji kopi panggang bercampur wangi parfum mahal para pengunjung.

Sekar memilih meja dekat dinding. Ia mengenakan blus putih sederhana dan rok batik biru tua, bukan kebaya seperti perintah Yuni. Ia juga membawa map berisi sketsa pesanan agar waktu menunggu tidak terbuang.

Saat mengeluarkan pensil, perasaan aneh membuatnya menoleh.

Di meja serong dekat jendela, seorang pria berkemeja putih duduk sendirian. Bahunya lebar, posturnya tegak, dan wajahnya tenang saat membaca dokumen. Jam di pergelangan tangannya terlihat sederhana, tetapi cara pelayan membungkuk ketika meletakkan kopi menunjukkan ia bukan pelanggan biasa.

Pria itu mengangkat kepala.

Tatapan mereka hampir bertemu.

Jantung Sekar berdetak satu kali lebih keras. Ia cepat-cepat menunduk pada sketsanya.

Cakepnya tidak wajar.

Pasti sudah menikah.

***

Narendra mengenali perempuan itu bahkan sebelum wajahnya terlihat jelas.

Gerak tangan saat membuka map. Lekuk leher ketika menunduk. Rambut yang diikat rendah. Hari ini ia tidak memakai kebaya, tetapi tubuh Narendra tetap memberi sengatan hangat yang sama di bawah kulit.

Berarti bukan kainnya.

Perempuannya.

"Pak, berkas akuisisi sudah lengkap."

Fikri berdiri beberapa langkah dari meja sambil membawa tablet. Narendra menutup dokumen tanpa membaca paragraf terakhir.

"Letakkan."

Fikri mengikuti arah pandangannya sekilas, lalu kembali menatap layar. Profesionalitas lima tahun mengajarinya kapan harus berpura-pura tidak melihat.

"Daftar tenant pameran juga sudah masuk," katanya. "Ada dua puluh tujuh sanggar kebaya."

"Kirim ke surel."

"Siap, Pak."

Fikri mundur ke meja lain. Narendra kembali melihat perempuan itu, kali ini melalui pantulan kaca.

Ia sedang menunggu seseorang.

Pukul 15.12, seseorang akhirnya datang.

Pria itu berjalan tergesa dengan kemeja ketat di perut dan rambut yang ditata menutupi bagian kepala yang mulai tipis. Foto profil yang sempat dikirim Yuni menampilkan pria berambut tebal dengan rahang tajam. Orang yang duduk di hadapan Sekar terlihat setidaknya sepuluh tahun lebih tua.

"Mbak Sekar?" tanyanya.

"Iya. Pak Herman?"

"Maaf telat. Dealer ramai."

Herman tidak menanyakan apakah Sekar sudah lama menunggu. Ia memanggil pelayan, memesan kopi termahal dan sepotong kue, lalu menyandarkan punggung.

"Foto kamu beda," katanya sambil mengamati Sekar terang-terangan.

Sekar hampir menjawab hal yang sama. "Mungkin pencahayaannya."

"Kamu kerja jahit kebaya, ya?"

"Saya desainer di Sanggar Kebaya Laksmi."

"Sama saja." Herman mengibaskan tangan. "Kalau nikah nanti berhenti. Istri saya harus di rumah."

Sekar meletakkan pensil. "Kenapa?"

"Ibu saya sudah tua. Perlu ada yang masak, bersih-bersih, antar kontrol. Saya sibuk urus dealer."

"Berarti Bapak mencari perawat dan asisten rumah tangga."

Herman tertawa pendek. "Istri kan memang harus melayani suami dan keluarga suami. Kamu jangan kebanyakan ikut pikiran perempuan kota."

Pelayan datang membawa kopi. Herman langsung mencicipi tanpa menunggu pesanan Sekar.

"Satu lagi," lanjutnya. "Saya mau anak laki-laki. Minimal tiga anak, lebih bagus kalau semuanya laki-laki."

Sekar menatapnya. "Kalau perempuan?"

"Coba lagi sampai dapat laki-laki. Dealer saya nanti siapa yang teruskan?"

Sekar mengangguk serius. "Sayang sekali."

"Apa?"

"Kata orang yang paham primbon, weton saya cuma bisa punya anak perempuan."

Herman berhenti mengunyah kue. "Maksud kamu?"

"Anak pertama perempuan. Kedua perempuan. Ketiga juga kemungkinan perempuan." Sekar menahan wajah datar. "Kalau dipaksa sampai dapat laki-laki, mungkin Bapak harus siapkan rumah sebesar sekolah."

Wajah Herman berubah. "Kamu percaya begituan?"

"Bapak percaya istri bisa memilih jenis kelamin anak sendirian. Saya pikir kita sama-sama percaya hal yang sulit dibuktikan."

Meja di sebelah mereka mendadak sunyi. Seorang perempuan menutupi senyum dengan cangkir.

Herman mendorong kursinya. "Pantas belum laku. Perempuan terlalu pintar ngomong begini bikin suami nggak betah."

"Untung kita tahu dari awal."

"Saya pergi. Bayarin, ya. Kamu yang ngajak ketemu."

Sekar menatap dua cangkir dan sepiring kue yang hampir habis. "Mbak Yuni yang mengatur."

"Tagih saja ke dia."

Herman berjalan keluar tanpa menoleh.

Sekar menutup mata satu detik. Ia tidak sedih. Ia hanya membayangkan berapa meter benang sutra yang bisa dibeli dengan kopi dan kue pria itu.

Pelayan membawa tagihan.

Rp116.000.

Sekar membayar dengan kartu debit, lalu meminta kopinya yang belum habis dimasukkan ke gelas kertas. Gajinya sekitar delapan juta sebulan. Lima juta biasa masuk ke rumah. Tiga juta sisanya harus menutup ongkos, makan, pulsa, dan kebutuhan pribadi.

Seratus enam belas ribu bukan jumlah kecil bagi orang yang sedang mencari tempat tinggal.

Ponselnya bergetar. Tiga pesan dari Yuni masuk berurutan.

Gimana? Pak Herman suka?

Jangan galak-galak ngomongnya.

Kalau dia ajak lanjut, iyain dulu.

Sekar memotret tagihan, mengetik `calonmu pergi tanpa bayar`, lalu menghapusnya sebelum terkirim. Percuma. Yuni akan mengubah cerita menjadi Sekar yang mempermalukan keluarga. Ia memasukkan ponsel ke tas dan meminta salinan struk, berjaga-jaga jika nanti ada yang menuduhnya berbohong.

Di meja dekat jendela, pria berkemeja putih memutar cangkirnya perlahan. Jari-jarinya panjang, kukunya rapi, dan satu hal kecil langsung tertangkap mata Sekar: tidak ada cincin di jari manisnya. Bahkan tidak terlihat bekas cincin.

Sekar segera memarahi diri sendiri.

Tidak memakai cincin bukan berarti belum menikah. Dan status pria asing itu sama sekali bukan urusannya.

Lagipula, ia datang untuk menutup satu urusan, bukan membuka masalah baru. Malam ini ia masih harus menghadapi Yuni, Anton, dan pertanyaan kenapa pertemuan yang mereka atur gagal total.

Saat ia berdiri, pandangannya kembali bertemu pria berkemeja putih di dekat jendela.

Kali ini pria itu tidak segera memalingkan wajah.

Matanya gelap dan tenang, tetapi ada sesuatu yang hangat di sana, seolah ia mendengar seluruh percakapan dan sedang menahan senyum.

Sekar merapikan tali tas. Entah kenapa telinganya ikut panas.

Ia mengangguk kecil karena canggung, lalu berjalan ke pintu sambil membawa kopi.

Narendra memperhatikan punggungnya sampai menghilang di balik kaca.

"Pak?" Fikri sudah kembali berdiri di samping meja. "Kita harus ke SCBD."

"Pria tadi siapa?"

Fikri tidak bertanya bagaimana ia harus tahu. Ia hanya melihat struk pemesanan meja yang tertinggal di meja sebelah. "Tertulis Herman, Pak."

"Cari tahu seperlunya. Jangan ganggu perempuan itu."

"Siap."

Narendra bangkit. Untuk pertama kalinya, ia merasa wajah yang selama ini hanya berguna di depan kamera perusahaan mungkin punya fungsi lain.

Perempuan itu sempat menatapnya dua kali.

Sementara di trotoar, Sekar menyesap kopi mahal yang terpaksa ia bayar dan menertawakan pikirannya sendiri.

Pasti sudah menikah. Laki-laki setampan itu tidak mungkin masih sendiri.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!